Showing posts with label eropa. Show all posts
Showing posts with label eropa. Show all posts

Saturday, November 5, 2016

A Lil' Step to... Santorini! (Part I)

Suhu sore itu lumayan hangat sekitar 20an derajat celcius ketika saya menggendong ransel menuju Copenhagen airport, international departure gate. Sembari tak henti senyum-senyum sendiri karena membayangkan besok pagi akan melihat sunrise di pulau impian, Santorini! Ya setelah beberapa tahun menggantungkan impian di dalam kalbu untuk menginjakkan kaki di sebuah pulau cantik di Yunani, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi utama saya ketika memutuskan untuk merantau ke Eropa. Meskipun banyak yang berpendapat Santorini itu terlalu mainstream, saya tidak peduli. Kita punya mimpi kita masing-masing. Saya punya mimpi menginjakkan kaki di Santorini Yunani, sama halnya dengan orang-orang yang punya mimpi menginjakkan kaki di Paris Perancis. Yunani memang tidak hanya Santorini, sama halnya Perancis tidak hanya tentang Paris atau Belanda tak hanya tentang Amsterdam dan Volendam. Kita semua pasti punya mimpi yang berbeda. :) So, live it!

Blue and white Santorini


Santorini in a budget? It’s possible, asal nggak rewel dan manja!

Perjalanan saya menuju Santorini kali itu menggunakan direct flight dari Norwegian Air. Hanya butuh waktu 3,5jam untuk tiba di Thira Airport, Santorini. Berhubung saya ambil flight jam 9 malam, saya tiba di Santorini sekitar tengah malam, dimana public bus untuk ke downtown sudah tidak tersedia. Dan saya tahu itu. Makanya saya sudah mempersiapkan diri untuk menginap di emperan Thira Airport malam itu. Sayangnya, Thira Airport tidak begitu proper untuk dipakai bermalam. Maklum airportnya sangat kecil dan space yang tersedia pun tidak banyak untuk tiduran. Saya memanfaatkan bangku ruang tunggu untuk menginap malam itu. Untungnya saya bukan tipe orang yang rewel atau repot ketika berurusan dengan tidur. Berbekal tas ransel sebagai bantal, celana panjang dan jaket, serta eye mask untuk tutup mata, saya pun berhasil tidur-tidur ayam di ruang tunggu airport. Hanya satu hal yang bikin saya tidak nyenyak tidur malam itu, angin laut! Letak airport yang persis di tepi laut dan ruang tunggu yang pintunya terbuka lebar tanpa sensor otomatis, sukses membuat angin laut bebas menyambar-nyambar saya dengan kekuatan yang saya pikir badai. Hahaha... Untung Tolak Angin selalu tersedia di tas. Malam itu pun aman terlalui tanpa masuk angin. :)


Ruang tunggu Thira Airport


Pagi hari jam 5:30an saya terbangun oleh suara orang-orang yang rupanya adalah sopir-sopir bus dan taxi yang mulai berdatangan untuk menjemput tamu-tamu dari flight pertama pagi itu. Rupanya saya tidak tidur sendiri di ruang tunggu airport itu. Ada pasangan traveler dari Singapore, seorang wanita dari Denmark, dan seorang pria dari Amerika. Kami semua traveler yang tiba pada tengah malam dan memutuskan untuk menunggu bus pertama keesokan harinya. Setelah ngobrol sejenak dengan mereka, perhatian saya teralihkan oleh sinar kekuningan pertama yang jatuh di air laut. Oh... Sunrise di Santorini! Puas memandangi bulatan oranye yang perlahan menyembul dari horizon, saya pun melangkahkan kaki menuju bus pertama yang akan bertolak ke downtown Santorini, Fira.


first light in the horizon
Bus yang saya tumpangi berhenti di terminal Stathmos Leoforion central bus station di desa Fira. Karena saya menginap di sebuah hostel murah di bagian tenggara Santorini, tepatnya di Perissa Beach, saya harus ganti bus untuk menuju ke sana. Rencana awal yang saya susun beberapa bulan sebelumnya, saya akan menginap di sebuah exclusive backpacker hostel di pusat desa Fira, seharga €20/malam. Namun karena pertimbangan untuk menekan biaya selama perjalanan satu bulan, saya memutuskan untuk menginap di Perissa saja dengan tarif €5/malam. Lumayan hemat bukan? Memang sih konsekuensi nya, saya harus naik bus selama kurang lebih 40 menit setiap kali menuju dan dari downtown Fira. Tetapi harga bus PP pun cuma sekitar €4, tetap lebih murah pengeluaran perharinya jika tinggal di Perissa.

Saya menginap di sebuah youth hostel di kamar berkapasitas 20 orang dengan bunkbed. Haha, terdengar seperti sebuah camp barak tentara ya! Tapi ternyata ruangannya lumayan luas dan tidak terlalu sumpek pada malam hari. Namun jangan coba-coba berdiam diri di kamar saat siang hari kalau tidak mau megap-megap di ruangan tanpa AC tersebut. Suhu Santorini pada saat saya disana sekitar 38-41 derajat celcius setiap harinya. Terbayang kan betapa panasnya? Hostel ini tidak menyediakan sarapan. Jadi saya menyetok sarapan berupa croissant dan roti, serta berbotol-botol air minum. Setiap orang mendapat jatah satu lemari yang lumayan besar untuk menyimpan ransel dan persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan. Di sekitar hostel ada banyak tempat makan yang harganya jauh lebih murah ketimbang di downtown. Saya seringkali membeli Pita Gyros atau Souvlaki, take away untuk bekal makan siang saat blusukan di Santorini. Itulah fungsinya membawa lunch box dan botol minum. Traveler on budget seperti saya ini tidak bisa makan di restaurant setiap saat jika mau survive traveling selama sebulan. 


Youth Hostel Anna (pict credit to hostelworld)

Mix Dorm Room €5/malam (pict credit to tripadv)


Selesai check in di hostel, saya membeli sarapan dan membungkus makan siang. Totebag pun sudah ready dengan lunch box, air minum, sun block, topi, sandal jepit, kipas, tissue, dan map. Saya siap untuk mengeksplorasi pulau Santorini selama beberapa hari ke depan!





Eh, Indonesia juga?!

Siang itu saat saya tengah menunggu bus di sebuah halte di pinggir jalan berdebu dekat pantai Perissa, terlihat dua orang gadis berparas Asia berjalan mendekat ke halte tempat saya duduk. Mereka tersenyum sepintas kepada saya. Saya pun basa-basi menyapa mereka dengan menggunakan bahasa Inggris, lalu iseng bertanya “where are you girls from?” dan mereka menjawab “Singapore”. Oh, tetangga… Pikir saya. Saya pun dengan sok akrab bilang “Hey… we are neighbor then! I’m from Indonesia!” sambil tersenyum manis. Eh tau-tau salah satu dari mereka menjawab “Oh? Kita juga orang Indonesia koq. Cuma tinggal di Singapore”. Oalaaahhhh… ternyata jauh-jauh ke Santorini bisa ketemu orang Indonesia juga tho! Hahaha… Kedua gadis ramah ini, Satha dan Erika, adalah pramugari sebuah maskapai ternama di Singapore. Mereka sedang memanfaatkan libur singkat di antara jadwal terbang mereka, dengan mengunjungi Santorini.

Akhirnya siang itu kami barengan pergi ke downtown naik bus dan jalan sebentar di seputaran Fira, sebelum akhirnya saya pamit memisahkan diri karena mau lanjut blusukan ke desa-desa selanjutnya. Tak lupa kami saling bertukar kontak social media, dan hingga kini kami masih berteman.



Teman2 baru, Erika dan Satha :)

Salah satu keuntungan bersolo traveling ya gini, bisa dapat teman-teman baru dengan mudah. Karena kalau pergi sendiri saya pasti gatel pengen ngajak ngomong orang lain hahaha… Beda halnya kalau kita pergi bersama teman-teman, pasti akan cenderung ngobrolnya dengan teman sendiri ketimbang sama orang asing kan. Tapi kalau sendirian, mau nggak mau harus ngomong sama orang asing, daripada gila ngomong sendiri. Apalagi kalau kamu tipe orang cerewet seperti saya! :)



Hemat nggak selalu kere kan?

Berhemat saat sedang traveling on budget itu memang perlu, tapi tidak harus kere juga kan. Saya bisa menghemat dalam hal akomodasi, transport, dan belanja ketika saya backpackingan. Tetapi soal makanan, saya yang termasuk suka kulineran ini nggak mau menyia-nyiakan kesempatan mencicipi makanan khas lokal. Meskipun bukan dengan cara duduk cantik dinner di restaurant atau café mahal dengan view jutaan dollar, saya masih bisa menikmati kuliner di stand-stand makanan atau restaurant yang terjangkau kantong saya. Intinya, cobain! Jangan sampai menyesal karena pergi ke suatu tempat tapi tidak mencoba makanannya.

Trik hemat saya selama di Santorini adalah sarapan sesuatu yang bisa dibeli di mini market dekat hostel. Pilihannya beragam, mulai dari roti, cold sandwich, buah-buahan, susu, dan yogurt. Belanja untuk sarapan di mini market sangatlah murah, hanya 2-4 sudah kenyang. Masih bisa beli air minum 1,5l pula untuk bekal blusukan siang harinya. Tak lupa saya juga beli croissant dan apel untuk bekal snack selama perjalanan. Karena rata-rata eksplorasi saya di Santorini berupa trekking dan jalan kaki, maka bekal air minum yang cukup dan snack sangatlah membantu jika mendadak lapar sebelum jam makan.


Sarapan & snack favorit selama di Santorini

Untuk lunch, saya lebih sering membeli take away Pita Gyros atau Souvlaki (hampir setiap hari). Selain mengenyangkan, makanan itu juga praktis karena bisa saya masukkan di lunch box untuk bekal makan siang. Tak lupa buah, seperti apel dan pisang, selalu setia menyertai lunch box saya. Saat lunch time, saya memilih spot-spot ciamik untuk duduk dan menikmati pemandangan Santorini sembari makan. Bisa di bawah pohon, di pinggir tebing, atau pun di tepi pantai. Yang penting selama tempat itu free untuk duduk-duduk, saya bebas leyeh-leyeh selonjoran sambil makan siang. See? Lunch with the view was not always cost you a lot! ;)


Obelix's Pita Gyros for lunch

Nah, untuk dinner, bolehlah agak fancy sedikit (meski nggak bisa setiap hari juga). Saya biasanya makan malam ‘agak bener’ sedikit alias makan memakai piring dan cutleries. Ada resto-resto dan café yang tidak terlalu meroket harganya baik di Fira, Oia, maupun Perissa. Asal pintar-pintar melirik daftar menunya sembari lewat. Di Oia contohnya, saya makan malam dengan pemandangan ciamik lampu-lampu caldera bak kunang-kunang, di sebuah tavern kecil dengan harga yang cukup bersahabat. Saya makan Greek salad dan Moussaka serta segelas Sangria, tak lebih dari 12. Porsinya pun cukup mengenyangkan dan Moussaka nya enak! Di Perissa, saya makan salad, ayam panggang, kentang, serta sebotol bir hanya seharga 9 saja. Plus disuguhi nonton pertandingan sepak bola Piala Dunia gratis dari layar besar yang terbentang di dalam restaurant. Jadilah malam itu saya dinner sambil nonton bola bersama room mates.

Pork Souvlaki
whole plate for only €7


Naik bus vs share cost taxi

Cara paling gampang dan murah keliling santorini adalah naik public bus. Namun kendalanya, timetable bus terkadang sering meleset alias tidak on time. Patokannya, bus lewat di halte tiap 30-45 menit sekali. Selain itu, bus dari dan ke downtown biasanya selalu penuh penumpang terutama saat high season, jadi siap-siap untuk berdiri sepanjang perjalanan ya! Namun naik bus di Santorini juga cukup mengasyikkan. Bisa dapat teman baru yang ketemu di halte saat sama-sama menunggu bus atau sama-sama gelantungan di dalam bus. Hehe…


Percaya nggak si ganteng itu adalah kernet bus? :))

Kalau sedang malas menunggu bus dan sedang diburu waktu mengejar jadwal keberangkatan pesawat atau ferry, kita bisa cari barengan ke sesama traveler untuk naik taxi dan share cost. Seperti siang itu saat saya tengah menunggu bus tujuan pelabuhan Santorini. Bersama saya ada 3 cowok asal Kanada yang juga sedang menunggu bus. Namun bus yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba juga, sedangkan waktu kian menipis untuk berhasil menuju pelabuhan berjarak hampir 11km itu sebelum jadwal ferry kami berangkat ke Athens. Diskusi sebentar, akhirnya kami memutuskan memanggil taxi dan patungan bayar ongkos ke Pelabuhan. Untuk sebuah taxi jenis van, per orang membayar 5,5. Not bad at all, mengingat perjalanan ke pelabuhan dapat ditempuh dengan waktu sangat singkat karena si pak sopir ngebut nyetirnya! Haha… Jadilah kami tidak ketinggalan ferry. Cara yang cukup efektif daripada menunggu bus bertarif 2,40 yang tidak bisa dipastikan jam kedatangannya itu.



Lewat udara atau laut?

Nah, biasanya orang sering bertanya nih enaknya lewat jalur udara atau laut ya menuju dan dari Santorini. Jawabannya, depends. Tergantung kebutuhan, budget, dan ketersediaan waktu. Kalau mau meminimalis waktu tempuh, pesawat jawabannya. Kalau mau budget dan tidak sedang terburu-buru, ya naik ferry. Saya menggunakan kedua jenis transport tersebut. Terbang dari Copenhagen langsung ke Santorini adalah pilihan tepat karena sangat meminimalis waktu ketimbang harus mampir Athens dan melanjutkan dengan ferry. Sebaliknya, ketika meninggalkan Santorini menuju Athens, saya menggunakan ferry. Selain karena sedang tidak terburu-buru, saya juga ingin merasakan pengalaman menyeberangi laut Aegean dan melewati kepulauan Cyclades. Selain itu, saya dengar ferry di Yunani itu sangat nyaman dan bagus. Saya pun tak ingin menyiakan kesempatan mencoba naik ferry di Yunani, sekaligus ingin tahu apa bedanya dengan ferry-ferry di Scandinavia. Untuk kelas ekonomi, saya membayar tiket sekitar €38. Dengan fasilitas ruang penumpang luas ber-AC dan kursi sofa juga tersedia.

Economy class
Rombongan band anak SD

view desa Oia dilihat dari ferry

Perjalanan mengarungi laut Aegean menuju Athens memakan waktu 8 jam, dengan dua kali stopover di pulau lain. Kapal ferry besar itu lengkap dengan area pertokoan, café, dan stand makanan siap saji. Jadi jangan takut kelaparan di tengah perjalanan. 8 jam perjalanan itu tidaklah terasa panjang karena di dalam kapal, saya bertemu serombongan grup penari dari salah satu universitas di Athens. Kami berbagi meja dan saling bertukar cerita. Juga serombongan murid-murid SD yang rupanya adalah grup orchestra junior. Kedua rombongan ini rupanya baru saja menghadiri sebuah pentas seni tahunan di Santorini. Sepanjang perjalanan saya dihibur oleh suara-suara merdu instrument music yang dimainkan anak-anak berbakat tersebut. Saya memanfaatkan 8 jam perjalanan itu untuk menulis laporan jurnalistik saya, dan tak lupa mewawancara beberapa dari para penumpang itu sebagai narasumber. Sembari menikmati jejeran pulau-pulau bertabur bangunan cat putih di laut Aegean, saya menuliskan perjalanan ini ke dalam jurnal yang pada akhirnya mampu saya selesaikan hari ini. :)


Writing onboard

Friday, October 31, 2014

Halloween Excitement

Tinggal di benua Eropa, yang notabene kehidupan dan budayanya berbeda dengan tanah kelahiran Indonesia, tentu membuat saya merasakan berbagai pengalaman baru yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Seperti contohnya budaya perayaan Halloween yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober.

Seperti kita tahu, di Indonesia tidak ada budaya merayakan Halloween dengan pesta kostum maupun ritual 'Trick or Treat' door-to-door. Ya, karena memang budaya Halloween ini lahir di Eropa, bukan di Asia. Itulah sebabnya kita di Asia kurang familiar dengan budaya ini, kecuali di kota besar yang biasanya menerapkan tema Halloween dalam dekorasi mall atau cafe tertentu. Namun tetap, tidak ada ritual bagi-bagi permen ataupun memahat labu (pumpkin) menjadi Jack-o-Lantern.

Halloween = Pumpkin everywhere

Makanya, begitu hijrah ke Eropa saya sangat excited menyambut Halloween tiba. Minggu pertama Oktober, sudah tercium aroma Halloween di toko-toko mainan. Beragam dekorasi unik dan kostum hantu ramai mewarnai pasaran. Labu-labu kuning pun mulai sale di supermarket, siap untuk dihias maupun dibikin sup labu khas musim gugur. Sungguh, suasana kemeriahan Halloween sangat terasa disini!

Pumpkin sale!!

Ritual menghias pumpkin

Taraaa.... Jack-o-Lantern hasil karya pahatan tangan saya! :D

Sehari menjelang Halloween tiba, anak-anak sudah ramai membicarakan kostum apa yang akan mereka pakai keesokan harinya. Sekolah pun menyelipkan beberapa tema Halloween dalam kegiatan belajar mengajar, seperti dalam prakarya maupun seni drama. Para orang tua mulai sibuk mengukir dan menghias labu, membeli diskon terakhir kostum hantu untuk anak mereka, serta menghias teras dan pintu rumah dengan sarang laba-laba palsu, lentera labu, jerami, dan lilin-lilin orange. Toko-toko mainan mulai menggelar sale besar-besaran untuk pernak-pernik Halloween. Supermarket menggelar sale untuk Labu kuning dan juga permen. Kesibukan menjelang Halloween sungguh membuat saya ikut-ikutan bersemangat, meski saya tidak ikutan keliling door-to-door membawa baki sambil teriak "Trick or Treat" untuk mendapat permen atau coklat. :)

Halloween candy yang siap dibagi-bagikan ke setiap pengunjung


Tiba hari H nya, anak-anak sepulang sekolah mulai heboh seolah memiliki 200% energi dalam tubuh mereka. Makan malam dengan menu sup labu serta dessert enak berupa pumpkin cake pun sudah bukan menjadi hal utama saat sore tiba. Yang ada di pikiran mereka hanyalah segera berganti kostum, mengecat wajah seseram mungkin, menenteng tas atau keranjang, dan keliling ke rumah-rumah tetangga untuk mengumpulkan permen. Saya sebagai orang dewasa, tugasnya ya mendandani si kecil seunik mungkin dan menggambari wajah mereka ala Dracula atau Nenek Sihir, sebelum mereka menggelinding keliling komplek. Oiya, satu lagi tugas para orang dewasa saat malam Halloween adalah membuka pintu dan menyodorkan baki penuh permen pada setiap anak yang datang ke rumah. Lumayan capek juga puluhan kali bolak-balik membuka pintu, tapi sebanding dengan keceriaan yang saya dapatkan saat melihat berbagai macam rupa anak-anak berkostum hantu dengan wajah lucu berpoleskan make up seram itu. Duh, menggemaskan sekali lho mereka ini.... :)

hasil dandanan saya! hahaha :D Lumayan lah...

sampe kapak pun nancep di kepala?! :))

Trick or Treaaaattttt......!!! (rebutan permen) :D


Lalu, apakah Halloween hanya berlaku bagi anak-anak saja? Ooooh, tentu tidaaaak.... Orang dewasa pun berhak bersenang-senang saat Halloween. Jika anak-anak merayakan Halloween dengan keliling ber-Trick-or-Treat, maka orang dewasa biasanya pergi ke pesta kostum. Jalanan serta bar-bar di kota ramai oleh berbagai bentuk manusia mulai dari yang berpakaian hantu seram, cosplay, sampai yang konyol dan aneh. Saya pun tak mau ketinggalan. Tiap tahun, saya ikut bersemangat mencari ide untuk ikut pesta kostum, membeli pernah-pernik Halloween, serta berpartisipasi merayakan hari hantu sedunia itu! Ah... seandainya Halloween di Indonesia juga dirayakan semeriah disini... Pasti banyak 'hantu beneran' macam si mbak Kunti dan mas Pocong yang ikutan nongol di depan pintu untuk minta permen! Hahaha... :))

A Witch from Hogsmeade! (Halloween 2012)

Sorrow Ghost! (Halloween 2013)

Teman saya ini ceritanya dandan ala Werewolf :))

A Pirate Girl (Halloween 2014) :D *cantik* hihi :p

Pesta kostum :)

Happy Halloweeeeennnnnn!!!!
Halloween ala Indonesia :)))) hihihi (photo credit from Google)

NB: Tadinya mau upload foto 'hantu beneran' instead of foto duo SPG film Pocong vs Kuntilanak di atas. Tapiiiii..... pas lagi googling, eh taunya muncul foto2 pocong beneran dan kunti beneran yang langsung spontan bikin merinding disko!! Dan saat saya menulis ini, jam menunjukkan pukul 00.30 tengah malam waktu Copenhagen, saya di rumah sendirian, duduk di ruang makan yang jendela nya menghadap ke kebun belakang rumah. Dan.... mendadak ruangan yang semula hangat tiba-tiba menjadi dingin, seolah para 'oknum dunia lain' yang wajahnya tadi bermunculan di laman pencarian Google kini turut bergabung dengan saya di ruang makan ini untuk merayakan Halloween.... DANGGGGGG!!! (-____-")

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post