Showing posts with label Drielandenpunt. Show all posts
Showing posts with label Drielandenpunt. Show all posts

Saturday, August 31, 2013

Tales From The Borders

Bicara tentang border, selalu membuat saya excited! Lahir dan besar disebuah negara kepulauan yang notabene hampir seluruh batas negara berupa samudera (Kecuali Kalimantan & Papua) membuat saya selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuh garis batas antar negara. Dan kesempatan itu saya dapatkan selama di Eropa. Tiga kali merasakan pengalaman menyentuh tugu batas negara, belum membuat rasa penasaran saya tuntas. Pertama kali merasakan berdiri di titik perbatasan 3 negara Belanda-Belgia-Jerman (baca postingan Drielandenpunt disini) rasanya sangat luar biasa! Pengalaman itu membuat saya ingin kembali merasakan menyeberangi border negara Belanda baik yang ke Belgia maupun ke Jerman secara terpisah melalui jalur darat, dengan berjalan kaki. Pasti sensasinya akan sangat seru sekali bisa merentangkan dua kaki di dua negara, hehehe...

Summer time, Camping time! Ya, awal Agustus lalu saya dan beberapa teman memutuskan untuk berkemah alias kemping di sebuah campsite di provinsi Noord-Brabant, dekat perbatasan Belgia. Well, actually kami tidak benar-benar bermalam disebuah tenda yang dipancangkan dengan tali, melainkan kami menyewa sebuah mini log hut atau rumah kayu, dengan 5 tempat tidur di dalam nya. Rumah mungil ini berkapasitas maksimum 5 orang, lengkap dengan living room, sofa, dapur, dan kulkas. Hmmm... cukup lengkap, mirip seperti rumah tinggal. Bedanya hanya log hut ini terletak di depan sebuah padang rumput, dengan danau kecil tak jauh di bawahnya. Harga sewa log hut ini semalam €75 yang bisa dibagi ber-5 dengan teman. Lumayan murah bukan? Dengan fasilitas pendukung seperti kamar mandi, listrik, dan Wi-Fi (yang ternyata tidak terkoneksi. sigh!). Di campsite ini pengunjung juga bisa menggunakan tenda, baik yang personal tent maupun tipitent, sebuah tenda kerucut besar ala suku Indian yang bisa muat sekeluarga. Info lengkap, bisa dilihat di http://www.dehoevens.nl/

Saya, Jerry, Phil, Asri, & Guido @ Landgoed de Hoevens

Siang itu, cuaca cukup cerah. Setelah menaruh barang-barang di dalam rumah kayu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mulai mengeksplore daerah sekitar campsite. Mulai dari danau, hutan, hingga ke perbatasan Belgia. Berenang merasakan sejuknya air danau, blusuk'an di hutan memetik buah-buah wild berry, berjalan keluar masuk hutan mengikuti jalur hiking yang tertera di peta, sampai akhirnya tiba di pinggiran negara Belanda yang berupa areal ladang sayuran. Di tepi ladang kol tersebut terdapat sungai kecil (siring; bahasa jawa nya, hehehe) dengan jembatan putih diatasnya, yang ternyata merupakan batas negara Belanda-Belgia. Di samping jembatan terdapat sebuah tugu setinggi 1 meter berwarna putih, yang merupakan tugu border, dan di sisi satunya terdapat sebuah patung berbentuk klompen (sepatu khas Belanda) yang terbuat dari kayu. Dan setelah saya perhatikan, terlihat sebuah tanda yang lumayan mencolok di aspal jalan yang melintasi sungai kecil tersebut. Terlihat aspal bagian Belanda berwarna lebih terang dari aspal di bagian Belgia yang berwarna lebih gelap dan bertekstur kasar. Well, jadi sekarang saya tahu, dimana garis pembatas itu berada saat melihat perbedaan aspal tersebut. Di sebelah border ini terdapat sebuah desa kecil bernama Aarle, yang merupakan wilayah dari Ravels - Belgium. Tujuan kami ke Aarle untuk apa? Selain mau merasakan sensasi menyeberangi batas negara dengan berjalan kaki, kami juga iseng-iseng mencari tukang es krim! Hehehe.... maklumlah, perjalanan sejauh 3,8km di cuaca panas membuat sebuah kata 'es krim' terdengar begitu menggiurkan. Luckily, kami menemukan sebuah cafe kecil di dekat border, yang ternyata juga menjual homemade gelato. Jadilah hari itu kami nyebrang ke Belgia demi gelato, hehehe....

Border Belanda - Belgia


Wild Berries


Klompen kayu raksasa

 
Tugu border

Tinggi tugu border hampir setinggi saya :D


Melangkahi border Belgia, sudah. Kini saatnya melangkahi border Jerman! Hari ini di penghujung bulan Agustus, saya dan Vania memutuskan untuk nyebrang ke Jerman melalui Venlo, sebuah kota di provinsi Noord-Brabant - Belanda. Dari Rotterdam, naik kereta selama 2 jam, kemudian lanjut jalan kaki sejauh 7,8km ke arah timur menuju sebuah desa kecil bernama Am Wittsee di Jerman. Well, sebetulnya kami bisa saja naik bus, tapi memang dasarnya otak bolang, saya memilih berjalan kaki selama 1,5jam demi mencapai sebuah danau di Am Wittsee ini. Bukannya apa, saya memang lebih suka berjalan kaki menikmati setiap medan dan pemandangan sepanjang jalan, daripada duduk anteng di dalam bus, kurang gereget rasanya. Hehe...

Untuk mencapai Am Wittsee, kami harus melalui sebuah daerah pemukiman bernama Schwanenhaus yang terbelah dua oleh garis batas negara. Jadi ada Schwanenhaus di bagian Venlo (Belanda) dan sebagian di area Kaldenkirchen (Jerman). Titik batas yang terdapat di Schwanenhaus ini merupakan border tua penyeberangan antara Belanda-Jerman. Namun semenjak dibangunnya highway A61 yang menghubungkan Belanda dan Jerman, maka border tua di Schwanenhaus ini ditutup untuk mobil, dan hanya bisa dilalui oleh sepeda serta pejalan kaki saja. Yang tersisa kini dari border tua tersebut hanya 3 buah tugu batu bulat yang berdiri diantara rerimbunan tanaman perdu pembatas. Sama halnya dengan border yang saya jumpai di Belgia sebelumnya, disini pun aspal kedua negara berbeda. Di bagian Belanda, jalanan terbuat dari paving blocks, sedangkan di bagian Jerman terbuat dari aspal kelabu kasar. Konon katanya, perbedaan layout dan tekstur ini pun terlihat di highway A61, tepat di garis batas pemisah dua negara tersebut. Namun sayang, saya tidak punya cukup waktu untuk investigasi ke jalan tol tersebut. Dengan ditiadakannya pemeriksaan passport di perbatasan negara-negara Uni Eropa pada 1 Januari 1993 , banyak marka-marka perbatasan yang dihilangkan atau diminimalisasikan. Sehingga yang tertinggal kini hanya tugu-tugu batu tua, yang beberapa bahkan tersembunyi di balik rimbunnya tanaman perdu. Namun, saya cukup bersyukur kembali bisa melangkahkan kaki melewati border dua negara yang notabene adalah rival bebuyutan, bagai Indonesia vs Malaysia. Hehehe...


Border Belanda - Jerman

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke desa Am Wittsee untuk mencari danau Großer de Witt-See, dan rencananya mau makan siang disana, dengan bekal yang saya bawa. Lho, ngapain jauh-jauh makan siang ke Jerman? Bukannya di dekat rumah di Rotterdam juga ada danau? Well, memang sih di dekat rumah juga ada danau, dan lebih cantik malah. Namun seperti saya bilang, memang dasarnya saya ini nggak bisa diam di rumah dan senangnya blusuk'an ke tempat-tempat un-touristy, jadi ya senang saja jalan kaki 8km selama 1,5jam. Demi makan nasi goreng, telur dadar, dan sambel terasi, di pinggir danau in the middle of nowhere di Jerman! Wong sinting!:D
Makan siang ala backpacker kere :p

Di pinggir danau itu terdapat sebuah Restaurant yang bernama sama dengan tempat itu sendiri, restaurant Am Wittsee. Saat saya hendak kembali ke Venlo (niatnya mau hitch hike kali ini, karena sudah menjelang malam untuk jalan kaki 8km lagi), saya sempat melewati restaurant ini, dan tiba-tiba dipanggil oleh dua orang bapak-bapak setengah baya. Dua orang bapak tua, seorang ibu paruh baya, dan seorang pemuda sedang duduk di sebuah meja bulat dengan beberapa gelas beer di atasnya. Mereka menyapa saya dan Vania dengan bertanya "Hello, how was the lake? Is it nice?" Dilanjutkan dengan basa-basi umum tentang danau dan cuaca, sampai tiba saat mereka bertanya asal kami dari mana. Saat kami menyebut "Indonesia", mereka langsung excited dan menerangkan bahwa mereka pernah ke Indonesia beberapa kali. Jadilah obrolan makin panjang dan lama, plus ditraktir beer dan coke juga. Mereka menyatakan bahwa Indonesia sangatlah indah dan penduduknya ramah :) Wah, bangga juga nih sebagai warga negara Indonesia! Hehe... Singkat kata, setelah ngobrol ngalor ngidul selama beberapa saat, salah seorang bapak ini tiba-tiba menyodorkan selembar uang €50 kepada kami dan bilang "Take it, use this money for taxi to Venlo. Don't walk again." Hah??? Saya dan Vania sampai terbengong-bengong. Namun jiwa 'Asia' saya yang masih tahu 'unggah-ungguh' alias tata krama, dengan halus menolak uang tersebut dengan dalih kami masih bisa mendapatkan tumpangan mobil di perjalanan pulang nanti. Namun dua bapak tua itu tetap memaksa, karena mereka menganggap Indonesia sudah sangat baik kepada mereka saat mereka berkunjung kesana, dan kini lah saatnya mereka balik berbuat baik kepada orang Indonesia yang datang ke tanah mereka, Jerman. Well, terharu sekali saya dibuatnya. Akhir kata setelah ngobrol banyak tentang Indonesia (bahkan sejarah Bung Karno pun mereka hafal), mereka sepakat untuk memesan dan membayar sebuah taxi untuk mengantar saya dan Vania sampai Venlo. Oh my God... Tuhan sungguh baik! Hari ini kami sangatlah beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik yang sangat menghargai bangsa Indonesia. Bahkan dari kejadian ini, saya bercermin kepada diri saya sendiri, sudah sejauh manakah saya kenal bangsa saya sendiri, Indonesia. Bahkan pelajaran sejarah Indonesia pun saya sudah banyak yang lupa. Namun ini orang asing, orang Jerman, malah tahu tentang sejarah penjajahan Belanda dan kemerdekaan RI segala. Terbukti, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang respect terhadap Indonesia. Dan dari kejadian ini pula lah, persepsi saya ke orang Jerman (berdasarkan my bad experience with Germans) menjadi berubah, ternyata masih ada orang Jerman yang baik dan tulus. :)

wandelen alias jalan kaki
 

Tuesday, July 9, 2013

Across Border in the Blink of an Eye

Hampir satu tahun tinggal di sebuah negara yang berbatasan darat dengan dua negara tetangga, membuat saya penasaran ingin melihat seperti apa sih daerah perbatasan itu. Berdasarkan hasil searching mbah Google, saya menemukan ada satu tempat menarik yang rasanya patut dikunjungi. Namanya Drielandenpunt, dikenal juga sebagai Tripoint, yang merupakan titik perbatasan tiga negara yaitu Belanda - Belgia - Jerman. Drielandenpunt (drie: tiga, landen: negara, punt: titik) ini terletak di bukit Vaalserberg, kota Vaals, provinsi South Limburg - Belanda. Untuk mencapai Vaals bisa melalui jalur kereta ke kota Maastricht kemudian dilanjutkan dengan bus. Namun kali ini saya mencoba dari arah lain. Tidak melalui Maastricht, melainkan start dari kota Aachen - Jerman, dengan maksud untuk mengeksplore Aachen terlebih dahulu sebelum menuju ke Drielandenpunt.

Eurogio Ticket
Perjalanan dimulai jam 7 pagi dari Rotterdam, menggunakan kereta NS Intercity menuju kota Heerlen di perbatasan Jerman. Dari Heerlen lanjut ke Aachen, masih dengan kereta, namun kali ini menggunakan kereta Jerman - Eurogio Bahn. Berhubung saya punya abudemen kereta NS Weekend Free, maka saya hanya perlu membayar tiket kereta di region Jerman saja. Kali ini saya membeli tiket Eurogio seharga 17 yang bisa dipakai di semua jalur transportasi di wilayah Aachen - Limburg - Liege - Maastricht selama seharian penuh, dan berlaku untuk 2 orang dewasa dan 3 anak-anak pada saat weekend. Lumayan irit bukan? Jadilah saya patungan berdua dengan teman untuk tiket ini.


Kereta Eurogio Bahn yang saya naiki terlihat rapi dan bersih, mirip-mirip dengan kereta NS Sprinter di Belanda. Kereta bergerak meninggalkan Heerlen (Belanda) menuju Aachen (Jerman) dan memakan waktu sekitar 33 menit untuk sampai di stasiun utama kota Aachen. Sampai Aachen, hari sudah siang. Saya dan teman-teman yang juga merupakan member dari sebuah komunitas backpacker terbesar di Indonesia (komunitas 'Backpacker Dunia') hari itu sengaja berkumpul dulu di Aachen dalam rangka gathering. Mengingat sebenarnya banyak member Backpacker Dunia (BD) yang berdomisili di Eropa, maka terbersitlah ide untuk mengadakan acara kumpul bareng sesama member BD di kawasan Eropa Barat. Dan hari itu, pertama kalinya acara BD Gathering dilakukan di Eropa. Senang sekali rasanya bisa bertemu teman-teman yang selama ini hanya akrab di dunia maya, kini bisa tatap muka secara langsung. Para peserta gathering yang hari itu hadir berasal dari Belanda, Jerman, dan Luxembourg. Lunch bareng dan diselingi dengan sharing-sharing pengalaman serta guyonan, membuat waktu tak terasa berlalu dengan cepat. Untungnya matahari musim panas tenggelam jam 11 malam, jadi kami masih punya sisa waktu untuk menuntaskan tujuan ke Drielandenpunt setelah terlebih dahulu mengeksplore sebagian kecil pusat kota Aachen. 

salah satu sudut cantik kota Aachen

sudut cantik kota Aachen

Aachen Cathedral
Vaals City - South Limburg
Berbekal tiket Eurogio, kami naik bus Veolia no.50 jurusan Maastricht yang melewati Vaals. Semula saya kira di Vaals akan turun di sebuah bus station atau at least tempat ngetem bus lain yang notabene harus kami dapatkan untuk bisa naik ke puncak bukit Vaalserberg. Tapi ternyata sampai di Vaals kami diturunkan di sebuah halte bus di pertigaan jalan yang sepi. Di tengah-tengah pertigaan jalan itu ada sebuah bundaran dengan lambang 3 buah segitiga bersusun, yang saya tafsirkan artinya Three Point atau Drielandenpunt. Papan penunjuk jalan menunjukkan bahwa kami sudah turun di lokasi yang benar, hanya saja saya tidak melihat tanda-tanda bus no.149 yang ngetem untuk naik ke bukit. Wah... jangan-jangan bus nya sudah selesai jam operasionalnya. Tanya-tanya ke warga lokal, mereka bilang tidak jauh didepan ada halte bus yang kearah bukit, barangkali kami bisa dapat bus disana. Akhirnya gambling lah kami jalan kaki ke halte bus yang dimaksud, sambil iseng-iseng mencoba hitchhike hehe... Tapi untungnya, ada salah satu dari rombongan yang membawa mobil, berbaik hati untuk mengangkut kami sampai tujuan. Huuuffttt... selamat deh dari jalan kaki sejauh 5km, menanjak pula!

Jalanan berkanopi pepohonan

Naik keatas bukit Vaalserberg, melewati jalanan aspal dengan naungan pepohonan hijau rindang di kanan-kiri nya. Mirip-mirip seperti jalanan di Cikole ke arah Tangkuban Perahu, cuma bedanya disini bukan hamparan kebun teh yang terlihat, melainkan padang rumput dengan sapi atau kuda bertebaran. Sampai di atas bukit, kami masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter melewati rimbunan pepohonan musim panas yang menghijau sejuk. Dan akhirnya sampai di spot yang paling dinanti, Drielandenpunt. 

Drielandenpunt area dengan bendera Jerman - Belanda - Belgia

Drielandenpunt
Titik Perbatasan Tiga Negara atau dikenal dengan Tripoint dan Drielandenpunt dalam bahasa Belanda, merupakan sebuah tugu batu setinggi kurang lebih setengah meter yang berdiri ditengah-tengah lingkaran. Lingkaran tersebut dibagi menjadi 3 ruas, yang berukuran paling sempit mewakili wilayah Belanda, kemudian di posisi kedua adalah wilayah Belgia, dan setengah diameter lingkaran tersebut mewakili wilayah Jerman. Hmmm... sedikit tidak rela melihat Jerman menguasai 50% nya, haha...
Jadi, dalam sekejap mata saya bisa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain hanya dengan melangkahkan kaki diatas lingkaran tersebut dan menyeberangi bordernya. hehe...

The Highest Point of Netherlands

only 322m above sea level
Di dekat tugu Drielandenpunt ini terdapat pula tiga buah tugu 'The Highest Point of Netherlands' yang merupakan titik tertinggi wilayah negara Belanda dengan ketinggian 'hanya' 322 mdpl. Jadi? Kebayang kan kalau Belanda merupakan sebuah negara artificial yang berada dibawah permukaan laut. Kalau bukan karna kehebatan teknologi dan struktur bendungan/dam nya, mungkin Belanda hanya merupakan hamparan daratan yang tertutup air laut, tempat warga Jerman atau Belgia bisa numpang mancing ikan Haring! Hehehe....

Memandang dataran Belgia dari perbatasan Belanda

Di dekat tugu perbatasan itu, berdiri sebuah menara pandang setinggi beberapa puluh meter yang bisa dimanfaatkan untuk memandang ketiga negara dari ketinggian. Tiket masuk menara seharga €3.50 untuk dewasa dan €2.50 untuk anak-anak dibawah 12 tahun. Sempat saya dibujuk teman untuk mengaku-ngaku sebagai anak 12 tahun, mentang-mentang body saya kecil dan muka innocent (halah!!). Namun naluri kejujuran akhirnya mengalahkan saya saat berhadapan dengan petugas loket, sambil senyum-senyum ragu saya berucap "mmmm... one adult ticket please." Hehe... Nggak jadi bohong, lega rasanya! Hanya saya dan seorang teman yang naik ke atas menara, anggota rombongan lainnya memilih ngaso di sekitar tugu perbatasan.

Kawasan Belgia dilihat dari puncak tower
Kawasan Belanda dilihat dari puncak tower
Kawasan Jerman dengan hutan dan kota Aachen, dilihat dari puncak tower

Naik ke atas menara melalui lift, sampailah saya dan Ananda (salah satu member BD) di atas ketinggian yang lumayan bikin bergetar saat menapakkan kaki di lantai besi bolong-bolong itu. Saat memandang kebawah, oh my God.... kami berdiri di selembar besi baja motif kotak bolong-bolong, yang bisa dengan jelas melihat dataran tanah jauh dibawah sana! Hadoh... saya lupa kalau saya takut ketinggian (-__-") Alhasil dengan hati kebat-kebit saya tarik si Ananda yang sudah jejeritan ketakutan dari tadi. Kami naik ke lantai paling puncak menara yang.... Thank God! terbuat dari semen utuh tanpa pemandangan tanah puluhan meter dibawah kaki. Yeaaayyy... mulai deh asyik foto-foto pemandangan yang sangat cantik dilihat dari ketinggian ini. Hamparan hijau padang rumput dan hutan serta rumah-rumah putih di pedesaan terlihat sangat asri. Juga beberapa kincir angin di kejauhan, serta rel kereta yang meliuk diantara pepohonan. Berkesempatan memandang 3 negara sekaligus dari atas sini, merupakan sebuah pengalaman berkesan dalam hidup saya. :)

Puas menikmati (dan foto-foto juga) di area Drielandenpunt, kami turun bukit untuk kembali melanjutkan eksplorasi ke Limburg. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan sebagian anggota rombongan memilih untuk kembali ke Jerman. Sedangkan rombongan asal Belanda akan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Maastricht dengan mengambil rute panjang melewati desa-desa Kleine Swiss. Naik bus no.50 menuju Gulpen, kemudian berganti bus no.57 tujuan Maastricht, kami melewati bukit-bukit hijau dengan hamparan padang rumput dan hutan. Sangat cantik, dengan senja yang menguning di horizon, serta melewati jejeran rumah-rumah mungil nan klasik bergaya Swiss di sepanjang jalan. Saking terlena menikmati pemandangan ala buku dongeng itu, saya sampai lupa untuk memfotonya! Tapi tak apalah... Keindahan alam South Limburg memang paling pas untuk dinikmati dengan mata kepala sendiri. Jadi kalau ada yang penasaran tentang keindahan desa-desa Kleine Swiss di perbukitan Limburg, saya menyarankan untuk mengunjunginya langsung dan merasakan sendiri mulut menganga dan berdecak kagum menyaksikan salah satu landscape indah ciptaan Tuhan yang selama ini hanya terbayang di buku-buku dongeng pengantar tidur. :)

Sekian dan salam Traveler!!

Para peserta "Backpacker Dunia Gathering West Europe I"

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post