Showing posts with label netherlands. Show all posts
Showing posts with label netherlands. Show all posts

Friday, October 31, 2014

Halloween Excitement

Tinggal di benua Eropa, yang notabene kehidupan dan budayanya berbeda dengan tanah kelahiran Indonesia, tentu membuat saya merasakan berbagai pengalaman baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Seperti contohnya budaya perayaan Halloween yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober.

Seperti kita tahu, di Indonesia tidak ada budaya merayakan Halloween dengan pesta kostum maupun ritual 'Trick or Treat' door-to-door. Ya, karena memang budaya Halloween ini lahir di Eropa, bukan di Asia. Itulah sebabnya kita di Asia kurang familiar dengan budaya ini, kecuali di kota besar yang biasanya menerapkan tema Halloween dalam dekorasi mall atau cafe tertentu. Namun tetap, tidak ada ritual bagi-bagi permen ataupun memahat labu (pumpkin) menjadi Jack-o-Lantern.

Halloween = Pumpkin everywhere

Makanya, begitu hijrah ke Eropa saya sangat excited menyambut Halloween tiba. Minggu pertama Oktober, sudah tercium aroma Halloween di toko-toko mainan. Beragam dekorasi unik dan kostum hantu ramai mewarnai pasaran. Labu-labu kuning pun mulai sale di supermarket, siap untuk dihias maupun dibikin sup labu khas musim gugur. Sungguh, suasana kemeriahan Halloween sangat terasa disini!

Pumpkin sale!!

Ritual menghias pumpkin

Taraaa.... Jack-o-Lantern hasil karya pahatan tangan saya! :D

Sehari menjelang Halloween tiba, anak-anak sudah ramai membicarakan kostum apa yang akan mereka pakai keesokan harinya. Sekolah pun menyelipkan beberapa tema Halloween dalam kegiatan belajar mengajar, seperti dalam prakarya maupun seni drama. Para orang tua mulai sibuk mengukir dan menghias labu, membeli diskon terakhir kostum hantu untuk anak mereka, serta menghias teras dan pintu rumah dengan sarang laba-laba palsu, lentera labu, jerami, dan lilin-lilin orange. Toko-toko mainan mulai menggelar sale besar-besaran untuk pernak-pernik Halloween. Supermarket menggelar sale untuk Labu kuning dan juga permen. Kesibukan menjelang Halloween sungguh membuat saya ikut-ikutan bersemangat, meski saya tidak ikutan keliling door-to-door membawa baki sambil teriak "Trick or Treat" untuk mendapat permen atau coklat. :)

Halloween candy yang siap dibagi-bagikan ke setiap pengunjung


Tiba hari H nya, anak-anak sepulang sekolah mulai heboh seolah memiliki 200% energi dalam tubuh mereka. Makan malam dengan menu sup labu serta dessert enak berupa pumpkin cake pun sudah bukan menjadi hal utama saat sore tiba. Yang ada di pikiran mereka hanyalah segera berganti kostum, mengecat wajah seseram mungkin, menenteng tas atau keranjang, dan keliling ke rumah-rumah tetangga untuk mengumpulkan permen. Saya sebagai orang dewasa, tugasnya ya mendandani si kecil seunik mungkin dan menggambari wajah mereka ala Dracula atau Nenek Sihir, sebelum mereka menggelinding keliling komplek. Oiya, satu lagi tugas para orang dewasa saat malam Halloween adalah membuka pintu dan menyodorkan baki penuh permen pada setiap anak yang datang ke rumah. Lumayan capek juga puluhan kali bolak-balik membuka pintu, tapi sebanding dengan keceriaan yang saya dapatkan saat melihat berbagai macam rupa anak-anak berkostum hantu dengan wajah lucu berpoleskan make up seram itu. Duh, menggemaskan sekali lho mereka ini.... :)

hasil dandanan saya! hahaha :D Lumayan lah...

sampe kapak pun nancep di kepala?! :))

Trick or Treaaaattttt......!!! (rebutan permen) :D


Lalu, apakah Halloween hanya berlaku bagi anak-anak saja? Ooooh, tentu tidaaaak.... Orang dewasa pun berhak bersenang-senang saat Halloween. Jika anak-anak merayakan Halloween dengan keliling ber-Trick-or-Treat, maka orang dewasa biasanya pergi ke pesta kostum. Jalanan serta bar-bar di kota ramai oleh berbagai bentuk manusia mulai dari yang berpakaian hantu seram, cosplay, sampai yang konyol dan aneh. Saya pun tak mau ketinggalan. Tiap tahun, saya ikut bersemangat mencari ide untuk ikut pesta kostum, membeli pernah-pernik Halloween, serta berpartisipasi merayakan hari hantu sedunia itu! Ah... seandainya Halloween di Indonesia juga dirayakan semeriah disini... Pasti banyak 'hantu beneran' macam si mbak Kunti dan mas Pocong yang ikutan nongol di depan pintu untuk minta permen! Hahaha... :))

A Witch from Hogsmeade! (Halloween 2012)

Sorrow Ghost! (Halloween 2013)

Teman saya ini ceritanya dandan ala Werewolf :))

A Pirate Girl (Halloween 2014) :D *cantik* hihi :p

Pesta kostum :)

Happy Halloweeeeennnnnn!!!!
Halloween ala Indonesia :)))) hihihi (photo credit from Google)

NB: Tadinya mau upload foto 'hantu beneran' instead of foto duo SPG film Pocong vs Kuntilanak di atas. Tapiiiii..... pas lagi googling, eh taunya muncul foto2 pocong beneran dan kunti beneran yang langsung spontan bikin merinding disko!! Dan saat saya menulis ini, jam menunjukkan pukul 00.30 tengah malam waktu Copenhagen, saya di rumah sendirian, duduk di ruang makan yang jendela nya menghadap ke kebun belakang rumah. Dan.... mendadak ruangan yang semula hangat tiba-tiba menjadi dingin, seolah para 'oknum dunia lain' yang wajahnya tadi bermunculan di laman pencarian Google kini turut bergabung dengan saya di ruang makan ini untuk merayakan Halloween.... DANGGGGGG!!! (-____-")

Friday, October 10, 2014

Overland to Scandinavia


Perjalanan overland antar negara kali ini saya gambarkan sbb:
Jarak Belanda-Denmark lebih cepat jika ditempuh dengan mobil ketimbang kereta. Dan saya pernah mencoba keduanya. Jika dengan kereta, waktu tempuh yang dibutuhkan dari Utrecht-Belanda menuju Copenhagen-Denmark sekitar 16 jam, namun dengan mobil hanya butuh 8-9 jam saja. Kenapa? Karena kereta harus melintasi jalur memutar dari Hamburg melalui mainland Jutland, pulau tengah Odense, baru kemudian pulau utama Denmark tempat Copenhagen berada yaitu Zealand. Sedangkan jika menggunakan mobil, tak perlu memutar melalui rute tersebut. Dari Hamburg bisa langsung menyeberang ke Zealand menggunakan Boat. Itulah mengapa overland dengan mobil ke Denmark jauh lebih singkat dari kereta.

View atau pemandangan sepanjang jalan lumayan bikin mata seger dengan warna hijau alam nya. Meski mungkin tak seindah pemandangan di sepanjang jalur overland Swirzerland, Austria, maupun Italia. Sebagian besar pemandangan sepanjang jalur Belanda-Denmark adalah hutan dan lahan pertanian. Dimana jika musim dingin kemungkinan akan sangat membosankan dengan pepohonan gundul dan lahan keabu-abuan itu.
Saat musim semi dan musim panas, lumayan oke dengan bunga-bunga liar sepanjang bahu jalan dan pepohonan hijau berjejer lebat. Saat musim gugur, di beberapa tempat dapat ditemukan kelompok pepohonan berdaun jingga bahkan merah.

Ada beberapa perbedaan yang bisa ditangkap dari 3 negara yang saya lalui saat overland trip.

1. Belanda
Negara artifisial ini benar2 terlihat rata, super flat, sejauh mata memandang. Kiri kanan highway kebanyakan areal lahan pertanian maupun peternakan. Banyak terlihat kanal-kanal kecil (biasa disebut Dijk) yang berfungsi sebagai marka pembatas sekaligus sebagai sistem irigasi, membelah-belah lahan pertanian. Hewan ternak seperti sapi perah warna hitam putih layaknya gambar di kemasan tetrapack Susu Ultra terlihat merumput berkelompok atau bahkan duduk goler-goler santai. Kuda dan poni pun bertebaran di lahan hijau terbuka, seringkali bersebelahan dengan domba-domba berbulu gemuk ala Shaun the Sheep yang juga asyik merumput. Tak jarang terlihat kelompok penunggang kuda sedang berkuda santai di sepanjang jalur Dijk dengan jejeran pohon Birch di kanan kirinya. Bentuk rumah di Belanda khas dengan rumah mungil beratap tinggi runcing, kebanyakan dengan dinding berwarna coklat gelap dan list jendela warna putih. Meski sebenarnya yang paling asli Belanda adalah rumah berwarna hijau tua, yang kini hanya dapat ditemukan di sedikit area saja, seperti di Zaandam contohnya. Well, balik lagi dengan rumah pinggir jalan yang sedang saya ceritakan, kebanyakan rumah2 tersebut punya pekarangan yang tertata rapi dan pasti ada saja bunga nya. Karena orang Belanda terkenal dengan kegemarannya terhadap bunga, maka tak heran di setiap pekarangan mereka pun ada tanaman bunga.

Pemandangan umum di lahan pertanian Belanda


2. Jerman
Negara dengan luas berkali-kali lipat dari Belanda ini memiliki kontur daratan yang tak terlalu rata alias sedikit naik turun. Dengan rata-rata areal nya berupa hutan ber vegetasi empat musim di kanan kiri jalan, serta areal lahan pertanian yang sepi dari kumpulan hewan ternak seperti yang terlihat di lahan pertanian Belanda. Hanya beberapa kali terlihat kelompok sapi berwarna cokelat, yang saya tebak sebagai ternak sapi potong, sedang merumput di area peternakan. Rumah2 Jerman berbentuk compact besar dan beratap tinggi, memberikan kesan luas dan kokoh. Jarak satu rumah dengan rumah lain tidak begitu dekat bahkan seringkali dipisahkan oleh lahan pertanian. Namun ini saya hanya bercerita tentang apa yang terlihat di sepanjang highway ya, country side, bukan di pusat kota. Tentu kondisi perumahan nya akan terlihat berbeda dengan yang ada di pusat kota. Dan masih banyak terlihat lahan kosong tak terpakai yang isinya hanya semak belukar dan beberapa pohon. Mungkin saking besar nya wilayah Jerman, sampai masih banyak lahan yang tidak bertuan dan dimanfaatkan.



3. Denmark
Kurang lebih sama seperti Jerman, landscape Denmark pun naik turun dengan landai. Pemandangan bukit-bukit berumput hijau mirip di film Teletubbies tampak menggemaskan di sepanjang jalan. Tak jarang melewati hutan empat musim, meski tak sebanyak di Jerman (sepanjang highway dari Zealand ke Hamburg).
Rumah-rumah di Denmark memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan rumah di Jerman maupun Belanda. Bentuk atap segitiga, dengan body rumah simetris dan berwarna putih atau pastel, dengan pekarangan luas. Bentuk rumah yang sangat simpel mengingatkan pada bentuk rumah yang umumnya ada di kertas gambar anak-anak.

Namun, di antara semua perbedaan itu, ada dua persamaan yang saya temukan di sepanjang perjalanan.
1. Banyak terdapat kincir angin di lahan-lahan terbuka. Bukan kincir angin tradisional seperti di Belanda ya, melainkan kincir angin besi berwarna putih, yang tak lain merupakan pembangkit listrik tenaga angin. Kincir-kincir itu berjejer rapi di lahan luas dekt highway.
2. Hamparan kebun bunga Canola atau Rapeseed berwarna kuning, yang terutama saat musim semi, banyak terlihat menghampar di kiri kanan highway. Berhektar-hektar tanaman penghasil minyak ini sangatlah indah dan lumayan mengusir bosan saat perjalanan. (Kisah perburuan Canola ada di postingan saya selanjutnya.)

Canola fields along the way


Singkat kata, perjalanan selama 9 jam bisa terasa membosankan atau mengasyikkan, tergantung bagaimana kita mempersiapkan nya. Berikut ini saya bocorkan tips supaya perjalanan overland terasa menyenangkan:
# Bawa buku! Lumayan dapat beberapa chapter selma perjalanan kan :)
# Nonton film di iPad atau handphone
# Isi iPod atau mp3 player dengan lagu2 yg bisa bikin goyang, jangan yang melow, biar gak ngantuk
# Bawa cemilan! Wah kalo ini sih saya selalu bawa sekarung. Hahaha...
# Sedia kopi siap minum atau energy drink, supaya gak ngantuk melulu.
# Kamera & Tongsis! Biar gak mati gaya, boleh donk foto-foto dijalan hihihi....
# Bagi yang suka art, bisa bawa art atau kerajinan tangan yang bisa dikerjain sambil duduk di mobil. Macam menyulam, looming, atau bahkan melukis sketsa.
# Ngeblog on the road! :D Hehe... dan ini yang biasanya saya lakukan. :p

Kisah perjalanan overland saya lainnya (di Eropa Timur) akan saya paparkan di cerita-cerita selanjutnya ya. ;)

                      

Monday, October 21, 2013

More Steps to... Netherlands!

Selama 365 hari alias satu tahun sudah saya tinggal di Negeri Kincir Angin Belanda, yang kemudian belakangan sering saya plesetkan sebagai Negara Angin Gede atau kadang Negara Kipas Angin. Lantaran tingkat kecepatan angin nya yang luar biasa hingga mampu mempensiunkan kamera digital saya yang bertengger manis diatas tripod! Tak hanya kamera yang RIP, juga 3 buah payung saya pun semuanya 'njepat' tak berdaya ditiup angin Belanda. Well, tak heran memang negara ini famous dengan kincir-kincir anginnya.

Selain Negara Angin Gede, saya juga iseng-iseng menyebutnya Negara Super Rata, lantaran kontur daratan Belanda yang memang sangat rata dan nyaman banget untuk bersepeda. Seperti kita tahu, sebagian besar dataran Belanda berada di bawah permukaan laut. Negara artificial ini terkenal dengan teknologi dam/bendungan nya yang super canggih, sehingga mampu membendung air laut di sekeliling negaranya, dan menjaga datarannya tetap kering. Saya suka sekali naik kereta di Belanda dan melalui beberapa kota, karena pemandangan sepanjang perjalanan sangat cantik dan memanjakan mata. Mulai dari hamparan padang rumput dengan sekelompok sapi atau kuda dan domba, hamparan kebun gandum dan jagung, hutan dengan pepohonan empat musim, serta jejeran rumah-rumah kecil beratap runcing khas Belanda. Saya bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan duduk di kereta menuju kota-kota kecil di pinggiran Belanda.

Tak terbayangkan bahwa negara ini, monarki ini, dulunya pernah punya sejarah pahit dengan Indonesia. Penjajahan kolonialisme selama 3,5 abad di negara Indonesia tercinta telah menorehkan sejarah yang kurang enak dikenang, baik oleh kita warga negara Indonesia sendiri maupun oleh warga Belanda. Mereka mengklaim bahwa mereka tidak bangga dan bahkan sedih jika mengingat sejarah tersebut. Namun karena sejarah itu pula lah kini di Belanda banyak kita temukan orang-orang Indonesia, baik yang tulen maupun keturunan, tinggal dan beranak pinak di negara bekas penjajah tersebut. Tak hanya orang-orangnya, namun juga pengaruh budaya dan kuliner kental mewarnai Belanda masa kini. Makanan Indonesia terkenal enak di kalangan warga Belanda. Sering mereka selalu menyebut "Indonesia, hmmm lekker eten!" yang artinya makanan enak!. Begitu pula dengan menjamurnya resto masakan Indonesia di berbagai kota, yang biasanya dimiliki dan dikelola oleh orang Indonesia, juga banyak supermarket yang menjual bahan-bahan makanan Indonesia. Jadi jangan khawatir jika kangen masakan Indonesia, kita bisa dengan mudah datang ke resto Indonesia atau bisa juga masak sendiri, seperti yang selalu saya lakukan selama tinggal disini. Berhubung makan di resto tergolong mahal, jadi saya prefer masak sendiri. Dan disini pulalah akhirnya saya belajar masak rendang, soto, gado-gado, rica-rica, dll. Bahan-bahan bisa didapatkan di toko China atau toko Indonesia. Toko China lengkap adalah Toko Wah Nam Hong, ada di Den Haag, Rotterdam, dan Utrecht. Indomie, Teh Botol Sosro, Sambal ABC, Kecap Bango, bahkan Tolak Angin pun bisa dengan mudah didapat di toko ini.

Pengaruh budaya Indonesia di Belanda bisa dilihat dari event-event kebudayaan yang sering digelar di Belanda. Contohnya event Pasar Malam Indonesia dan Tong-Tong Fair, yang keduanya secara rutin diselenggarakan tiap tahun di Den Haag sekitar bulan Maret-Mei. Event ini layaknya sebuah pasar malam atau pameran, yang isinya tentu kuliner nusantara, pertunjukan kesenian dan kebudayaan, serta stand-stand kerajianan khas nusantara. Selain itu, beberapa museum di Belanda juga dengan gamblang memaparkan kebudayaan Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketika saya berkunjung ke Museum Volkenkunde di Leiden pada bulan Mei lalu. Di museum ini ada section atau ruangan yang isinya berbagai benda-benda seni Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua. Bangga rasanya menyaksikan kekayaan nusantara dipajang dan dipamerkan disini, di negara bekas penjajah nusantara. Namun di saat yang sama, saya pun sedikit merasa malu, karena bahkan saya sendiri yang seorang Warga Negara Indonesia, tidak memiliki pengetahuan yang luas akan kebudayaan bangsa saya sendiri. Di museum ini, saya mencoba bermain gamelan bersama para pengunjung lainnya, yang notabene kebanyakan warga lokal. Ironis memang, malah di negara lain saya belajar tentang kebudayaan bangsa saya sendiri!

Jika ditanya, mana kota favorit saya di Belanda.... well, saya bingung jawabnya! Mari kita bahas satu persatu.

Rotterdam
Saya tinggal di Rotterdam, kota terbesar kedua di Belanda yang penampakannya lain dari yang lain, sebuah kota metropolitan modern yang sarat dengan denyut bisnis, perkantoran, dan fashionista. Tinggal di kota modern ini, tidak terasa seperti tinggal di Belanda, melainkan disebuah negara bagian di dataran Amerika. Hehe... Ya, karena wajah kota ini diwarnai dengan bangunan-bangunan modern, sistem transportasi, tata kota,  dan kebersihan yang patut diacungi jempol. Kota ini nyaman untuk tinggal, namun kurang eye-catching untuk tujuan wisata. Jadi, kategori untuk 'The Nicest Area for Living' menurut saya, jatuh pada kota Rotterdam ini.
Namun, bukannya tidak ada yang tidak bisa dilihat dari kota ini. Rotterdam juga punya beberapa spot menarik seperti The Cube House atau Kijk Kubus. Bangunan apartment modern dengan bentuk segitiga bergerombol ini merupakan salah satu atraksi paling diminati oleh wisatawan. Rumah-rumah kubus berwarna kuning ini bisa ditemukan di depan stasiun Rotterdam Blaak, disebelah gedung berbentuk pensil atau Het Potlood. Di belakang Cube House ini terdapat sebuah pelabuhan tua bernama Oude Haven, tempat tertambatnya kapal-kapal tua yang masih beroperasi. Di pinggiran Oude Haven berjejer cafe-cafe outdoor yang cozy untuk sekedar ngopi atau nge-beer. Favorit saya adalah cafe Villa Kakelbont, tempat ngumpulnya komunitas Couchsurfing Rotterdam setiap minggu. Tepat di depan Oude Haven, berdiri sebuah gedung putih bernama Witte Huis yang dulunya merupakan gedung tertinggi pertama di Eropa. Namun sekarang tentunya sudah kalah oleh gedung-gedung lainnya. Dari Oude Haven ini, bisa terlihat sebuah jembatan merah tak jauh di sebelah kiri, bernama Willemsburg, yang berwarna kontras dengan jembatan putih terkenal, icon kota Rotterdam, Erasmusburg. Dua jembatan besar ini menghubungkan Rotterdam Selatan dan Utara yang dibelah oleh sungai Nieuwe Mass. Trus, apa lagi yang bisa dilihat dari Rotterdam? Well, anda suka belanja? Di kota ini terdapat sebuah jalan bernama Lijnbaan yang merupakan pedestrian shopping walk terpanjang pertama di dunia! (They claimed it). Juga ada Primark Dept. Store, surganya belanja murah meriah di Rotterdam Alexandrium. Mau wisata hutan dan danau? Bisa ke Kralingen, salah satu area high class tempat tinggal 'horang kayah' dimana terdapat danau Kralingse Plaas lengkap dengan hutannya. Mau lihat kincir angin alias Mollen? Tinggal naik kapal ke Kinderdijk, desa kincir angin yang ditetapkan sebagai UNESCO Herritage, dengan jarak 1 jam perjalanan menggunakan kapal.

The Cube House

Kinderdijk

Delft
Kota kecil cantik, yang merupakan tetangga Rotterdam dengan jarak 11 menit berkereta. Kota ini masuk kedalam kategori favorit saya, karena suasananya yang tenang dan nyaman untuk duduk-duduk nyore sambil ngopi di pinggir kanal. Wajah kota ini tua dan klasik, dengan sebuah gereja tua bermenara sedikit miring di tepi kanal, juga lapangan berlantai cobblestones di depan gereja Nieuwe Kerk yang bermenara tinggi dengan jejeran cafe-cafe outdoor dan toko souvenir di sekitarnya, kanal-kanal kecil nan cantik dengan pagar besi putih yang selalu disenderi sepeda-sepeda, serta angsa dan bebek yang dengan damai bercengkrama di air. Well, kota kecil ini membuat saya jatuh cinta saat pertama kali mengunjunginya di minggu pertama saya tinggal di Belanda. Di kota ini pula terdapat sebuah cafe bernama Kobus Kuch yang terkenal dengan Apple Pie nya, di klaim sebagai 'The Finest Apple Pie in The World'. Potongannya yang besar disajikan hangat dengan whipcream dingin di atasnya. Menulis ini membuat saya membayangkan betapa crunchy nya apple pie tersebut lumer di mulut! Hyaaaa..... *ngiler*
Selain Apple Pie, coba juga es krim Otelli, yang terletak di sisi kiri lapangan Marktplein (depan Nieuwe Kerk). Kedai es krim atau gelato ini merupakan salah satu yang terbaik di Belanda (menurut survey lidah saya ya). Harganya pun tidak mahal, hanya €1.25 per scoop, dengan berbagai pilihan rasa. Cocok buat nyore-nyore sambil melihat burung-burung merpati liar yang asyik mematuk-matuk pelataran Marktplein.
Mau melihat pemandangan kota Delft dari ketinggian? Bisa naik ke menara gereja Nieuwe Kerk setinggi 108m, dengan tiket masuk menara seharga €3.50 untuk dewasa.

Menara Nieuwe Kerk dan Otelli ice cream :) yummyyy...
 

Den Haag
Kota pemerintahan Belanda, yang dulunya saat saya masih SD sering sekali saya baca di buku pelajaran sejarah. Namun tak menyangka akhirnya beberapa belas tahun kemudian saya benar-benar berada di kota ini, bahkan setiap minggunya! Wajah kota Den Haag atau The Hague ini merupakan perpaduan klasik dan modern, yang terlihat dari tak hanya rumah-rumah kuno melainkan juga gedung-gedung tinggi perkantoran di seputaran pusat kota. Di kota inilah pusat pemerintahan kerajaan Belanda berada. Kantor-kantor kementrian, duta-duta besar, kantor pemerintahan, semua berlokasi di kota Den Haag. Tepat di sebelah stasiun Den Haag Centraal, berdiri dua buah gedung kembar berwarna merah dan putih yang merupakan kantor kementrian, salah satunya adalah kantor Het Nederlandse Ministerie van Binnenlandse Zaken en Koninkrijksrelaties (Kementrian Dalam Negeri dan Perhubungan Kerajaan). Hehe... hafal banget sama tempat ini karena sesuatu! eh, seseorang. eh? koq jadi curcol! :p
Jika keluar stasiun ambil exit yang di sebelah kiri, kemudian jalan lurus, akan bertemu dengan bangunan putih modern dengan banyak jendela kaca, itulah Stadhuis atau kantor walikota, lengkap dengan Bibliotheek (perpustakaan). Tak jauh dari seberang jalan, ada sebuah gereja yang tidak begitu besar namun lumayan klasik namanya Nieuwe Kerk, tempat saya biasa beribadah setiap minggunya. Kemudian, jalan ke kanan akan terlihat Pathe, bioskop nya Belanda, dengan sebuah jalan kecil di sebelahnya, yang merupakan jalanan menuju ke China Town Den Haag. Ditandai dengan deretan lampion merah yang menggantung sepanjang jalan, kawasan China Town ini dipadati dengan berbagai toko, salon, dan resto China di kedua sisinya, lengkap dengan dua buah gapura naga khas Tionghoa berwarna merah. Di kawasan China Town inilah saya biasa belanja bahan-bahan makanan Asia bahkan Indonesia. Mulai dari tahu tempe, sambal, indomie, dll pun ada. Harga juga lebih murah jika belanja di salah satu toko yang bernama Toko Wah Nam Hong. Selain itu juga ada resto-resto China, mulai dari yang harganya ramah di kantong pelajar, hingga yang bersuasana luxury. Saya pernah mencoba makan di beberapa resto di kawasan itu. Mulai dari yang super low budget 'American Food' stall (tempat saya biasa beli nasi kuning + ayam seharga EUR3 per porsi, atau Pizza EUR1/potong), low budget 'Ming Kee' (seporsi nasi + lauk pauk cuma EUR5), yang medium budget 'Fat Kee' (sekitar EUR5-7/orang), hingga yang luxy 'Kee Lun'. Kalo yang terakhir itu sih jujur aja saya gak bayar alias di traktir temen pas ultah, hehehe :D
Lanjuuut... Kalau dari Bibliotheek jalan lurus ke kanan, setelah melewati Burger King nanti akan ketemu bangunan besar yang terkenal, namanya Het Binnenhof. Bangunan mirip kastil tua cantik ini merupakan kantor pemerintahan parlemen sejak tahun 1446. Di pelataran Binnenhof, ada stand penjual seafood dengan menu andalannya ikan fresh Haring. Disinilah pertama kalinya saya mencoba makanan khas Belanda tersebut. Ikan Haring mentah yang telah diasinkan, dan dimakan bersama potongan bawang bombay itu terasa nikmat dan juicy saat dikunyah. Awal mencoba, rasanya aneh karena tersugesti oleh pikiran sendiri yang mengatakan bahwa ini ikan mentah! Namun 2-3 kali berikutnya, Haring mentah pun terasa nikmat dan menjadi makanan favorit saya, apalagi saat summer tiba, hmmmm.... juicy fresh Haring is always tempting! :) 

Het Binnenhof

Disebelah Binnenhof ada danau cantik tempat bebek dan angsa biasa bercengkrama. Sepanjang sisi danau terdapat bangku-bangku dibawah naungan pepohonan. Tak jauh di sebelah kanan  danau, ada kanopi pepohonan yang memanjang, dengan jejeran lampu-lampu cantik dan bangku taman yang nyaman untuk duduk-duduk menikmati sore. Tempat ini bernama Lange Voorhout, tempat favorit saya menghabiskan waktu membaca buku sore-sore. Di Lange Voorhout ini juga biasanya pawai atau arak-arakan kereta kencana kerajaan dilaksanakan. Jika musim gugur tiba, tempat ini semakin cantik dengan kuningnya daun-daun yang berguguran.

Lange Voorhout

Dari Binnenhof bisa jalan kaki ke arah selatan menuju Paleis Noordeinde, yang merupakan kantor Sang Ratu (sekarang Raja). Di Paleis Noordeinde inilah kuda-kuda dan kereta kencana kerajaan disimpan. Ada taman di bagian belakang Paleis yang terbuka untuk umum dan sangat cantik saat musim semi tiba. Melewati Paleis Noordeinde, kalau jalan terus ke selatan akan sampai di Vredespaleis atau Peace Palace. Bangunan tua cantik dengan taman asri yang besar ini tak lain adalah kantor International Court of Justice. Masuk Vredespaleis harus ditemani oleh guide yang telah dibooking dulu beberapa hari sebelumnya. Saya sih nggak pernah masuk, hanya foto-foto dari luar saja. Hehe...
Apa lagi yang menarik dari Den Haag? Ada Madurodam tentunya! Miniatur park yang berisi bangunan-bangunan kecil yang mewakili seluruh kota di Belanda ini cocok dijadikan tujuan wisata keluarga dan anak-anak. Naik tram no.9 jurusan Scheveningen dari Stasiun Den Haag Centraal, turun di Madurodam. Kalau mau terus, bisa sampai di pantai Scheveningen, turun di Kurhaus. Di Scheveningen bisa nongkrong di cafe-cafe sepanjang garis pantai. Tak ada yang menarik di pantai kelabu ini kecuali saat summer, isinya manusia berjejer ala ikan asin, mandi sinar matahari yang tergolong langka bersinar di negara mendung tersebut! Hehe...


Amsterdam
Ibu kota negara Belanda, tujuan utama pertama bagi wisatawan, kota dengan tingkat pencurian sepeda terparah di Belanda, kota seribu kanal, kota yang selalu sibuk dengan hilir mudik manusia penggeret koper maupun penggendong ransel, kota tempat segala aktifitas melenceng dilegalkan. Ya, itulah deskripsi saya mengenai Amsterdam, yang jujur bukan merupakan kota favorit saya. Satu kata saja: Semrawut! Entah kenapa seluruh wisatawan dari segala penjuru dunia selalu menjadikan Amsterdam sebagai kota pertama tujuan wisata di Belanda. Memang sih kota ini cantik, klasik, dan tua. Namun hiruk pikuknya denyut pariwisata disini membuat saya sedikit jengah tiap kali berada disana. Belum lagi ditambah semerbak bau ganja dimana-mana. Aih.... kalo nggak penting-penting amat saya malas main di Amsterdam. Well, namun saya tetap akan menjabarkan apa saja yang bisa dilihat dari kota tua berkanal ini.

Amsterdam Canal
First, Stasiun Amsterdam Centraal. Merupakan salah satu stasiun kereta tua nan cantik di Belanda. Letaknya di tepi perairan yang memisahkan AMS selatan dan utara. Kalau mau explore bagian utara, bisa naik boat untuk menyeberang, dan gratis. Boat berwarna putih biru ini beroperasi setiap saat dengan jeda waktu per 15 menit. Di bagian utara, ada museum film terkenal, yaitu The Eye. Bagi penggemar cinematografi dan perfilman, boleh dicoba mengunjungi museum ini.
Di bagian Selatan, lebih banyak yang bisa dilihat. Museum-museum, kanal, dan kota tua menjadi incaran para wisatawan, termasuk the famous Red Light District. Dari stasiun, jalan menyusuri boulevard utama bernama Damrak, sampai di lapangan Dam Square. Lapangan ini dikelilingi oleh Museum Madame Tussaud, Royal Palace, Nieuwe Kerk, dan Centrum. Sekitaran Old Town area ini bisa ditelusuri dengan berjalan kaki, melintasi bangunan-banguanan tua, kanal-kanal cantik, deretan sepeda yang terparkir asal-asalan, juga cafe-cafe tepi kanal yang cozy buat ngopi.
Kalau dari Damrak belok ke kiri, bisa tembus ke kawasan Red Light District. Pusatnya kegiatan prostitusi legal di Amsterdam, dimana terdapat banyak jendela kaca berlampu merah dengan isi gadis-gadis penjaja sex yang terpajang manis didalamnya. Jangan harap bisa foto-foto di area ini, karena area RLD ini terlarang untuk difoto. Kalau mau ngumpet-ngumpet sih bisa aja, tapi kalau ketahuan bisa berabe digiring polisi nanti. hehe....
Di kota ini, sering diadakan event-event nyeleneh seperti Gay Parade dan semacamnya. Seperti kita ketahui, Belanda merupakan negara yang membebaskan dan melegalkan homoseksual, prostitusi, dan juga marijuana. Jadi jangan heran jika menginjakkan kaki di Amsterdam, anda akan disambut dengan aroma ganja ataupun pemandangan adegan homoseksual bercengkrama di tepi jalan. Pertama kali melihat yang beginian, saya pun mangap plus muka mengernyit. Tapi lama kelamaan menjadi hal yang biasa melihat pria dengan pria bermesraan didepan umum. haha...
Overall, Amsterdam cantik dan menarik, hanya saja terlalu ramai dan semrawut oleh seliweran wisatawan. :)


Dam Square Amsterdam

Leiden
Kota yang sering disebut sebagai kota pelajar ini memang tidak terlalu ngetop seperti Amsterdam. Namun, saat musim semi tiba, auranya mengalahkan kota-kota lainnya di Belanda. Kenapa? Karena di Leiden lah terdapat berhektar-hektar kebun bunga yang bermekaran dengan cantiknya di musim semi. Tahu donk ya kalau Belanda terkenal dengan bunga tulip nya? Nah... di kota Leiden ini, tepatnya di daerah Lisse (antara Leiden dan Harlem) kita bisa menemukan hamparan kebun bunga warna warni yang menggemaskan untuk difoto. Tak hanya Tulip yang merajai kebun bunga, namun juga Amarilis, Daffodil, hingga Hyacinth juga tak kalah menawan mewarnai seluruh penjuru Leiden dan Lisse. Di Lisse pula terdapat sebuah spot wisata bunga yang terkenal di seantero bumi yaitu Keukenhof. Taman wisata bunga ini selalu dipadati ribuan pengunjung di musim semi nya. Dengan tiket masuk seharga EUR15, kita bisa masuk ke taman yang berisi berbagai macam jenis bunga. Namun tak hanya Keukenhof yang menyimpan pesona keindahan taman bunga, saya pribadi lebih memilih menyewa sepeda dan menyusuri pedesaaan sepanjang jalan dari Leiden ke Lisse. Jarak 16km antara Leiden-Lisse tidaklah menjadi soal jika sepanjang perjalanan mata kita akan dimanjakan oleh hamparan kebun bunga tak berujung! 

Hamparan Tulip di Leiden

Zaandam
Kota tradisional kecil ini terkenal dengan rumah-rumah hijau tua nya, juga tempat wisata kincir angin Zaanse Schans.Terletak di sebelah utara kota amsterdam, bisa dicapai dengan kereta maupun bus. Di dekat stasiun Zaandam, terdapat sebuah hotel unik bernama Inntel Hotel. Mengapa unik? Karena bentuk arsitekturnya yang tidak biasa, yang terlihat seperti tumpukan beberapa rumah hijau Zaandam yang digabung menjadi satu. Tak jauh dari hotel ini, terdapat sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan happening. Salah satunya ada Primark, departement store ternama yang famous dengan harga murahnya. Dari Zaandam bisa naik bus atau kereta ke Zaanse Schans. Pada musim panas, area Zaanse Schans ini ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran dengan penampakan kincir-kincir angin (molen) khas Belanda. Jejeran molen terlihat anggun berbaris di sepanjang tepi sungai, plus deretan rumah-rumah tradisional Belanda yang berwarna hijau tua terlihat manis menyembul di sela-selanya. Letaknya yang tak jauh dari Amsterdam membuat Zaanse Schans menjadi tujuan wisata wajib bagi para wisatawan.

Zaanse Schans

Inntel Hotel Zaandam

Volendam
Merupakan kota nelayan kecil terletak di utara Amsterdam, yang bisa dicapai dengan bus selama kurang lebih satu jam perjalanan. Di Volendam ini, para wisatawan pasti akan berfoto di studio foto dengan mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen kayu dan Tulip. Well, seems like mostly tourist came here for that kind of photo shoot! Haha... Selain terkenal dengan foto baju tradisionalnya, Volendam juga terkenal cantik saat winter tiba. Dimana saat salju turun dengan lebat dan menutupi pelabuhan serta laut dan kapal-kapalnya, maka akan terlihat sangat cantik bak hamparan salju di negeri dongeng.

Giethoorn
Sebuah desa kecil berkanal-kanal yang dijuluki sebagai "Venice nya Belanda". Deretan rumah-rumah khas Belanda berjejer rapi dengan diapit oleh puluhan kanal-kanal kecil yang berkelok-kelok di semua penjuru. Lengkapnya ada di postingan yang ini :)

Salah satu sudut Giethoorn


Nijmegen
Nijmegen adalah salah satu kota di bagian timur negara Belanda, yang merupakan kota tertua di negara tersebut. Pada tahun 2005, kota ini merayakan ulang tahun yang ke 2000! Kota tua ini banyak berisi bangunan-bangunan tua peninggalan abad pertengahan seperti, reruntuhan Valkhof Castle berikut bentengnya. Tak hanya melulu berisi bangunan tua, kota ini juga memiliki area downtown/pusat kota yang cukup modern. Sehingga perpaduan harmoni arsitektur antara Old and New membuat kota ini bisa menjadi salah satu alternatif saat anda bosan dengan hiruk-pikuk turisme kota Amsterdam. Kota kecil yang jauh dari keramaian turis ini bisa masuk dalam list kunjungan anda ke Belanda. :)

Kota Tua Nijmegen


Noord Brabant & Zuid Limburg
Dua provinsi bagian bawah (Selatan) Belanda ini berbatasan dengan negara tetangga Belgia dan juga Jerman. Di Noord Brabant, ada kota Breda, Eindhoven, & Roosendal (perbatasan Belgia) yang bisa dijadikan alternatif untuk menghabiskan weekend dengan trekking ke hutan maupun camping. Kawasan ini masih memiliki banyak hutan hijau dan danau alami ditengah hutan. Atau kalau mau melihat pemandangan padang rumput berbukit yang hijau royo-royo, bisa mengeksplore kawasan Zuid Limburg (South Limburg) yang mencakup wilayah Maastricht, Valkenburg, hingga Vaals yang berbatasan dengan Jerman dan Belgia. Jangan heran jika anda melihat perbedaan karakteristik kota di bagian Zuid Limburg ini dengan kota-kota lain di Belanda. Karena berdiri di perbatasan tiga negara, maka daerah Zuid Limburg ini berisi perpaduan budaya tiga negara. Cukup unik dan wajib dicoba, mulai dari dialek bahasanya, kulinernya, hingga arsitektur kotanya. Maastricht, kota unik dengan dialek unik dan terkenal dengan Christmas market dan Carnival di setiap tahunnya ini sekarang mulai dilirik para wisatawan yang ingin menemukan sensasi berbeda di Belanda. 

Reruntuhan kastil Valkenburg

Valkenburg, kota tua tempat berdirinya benteng dan kastil abad pertengahan, juga lorong-lorong bawah tanahnya yang menantang untuk ditelusuri. Vaals, kota berbukit hijau yang menawarkan pemandangan alam yang tiada duanya ini terkenal dengan Drielandenpunt, yang merupakan titik batas tiga negara. Baca selengkapnya disini dan disini. :)

Hamparan perbukitan nan hijau di Zuid Limburg

Trekking & main di peternakan bisa dilakukan di Zuid Limburg

Roermond
Kota kecil di perbatasan jerman ini cukup cantik untuk weekend gateaway. Kontur jalanan yang fully cobbled stone membuat penampakan kota tua ini terlihat makin klasik. Bicara tentang Roermond pasti yang ter pop-up di kepala adalah Designer Outlet Roermond! Surganya belanja barang-barang branded dengan harga yang tidak menguras kantong. Mulai dari yang luxury semacam Burberry, Dolce Gabbana, atau Aigner. Hingga yang casual dan sporty macam Tommy Hilfiger, Nike, atau Benetton. Semua harga di outlet ini dipastikan lebih murah dari outlet resmi di kawasan pertokoan. Terlebih saat Summer Sale dan Winter Sale, jangan ditanya bagaimana suasananya. Rame banget!!! Wisatawan dan penduduk lokal berbondong-bondong belanja di Roermond yang heboh menggelar diskon up to 70% all brands! So? Mau belanja tanpa menguras kantong? Roermond bisa jadi pilihan. ;)

Surga belanja: Roermond!!


Masih banyak lagi tempat-tempat unik di Belanda yang patut untuk dicoba dan dijelajahi. Menelusuri Belanda dari ujung ke ujung sangatlah menyenangkan. Beberapa tempat yang saya tulis diatas merupakan tempat-tempat yang sering saya kunjungi dan termasuk favorit saya. Untuk metode transportasi menuju tempat-tempat tersebut, bisa di cek di situs resmi kereta atau juga di trip planner.
Jangan lupa juga lihat perkiraan cuaca, karena cuaca di Belanda sering tidak menentu dan lebih sering hujannya ketimbang terangnya. Hehe...
Semoga tulisan ini bisa membantu bagi siapa saja yang berencana mengeksplorasi Belanda.

Saturday, August 31, 2013

Tales From The Borders

Bicara tentang border, selalu membuat saya excited! Lahir dan besar disebuah negara kepulauan yang notabene hampir seluruh batas negara berupa samudera (Kecuali Kalimantan & Papua) membuat saya selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuh garis batas antar negara. Dan kesempatan itu saya dapatkan selama di Eropa. Tiga kali merasakan pengalaman menyentuh tugu batas negara, belum membuat rasa penasaran saya tuntas. Pertama kali merasakan berdiri di titik perbatasan 3 negara Belanda-Belgia-Jerman (baca postingan Drielandenpunt disini) rasanya sangat luar biasa! Pengalaman itu membuat saya ingin kembali merasakan menyeberangi border negara Belanda baik yang ke Belgia maupun ke Jerman secara terpisah melalui jalur darat, dengan berjalan kaki. Pasti sensasinya akan sangat seru sekali bisa merentangkan dua kaki di dua negara, hehehe...

Summer time, Camping time! Ya, awal Agustus lalu saya dan beberapa teman memutuskan untuk berkemah alias kemping di sebuah campsite di provinsi Noord-Brabant, dekat perbatasan Belgia. Well, actually kami tidak benar-benar bermalam disebuah tenda yang dipancangkan dengan tali, melainkan kami menyewa sebuah mini log hut atau rumah kayu, dengan 5 tempat tidur di dalam nya. Rumah mungil ini berkapasitas maksimum 5 orang, lengkap dengan living room, sofa, dapur, dan kulkas. Hmmm... cukup lengkap, mirip seperti rumah tinggal. Bedanya hanya log hut ini terletak di depan sebuah padang rumput, dengan danau kecil tak jauh di bawahnya. Harga sewa log hut ini semalam €75 yang bisa dibagi ber-5 dengan teman. Lumayan murah bukan? Dengan fasilitas pendukung seperti kamar mandi, listrik, dan Wi-Fi (yang ternyata tidak terkoneksi. sigh!). Di campsite ini pengunjung juga bisa menggunakan tenda, baik yang personal tent maupun tipitent, sebuah tenda kerucut besar ala suku Indian yang bisa muat sekeluarga. Info lengkap, bisa dilihat di http://www.dehoevens.nl/

Saya, Jerry, Phil, Asri, & Guido @ Landgoed de Hoevens

Siang itu, cuaca cukup cerah. Setelah menaruh barang-barang di dalam rumah kayu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mulai mengeksplore daerah sekitar campsite. Mulai dari danau, hutan, hingga ke perbatasan Belgia. Berenang merasakan sejuknya air danau, blusuk'an di hutan memetik buah-buah wild berry, berjalan keluar masuk hutan mengikuti jalur hiking yang tertera di peta, sampai akhirnya tiba di pinggiran negara Belanda yang berupa areal ladang sayuran. Di tepi ladang kol tersebut terdapat sungai kecil (siring; bahasa jawa nya, hehehe) dengan jembatan putih diatasnya, yang ternyata merupakan batas negara Belanda-Belgia. Di samping jembatan terdapat sebuah tugu setinggi 1 meter berwarna putih, yang merupakan tugu border, dan di sisi satunya terdapat sebuah patung berbentuk klompen (sepatu khas Belanda) yang terbuat dari kayu. Dan setelah saya perhatikan, terlihat sebuah tanda yang lumayan mencolok di aspal jalan yang melintasi sungai kecil tersebut. Terlihat aspal bagian Belanda berwarna lebih terang dari aspal di bagian Belgia yang berwarna lebih gelap dan bertekstur kasar. Well, jadi sekarang saya tahu, dimana garis pembatas itu berada saat melihat perbedaan aspal tersebut. Di sebelah border ini terdapat sebuah desa kecil bernama Aarle, yang merupakan wilayah dari Ravels - Belgium. Tujuan kami ke Aarle untuk apa? Selain mau merasakan sensasi menyeberangi batas negara dengan berjalan kaki, kami juga iseng-iseng mencari tukang es krim! Hehehe.... maklumlah, perjalanan sejauh 3,8km di cuaca panas membuat sebuah kata 'es krim' terdengar begitu menggiurkan. Luckily, kami menemukan sebuah cafe kecil di dekat border, yang ternyata juga menjual homemade gelato. Jadilah hari itu kami nyebrang ke Belgia demi gelato, hehehe....

Border Belanda - Belgia


Wild Berries


Klompen kayu raksasa

 
Tugu border

Tinggi tugu border hampir setinggi saya :D


Melangkahi border Belgia, sudah. Kini saatnya melangkahi border Jerman! Hari ini di penghujung bulan Agustus, saya dan Vania memutuskan untuk nyebrang ke Jerman melalui Venlo, sebuah kota di provinsi Noord-Brabant - Belanda. Dari Rotterdam, naik kereta selama 2 jam, kemudian lanjut jalan kaki sejauh 7,8km ke arah timur menuju sebuah desa kecil bernama Am Wittsee di Jerman. Well, sebetulnya kami bisa saja naik bus, tapi memang dasarnya otak bolang, saya memilih berjalan kaki selama 1,5jam demi mencapai sebuah danau di Am Wittsee ini. Bukannya apa, saya memang lebih suka berjalan kaki menikmati setiap medan dan pemandangan sepanjang jalan, daripada duduk anteng di dalam bus, kurang gereget rasanya. Hehe...

Untuk mencapai Am Wittsee, kami harus melalui sebuah daerah pemukiman bernama Schwanenhaus yang terbelah dua oleh garis batas negara. Jadi ada Schwanenhaus di bagian Venlo (Belanda) dan sebagian di area Kaldenkirchen (Jerman). Titik batas yang terdapat di Schwanenhaus ini merupakan border tua penyeberangan antara Belanda-Jerman. Namun semenjak dibangunnya highway A61 yang menghubungkan Belanda dan Jerman, maka border tua di Schwanenhaus ini ditutup untuk mobil, dan hanya bisa dilalui oleh sepeda serta pejalan kaki saja. Yang tersisa kini dari border tua tersebut hanya 3 buah tugu batu bulat yang berdiri diantara rerimbunan tanaman perdu pembatas. Sama halnya dengan border yang saya jumpai di Belgia sebelumnya, disini pun aspal kedua negara berbeda. Di bagian Belanda, jalanan terbuat dari paving blocks, sedangkan di bagian Jerman terbuat dari aspal kelabu kasar. Konon katanya, perbedaan layout dan tekstur ini pun terlihat di highway A61, tepat di garis batas pemisah dua negara tersebut. Namun sayang, saya tidak punya cukup waktu untuk investigasi ke jalan tol tersebut. Dengan ditiadakannya pemeriksaan passport di perbatasan negara-negara Uni Eropa pada 1 Januari 1993 , banyak marka-marka perbatasan yang dihilangkan atau diminimalisasikan. Sehingga yang tertinggal kini hanya tugu-tugu batu tua, yang beberapa bahkan tersembunyi di balik rimbunnya tanaman perdu. Namun, saya cukup bersyukur kembali bisa melangkahkan kaki melewati border dua negara yang notabene adalah rival bebuyutan, bagai Indonesia vs Malaysia. Hehehe...


Border Belanda - Jerman

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke desa Am Wittsee untuk mencari danau Großer de Witt-See, dan rencananya mau makan siang disana, dengan bekal yang saya bawa. Lho, ngapain jauh-jauh makan siang ke Jerman? Bukannya di dekat rumah di Rotterdam juga ada danau? Well, memang sih di dekat rumah juga ada danau, dan lebih cantik malah. Namun seperti saya bilang, memang dasarnya saya ini nggak bisa diam di rumah dan senangnya blusuk'an ke tempat-tempat un-touristy, jadi ya senang saja jalan kaki 8km selama 1,5jam. Demi makan nasi goreng, telur dadar, dan sambel terasi, di pinggir danau in the middle of nowhere di Jerman! Wong sinting!:D
Makan siang ala backpacker kere :p

Di pinggir danau itu terdapat sebuah Restaurant yang bernama sama dengan tempat itu sendiri, restaurant Am Wittsee. Saat saya hendak kembali ke Venlo (niatnya mau hitch hike kali ini, karena sudah menjelang malam untuk jalan kaki 8km lagi), saya sempat melewati restaurant ini, dan tiba-tiba dipanggil oleh dua orang bapak-bapak setengah baya. Dua orang bapak tua, seorang ibu paruh baya, dan seorang pemuda sedang duduk di sebuah meja bulat dengan beberapa gelas beer di atasnya. Mereka menyapa saya dan Vania dengan bertanya "Hello, how was the lake? Is it nice?" Dilanjutkan dengan basa-basi umum tentang danau dan cuaca, sampai tiba saat mereka bertanya asal kami dari mana. Saat kami menyebut "Indonesia", mereka langsung excited dan menerangkan bahwa mereka pernah ke Indonesia beberapa kali. Jadilah obrolan makin panjang dan lama, plus ditraktir beer dan coke juga. Mereka menyatakan bahwa Indonesia sangatlah indah dan penduduknya ramah :) Wah, bangga juga nih sebagai warga negara Indonesia! Hehe... Singkat kata, setelah ngobrol ngalor ngidul selama beberapa saat, salah seorang bapak ini tiba-tiba menyodorkan selembar uang €50 kepada kami dan bilang "Take it, use this money for taxi to Venlo. Don't walk again." Hah??? Saya dan Vania sampai terbengong-bengong. Namun jiwa 'Asia' saya yang masih tahu 'unggah-ungguh' alias tata krama, dengan halus menolak uang tersebut dengan dalih kami masih bisa mendapatkan tumpangan mobil di perjalanan pulang nanti. Namun dua bapak tua itu tetap memaksa, karena mereka menganggap Indonesia sudah sangat baik kepada mereka saat mereka berkunjung kesana, dan kini lah saatnya mereka balik berbuat baik kepada orang Indonesia yang datang ke tanah mereka, Jerman. Well, terharu sekali saya dibuatnya. Akhir kata setelah ngobrol banyak tentang Indonesia (bahkan sejarah Bung Karno pun mereka hafal), mereka sepakat untuk memesan dan membayar sebuah taxi untuk mengantar saya dan Vania sampai Venlo. Oh my God... Tuhan sungguh baik! Hari ini kami sangatlah beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik yang sangat menghargai bangsa Indonesia. Bahkan dari kejadian ini, saya bercermin kepada diri saya sendiri, sudah sejauh manakah saya kenal bangsa saya sendiri, Indonesia. Bahkan pelajaran sejarah Indonesia pun saya sudah banyak yang lupa. Namun ini orang asing, orang Jerman, malah tahu tentang sejarah penjajahan Belanda dan kemerdekaan RI segala. Terbukti, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang respect terhadap Indonesia. Dan dari kejadian ini pula lah, persepsi saya ke orang Jerman (berdasarkan my bad experience with Germans) menjadi berubah, ternyata masih ada orang Jerman yang baik dan tulus. :)

wandelen alias jalan kaki
 

Tuesday, August 20, 2013

Techno-Farmland in Netherlands

Musim panas 2013.
Awalnya saya berniat untuk bekerja part time selama liburan musim panas bulan Agustus ini. Ingin sekali rasanya merasakan pengalaman bekerja di sebuah lahan pertanian ataupun peternakan. Bekerja di tengah ladang, bersama sapi dan kuda terlihat sangat mengasyikkan. Dan, dimulailah petualangan saya bersepeda keluar masuk pedesaan di daerah pinggiran kota Rotterdam, demi mencari sebuah kesempatan bekerja di lahan pertanian.

Namun ternyata mencari pekerjaan di perkebunan maupun peternakan disini lumayan susah (sangat susah malah). Kenapa? Karena disini tenaga kerja manusia sudah banyak digantikan oleh mesin! Selama beberapa hari berkelana diseputaran Rotterdam hingga perbatasan Schiedam bahkan sampai Nieuwekerk a/d Ijssel, keluar masuk lahan pertanian, namun hasilnya nihil... Tak satupun pekerjaan part time bisa saya dapat. Alasannya simpel, para pemilik lahan bilang "Kami berkebun menggunakan mesin, jadi sudah tidak mempekerjakan tenaga manusia lagi. Dan hanya kami sekeluarga lah yang mengurus perkebunan ini sendiri."

Tidak hanya itu, Bapak petani yang ramah ini pun mengantarkan saya melihat-lihat areal perkebunannya (kebun didalam rumah kaca), dan menunjukkan bagaimana mesin pemangkas bekerja, juga mesin pemetik buah. Saya cuma melongo, melihat buah-buah Paprika kuning yang berjatuhan ke wadah dan otomatis langsung masuk ke mesin packaging. Proses sortir buah pun hanya dilakukan oleh satu orang (anak pemilik perkebunan) yang dengan tangkas memilah-milah paprika yang layak packing atau yang tidak. Buah-buah paprika yang tidak lulus sortir, langsung dipindahkan ke jalur 'prulen bak' alias Tong Sampah. Untuk kemudian diberikan ke kandang domba di sebelah pertanian, yang notabene juga masih milik yang punya perkebunan ini. Setelah packing di box-box besar, kemudian paprika langsung dimasukkan ke mobil box untuk diantar ke toko-toko. Proses memasukkan box-box ini kedalam mobil pun hanya memerlukan tenaga 1 orang saja, yang bertugas menjalankan remote control sebuah mesin pengangkut dan robot penyusun box! Wooowww.... super canggih sekali sistemnya!

Tanaman tomat dalam rumah kaca

Salah satu penampakan mesin di perkebunan Paprika

Sama halnya dengan di peternakan. Saya iseng beli gelato di sebuah peternakan sapi (produsen susu sapi segar) dan bertanya, kenapa peternakannya sepi sekali, memangnya tidak ada pekerja? Ibu pemilik peternakan tertawa dan menjelaskan, "Disini, semuanya dikerjakan oleh mesin. Membersihkan kandang, memerah susu, memberi makan sapi, semuanya pakai mesin." Hah??? tadinya saya sempat sangsi, masa iya kandang bisa bersih tanpa disapu/pel oleh manusia. Tapi keheranan saya terjawab saat saya diantar masuk ke kandang sapi, yang meskipun sedikit bau tapi bersihnya juara!! Dan disitu saya melihat sendiri, mesin (seperti robot, bentuknya mirip mesin diesel genset) yang mondar-mandir membersihkan lantai kandang dari kotoran sapi. Mesin ini otomatis mem-vacuum dan mengepel lantai. Woooww.... 
Belum selesai saya ternganga, saya diajak melihat ke mesin pemerah susu. Didepan mesin itu, sapi-sapi sudah berdiri mengantre menunggu giliran masuk ke mesin. Begitu si sapi masuk ke mesin dan berdiri di posisi yang sudah diajarkan sang peternak kepada si sapi, sebuah alat muncul dengan sensor-sensor berwarna merah jelalatan mencari kantung-kantung susu yang sudah penuh dari tubuh si sapi. Wow! Ini mesin (robot) canggih juga, sampai tahu dimana posisi puting untuk diperah. Dan sebelum diperah, ada mesin pencuci otomatis yang bekerja menyemprotkan air hangat yang sudah dicampur cairan desinfektan, untuk mensterilisasikan puting susu yang akan diperah. Kemudian, masih dengan tangan-tangan robot yang bersensor infra merah tersebut, proses pemerahan pun dilakukan. satu persatu puting sapi diperah, dan terlihat aliran susu putih masuk kedalam tangki penampungan.

Saya hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan kecanggihan sistem peternakan dan perkebunan di Belanda ini. Well, niat hati awalnya ingin merasakan bekerja di perkebunan, sekarang saya malah asyik berwisata keluar masuk perkebunan dan peternakan untuk melihat canggihnya proses produksi disana. Hehe... Sayangnya saya nggak bisa ambil foto banyak-banyak, karena nggak enak sama yang punya lahan perkebunan. Sudah diijinkan melihat-lihat kedalam saja sudah seneng banget, karena tidak semua petani dan peternak mengijinkan orang lain masuk ke area.
Memang di negara-negara maju seperti Belanda ini, Sumber Daya Manusia sudah tidak lagi banyak dipakai. Kecanggihan teknologi lah yang menggantikannya. Mesin dan robot menjadi pengganti tangan-tangan manusia. Efisien sih, tapi ini pula lah yang menyebabkan banyaknya pengangguran di Eropa.

Well, jadi? Sisa liburan saya sepertinya akan saya habiskan dengan leyeh-leyeh sambil berjemur saja sepertinya. Menikmati minggu-minggu terakhir di Belanda sebelum nantinya saya hijrah ke negara selanjutnya.

Mesin pemerah susu, tampak sapi-sapi sedang berbaris menunggu giliran

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post