Showing posts with label trip. Show all posts
Showing posts with label trip. Show all posts

Sunday, October 12, 2014

A Lil' Step to... Krakow - Poland

Polski Bus perlahan bergerak keluar lapangan parkir terminal Wilanowska - Warsaw, menuju ke arah barat Poland. Bus ini yang akan membawa saya ke kota selanjutnya - Krakow - yang merupakan kota terbesar kedua di Poland setelah Warsaw. Perjalanan memakan waktu 5 jam, dengan satu kali berhenti di kota Kielce untuk menaikkan penumpang dan berganti sopir. Bus ini sangat nyaman dengan fasilitas penunjang seperti electricity plug dan juga wifi. Jadi sepanjang perjalanan bisa online dan gak mati gaya deh! Hehe... Perjalanan selama 5 jam terasa begitu cepat berlalu dan tibalah saya di kota Krakow yang dulunya pernah menjadi Ibu Kota Poland sebelum akhirnya dipindahkan ke Warsaw.


Pemandangan jalanan berkabut menuju Krakow

Keluar dari bus, saya masuk ke lobby terminal Krakow Główny bermaksud mencari tahu jadwal keberangkatan minibus tujuan Auschwitz untuk esok hari. Sempat celingak celinguk memperhatikan papan pengumuman besar yang tertempel di belakang deretan bangku ruang tunggu. Saya mencari tulisan Auschwitz tapi gak ketemu. Lalu akhirnya saya ingat pernah diberi tahu teman, bahwa di Poland, Auschwitz (yang notabene bahasa Jerman) disebut dengan Oświęcim (dalam bahasa Polish). Oke, here it is! Saya pun menemukan jadwal ke Oświęcim tersebut besok paling pagi jam 07:10. Baiklah, catat! Sekarang waktunya mencari jalan menuju ke One World Hostel, sebuah hostel rekomendasi teman, yang katanya murah dan memuaskan. Saya sudah membooking hostel ini sejak seminggu yang lalu, dan sudah menghafalkan rute jalannya di kepala. Akhirnya dengan mudah saya bisa menemukan hostel tersebut di jalan Westerplatte, tinggal jalan lurus dari Mall Galeria Krakowska ke arah Old Town.

Saya menempati kamar Mix Dorm 12 beds seharga €6/malam plus free breakfast. Saya suka dengan hostel ini, karena disini saya mendapat banyak teman baru. Fasilitas pun lengkap. Mulai dari free breakfast, free internet (wifi & pc), living room, kitchen, laundry, dan resepsionis yang ramah serta helpful. Selama saya tinggal disini, saya sering masak dinner dan sharing ke sesama penghuni hostel. Dari situlah akhirnya terjalin pertemanan baru. You know what? Start everything with a food, and let the tummy involves heart and mind! Intinya, kalau perut kenyang hati pun senang dan pikiran tenang, suasana jd relax dan lebih akrab satu sama lain. Rata-rata teman-teman baru yang saya dapat di hostel ini pada bilang "Kamu jago masak ya! Masakannya enak. Besok gantian aku yg traktir kamu minum deh". Hehe... Padahal saya cuma masak sop, tumis wortel, sama ayam lada paprika. Menu sederhana yang mampu mencairkan suasana :)

Malam itu juga setelah late check in di hostel (jam 21:15) saya langsung buru-buru ke daerah Old Town, mencari sebuah restaurant bernama Yellow Dog. Sepintas, mungkin orang akan berpikir tentang Hot Dog saat mendengar nama restaurant ini. Namun ini bukanlah kios Hot Dog ataupun fast food lainnya, melainkan sebuah restaurant yang menyediakan menu Asia termasuk Rendang! Nah, berbulan-bulan rindu masakan Indonesia, membuat saya bergegas bahkan hampir berlari mencari si Yellow Dog ini. Bukan hanya karena saking sudah lapar, namun mengingat jam tutup resto ini hanya sampai jam 10 malam. Sampai di Yellow Dog, saya masih diperbolehkan memesan makanan sebagai last order malam itu (setelah saya jelaskan - sambil ngos ngosan - bahwa saya jauh-jauh datang dari Copenhagen untuk mencoba rendang nya Yellow Dog), maka sambil tersenyum senang (atau bangga) si mas pelayan resto pun mempersilahkan saya duduk dan memesan makanan. Saya pesan nasi putih, seporsi rendang, dan segelas chamomile & fruit compote. Total seharga 55zł alias €13, tergolong kategori mid range sih harganya. Rasa rendang nya sendiri pun sebenarnya jauh banget dari rasa Rendang khas Indonesia. Rendang Yellow Dog tidak memakai santan kental dan bumbu cabai, melainkan pakai Lada hitam. Jadi pedas nya itu pedas lada, pokoknya jauh deh dari citarasa rendang yang ada dalam bayangan saya saat masuk ke resto ini. Sedikit kecewa sih karena hasrat makan rendang saya terpatahkan oleh daging kecoklatan rasa lada itu. Hehe... Tapi okelah, at least sudah pernah menjajal seperti apa rasanya resto Yellow Dog hasil rekomendasi salah seorang teman tersebut.


Rendang ala Yellow Dog

Saat di Yellow Dog ini, saya janjian sama salah seorang teman yang kenal di Couchsurfing. Dia sangat tertarik ketemu saya karena saya orang Indonesia, dan dia pernah tinggal di Indonesia selama beberapa bulan. Namanya Michal, seorang pemuda Polish yang ramah dan hangat serta sangat antusias mempelajari bahasa Indonesia. Atas permintaan Michal, jadilah malam itu kami ngobrol memakai Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan alias EYD! Nah lhooo.... saya yang sejak lahir sampai besar tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia EYD dalam kehidupan sehari-hari, kecuali saat acara resmi macam meeting atau presentasi, kontan menjadi sangat kaku saat berbicara. Ya, bayangkan saja saya harus mengucapkan kalimat bersusunan S-P-O-K dengan benar. Haha... Berasa kaya lagi ngomong sama klien perusahaan tapi dengan topik pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari. Akhirnya lama kelamaan nyerah juga saya bicara pakai bahasa Indonesia baku, secara kalimat sempurna bahasa Indonesia kan panjang-panjang. Dan kalau saya pakai slang word atau bahasa pergaulan sehari-hari, Michal nggak ngerti. Jadilah balik lagi ke bahasa Inggris, lebih lancar komunikasinya tanpa harus mikir dulu sebelum ngomong, baik saya maupun si Michal ini. Haha... pokoknya lucu deh saya mendengar diri sendiri berbicara dengan bahasa baku begitu sama teman.

Michal mengajak saya ke salah satu bar di daerah Old Town untuk mengenalkan saya pada beer khas Poland dan bagaimana cara minum beer di Poland bagi kebanyakan orang. Well, saya memang pernah dengar kalau kebanyakan orang di Poland punya cara unik untuk minum beer, yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Yaitu dengan mencampur beer dengan syrup kemudian minum pakai sedotan, layaknya sedang minum juice. Wah, penasaran juga sih pengen coba. Michal mengajak saya ke sebuah bar nyempil di komplek bangunan tua klasik. Disana saya ditawari mau beer yang mana dan rasa apa. Duh, bingung juga saat lihat daftar berbagai syrup yang bisa dicampur ke dalam beer. Namun menurut si bartender, syrup Raspberry lah yang paling umum dipakai, dan beer nya pun dipilihkan dari sebuah merk brewery autentik di Poland yang sayangnya saya lupa apa namanya. Sebuah gelas ukuran setengah liter berisi beer yang telah dicampur syrup Raspberry pun tersaji di depan hidung saya, plus dengan sedotan! Hmmm... terlihat enak. Seteguk, dua teguk, lima teguk, dan.... oke, I'm done! Saya hanya meminum 1/2 dari isi gelas berisi cairan rasa aneh tersebut. Hahaha.... Jujur, lebih enak minum beer asli tanpa dicampur syrup begini. Namun saya heran juga, di bar itu cewe-cewe nya memang semua minum beer dengan cara seperti itu. Mungkin hanya saya saja perempuan yang tidak doyan beer syrup tersebut. Hehe...


Fruity beer favoritnya Polish girls (namun bukan fav saya) :p

Teman baru saya tersebut kemudian menantang saya untuk menjajal Vodka yang notabene terkenal di Poland. Saya pun oke-oke saja asal jangan disuruh minum shot pakai sedotan juga! Haha... Vodka pertama rasa plain, kemudian citron, coklat, dan terakhir vanilla. Semuanya enak, dan setelah shot ke-8 saya minta bonus 1 shot Tequila sebagai penutup. Setelah ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar pukul 2 dini hari, saya pun ngantuk dan kembali ke hostel di tengah malam yang berkabut di kota tua Krakow tersebut. Suasana malam yang sedikit sepi dan berkabut itu membuat pemandangan seputaran Rynek Glowny terlihat mistis namun cantik!


Keesokan harinya, alarm pukul 6 pagi membangunkan saya. Bersemangat saya bangun dari bunkbed dormitory room dan meluncur ke kamar mandi. Tapi, yaaaahhhh..... guyuran hujan deras di luar jendela membuat saya bengong sesaat. Padahal hari ini rencananya mau eksplore Auschwitz, tapi kalau hujan deras begini bagaimana? Hmmm... cek punya cek ke accuweather.com ternyata hari ini Krakow akan diguyur hujan seharian! Wah, terpaksa rencana ke Auschwitz saya undur dulu, daripada tidak bisa menikmati karena repot payungan.


Akhirnya saya memutuskan untuk muter-muter kota bersama seorang gadis remaja asal Australia, Alice. Kami mulai mengeksplore dari mall Galeria Krakowsa, Old Town Stare Miasto, Wawel Castle, dan the main square Rynek Glowny yang merupakan main square terbesar di Eropa Timur. Di tengah Rynek Glowny ini, terdapat sebuah bangunan memanjang bernama Sukiennice atau Cloth Hall, yang merupakan pusat dagang beberapa ratus tahun lalu. Namun kini, bangunan itu dipakai sebagai pusat souvenir khas Krakow Poland, sekaligus tempat dimana saya mampu beli asesoris berhiaskan batu Amber dengan harga super miring. Hehehe.... 



Wawel Castle

Salah satu sudut Wawel Castle

Hujan setiap hari selama saya di Krakow :(

Sukiennice / The Cloth Hall

Rinai hujan menyertai langkah kaki kami menyusuri tiap sudut kota. Lapar dan dingin akhirnya mengantar kami ke sebuah restaurant hasil rekomendasi hostel, yang katanya enak dengan harga terjangkau. Kami pun memasuki Restaurant Gospoda Koko yang unik itu, terletak di jalan Gołębia 8, 31-007 Kraków, tak jauh dari Rynek Glowny square. Unik karena letaknya di bawah tanah, dengan lorong bagai gua yang menjorok ke dalam, ke dalam ruang-ruang makan berdinding batu kuno. Cahaya remang pun menambah keeksotisan tempat itu. Kami memesan dua porsi Pierogi (Polish Dumpling), seporsi Gołąbki (Nasi campur daging cincang yang dibungkus lembaran kol), serta teh hangat. Total hanya menghabiskan €6 saja untuk makan berdua dengan porsi besar tersebut (yang akhirnya kami bungkus sebagian karena tak sanggup menghabiskannya).


Suasana ruang makan bawah tanah di Gospoda Koko


Total hanya 6 euro!!

Sungguh Poland memang surganya para backpacker, karena semua harga sangat terjangkau. Saya menghabiskan malam-malam di Krakow dengan pub crawl dan menikmati night life sepanjang malam tanpa harus merogoh kocek yang dalam untuk menikmati vodka dan cocktail. Vodka yang paling terkenal di Poland adalah Żubrówka atau Bison Grass Vodka, dengan 40% alcohol didalamnya. Namun favorit saya adalah Wściekły Pies atau Mad Dog Vodka shot, yang merupakan perpaduan dari Raspberry Syrup, Tabasco, dan Vodka yang disusun per layer dalam segelas shot. Sensasinya luar biasa! Mulai dari pedasnya Tabasco yang pertama kali mengalir di tenggorokan, disusul panasnya Vodka, kemudian diakhiri dengan dingin dan manisnya Raspberry syrup di akhir. Silahkan bayangkan sendiri. Hehehe...


The famous Mad Dog Vodka :)

Empat hari di Krakow ternyata berlalu dengan sangat singkat, hingga saya memutuskan untuk extend 1 hari lagi disana. Selain menikmati kota tua Krakow itu sendiri, saya juga tak lupa mengunjungi the famous Auschwitz, camp konsentrasi Nazi terbesar sekaligus tempat pembantaian masal kaum Yahudi. Saya juga menyempatkan diri menelusuri jejak sejarah kaum Polish-Jews dan juga ikut tour Schindler's List movie. (Dua topik tersebut akan saya bahas di postingan terpisah)


Suatu sore di pinggiran kota Krakow

Salah satu jembatan yang (lagi-lagi) dihiasi gembok cinta :p

Note: Dikarenakan hari-hari hujan selama di Krakow, saya tidak dapat menghasilkan foto yg cukup bagus untuk dipampangkan disini. Terutama kecantikan Rynek Glowny yang (bodohnya) luput dari jepretan kamera saya karena saya terlalu sibuk berkeliaran di luar area pusat turistik itu. :p
Namun,akan saya cantumkan satu foto Rynek Glowny yang saya ambil dari Google.



Rynek Glowny, square terbesar di Eropa Timur.
(photo courtesy from Google)

Friday, October 10, 2014

Canola Hunting


Pernah melihat iklan permen pelega tenggorokan Ricola? Ingat salah satu scene nya diambil di tengah hamparan kebun bunga kuning? Atau saat menonton drama Korea yang mengambil setting di Jeju Island saat musim semi, terihat hamparan bunga kuning yng sangat cantik bukan? Ya, itulah yang disebut Canola atau Rapeseed, bunga kuning penghasil minyak Canola. Di belahan bumi beriklim empat musim, bunga ini mekar saat musim semi dan dipanen sebelum musim panas tiba. Jika dilihat perbatang, bunga ini tidaklah begitu menarik ditambah lagi dengan baunya yang tidak wangi. Namun jika melihat hamparan berhektar-hektar lahan berbunga kuning tersebut, hati pun akan langsung jatuh cinta dan mengaguminya. Dan itu pulalah yang saya rasakan. :)

Pertama kali melihat hamparan bunga kuning itu di iklan Ricola, sudah membuat saya jatuh cinta. Hingga akhirnya melihat langsung dengan mata kepala sendiri, saat dalam perjalanan overland Denmark - Belanda musim semi lalu. Bukit-bukit landai tertutup hamparan kuning membuat mata tak lelah memandang dan mulut tak henti menganga. Saya yang penggemar bunga ini pun dibuat terkagum-kagum dengan keindahan landskap alam tersebut.

Hingga tergelitik menggoogling dan mencari tahu apakah ada kebun bunga Canola di kawasan sekitar Copenhagen tempat saya tinggal. Berdasarkan hasil ngubek-ngubek Instagram, akhirnya saya menemukan bahwa ada sebuah kawasan perkebunan Canola di daerah countryside Denmark, tak jauh dari Copenhagen. Tepatnya di kota Nivå, sekitar 34,5km dari Copenhagen. Kebetulan saya tinggal di area Hellerup, dengan jarak yang sedikit lebih dekat ke kota Nivå tersebut. Maka saya memutuskan untuk mencoba mencari lahan perkebunan itu dengan bersepeda.

Pada suatu hari di musim semi, sekitar jam 8 malam, saya mulai menggenjot sepeda saya berbekal Google Earth di handphone, menuju Nivå. Google Earth menunjukkan bahwa jarak dari rumah saya ke Nivå hanya sejauh 9 Mil saja, maka saya pun bersemangat mengayuh sepeda dengan kecepatan lumayan, karena berniat untuk sampai di kebun Canola sebelum sunset. Karena saat itu musim semi, matahari tenggelam sekitar jam 8:45 malam.

Menyusuri jalanan Strandvejen yang mengikuti garis pantai sebelah timur pulau Zealand, dengan pemandangan indah rumah-rumah cantik dan hamparan pantai. Perjalanan terasa mudah pada awalnya, sampai ketika jalan itu mulai naik turun dengan tidak sopannya, hingga membuat saya nyaris pingsan menggenjot sekuat tenaga! Mil demi mil berlalu, namun tak kunjung terlihat tanda-tanda penampakan kebun bunga kuning itu. Sedikit pesimis, saya kembali menelusuri Google Earth yang menunjukkan bahwa saya ada di jalur yang benar. Oke lah, saya pun kembali melanjutkan perjalanan hingga pada satu titik, jalur sepeda berbelok memisahkan diri dari jalur mobil yang selama ini saya ikuti. Jam 9 malam, memasuki sebuah kawasan sepi, dengan hanya rerumputan di kanan kiri jalan, saya terus mengayuh sepeda dengan sisa keremangan cahaya matahari yang sudah terbenam. 

Jalur sepeda menuju ke arah hutan, dimana akhirnya saya stuck! :p


Satu jam sudah saya mengayuh sepeda, dengan jarak 18km sesuai tertera di GPS, namun belum juga terlihat tanda-tanda saya akan tiba di Nivå. Hari mulai gelap saat saya memasuki kawasan hutan antah berantah. Sedikit menyesal juga karena memutuskan bersepeda malam-malam begini. Jalanan sepi, pepohonan di kanan kiri jalan makin rapat... makin gelap... Duh! Tiba-tiba sinyal 3G di handphone hilang! GPS tidak mau jalan dan saya sendirian di tengah hutan! Sendirian!!! Nyali pun langsung menciut saat sadar bahwa saya sedang sendirian di antah berantah tanpa tahu harus menuju arah mana. Kelebatan bayangan-bayangan fantasi dalam kepala saya pun mulai unjuk gigi. Berbagai pertanyaan "What if..." terlintas di kepala, mulai dari yang seram sampai yang nyeleneh nggak masuk akal. Sembari sedikit panik, saya berdoa dalam hati dan memutar balik sepeda, kemudian melaju kencang keluar dari hutan, kembali ke arah saya tiba tadi. Akhirnya sekitar setengah jam kemudian, saya menemukan jalan raya besar dan yang lebih menggembirakan lagi, saya melihat plang dengan tulisan "Station 2km"! Wohooo.... Thank God!!! Akhirnya saya menemukan sebuah stasiun kereta dengan jarak sekitar 6km dari Nivå. Saya memutuskan untuk menghentikan perburuan Canola saya hari itu setelah bersepeda sejauh 21km. Lagipula kaki ini sudah sangat lelah dan tak sanggup untuk bersepeda lagi meski hanya sejauh 6km, saya pun kembali pulang dengan naik kereta.

Dua hari kemudian, setelah tahu pasti dimana letak kebun Canola tersebut (berdasarkan hasil tanya-tanya ke Instagramer Copenhagen), dengan membawa serta sepeda saya naik kereta dengan tujuan Nivå. Sampai di stasiun Nivå jam 11 siang, dengan matahari bersinar cerah, membuat hati ini tak sabar untuk menemukan yang dicari-cari. Dengan bersepeda sebentar dari stasiun Nivå, akhirnya si kuning itu pun terlihat menghampar di depan mata. Yippiieeeee..... Gembira nian hati ini akhirnya bisa berdiri ditengah-tengah hamparan luas bunga kuning itu! Meski tak berbau sedap dan serbuk bunganya lumayan bikin kotor pakaian saat blusukan disana, hamparan Canola itu memang seindah di iklan Ricola. Dan perjuangan saya menemukan kebun Canola itu terbayar sudah dengan foto-foto cantik, baik foto landscape maupun selfie. Hehehe... Silahkan ditonton di bawah ini ;)



Overland to Scandinavia


Perjalanan overland antar negara kali ini saya gambarkan sbb:
Jarak Belanda-Denmark lebih cepat jika ditempuh dengan mobil ketimbang kereta. Dan saya pernah mencoba keduanya. Jika dengan kereta, waktu tempuh yang dibutuhkan dari Utrecht-Belanda menuju Copenhagen-Denmark sekitar 16 jam, namun dengan mobil hanya butuh 8-9 jam saja. Kenapa? Karena kereta harus melintasi jalur memutar dari Hamburg melalui mainland Jutland, pulau tengah Odense, baru kemudian pulau utama Denmark tempat Copenhagen berada yaitu Zealand. Sedangkan jika menggunakan mobil, tak perlu memutar melalui rute tersebut. Dari Hamburg bisa langsung menyeberang ke Zealand menggunakan Boat. Itulah mengapa overland dengan mobil ke Denmark jauh lebih singkat dari kereta.

View atau pemandangan sepanjang jalan lumayan bikin mata seger dengan warna hijau alam nya. Meski mungkin tak seindah pemandangan di sepanjang jalur overland Swirzerland, Austria, maupun Italia. Sebagian besar pemandangan sepanjang jalur Belanda-Denmark adalah hutan dan lahan pertanian. Dimana jika musim dingin kemungkinan akan sangat membosankan dengan pepohonan gundul dan lahan keabu-abuan itu.
Saat musim semi dan musim panas, lumayan oke dengan bunga-bunga liar sepanjang bahu jalan dan pepohonan hijau berjejer lebat. Saat musim gugur, di beberapa tempat dapat ditemukan kelompok pepohonan berdaun jingga bahkan merah.

Ada beberapa perbedaan yang bisa ditangkap dari 3 negara yang saya lalui saat overland trip.

1. Belanda
Negara artifisial ini benar2 terlihat rata, super flat, sejauh mata memandang. Kiri kanan highway kebanyakan areal lahan pertanian maupun peternakan. Banyak terlihat kanal-kanal kecil (biasa disebut Dijk) yang berfungsi sebagai marka pembatas sekaligus sebagai sistem irigasi, membelah-belah lahan pertanian. Hewan ternak seperti sapi perah warna hitam putih layaknya gambar di kemasan tetrapack Susu Ultra terlihat merumput berkelompok atau bahkan duduk goler-goler santai. Kuda dan poni pun bertebaran di lahan hijau terbuka, seringkali bersebelahan dengan domba-domba berbulu gemuk ala Shaun the Sheep yang juga asyik merumput. Tak jarang terlihat kelompok penunggang kuda sedang berkuda santai di sepanjang jalur Dijk dengan jejeran pohon Birch di kanan kirinya. Bentuk rumah di Belanda khas dengan rumah mungil beratap tinggi runcing, kebanyakan dengan dinding berwarna coklat gelap dan list jendela warna putih. Meski sebenarnya yang paling asli Belanda adalah rumah berwarna hijau tua, yang kini hanya dapat ditemukan di sedikit area saja, seperti di Zaandam contohnya. Well, balik lagi dengan rumah pinggir jalan yang sedang saya ceritakan, kebanyakan rumah2 tersebut punya pekarangan yang tertata rapi dan pasti ada saja bunga nya. Karena orang Belanda terkenal dengan kegemarannya terhadap bunga, maka tak heran di setiap pekarangan mereka pun ada tanaman bunga.

Pemandangan umum di lahan pertanian Belanda


2. Jerman
Negara dengan luas berkali-kali lipat dari Belanda ini memiliki kontur daratan yang tak terlalu rata alias sedikit naik turun. Dengan rata-rata areal nya berupa hutan ber vegetasi empat musim di kanan kiri jalan, serta areal lahan pertanian yang sepi dari kumpulan hewan ternak seperti yang terlihat di lahan pertanian Belanda. Hanya beberapa kali terlihat kelompok sapi berwarna cokelat, yang saya tebak sebagai ternak sapi potong, sedang merumput di area peternakan. Rumah2 Jerman berbentuk compact besar dan beratap tinggi, memberikan kesan luas dan kokoh. Jarak satu rumah dengan rumah lain tidak begitu dekat bahkan seringkali dipisahkan oleh lahan pertanian. Namun ini saya hanya bercerita tentang apa yang terlihat di sepanjang highway ya, country side, bukan di pusat kota. Tentu kondisi perumahan nya akan terlihat berbeda dengan yang ada di pusat kota. Dan masih banyak terlihat lahan kosong tak terpakai yang isinya hanya semak belukar dan beberapa pohon. Mungkin saking besar nya wilayah Jerman, sampai masih banyak lahan yang tidak bertuan dan dimanfaatkan.



3. Denmark
Kurang lebih sama seperti Jerman, landscape Denmark pun naik turun dengan landai. Pemandangan bukit-bukit berumput hijau mirip di film Teletubbies tampak menggemaskan di sepanjang jalan. Tak jarang melewati hutan empat musim, meski tak sebanyak di Jerman (sepanjang highway dari Zealand ke Hamburg).
Rumah-rumah di Denmark memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan rumah di Jerman maupun Belanda. Bentuk atap segitiga, dengan body rumah simetris dan berwarna putih atau pastel, dengan pekarangan luas. Bentuk rumah yang sangat simpel mengingatkan pada bentuk rumah yang umumnya ada di kertas gambar anak-anak.

Namun, di antara semua perbedaan itu, ada dua persamaan yang saya temukan di sepanjang perjalanan.
1. Banyak terdapat kincir angin di lahan-lahan terbuka. Bukan kincir angin tradisional seperti di Belanda ya, melainkan kincir angin besi berwarna putih, yang tak lain merupakan pembangkit listrik tenaga angin. Kincir-kincir itu berjejer rapi di lahan luas dekt highway.
2. Hamparan kebun bunga Canola atau Rapeseed berwarna kuning, yang terutama saat musim semi, banyak terlihat menghampar di kiri kanan highway. Berhektar-hektar tanaman penghasil minyak ini sangatlah indah dan lumayan mengusir bosan saat perjalanan. (Kisah perburuan Canola ada di postingan saya selanjutnya.)

Canola fields along the way


Singkat kata, perjalanan selama 9 jam bisa terasa membosankan atau mengasyikkan, tergantung bagaimana kita mempersiapkan nya. Berikut ini saya bocorkan tips supaya perjalanan overland terasa menyenangkan:
# Bawa buku! Lumayan dapat beberapa chapter selma perjalanan kan :)
# Nonton film di iPad atau handphone
# Isi iPod atau mp3 player dengan lagu2 yg bisa bikin goyang, jangan yang melow, biar gak ngantuk
# Bawa cemilan! Wah kalo ini sih saya selalu bawa sekarung. Hahaha...
# Sedia kopi siap minum atau energy drink, supaya gak ngantuk melulu.
# Kamera & Tongsis! Biar gak mati gaya, boleh donk foto-foto dijalan hihihi....
# Bagi yang suka art, bisa bawa art atau kerajinan tangan yang bisa dikerjain sambil duduk di mobil. Macam menyulam, looming, atau bahkan melukis sketsa.
# Ngeblog on the road! :D Hehe... dan ini yang biasanya saya lakukan. :p

Kisah perjalanan overland saya lainnya (di Eropa Timur) akan saya paparkan di cerita-cerita selanjutnya ya. ;)

                      

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post