Showing posts with label germany. Show all posts
Showing posts with label germany. Show all posts

Friday, October 10, 2014

Overland to Scandinavia


Perjalanan overland antar negara kali ini saya gambarkan sbb:
Jarak Belanda-Denmark lebih cepat jika ditempuh dengan mobil ketimbang kereta. Dan saya pernah mencoba keduanya. Jika dengan kereta, waktu tempuh yang dibutuhkan dari Utrecht-Belanda menuju Copenhagen-Denmark sekitar 16 jam, namun dengan mobil hanya butuh 8-9 jam saja. Kenapa? Karena kereta harus melintasi jalur memutar dari Hamburg melalui mainland Jutland, pulau tengah Odense, baru kemudian pulau utama Denmark tempat Copenhagen berada yaitu Zealand. Sedangkan jika menggunakan mobil, tak perlu memutar melalui rute tersebut. Dari Hamburg bisa langsung menyeberang ke Zealand menggunakan Boat. Itulah mengapa overland dengan mobil ke Denmark jauh lebih singkat dari kereta.

View atau pemandangan sepanjang jalan lumayan bikin mata seger dengan warna hijau alam nya. Meski mungkin tak seindah pemandangan di sepanjang jalur overland Swirzerland, Austria, maupun Italia. Sebagian besar pemandangan sepanjang jalur Belanda-Denmark adalah hutan dan lahan pertanian. Dimana jika musim dingin kemungkinan akan sangat membosankan dengan pepohonan gundul dan lahan keabu-abuan itu.
Saat musim semi dan musim panas, lumayan oke dengan bunga-bunga liar sepanjang bahu jalan dan pepohonan hijau berjejer lebat. Saat musim gugur, di beberapa tempat dapat ditemukan kelompok pepohonan berdaun jingga bahkan merah.

Ada beberapa perbedaan yang bisa ditangkap dari 3 negara yang saya lalui saat overland trip.

1. Belanda
Negara artifisial ini benar2 terlihat rata, super flat, sejauh mata memandang. Kiri kanan highway kebanyakan areal lahan pertanian maupun peternakan. Banyak terlihat kanal-kanal kecil (biasa disebut Dijk) yang berfungsi sebagai marka pembatas sekaligus sebagai sistem irigasi, membelah-belah lahan pertanian. Hewan ternak seperti sapi perah warna hitam putih layaknya gambar di kemasan tetrapack Susu Ultra terlihat merumput berkelompok atau bahkan duduk goler-goler santai. Kuda dan poni pun bertebaran di lahan hijau terbuka, seringkali bersebelahan dengan domba-domba berbulu gemuk ala Shaun the Sheep yang juga asyik merumput. Tak jarang terlihat kelompok penunggang kuda sedang berkuda santai di sepanjang jalur Dijk dengan jejeran pohon Birch di kanan kirinya. Bentuk rumah di Belanda khas dengan rumah mungil beratap tinggi runcing, kebanyakan dengan dinding berwarna coklat gelap dan list jendela warna putih. Meski sebenarnya yang paling asli Belanda adalah rumah berwarna hijau tua, yang kini hanya dapat ditemukan di sedikit area saja, seperti di Zaandam contohnya. Well, balik lagi dengan rumah pinggir jalan yang sedang saya ceritakan, kebanyakan rumah2 tersebut punya pekarangan yang tertata rapi dan pasti ada saja bunga nya. Karena orang Belanda terkenal dengan kegemarannya terhadap bunga, maka tak heran di setiap pekarangan mereka pun ada tanaman bunga.

Pemandangan umum di lahan pertanian Belanda


2. Jerman
Negara dengan luas berkali-kali lipat dari Belanda ini memiliki kontur daratan yang tak terlalu rata alias sedikit naik turun. Dengan rata-rata areal nya berupa hutan ber vegetasi empat musim di kanan kiri jalan, serta areal lahan pertanian yang sepi dari kumpulan hewan ternak seperti yang terlihat di lahan pertanian Belanda. Hanya beberapa kali terlihat kelompok sapi berwarna cokelat, yang saya tebak sebagai ternak sapi potong, sedang merumput di area peternakan. Rumah2 Jerman berbentuk compact besar dan beratap tinggi, memberikan kesan luas dan kokoh. Jarak satu rumah dengan rumah lain tidak begitu dekat bahkan seringkali dipisahkan oleh lahan pertanian. Namun ini saya hanya bercerita tentang apa yang terlihat di sepanjang highway ya, country side, bukan di pusat kota. Tentu kondisi perumahan nya akan terlihat berbeda dengan yang ada di pusat kota. Dan masih banyak terlihat lahan kosong tak terpakai yang isinya hanya semak belukar dan beberapa pohon. Mungkin saking besar nya wilayah Jerman, sampai masih banyak lahan yang tidak bertuan dan dimanfaatkan.



3. Denmark
Kurang lebih sama seperti Jerman, landscape Denmark pun naik turun dengan landai. Pemandangan bukit-bukit berumput hijau mirip di film Teletubbies tampak menggemaskan di sepanjang jalan. Tak jarang melewati hutan empat musim, meski tak sebanyak di Jerman (sepanjang highway dari Zealand ke Hamburg).
Rumah-rumah di Denmark memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan rumah di Jerman maupun Belanda. Bentuk atap segitiga, dengan body rumah simetris dan berwarna putih atau pastel, dengan pekarangan luas. Bentuk rumah yang sangat simpel mengingatkan pada bentuk rumah yang umumnya ada di kertas gambar anak-anak.

Namun, di antara semua perbedaan itu, ada dua persamaan yang saya temukan di sepanjang perjalanan.
1. Banyak terdapat kincir angin di lahan-lahan terbuka. Bukan kincir angin tradisional seperti di Belanda ya, melainkan kincir angin besi berwarna putih, yang tak lain merupakan pembangkit listrik tenaga angin. Kincir-kincir itu berjejer rapi di lahan luas dekt highway.
2. Hamparan kebun bunga Canola atau Rapeseed berwarna kuning, yang terutama saat musim semi, banyak terlihat menghampar di kiri kanan highway. Berhektar-hektar tanaman penghasil minyak ini sangatlah indah dan lumayan mengusir bosan saat perjalanan. (Kisah perburuan Canola ada di postingan saya selanjutnya.)

Canola fields along the way


Singkat kata, perjalanan selama 9 jam bisa terasa membosankan atau mengasyikkan, tergantung bagaimana kita mempersiapkan nya. Berikut ini saya bocorkan tips supaya perjalanan overland terasa menyenangkan:
# Bawa buku! Lumayan dapat beberapa chapter selma perjalanan kan :)
# Nonton film di iPad atau handphone
# Isi iPod atau mp3 player dengan lagu2 yg bisa bikin goyang, jangan yang melow, biar gak ngantuk
# Bawa cemilan! Wah kalo ini sih saya selalu bawa sekarung. Hahaha...
# Sedia kopi siap minum atau energy drink, supaya gak ngantuk melulu.
# Kamera & Tongsis! Biar gak mati gaya, boleh donk foto-foto dijalan hihihi....
# Bagi yang suka art, bisa bawa art atau kerajinan tangan yang bisa dikerjain sambil duduk di mobil. Macam menyulam, looming, atau bahkan melukis sketsa.
# Ngeblog on the road! :D Hehe... dan ini yang biasanya saya lakukan. :p

Kisah perjalanan overland saya lainnya (di Eropa Timur) akan saya paparkan di cerita-cerita selanjutnya ya. ;)

                      

Saturday, August 31, 2013

Tales From The Borders

Bicara tentang border, selalu membuat saya excited! Lahir dan besar disebuah negara kepulauan yang notabene hampir seluruh batas negara berupa samudera (Kecuali Kalimantan & Papua) membuat saya selalu penasaran bagaimana rasanya menyentuh garis batas antar negara. Dan kesempatan itu saya dapatkan selama di Eropa. Tiga kali merasakan pengalaman menyentuh tugu batas negara, belum membuat rasa penasaran saya tuntas. Pertama kali merasakan berdiri di titik perbatasan 3 negara Belanda-Belgia-Jerman (baca postingan Drielandenpunt disini) rasanya sangat luar biasa! Pengalaman itu membuat saya ingin kembali merasakan menyeberangi border negara Belanda baik yang ke Belgia maupun ke Jerman secara terpisah melalui jalur darat, dengan berjalan kaki. Pasti sensasinya akan sangat seru sekali bisa merentangkan dua kaki di dua negara, hehehe...

Summer time, Camping time! Ya, awal Agustus lalu saya dan beberapa teman memutuskan untuk berkemah alias kemping di sebuah campsite di provinsi Noord-Brabant, dekat perbatasan Belgia. Well, actually kami tidak benar-benar bermalam disebuah tenda yang dipancangkan dengan tali, melainkan kami menyewa sebuah mini log hut atau rumah kayu, dengan 5 tempat tidur di dalam nya. Rumah mungil ini berkapasitas maksimum 5 orang, lengkap dengan living room, sofa, dapur, dan kulkas. Hmmm... cukup lengkap, mirip seperti rumah tinggal. Bedanya hanya log hut ini terletak di depan sebuah padang rumput, dengan danau kecil tak jauh di bawahnya. Harga sewa log hut ini semalam €75 yang bisa dibagi ber-5 dengan teman. Lumayan murah bukan? Dengan fasilitas pendukung seperti kamar mandi, listrik, dan Wi-Fi (yang ternyata tidak terkoneksi. sigh!). Di campsite ini pengunjung juga bisa menggunakan tenda, baik yang personal tent maupun tipitent, sebuah tenda kerucut besar ala suku Indian yang bisa muat sekeluarga. Info lengkap, bisa dilihat di http://www.dehoevens.nl/

Saya, Jerry, Phil, Asri, & Guido @ Landgoed de Hoevens

Siang itu, cuaca cukup cerah. Setelah menaruh barang-barang di dalam rumah kayu, saya dan teman-teman memutuskan untuk mulai mengeksplore daerah sekitar campsite. Mulai dari danau, hutan, hingga ke perbatasan Belgia. Berenang merasakan sejuknya air danau, blusuk'an di hutan memetik buah-buah wild berry, berjalan keluar masuk hutan mengikuti jalur hiking yang tertera di peta, sampai akhirnya tiba di pinggiran negara Belanda yang berupa areal ladang sayuran. Di tepi ladang kol tersebut terdapat sungai kecil (siring; bahasa jawa nya, hehehe) dengan jembatan putih diatasnya, yang ternyata merupakan batas negara Belanda-Belgia. Di samping jembatan terdapat sebuah tugu setinggi 1 meter berwarna putih, yang merupakan tugu border, dan di sisi satunya terdapat sebuah patung berbentuk klompen (sepatu khas Belanda) yang terbuat dari kayu. Dan setelah saya perhatikan, terlihat sebuah tanda yang lumayan mencolok di aspal jalan yang melintasi sungai kecil tersebut. Terlihat aspal bagian Belanda berwarna lebih terang dari aspal di bagian Belgia yang berwarna lebih gelap dan bertekstur kasar. Well, jadi sekarang saya tahu, dimana garis pembatas itu berada saat melihat perbedaan aspal tersebut. Di sebelah border ini terdapat sebuah desa kecil bernama Aarle, yang merupakan wilayah dari Ravels - Belgium. Tujuan kami ke Aarle untuk apa? Selain mau merasakan sensasi menyeberangi batas negara dengan berjalan kaki, kami juga iseng-iseng mencari tukang es krim! Hehehe.... maklumlah, perjalanan sejauh 3,8km di cuaca panas membuat sebuah kata 'es krim' terdengar begitu menggiurkan. Luckily, kami menemukan sebuah cafe kecil di dekat border, yang ternyata juga menjual homemade gelato. Jadilah hari itu kami nyebrang ke Belgia demi gelato, hehehe....

Border Belanda - Belgia


Wild Berries


Klompen kayu raksasa

 
Tugu border

Tinggi tugu border hampir setinggi saya :D


Melangkahi border Belgia, sudah. Kini saatnya melangkahi border Jerman! Hari ini di penghujung bulan Agustus, saya dan Vania memutuskan untuk nyebrang ke Jerman melalui Venlo, sebuah kota di provinsi Noord-Brabant - Belanda. Dari Rotterdam, naik kereta selama 2 jam, kemudian lanjut jalan kaki sejauh 7,8km ke arah timur menuju sebuah desa kecil bernama Am Wittsee di Jerman. Well, sebetulnya kami bisa saja naik bus, tapi memang dasarnya otak bolang, saya memilih berjalan kaki selama 1,5jam demi mencapai sebuah danau di Am Wittsee ini. Bukannya apa, saya memang lebih suka berjalan kaki menikmati setiap medan dan pemandangan sepanjang jalan, daripada duduk anteng di dalam bus, kurang gereget rasanya. Hehe...

Untuk mencapai Am Wittsee, kami harus melalui sebuah daerah pemukiman bernama Schwanenhaus yang terbelah dua oleh garis batas negara. Jadi ada Schwanenhaus di bagian Venlo (Belanda) dan sebagian di area Kaldenkirchen (Jerman). Titik batas yang terdapat di Schwanenhaus ini merupakan border tua penyeberangan antara Belanda-Jerman. Namun semenjak dibangunnya highway A61 yang menghubungkan Belanda dan Jerman, maka border tua di Schwanenhaus ini ditutup untuk mobil, dan hanya bisa dilalui oleh sepeda serta pejalan kaki saja. Yang tersisa kini dari border tua tersebut hanya 3 buah tugu batu bulat yang berdiri diantara rerimbunan tanaman perdu pembatas. Sama halnya dengan border yang saya jumpai di Belgia sebelumnya, disini pun aspal kedua negara berbeda. Di bagian Belanda, jalanan terbuat dari paving blocks, sedangkan di bagian Jerman terbuat dari aspal kelabu kasar. Konon katanya, perbedaan layout dan tekstur ini pun terlihat di highway A61, tepat di garis batas pemisah dua negara tersebut. Namun sayang, saya tidak punya cukup waktu untuk investigasi ke jalan tol tersebut. Dengan ditiadakannya pemeriksaan passport di perbatasan negara-negara Uni Eropa pada 1 Januari 1993 , banyak marka-marka perbatasan yang dihilangkan atau diminimalisasikan. Sehingga yang tertinggal kini hanya tugu-tugu batu tua, yang beberapa bahkan tersembunyi di balik rimbunnya tanaman perdu. Namun, saya cukup bersyukur kembali bisa melangkahkan kaki melewati border dua negara yang notabene adalah rival bebuyutan, bagai Indonesia vs Malaysia. Hehehe...


Border Belanda - Jerman

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke desa Am Wittsee untuk mencari danau Großer de Witt-See, dan rencananya mau makan siang disana, dengan bekal yang saya bawa. Lho, ngapain jauh-jauh makan siang ke Jerman? Bukannya di dekat rumah di Rotterdam juga ada danau? Well, memang sih di dekat rumah juga ada danau, dan lebih cantik malah. Namun seperti saya bilang, memang dasarnya saya ini nggak bisa diam di rumah dan senangnya blusuk'an ke tempat-tempat un-touristy, jadi ya senang saja jalan kaki 8km selama 1,5jam. Demi makan nasi goreng, telur dadar, dan sambel terasi, di pinggir danau in the middle of nowhere di Jerman! Wong sinting!:D
Makan siang ala backpacker kere :p

Di pinggir danau itu terdapat sebuah Restaurant yang bernama sama dengan tempat itu sendiri, restaurant Am Wittsee. Saat saya hendak kembali ke Venlo (niatnya mau hitch hike kali ini, karena sudah menjelang malam untuk jalan kaki 8km lagi), saya sempat melewati restaurant ini, dan tiba-tiba dipanggil oleh dua orang bapak-bapak setengah baya. Dua orang bapak tua, seorang ibu paruh baya, dan seorang pemuda sedang duduk di sebuah meja bulat dengan beberapa gelas beer di atasnya. Mereka menyapa saya dan Vania dengan bertanya "Hello, how was the lake? Is it nice?" Dilanjutkan dengan basa-basi umum tentang danau dan cuaca, sampai tiba saat mereka bertanya asal kami dari mana. Saat kami menyebut "Indonesia", mereka langsung excited dan menerangkan bahwa mereka pernah ke Indonesia beberapa kali. Jadilah obrolan makin panjang dan lama, plus ditraktir beer dan coke juga. Mereka menyatakan bahwa Indonesia sangatlah indah dan penduduknya ramah :) Wah, bangga juga nih sebagai warga negara Indonesia! Hehe... Singkat kata, setelah ngobrol ngalor ngidul selama beberapa saat, salah seorang bapak ini tiba-tiba menyodorkan selembar uang €50 kepada kami dan bilang "Take it, use this money for taxi to Venlo. Don't walk again." Hah??? Saya dan Vania sampai terbengong-bengong. Namun jiwa 'Asia' saya yang masih tahu 'unggah-ungguh' alias tata krama, dengan halus menolak uang tersebut dengan dalih kami masih bisa mendapatkan tumpangan mobil di perjalanan pulang nanti. Namun dua bapak tua itu tetap memaksa, karena mereka menganggap Indonesia sudah sangat baik kepada mereka saat mereka berkunjung kesana, dan kini lah saatnya mereka balik berbuat baik kepada orang Indonesia yang datang ke tanah mereka, Jerman. Well, terharu sekali saya dibuatnya. Akhir kata setelah ngobrol banyak tentang Indonesia (bahkan sejarah Bung Karno pun mereka hafal), mereka sepakat untuk memesan dan membayar sebuah taxi untuk mengantar saya dan Vania sampai Venlo. Oh my God... Tuhan sungguh baik! Hari ini kami sangatlah beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik yang sangat menghargai bangsa Indonesia. Bahkan dari kejadian ini, saya bercermin kepada diri saya sendiri, sudah sejauh manakah saya kenal bangsa saya sendiri, Indonesia. Bahkan pelajaran sejarah Indonesia pun saya sudah banyak yang lupa. Namun ini orang asing, orang Jerman, malah tahu tentang sejarah penjajahan Belanda dan kemerdekaan RI segala. Terbukti, bahwa di luar sana, masih banyak orang yang respect terhadap Indonesia. Dan dari kejadian ini pula lah, persepsi saya ke orang Jerman (berdasarkan my bad experience with Germans) menjadi berubah, ternyata masih ada orang Jerman yang baik dan tulus. :)

wandelen alias jalan kaki
 

Tuesday, July 9, 2013

Across Border in the Blink of an Eye

Hampir satu tahun tinggal di sebuah negara yang berbatasan darat dengan dua negara tetangga, membuat saya penasaran ingin melihat seperti apa sih daerah perbatasan itu. Berdasarkan hasil searching mbah Google, saya menemukan ada satu tempat menarik yang rasanya patut dikunjungi. Namanya Drielandenpunt, dikenal juga sebagai Tripoint, yang merupakan titik perbatasan tiga negara yaitu Belanda - Belgia - Jerman. Drielandenpunt (drie: tiga, landen: negara, punt: titik) ini terletak di bukit Vaalserberg, kota Vaals, provinsi South Limburg - Belanda. Untuk mencapai Vaals bisa melalui jalur kereta ke kota Maastricht kemudian dilanjutkan dengan bus. Namun kali ini saya mencoba dari arah lain. Tidak melalui Maastricht, melainkan start dari kota Aachen - Jerman, dengan maksud untuk mengeksplore Aachen terlebih dahulu sebelum menuju ke Drielandenpunt.

Eurogio Ticket
Perjalanan dimulai jam 7 pagi dari Rotterdam, menggunakan kereta NS Intercity menuju kota Heerlen di perbatasan Jerman. Dari Heerlen lanjut ke Aachen, masih dengan kereta, namun kali ini menggunakan kereta Jerman - Eurogio Bahn. Berhubung saya punya abudemen kereta NS Weekend Free, maka saya hanya perlu membayar tiket kereta di region Jerman saja. Kali ini saya membeli tiket Eurogio seharga €17 yang bisa dipakai di semua jalur transportasi di wilayah Aachen - Limburg - Liege - Maastricht selama seharian penuh, dan berlaku untuk 2 orang dewasa dan 3 anak-anak pada saat weekend. Lumayan irit bukan? Jadilah saya patungan berdua dengan teman untuk tiket ini.


Kereta Eurogio Bahn yang saya naiki terlihat rapi dan bersih, mirip-mirip dengan kereta NS Sprinter di Belanda. Kereta bergerak meninggalkan Heerlen (Belanda) menuju Aachen (Jerman) dan memakan waktu sekitar 33 menit untuk sampai di stasiun utama kota Aachen. Sampai Aachen, hari sudah siang. Saya dan teman-teman yang juga merupakan member dari sebuah komunitas backpacker terbesar di Indonesia (komunitas 'Backpacker Dunia') hari itu sengaja berkumpul dulu di Aachen dalam rangka gathering. Mengingat sebenarnya banyak member Backpacker Dunia (BD) yang berdomisili di Eropa, maka terbersitlah ide untuk mengadakan acara kumpul bareng sesama member BD di kawasan Eropa Barat. Dan hari itu, pertama kalinya acara BD Gathering dilakukan di Eropa. Senang sekali rasanya bisa bertemu teman-teman yang selama ini hanya akrab di dunia maya, kini bisa tatap muka secara langsung. Para peserta gathering yang hari itu hadir berasal dari Belanda, Jerman, dan Luxembourg. Lunch bareng dan diselingi dengan sharing-sharing pengalaman serta guyonan, membuat waktu tak terasa berlalu dengan cepat. Untungnya matahari musim panas tenggelam jam 11 malam, jadi kami masih punya sisa waktu untuk menuntaskan tujuan ke Drielandenpunt setelah terlebih dahulu mengeksplore sebagian kecil pusat kota Aachen. 

salah satu sudut cantik kota Aachen

sudut cantik kota Aachen

Aachen Cathedral
Vaals City - South Limburg
Berbekal tiket Eurogio, kami naik bus Veolia no.50 jurusan Maastricht yang melewati Vaals. Semula saya kira di Vaals akan turun di sebuah bus station atau at least tempat ngetem bus lain yang notabene harus kami dapatkan untuk bisa naik ke puncak bukit Vaalserberg. Tapi ternyata sampai di Vaals kami diturunkan di sebuah halte bus di pertigaan jalan yang sepi. Di tengah-tengah pertigaan jalan itu ada sebuah bundaran dengan lambang 3 buah segitiga bersusun, yang saya tafsirkan artinya Three Point atau Drielandenpunt. Papan penunjuk jalan menunjukkan bahwa kami sudah turun di lokasi yang benar, hanya saja saya tidak melihat tanda-tanda bus no.149 yang ngetem untuk naik ke bukit. Wah... jangan-jangan bus nya sudah selesai jam operasionalnya. Tanya-tanya ke warga lokal, mereka bilang tidak jauh didepan ada halte bus yang kearah bukit, barangkali kami bisa dapat bus disana. Akhirnya gambling lah kami jalan kaki ke halte bus yang dimaksud, sambil iseng-iseng mencoba hitchhike hehe... Tapi untungnya, ada salah satu dari rombongan yang membawa mobil, berbaik hati untuk mengangkut kami sampai tujuan. Huuuffttt... selamat deh dari jalan kaki sejauh 5km, menanjak pula!

Jalanan berkanopi pepohonan

Naik keatas bukit Vaalserberg, melewati jalanan aspal dengan naungan pepohonan hijau rindang di kanan-kiri nya. Mirip-mirip seperti jalanan di Cikole ke arah Tangkuban Perahu, cuma bedanya disini bukan hamparan kebun teh yang terlihat, melainkan padang rumput dengan sapi atau kuda bertebaran. Sampai di atas bukit, kami masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter melewati rimbunan pepohonan musim panas yang menghijau sejuk. Dan akhirnya sampai di spot yang paling dinanti, Drielandenpunt. 

Drielandenpunt area dengan bendera Jerman - Belanda - Belgia

Drielandenpunt
Titik Perbatasan Tiga Negara atau dikenal dengan Tripoint dan Drielandenpunt dalam bahasa Belanda, merupakan sebuah tugu batu setinggi kurang lebih setengah meter yang berdiri ditengah-tengah lingkaran. Lingkaran tersebut dibagi menjadi 3 ruas, yang berukuran paling sempit mewakili wilayah Belanda, kemudian di posisi kedua adalah wilayah Belgia, dan setengah diameter lingkaran tersebut mewakili wilayah Jerman. Hmmm... sedikit tidak rela melihat Jerman menguasai 50% nya, haha...
Jadi, dalam sekejap mata saya bisa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain hanya dengan melangkahkan kaki diatas lingkaran tersebut dan menyeberangi bordernya. hehe...

The Highest Point of Netherlands

only 322m above sea level
Di dekat tugu Drielandenpunt ini terdapat pula tiga buah tugu 'The Highest Point of Netherlands' yang merupakan titik tertinggi wilayah negara Belanda dengan ketinggian 'hanya' 322 mdpl. Jadi? Kebayang kan kalau Belanda merupakan sebuah negara artificial yang berada dibawah permukaan laut. Kalau bukan karna kehebatan teknologi dan struktur bendungan/dam nya, mungkin Belanda hanya merupakan hamparan daratan yang tertutup air laut, tempat warga Jerman atau Belgia bisa numpang mancing ikan Haring! Hehehe....

Memandang dataran Belgia dari perbatasan Belanda

Di dekat tugu perbatasan itu, berdiri sebuah menara pandang setinggi beberapa puluh meter yang bisa dimanfaatkan untuk memandang ketiga negara dari ketinggian. Tiket masuk menara seharga €3.50 untuk dewasa dan €2.50 untuk anak-anak dibawah 12 tahun. Sempat saya dibujuk teman untuk mengaku-ngaku sebagai anak 12 tahun, mentang-mentang body saya kecil dan muka innocent (halah!!). Namun naluri kejujuran akhirnya mengalahkan saya saat berhadapan dengan petugas loket, sambil senyum-senyum ragu saya berucap "mmmm... one adult ticket please." Hehe... Nggak jadi bohong, lega rasanya! Hanya saya dan seorang teman yang naik ke atas menara, anggota rombongan lainnya memilih ngaso di sekitar tugu perbatasan.

Kawasan Belgia dilihat dari puncak tower
Kawasan Belanda dilihat dari puncak tower
Kawasan Jerman dengan hutan dan kota Aachen, dilihat dari puncak tower

Naik ke atas menara melalui lift, sampailah saya dan Ananda (salah satu member BD) di atas ketinggian yang lumayan bikin bergetar saat menapakkan kaki di lantai besi bolong-bolong itu. Saat memandang kebawah, oh my God.... kami berdiri di selembar besi baja motif kotak bolong-bolong, yang bisa dengan jelas melihat dataran tanah jauh dibawah sana! Hadoh... saya lupa kalau saya takut ketinggian (-__-") Alhasil dengan hati kebat-kebit saya tarik si Ananda yang sudah jejeritan ketakutan dari tadi. Kami naik ke lantai paling puncak menara yang.... Thank God! terbuat dari semen utuh tanpa pemandangan tanah puluhan meter dibawah kaki. Yeaaayyy... mulai deh asyik foto-foto pemandangan yang sangat cantik dilihat dari ketinggian ini. Hamparan hijau padang rumput dan hutan serta rumah-rumah putih di pedesaan terlihat sangat asri. Juga beberapa kincir angin di kejauhan, serta rel kereta yang meliuk diantara pepohonan. Berkesempatan memandang 3 negara sekaligus dari atas sini, merupakan sebuah pengalaman berkesan dalam hidup saya. :)

Puas menikmati (dan foto-foto juga) di area Drielandenpunt, kami turun bukit untuk kembali melanjutkan eksplorasi ke Limburg. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan sebagian anggota rombongan memilih untuk kembali ke Jerman. Sedangkan rombongan asal Belanda akan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Maastricht dengan mengambil rute panjang melewati desa-desa Kleine Swiss. Naik bus no.50 menuju Gulpen, kemudian berganti bus no.57 tujuan Maastricht, kami melewati bukit-bukit hijau dengan hamparan padang rumput dan hutan. Sangat cantik, dengan senja yang menguning di horizon, serta melewati jejeran rumah-rumah mungil nan klasik bergaya Swiss di sepanjang jalan. Saking terlena menikmati pemandangan ala buku dongeng itu, saya sampai lupa untuk memfotonya! Tapi tak apalah... Keindahan alam South Limburg memang paling pas untuk dinikmati dengan mata kepala sendiri. Jadi kalau ada yang penasaran tentang keindahan desa-desa Kleine Swiss di perbukitan Limburg, saya menyarankan untuk mengunjunginya langsung dan merasakan sendiri mulut menganga dan berdecak kagum menyaksikan salah satu landscape indah ciptaan Tuhan yang selama ini hanya terbayang di buku-buku dongeng pengantar tidur. :)

Sekian dan salam Traveler!!

Para peserta "Backpacker Dunia Gathering West Europe I"

Monday, March 25, 2013

A Lil' Step to... Germany

Aku berkesempatan mengunjungi negara tetangga ini pada liburan Natal tahun lalu, Desember 2012. Letaknya yang bersebelahan dengan Belanda membuatnya mudah dicapai baik melalui darat maupun udara. Kali ini aku menggunakan jalur kereta yang hanya memakan waktu 3 jam dari Rotterdam menuju Düsseldorf, Jerman. Dengan tiket seharga €17.5 yang sudah aku booking sejak beberapa minggu sebelumnya, aku memulai petualangan bolang ke tiga kota di provinsi North-Rhine Westphalia yaitu Düsseldorf, Duisburg, dan Köln.

Düsseldorf HBF Station

Kereta dari Belanda tidak ada yang langsung menuju Jerman melainkan harus transit dulu di Venlo, sebuah kota di perbatasan Belanda-Jerman. Dari Belanda aku naik si kuning-biru Nederlandse Spoorwegen (NS) Intercity, kemudian berganti kereta Deutsche Bahn (DB) tujuan Düsseldorf. Saat berganti kereta, jelas terasa perbedaannya, antara lain bahasa yang digunakan sebagai petunjuk didalam kereta menggunakan bahasa Jerman, begitu pula pengumuman dari pengeras suara. Kereta DB hari itu penuh sekali, sangat berbeda dengan suasana kereta NS sebelumnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam, dengan satu kali transit di Moenchengladbach.

Tiba di Düsseldorf, suasana natal langsung menyeruak di langit-langit stasiun kereta The Düsseldorf Hauptbahnhof (HBF). Ratusan sparkling lamps menggantung lembut di setiap sudut, dengan beberapa pohon natal menghiasi pintu masuk, serta seorang berpakaian Santa sedang sibuk membagi-bagikan coklat dan permen di main hall. Keluar dari stasiun, langsung ketemu dengan beberapa kios snack&coffee yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan dedaunan Holly serta krans natal, sangat cantik. Aku bertemu dengan salah seorang teman dari Couchsurfing, Danell, seorang asal Venezuela yang bekerja di Düsseldorf selama beberapa tahun. Dia berbaik hati menemani dan mengantarkan aku dan teman-teman untuk keliling (well, sebagian kecil) kota Düsseldorf, terutama mengunjungi berbagai Christmas Market Bubble disana. Namun sayangnya cuaca hari itu sedang tidak bersahabat, gerimis dan hujan mengiringi perjalanan kami menelusuri sudut kota Düsseldorf.
Tujuan utama ke Jerman kali ini memang terfokus pada kemeriahan suasana Pasar Natalnya. Bergerak dari satu spot ke spot yang lain, mata ini dimanjakan dengan kemerlip indahnya segala ornamen hijau-merah dan gold, serta hidung yang terbuai oleh harumnya bau makanan dan wine hangat yang memenuhi atmosfer. Selain menelusuri Christmas Market Bubbles, aku juga diajak menyusuri salah satu jalanan paling terkenal di kota Düsseldorf ini, yaitu Königsallee, sebuah boulevard di tepi kanal yang sarat oleh butik-butik terkenal merk dunia di setiap sisi jalannya. Kemewahan butik-butik di Königsallee ini membuatnya dijuluki sebagai "Champs-Élysées"-nya Jerman! Yah, memang bukan "gue banget" dah menyusuri jalanan luxury ini, tapi namanya juga diantar oleh seorang teman yang bertindak sebagai tuan rumah, why not kalau dicoba.

salah satu tipikal gedung di Jerman

Bangunan di Düsseldorf mayoritas besar-besar dengan bentuk kaku dan kokoh serta berwarna suram dimakan usia yang sudah tua. Aura yang terasa ditengah kota ini seperti dingin dan defensif, meskipun sedang berada ditengah keramaian, namun seolah gedung-gedung tua itu menunduk dan menatap dingin kearahku. Entah cuma imajinasiku saja atau aku sedang menahan dinginnya suhu di negara Sang Nazi Hitler tersebut. Haha...

Ada pengalaman kurang menyenangkan selama menyusuri jalanan di Düsseldorf ini. Tau donk kalau aku selalu membawa ransel saat traveling? Nah, si ransel gendutku ini tanpa sengaja menyenggol orang saat menyeberangi zebra cross di dekat kawasan Königsallee. Aku sudah berniat baik meminta apologize, tetapi yang aku dapatkan malah makian dan gerundelan berbahasa Jerman dari seorang laki-laki, plus mata melotot dan mulut mengsong-mengsong ngomel! Whatttt??? Lho, salahku apa tho? Kan cuma ransel yang nyenggol tanpa sengaja saat gerombolan manusia memenuhi zebra cross untuk menyeberang jalan. Menurutku itu hal yang wajar dan tanpa disengaja, tetapi kenapa si mas Jerman ini ngomel gajebo and misuh-misuh begini? Dan kejadian ini kembali terulang hingga 3x! Bayangkan, TIGA KALI aku dimaki dan diomeli warga Jerman karena masalah "kesenggol ransel" doank! Kontan dari situ aku menjadi hilang respect sama warga Jerman, terutama cowok-cowok nya, yang menurutku tampangnya dingin semua seperti Hitler! Gggggrrr.....

Promenade Rhine River
Puas menyusuri Pasar Natal, si tuan rumah mengantarkan kami menelusuri Rhine River mulai dari The Promenade hingga ke Burgplatz, dimana terdapat sebuah menara peninggalan kastil tua yang kini dijadikan sebagai Museum Navigasi. Lapangan Burgplatz ini sangat cozy untuk acara ngopi-ngopi menikmati sore hari, namun sayangnya sore itu hujan deras sehingga kami tidak bisa mencicipi suasana ngopi di cafe outdoor. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri Altstadt atau Old Town, sebuah area downtown dimana terdapat ratusan bar, yang oleh dunia dijuluki sebagai "The Longest Bar In The World". Well, sebenarnya penampakannya bukan seperti namanya, Bar Terpanjang di Dunia, melainkan karena area ini dipenuhi oleh bar-bar di setiap sudut jalanannya, menjadikan tempat ini terlihat selalu ramai dan tak pernah sepi di malam hari. Kalau kesini, jangan lupa untuk mencicipi beer asli Jerman, Altbier, yang konon hanya diproduksi di daerah Düsseldorf dan sekitarnya.
Burgplatz
Salah satu sudut 'The Longest Bar in The World'
Hujan yang tak berkesudahan hari itu membuat kami semua cepat lelah karena kedinginan. Setelah menyantap sepotong Turkse Pizza untuk makan malam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Duisburg dengan kereta. Sebetulnya tujuan kami ke Duisburg bukan untuk mengeksplore kota kecil tersebut, melainkan karena host Couchsurfing yang akan menampung kami bermalam saat itu tinggal di Duisburg. Jadilah kami berpisah dengan Danell, si Venezuelan guy yang sudah berbaik hati menemani kami seharian di Düsseldorf itu. Aku dan ketiga temanku meluncur ke Duisburg menggunakan kereta dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.

Setiba di Duisburg, hujan belum juga berhenti. Kami memutuskan ngopi-ngopi sebentar di sebuah cafe Italia didepan stasiun, sambil menunggu host CS tiba. Chris, sang host CS, adalah seorang asli Jerman yang ramah (terlalu ramah malah untuk ukuran orang Jerman! Haha...) Dia mempersilahkan kami berempat menginap dirumahnya selama semalam. Jujur, ini pengalaman surfing CS yang paling konyol yang pernah aku alami. Si host ini rupanya seorang yang doyan banget ngomong. Dia tidak ada hentinya ngajakin ngobrol meski kami semua sudah kelelahan dan mengirim sinyal-sinyal bertanda "STOP TALKING" kepadanya. Alhasil cara terampuh untuk membuatnya sadar bahwa kami sudah mengantuk adalah aku pura-pura ketiduran di sofa! Haha... Konyol memang, tapi ya inilah serba-serbi per-couchsurfing-an. Ada kalanya beruntung mendapatkan host yang baik hati dan enak diajak komunikasi, dan ada kalanya sedikit sial mendapatkan host yang 'weird' dan menyebalkan. Well, aku nggak bilang si Chris ini nggak baik ya... Dia baik, cuma cerewetnya over dosis dan pakai battery Alkaline pula, yang menyebabkan kami semua buru-buru angkat kaki dari apartmentnya pagi-pagi keesokan harinya! haha...
suasana kota Duisburg yang sepi
Pagi hari di Duisburg, aku dan teman-teman menyusuri kota kecil ini dengan berjalan kaki menuju stasiun. Sepanjang jalan, sambil mengunyah biskuit sebagai menu sarapan (maklum traveler kere), kami menyusuri jalanan dengan gedung-gedung besar nan tua di kanan kiri jalan. Seperti kota mati saja rasanya! Hanya kami berempat yang terlihat di jalanan, dengan daun-daun kering beterbangan tertiup angin dingin di sela-sela langkah kami, benar-benar membuat suasana makin dingin dan horor! Berasa ada sepasang mata Hitler sedang mengawasi kami dan siap menembakkan bedilnya ke kepala kami... DOR!! Hahaha... Lebay ah! Tapi memang benar, kota ini terlihat sangat suram dan dingin. Sangat terlihat tidak ramah. Well, ingin rasanya cepat-cepat kabur dari kota ini dan melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya, Köln.

Mejeng didepan Kolner Dom :)
Kereta bergerak melewati jejeran rumah-rumah beratap tinggi khas Jerman, menuju selatan selama kurang lebih 45 menit. Memasuki pusat kota Köln, kereta menyeberangi jembatan Hohenzollernbrücke di atas Rhine River, yang merupakan salah satu icon kota Köln yang sering terpampang di kartu pos. Dari jembatan ini, sudah terlihat sebuah bangunan gothic tua yang menghitam dimakan usia, dengan menara-menaranya yang mencuat kokoh diantara bangunan disekitarnya. Ya, itulah Kölner Dom, sang icon kebanggaan kota Köln, salah satu gereja gothic tertua di Eropa.
Kolner Dom di malam hari
Stasiun kereta Köln HBF terletak persis disamping si gereja tua nan cantik Kölner Dom itu. Namun aku tidak buru-buru menyambanginya, melainkan terlebih dahulu ke hostel demi manaruh ransel. Jarak dari stasiun ke Pathpoint Hostel tidak begitu jauh, hanya perlu berjalan kaki 3 menit saja. Memasuki hostel, kami disambut dengan jejeran bendera-bendera kecil dari berbagai negara di pintu masuknya. Receptionist yang ramah memproses bookingan kami dan menyerahkan kunci, plus manawarkan sekeranjang kecil penuh kue-kue natal. Hmmm... pas banget lagi kelaperan (maklum backpacker kere! hehe) langsung comot saja beberapa Kokos cookies dan Spechulas. Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah: Masak INDOMIE Goreng!!! Ya, santap siang dengan menu Indomie goreng plus sambal ABC itu nikmatnya mengalahkan seloyang pizza maupun sepiring pasta! Kami masak di dapur hostel yang sangat bersih dan lengkap peralatannya. Para tamu hostel diperbolehkan memakai semua peralatan masak, dan kemudian membersihkannya kembali. Menjaga kebersihan secara independent sangatlah penting, karena di hostel ini apa-apa semua serba sendiri termasuk pasang seprai untuk kasur masing-masing. Di area dapur, terdapat sebuah dinding tempat para traveler menempelkan kertas berisi tulisan testimonial. Hampir dari seluruh benua aku lihat ada yang menginap disini, termasuk satu dari Indonesia beberapa bulan lalu, dan kemudian tentunya kami ber-empat, si gadis-gadis Indonesia ini. Hehe... Pathpoint hostel ini recomended deh. Selain rapi, bersih, fasilitas lengkap, juga sangat ramah pelayanannya. Letaknya pun sangat dekat dengan stasiun dan Kölner Dom, membuat hostel ini mendapat rating yang sangat bagus di hostelworld.com.
Pintu masuk hostel Pathpoint
dapur hostel yang bersih
Testimonial board
Female Dormitory Room, sangat bersih dan nyaman!
Aku hanya menghabiskan satu hari dan satu malam di Köln, dengan tujuan utama hanya mengeksplore Christmas Market dan Köln City Centre. Tentang betapa meriahnya christmas market sudah aku ulas di postingan sebelumnya. Namun tentang pengalaman (lagi-lagi) kurang enak selama disana, akan aku ceritakan disini, yang masih mengenai ketidak-ramahan orang-orang di Jerman. Selama berwisata kuliner di pasar natal itu, aku perhatikan sebagian besar penjual yang melayani pembeli tidak pernah mengucapkan kata-kata "You're Welcome" saat pembeli bilang "Thank You". Serta raut muka mereka yang rata-rata 'kencang' bak pakai masker putih telur itu, jarang sekali melayani pembeli dengan senyum renyah ramah tamah layaknya para penjual pada umumnya. Raut-raut muka sedingin Hitler tampak dengan tegas bak tentara melayani pembeli yang mengantre di depan kios mereka. Aku yang sudah terbiasa disapa dan dilayani dengan ramah oleh warga Belanda menjadi sedikit kecewa saat bertransaksi dengan para pedagang Jerman ini. Jika di Belanda para penjual slalu mengucapkan "Alstublieft" bernada ramah saat memberikan barang maupun uang kembalian, lain halnya dengan para pedagang Jerman yang dengan cueknya memberikan uang kembalian tanpa menjawab sapaan "Danke" dan senyumanku! Sial!
ke'tidakramah'an Jerman terlihat dari stasiun yang tidak menyediakan bangku di sepanjang peron nya :(
Tak hanya para pedagang yang bertampang jutek, para pengunjung pun (yang kemungkinan warga lokal) juga bertampang jutek. Contohnya, saat aku dan salah seorang teman hendak mengambil foto disebuah patung, ada seorang Ibu gendut dengan suami dan anaknya menghalangi angle kamera ku. Dengan sopan aku bilang ke si Bapak dan anak nya "Excuse me, I wanna take a picture. Could you please give me some space?" Si Bapak dan anak melipir ke samping memberikan tempat, tetapi si Ibu gendut masih tetap berdiri di tengah-tengah. Aku dengan sabar berdiri dan menunggu kalau-kalau si Ibu akan pindah posisi. Tapi yang ditunggu sepertinya nggak tahu ditunggu, si Ibu gendut dengan cueknya malah asyik mengunyah di tengah-tengah spot foto yang akan ku ambil. Sekali lagi aku menyapa dengan sopan ke si Ibu, tapi tahu apa yang terjadi selanjutnya??? Si Ibu malah dengan nyolotnya jawab "Why you didn't tell me before? Why you didn't just tell 'Excuse Me' hah?" dan dia menggerundel seribu bahasa dewa!! Aku yang shock diomelin si Ibu gendut hanya mampu menjawab dengan geram "Maam, I did it! I said 'Excuse Me' to you, even TWICE!!!". Dan si Ibu masih saja terus melotot dan menyinyirkan mulutnya, sampai si anak berkata padanya "Mom, she said it before but you didn't hear maybe". Dan kemudian si Ibu gendut pun ngeloyor pergi tanpa say sorry, diikuti suami dan anaknya yang tersenyum simpul. Aku masih berdiri shock dengan mulut menganga melihat kelakuan si Ibu jutek itu, kemudian aku menyumpah serapah dan bete sendiri gara-gara kejadian itu. Sampai-sampai aku bilang ke teman-temanku "Kagak bakal gue balik lagi ke Jerman!! Amit-amit dah ni negara kenapa isinya orang jutek semua?! Kemana-mana bawaannya ngeri diomelin orang mulu! Gue gak betaaaaahhhhh disiniiiii.....huwaaaaa....."
Namun untungnya ke-bete-an itu hanya berlangsung sesaat karena aku kembali sibuk berwisata kuliner. Hehe... Perut kenyang hatipun senang... :)
Daging panggang terpanjang! 50cm saja :D
Gluhwein, wine panas yang laris manis saat winter
cantiknya suasana malam di pasar natal
Menyusuri kota Köln di malam hari, berniat ingin mengabadikan foto jembatan Hohenzollernbrücke yang sangat indah dengan lampu-lampu melengkung nya. Tapi sayang si jembatan nan anggun itu terhalang oleh jembatan lainnya, sehingga kurang bagus untuk difoto. Alhasil kami hanya menyusuri sungai Rhine menuju Museum Chocolate, kemudian berputar ke arah Köln City Centre yang dipenuhi dengan pertokoan dan butik-butik kenamaan. Suasana di City Centre ini cukup meriah dengan hiasan lampu-lampu natal yang
menggantung di sepanjang jalan. Dan aku juga melihat counter Dunkin Donuts di salah satu sisi jalan. Hmmm... kangen juga dengan si donat gemuk itu! Sayang di Belanda tidak ada Dunkin... Apalagi J.co! Hehe...
Puas menyusuri malam di Köln, kami kembali ke hostel dan packing karena besok pagi harus check out dan langsung menuju Köln-Bonn Airport untuk terbang ke negara selanjutnya, Czech Republic! Kesan selama 3 hari di Jerman... Seru. Puas menjajal berbagai jenis makanan berporsi jumbo, puas keliling ke berbagai pasar natal, meski mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan orang Jerman. Hehe... So far, Jerman oke lah... Meski aku tidak yakin apakah akan kembali lagi kesana atau tidak. Dan kalaupun akan kembali ke Jerman, aku mengincar Berlin dan Bavaria. Amin! (diaminkan saja dulu ya. hehe)
Kami berempat :)

Tips:
- Mau traveling murah meriah? Jangan ragu bawa/beli Indomie buat sarapan. Harga Indomie di Jerman relatif terjangkau, hanya €0.29. Kan lumayan bisa masak sendiri di hostel, jadi irit biaya makan. Dan jangan lupa juga untuk mencoba berbagai jenis makanan khas Jerman seperti: Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. Dijamin puas kulineran di Jerman! Dan siap-siap menggendut setelahnya. Hahaaa... :D
- Total pengeluaran selama 3 hari di Jerman (Transportasi + Makan + Menginap) hanya €70. Yakin tuh??? Yakin dooonk... Tiket kereta dari Belanda ke Jerman saja cuma €17.5, transportasi selama di Jerman cuma €15.2, biaya hostel cuma €15, sisanya buat biaya makan. Irit bukan berarti kami kelaparan lhooo... :)
Sampai jumpa di cerita selanjutnya... Praha! ;)

Wednesday, January 16, 2013

Sparkling Culinary Christmas Market

So this is Christmas....
I hope you have fun....
The near and the dear one...
The old and the young...

Ya, suasana natal sudah marak terlihat di berbagai sudut Eropa. Atmosfer natal dihadirkan di setiap tempat umum seperti stasiun kereta, pusat kota, shopping area, jalanan, bahkan ada yang namanya Pasar Natal atau Christmas Market yang tersebar di seluruh negara di Eropa. Menurut survey, England - UK adalah negara dengan Christmas Market terbanyak, disusul oleh Germany di urutan kedua. Namun berhubung visa ku hanya berlaku di Schengen area, maka aku tidak bisa mencicipi atmosfer natal di negara nya Harry Potter tersebut. But thanks God aku berkesempatan menikmati Christmas Market di Belanda, Jerman, dan Ceko.

Maastricht, sebuah kota kecil yang letaknya nyempil di ujung selatan Belanda, dan diapit oleh dua negara tetangga yaitu Jerman dan Belgia. Suasana kota Maastricht sangat berbeda dengan kota lain kebanyakan di Belanda. Mungkin karena letaknya yang berada di border Jerman-Belgia menyebabkan kota ini memiliki karakteristik bangunan yang unik, bahasa dan dialek yang berbeda, dan citarasa makanan yang juga berbeda dari Belanda.

Ice Rink @ Christmas Market
Aku mengunjungi Maastricht karena tertarik dengan Christmas Market & Lights Festival nya. Konon katanya, Kerstmarkt disana adalah yang paling meriah karena atmosfer natal nya berbeda dan unik. Perjalanan Rotterdam-Maastricht memakan waktu 2 jam 14 menit dengan kereta, dengan satu kali transit di Eindhoven. Lumayan jauh juga mengingat letaknya yang menjorok keluar dari perbatasan Belanda. Namun perjalanan panjang itu sebanding dengan apa yang akan kita lihat di kota itu.
Begitu keluar stasiun, mata langsung disambut dengan jejeran bangunan berwarna plain dengan bentuk bangunan yang sama sekali bukan tipically Belanda. Sepanjang jalan menuju Centrum dihiasi dengan ornamen-ornamen natal dan kelap-kelip lampu, termasuk sepanjang jembatan Sint Servaasburg yang dihiasi lampu-lampu gemerlap. Menyusuri Centrum hingga tiba di Vrijthof, lapangan tempat Kerstmarkt berada, yang dipenuhi dengan stand-stand makanan, dagangan, hingga permainan. Mirip dengan pasar malam lah kalo di Indonesia. Cuma bedanya, kalau di Kerstmarkt ini kental dengan suasana natal.

Maastricht Christmas Market
Di Kersmarkt Maastricht ini banyak sekali stand makanan seperti Bratwurst Sosis khas Jerman, Belgian Waffle, Jamur goreng, Ayam panggang, dll. Kebanyakan makanan itu bercitarasa Jerman atau Belgia. Bahkan aku tidak menemukan satupun stand yang menjual Stroopwaffle makanan khas Belanda. Hanya ada satu stand Poffertjes, dengan mas-mas ganteng sebagai penjualnya. Hehe...
Di kerstmarkt ini juga terdapat berbagai permainan seperti giant Ferris Wheel, Carousel, dan tak lupa yang paling khas dari winter adalah Ice Rink. Di arena Ice Rink ini kita bisa main ice skating dengan tiket masuk €4.50 dan rental sepatu €4 selama 1 jam. Ditengah arena Ice Rink terdapat sebuah sparkling tree yang menyala indah di malam hari. Selain itu, juga terdapat banyak stand penjual aneka ornamen natal, hiasan pohon natal, dan winter outfit seperti syal dan topi bulu-bulu. Suasana di Maastricht saat menjelang natal memang selalu ramai.

Dordrecht Christmas Market
Lain halnya dengan di Dordrecht. Meski masih sama-sama di Belanda, suasana di Dordrecht terasa berbeda dengan di Maastricht. Kalau di Maastrict, Kerstmarkt nya terpusat di sebuah plein (lapangan) dan ragam kulinernya sarat dengan ciri khas Jerman dan Belgia. Sedangkan di Dordrecht yang di klaim sebagai "The Biggest Christmas Market in Holland" itu tidak terpusat di satu tempat melainkan tersebar di gang-gang seputaran centrum. Kerstmarkt dengan sekitar 200 kios ini lebih terlihat seperti openmarkt biasa yang menjual berbagai kebutuhan sandang dan jg aneka kuliner. Tak ada yang special di barang dagangannya, karena barang yang dijual sama dengan yang dijual di openmarkt setiap minggunya. Yang membedakan hanyalah kios-kios tersebut diramaikan dengan hiasan dan ornamen natal, serta adanya sebuah arena Ice Rink kecil di tengah-tengah pasar, dengan tiupan salju buatan dari atap-atap bangunan disekitarnya. Kulinernya pun nggak jauh-jauh dari makanan khas Belanda, meski aku juga melihat ada satu kios makanan Spanyol.

Germany Fries & Reibekuchen
Suasana yang jauh berbeda (jauh banget malah) aku dapatkan saat mengunjungi Jerman dan Republik Ceko saat Natal kemarin. Di Jerman, pertama-tama aku mengeksplorasi Christmas Market Bubbles di Duesseldorf, menjelajah dari satu Bubbles ke Bubbles yang lain. Bubbles adalah sebutan untuk area dibukanya Christmas Market, dan di kota ini Christmas Market nya tersebar di beberapa tempat alias bubbles. Dan tahu nggak apa yang paling bikin nggak kuat iman disana? Kulinernya itu lho yang bikin jarum timbangan seolah menjerit ketakutan! Segala macam makanan khas Jerman mulai dari Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. sungguh-sungguh menggoda hati untuk mencicipinya satu-persatu. Namun berhubung suasana kurang mendukung saat itu, hujan gerimis mengundang, membuat acara santap kuliner menjadi kurang semangat. Makan Reibekuchen alias Bakwan Jerman masa dengan campuran tetesan hujan dari langit? Yieks! 



Kolner Dom Christmas Market
Lanjut keesokan harinya mengunjungi kota lain di Jerman yaitu Koln atau Cologne. Di Koln ini, suasana Christmas Market nya lebih "heboh" dengan kemerlap lampu berbagai bentuk, lantunan musik natal, segala macam pernak-pernik natal warna-warni, hingga seolah sejauh mata memandang tak ada satu pohon pun yang luput dari hiasan lampu kelap-kelip! Ada 3 market yang masih buka saat aku berkunjung kesana, dimana satu market lainnya telah tutup mengingat esok hari sudah Natal. Market pertama yang aku sambangi adalah yang di belakang Kolner Dom. Christmas Market dengan suasana berwarna merah gemerlapan itu diramaikan oleh puluhan stand yang berbaris rapi membentuk sebuah bentuk bintang, dengan sebuah pohon natal raksasa dibagian tengahnya. Segala-gala kios yang menjual makanan khas Jerman aku cicipi satu persatu. Ada untungnya pergi bareng teman, jadi beli makanannya nggak perlu seporsi tiap orang, tapi seporsi dimakan berempat. Sehingga hampir semua jenis makanan aku coba tanpa merasa kekenyangan, termasuk Bratwurst si sosis andalan Jerman yang melihat ukurannya (30cm) saja sudah bikin kenyang duluan! Namun sayang kami tidak berhasil menjajal Bratwurst yang sepanjang 1/2 meter yang tersohor itu. Next time jika berkesempatan kesana lagi, aku pasti akan menuntaskan misi untuk menyantap Bratwurst sepanjang 1/2 meter itu. Hehe....

Germany Bratwurst! Nyammmm... :-9
Bicara soal makanan memang tak ada bosannya. Jerman punya seleksi kuliner yang 'greasy' alias porsi jumbo. Nggak cuma sosisnya yang berukuran luar biasa, jajanan lain seperti barbeque, pancake, champignon soup, dll pun berukuran jumbo. Soal rasa? Menurutku semuanya uenak dan worthed saat harus berantre ria. Favoritku di kuliner Jerman ini adalah si aneka Barbeque dan Bratwurst (nggak usah ditanya daging apa ya. hehe). Selain enak-enak, ada juga yang aneh-aneh seperti Reibekuchen yang kompak kami sebut sebagai "Bakwan Jerman". Kenapa bakwan? Yaiya, wong bahan dan bentuknya sama seperti bakwan. Kol dan (kadang wortel) diiris tipis kemudian dicampur tepung dan digoreng deep fry. Yang aneh adalah cara makannya. Kalau Bakwannya orang Indonesia biasa dimakan pakai sambal atau cabai rawit, lain halnya dengan bakwan Jerman ini yang makannya dicocol ke Appelmoes alias saus apel. Pas dicoba, yieks! Aneh rasanya, masa si bakwan yang notabene bercita rasa asin dan gurih itu dikombinasikan dengan saus apel yang manis sih? Tapi ya itulah tradisi, tiap negara punya tradisinya masing-masing. Oiya, ada juga yang namanya entah apa aku lupa, seporsi jamur rebus yang makannya dicampur dengan semacam saus santan. Itu enak bangetttt... apalagi pas masih mengepul panas! Menyusuri tiap kios makanan di setiap christmas market di Jerman sama saja dengan merusak diet! Eits, ini belum seberapa.... masih ada christmas market di Prague yang akan aku telusuri keesokan harinya.

Prague Christmas Market
Masih penasaran dengan isi Christmas Market di Eropa? Mari kita lanjut ke Prague atau Praha, ibukota negara Czech Republic atau Ceko. Meski aku hanya menemukan dua buah Christmas Market di kota Praha, itupun tak semeriah Jerman, namun feel-nya beda. Christmas Market disini atmosphernya merupakan perpaduan modern dan kuno. Kuno karena letaknya di sebuah lapangan yang dikelilingi bangunan-bangunan kuno bergaya Bohemian, dan modern terlihat dari banyaknya jumlah sparkling-lamps dan hiasan natal yang memenuhi area pasar natal tersebut. Letak pasar natal yang paling ramai ada di Old Town Square - Stare Mesto. Isinya ya nggak jauh-jauh dari kuliner dan pernak-pernik natal serta Gluhwein. Dan yang bikin nggak kuat iman itu adalah harganya yang jauuuuuh lebih murah dibanding negara lain di Eropa. Mungkin karena letaknya yang sudah menjorok ke Timur kali ya, makanya lebih murah dari Eropa bagian Barat.

Trdelnik, pastry khas Czech.
Kuliner di Praha hampir semuanya berbahan dasar pork dan chicken, dengan side dish kentang atau roti. Di pasar natal, banyak dijumpai stall makanan tradisional seperti Trdelnik, sebuah pastry khas Ceko berbentuk spiral seperti tabung dengan taburan gula pasir diatasnya. Rasanya lumayan kalau masih hangat, tapi saat sudah dingin lumayan alot n bikin susah dikunyah juga. Lalu ada pula Palacinky alias Pancake, ukurannya super besar dengan filling yang bisa kita pilih sendiri. Favoritku tentu saja yang isinya choco pasta, yang langsung lumer saat digigit. Hmmmm.... yummieee.... :D 

Mencoba seporsi Halusky (mash potatoes with cabbage & bacon) yang super yummie, juga Klobasa (sosis Prague) yang aku kurang suka rasanya karena cenderung ke manis. Selain itu, berbagai porsi makanan yang ditawarkan di cafe maupun restaurant disini memiliki porsi yang mengerikan alias greasy alias segede bagong! Plus harganya yang murah gila dibanding dengan di Belanda.

Halusky & Klobasa. yummieee..... :-9


Klobasa, sosis Prague yang sedikit manis

Goulash!

Sate ayam! hahaha...


Liburan di Christmas season itu sama dengan berwisata kuliner, karena pada saat natal atau winter banyak jenis-jenis kuliner yang ngetrend (hanya ada pada saat winter). Jadi, jangan berani-beraninya melirik ke timbangan setiap habis traveling! Karena bisa dipastikan angkanya bertambah naik, just like me. :(

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post