Sunday, July 14, 2013

Giethoorn, de Venice van Holland

Nama kota Giethoorn sudah lama saya dengar, disebut-sebut sebagai Venice-nya Belanda karena keunikan tata kotanya yang cantik berkanal-kanal. Namun saya baru berkesempatan mengunjungi nya pada musim panas tahun ini. Melalui ajakan seorang teman yang merupakan salah satu member Amsterdam Street Photographer Community, saya pun ikut serta dalam program day trip ke Giethoorn. Awalnya sempat ragu, karena saya yang notabene hanya pejalan modal pas-pasan (tampang pun pas-pasan pula) ini kan tidak punya kamera canggih seperti kawan-kawan anggota komunitas tersebut. Jangankan kamera DSLR yang berlensa sekian centimeter panjangnya, kamera pocket pun saya tak punya lantaran satu-satunya kamera Canon Powershoot saya telah RIP diterjang kedahsyatan angin Belanda (T_T). Belakangan ini saya hanya traveling bermodalkan kamera handphone. Dan lumayan minder juga sih membayangkan nantinya akan pergi bersama sekumpulan orang-orang penggemar fotografi yang tampak keren sekali dengan kamera-kamera hitam tergantung di leher itu. Tapi hasrat traveling saya sepertinya mampu menelan rasa minder maupun inferior, maka dengan pede saya pun menyatakan ikut bergabung dalam acara itu. Dan kemungkinan akan menjadi satu-satunya peserta tanpa berkalung kamera melainkan menggendong backpack gendut isi laptop & ayam goreng bekal makan siang!


Giethoorn City
 
Hari Sabtu pagi itu, saya bersemangat berangkat melalui jalur timur menuju Zwolle, kemudian menyambung bus menuju Giethoorn. Letak  Giethoorn sendiri ada di dekat Steenwijk, sebelah utara kota Zwolle, provinsi Overijssel – Netherlands. Namun karena keteledoran kecil yaitu salah naik shuttle bus antar station, jadilah saya ketinggalan bus no.70 ke Giethoorn. Dan sialnya, bus itu hanya ada tiap 1 jam sekali saja. Maka saya pun terlambat sampai di meeting point dimana anggota rombongan telah berkumpul satu jam yang lalu. Para peserta day trip rupanya telah berangkat duluan menyusuri kanal. Tapi tak mengapa, toh solo traveling bukan merupakan hal baru bagi saya. Saya pun membeli sebuah tiket kanal tour seharga €6 untuk menyusuri desa kecil Venice van Holland dengan menggunakan motor boat umum bersama belasan wisatawan lain plus ditemani seorang guide.




Menyusuri kanal-kanal cantik dengan rumah-rumah tua khas Belanda di kanan kiri nya membuat saya terlena. Memang paling pas mengunjungi tempat ini saat summer, dimana rerumputan dan pepohonan telah rimbun menghijau, serta bunga-bunga cantik menjuntai anggun dari teras rumah dan jembatan. Suasana hari itu ramai oleh sampan dan boat yang hilir mudik di setiap jalur kanal. Mulai dari canoe, sampan tradisional, hingga motor boat seliweran di sepanjang kanal Giethoorn. Sang guide sekaligus supir boat dengan gamblang menceritakan sejarah dan detail setiap sudut tempat yang kami lewati. Ternyata warga Giethoorn tidak bisa dengan seenaknya membangun rumah dengan model macam-macam disini. Berdasarkan ketetapan dinas tata kota, rumah-rumah yang dibangun di Giethoorn haruslah berciri tradisional, dan dibangun dengan dua material yaitu batu bata untuk rumah bagian depannya (brick house) dan kayu di bagian belakangnya (wooden house). Dan warna rumah pun tidak jauh dari nuansa hijau tua, coklat gelap, atau putih. Katanya, itu sudah menjadi standard ketetapan membangun rumah di daerah ini guna mempertahankan citra Giethoorn itu sendiri.




Ada lagi yang unik dari rumah-rumah di Giethoorn ini. Di beberapa rumah, khususnya yang sudah berusia sangat tua, masih ditemukan sebuah pintu depan berwarna hijau tua yang dibuat lebih tinggi sekitar 30cm dari permukaan tanah. Saya pikir tadinya, apakah penghuni rumahnya harus selalu lompat setiap kali mau keluar rumah? Apa tidak kesusahan juga nanti saat mau masuk ke rumah? Namun perkiraan saya tersebut salah, hehe… Sang guide menjelaskan bahwa pintu utama yang merupakan pintu ruang tamu tersebut hanya digunakan dalam 2 moment penting saja. Yaitu saat salah seorang anak gadis penghuni rumah telah menikah, dan secara harfiah diartikan akan pergi selamanya mengikuti suaminya, maka dia harus keluar rumah melalui pintu itu setelah upacara pernikahan. Moment yang kedua adalah jika salah seorang anggota keluarga penghuni rumah itu ada yang meninggal, yang artinya akan meninggalkan rumah itu selamanya, maka peti matinya akan dibawa keluar melalui pintu itu juga. Jadi fungsi pintu itu sendiri adalah simbolisasi gerbang menuju kehidupan baru, dan pintu perpisahan bagi para penghuni rumah.





Apa lagi yang unik dari Giethoorn? Tentu saja kanal-kanal nya. Perlu diketahui, seluruh warga Giethoorn tidak bisa memarkir mobil mereka di garasi rumah. Yaiyalah, kan di seluruh penjuru hanya ada kanal, jalan setapak, dan fietspad (jalur sepeda). Jadi bagi mereka yang memiliki kendaraan bermotor, dapat memarkir kendaraan mereka di lapangan parkir khusus yang disediakan di luar desa. Kemudian mereka bisa melanjutkan perjalanan ke rumah dengan jalan kaki atau naik sepeda. Sedikit ribet ya? Tapi ya itulah Giethoorn, a city without any roads. Bahkan segala aktifitas per-transportasi-an di Giethoorn semuanya dilakukan dengan perahu. Seperti arak-arakan pengantin, perarakan jenazah menuju pemakaman, karnaval, sampai truk sampah pun berupa perahu boat, juga pemadam kebakaran pun berupa boat. Mungkin juga karena keunikan inilah kota Giethoorn menjadi special dan diminati para wisatawan. Harga rumah di kawasan ini pun tidak murah. Menurut guide, rumah paviliun kecil saja (rumah tipe 21) dibanderol dengan €280.000 alias 3 Milyar 640 Juta Rupiah. Uhuk!! Tersedak saya mendengarnya.

The Church

Rumah unik bak di negeri dongeng :)

Selesai menyusuri desa kecil berkanal, saya melanjutkan eksplorasi dengan jalan kaki. Menikmati setiap sudut hijau dan asri sepanjang kanal, hingga menemukan beberapa spot unik dan klasik. Namun saya tak bisa berlama-lama disana, karena harus mengejar bus terakhir yang akan lewat jam 6 sore. Bisa bahaya kalau saya ketinggalan bus, masa iya harus pecah celengan untuk bayar taksi? Akhirnya setelah berpuas diri memanjakan mata dengan pemandangan kanal klasik dan rumah-rumah unik bak negeri dongeng, saya pun melangkah menuju halte bus Dominee T O Hylkemaweg. Dan sepanjang perjalanan pulang, saya pun menuliskan cerita ini di dalam kereta NS-Intercity yang membawa saya ke Rotterdam.




Tuesday, July 9, 2013

Across Border in the Blink of an Eye

Hampir satu tahun tinggal di sebuah negara yang berbatasan darat dengan dua negara tetangga, membuat saya penasaran ingin melihat seperti apa sih daerah perbatasan itu. Berdasarkan hasil searching mbah Google, saya menemukan ada satu tempat menarik yang rasanya patut dikunjungi. Namanya Drielandenpunt, dikenal juga sebagai Tripoint, yang merupakan titik perbatasan tiga negara yaitu Belanda - Belgia - Jerman. Drielandenpunt (drie: tiga, landen: negara, punt: titik) ini terletak di bukit Vaalserberg, kota Vaals, provinsi South Limburg - Belanda. Untuk mencapai Vaals bisa melalui jalur kereta ke kota Maastricht kemudian dilanjutkan dengan bus. Namun kali ini saya mencoba dari arah lain. Tidak melalui Maastricht, melainkan start dari kota Aachen - Jerman, dengan maksud untuk mengeksplore Aachen terlebih dahulu sebelum menuju ke Drielandenpunt.

Eurogio Ticket
Perjalanan dimulai jam 7 pagi dari Rotterdam, menggunakan kereta NS Intercity menuju kota Heerlen di perbatasan Jerman. Dari Heerlen lanjut ke Aachen, masih dengan kereta, namun kali ini menggunakan kereta Jerman - Eurogio Bahn. Berhubung saya punya abudemen kereta NS Weekend Free, maka saya hanya perlu membayar tiket kereta di region Jerman saja. Kali ini saya membeli tiket Eurogio seharga 17 yang bisa dipakai di semua jalur transportasi di wilayah Aachen - Limburg - Liege - Maastricht selama seharian penuh, dan berlaku untuk 2 orang dewasa dan 3 anak-anak pada saat weekend. Lumayan irit bukan? Jadilah saya patungan berdua dengan teman untuk tiket ini.


Kereta Eurogio Bahn yang saya naiki terlihat rapi dan bersih, mirip-mirip dengan kereta NS Sprinter di Belanda. Kereta bergerak meninggalkan Heerlen (Belanda) menuju Aachen (Jerman) dan memakan waktu sekitar 33 menit untuk sampai di stasiun utama kota Aachen. Sampai Aachen, hari sudah siang. Saya dan teman-teman yang juga merupakan member dari sebuah komunitas backpacker terbesar di Indonesia (komunitas 'Backpacker Dunia') hari itu sengaja berkumpul dulu di Aachen dalam rangka gathering. Mengingat sebenarnya banyak member Backpacker Dunia (BD) yang berdomisili di Eropa, maka terbersitlah ide untuk mengadakan acara kumpul bareng sesama member BD di kawasan Eropa Barat. Dan hari itu, pertama kalinya acara BD Gathering dilakukan di Eropa. Senang sekali rasanya bisa bertemu teman-teman yang selama ini hanya akrab di dunia maya, kini bisa tatap muka secara langsung. Para peserta gathering yang hari itu hadir berasal dari Belanda, Jerman, dan Luxembourg. Lunch bareng dan diselingi dengan sharing-sharing pengalaman serta guyonan, membuat waktu tak terasa berlalu dengan cepat. Untungnya matahari musim panas tenggelam jam 11 malam, jadi kami masih punya sisa waktu untuk menuntaskan tujuan ke Drielandenpunt setelah terlebih dahulu mengeksplore sebagian kecil pusat kota Aachen. 

salah satu sudut cantik kota Aachen

sudut cantik kota Aachen

Aachen Cathedral
Vaals City - South Limburg
Berbekal tiket Eurogio, kami naik bus Veolia no.50 jurusan Maastricht yang melewati Vaals. Semula saya kira di Vaals akan turun di sebuah bus station atau at least tempat ngetem bus lain yang notabene harus kami dapatkan untuk bisa naik ke puncak bukit Vaalserberg. Tapi ternyata sampai di Vaals kami diturunkan di sebuah halte bus di pertigaan jalan yang sepi. Di tengah-tengah pertigaan jalan itu ada sebuah bundaran dengan lambang 3 buah segitiga bersusun, yang saya tafsirkan artinya Three Point atau Drielandenpunt. Papan penunjuk jalan menunjukkan bahwa kami sudah turun di lokasi yang benar, hanya saja saya tidak melihat tanda-tanda bus no.149 yang ngetem untuk naik ke bukit. Wah... jangan-jangan bus nya sudah selesai jam operasionalnya. Tanya-tanya ke warga lokal, mereka bilang tidak jauh didepan ada halte bus yang kearah bukit, barangkali kami bisa dapat bus disana. Akhirnya gambling lah kami jalan kaki ke halte bus yang dimaksud, sambil iseng-iseng mencoba hitchhike hehe... Tapi untungnya, ada salah satu dari rombongan yang membawa mobil, berbaik hati untuk mengangkut kami sampai tujuan. Huuuffttt... selamat deh dari jalan kaki sejauh 5km, menanjak pula!

Jalanan berkanopi pepohonan

Naik keatas bukit Vaalserberg, melewati jalanan aspal dengan naungan pepohonan hijau rindang di kanan-kiri nya. Mirip-mirip seperti jalanan di Cikole ke arah Tangkuban Perahu, cuma bedanya disini bukan hamparan kebun teh yang terlihat, melainkan padang rumput dengan sapi atau kuda bertebaran. Sampai di atas bukit, kami masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter melewati rimbunan pepohonan musim panas yang menghijau sejuk. Dan akhirnya sampai di spot yang paling dinanti, Drielandenpunt. 

Drielandenpunt area dengan bendera Jerman - Belanda - Belgia

Drielandenpunt
Titik Perbatasan Tiga Negara atau dikenal dengan Tripoint dan Drielandenpunt dalam bahasa Belanda, merupakan sebuah tugu batu setinggi kurang lebih setengah meter yang berdiri ditengah-tengah lingkaran. Lingkaran tersebut dibagi menjadi 3 ruas, yang berukuran paling sempit mewakili wilayah Belanda, kemudian di posisi kedua adalah wilayah Belgia, dan setengah diameter lingkaran tersebut mewakili wilayah Jerman. Hmmm... sedikit tidak rela melihat Jerman menguasai 50% nya, haha...
Jadi, dalam sekejap mata saya bisa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain hanya dengan melangkahkan kaki diatas lingkaran tersebut dan menyeberangi bordernya. hehe...

The Highest Point of Netherlands

only 322m above sea level
Di dekat tugu Drielandenpunt ini terdapat pula tiga buah tugu 'The Highest Point of Netherlands' yang merupakan titik tertinggi wilayah negara Belanda dengan ketinggian 'hanya' 322 mdpl. Jadi? Kebayang kan kalau Belanda merupakan sebuah negara artificial yang berada dibawah permukaan laut. Kalau bukan karna kehebatan teknologi dan struktur bendungan/dam nya, mungkin Belanda hanya merupakan hamparan daratan yang tertutup air laut, tempat warga Jerman atau Belgia bisa numpang mancing ikan Haring! Hehehe....

Memandang dataran Belgia dari perbatasan Belanda

Di dekat tugu perbatasan itu, berdiri sebuah menara pandang setinggi beberapa puluh meter yang bisa dimanfaatkan untuk memandang ketiga negara dari ketinggian. Tiket masuk menara seharga €3.50 untuk dewasa dan €2.50 untuk anak-anak dibawah 12 tahun. Sempat saya dibujuk teman untuk mengaku-ngaku sebagai anak 12 tahun, mentang-mentang body saya kecil dan muka innocent (halah!!). Namun naluri kejujuran akhirnya mengalahkan saya saat berhadapan dengan petugas loket, sambil senyum-senyum ragu saya berucap "mmmm... one adult ticket please." Hehe... Nggak jadi bohong, lega rasanya! Hanya saya dan seorang teman yang naik ke atas menara, anggota rombongan lainnya memilih ngaso di sekitar tugu perbatasan.

Kawasan Belgia dilihat dari puncak tower
Kawasan Belanda dilihat dari puncak tower
Kawasan Jerman dengan hutan dan kota Aachen, dilihat dari puncak tower

Naik ke atas menara melalui lift, sampailah saya dan Ananda (salah satu member BD) di atas ketinggian yang lumayan bikin bergetar saat menapakkan kaki di lantai besi bolong-bolong itu. Saat memandang kebawah, oh my God.... kami berdiri di selembar besi baja motif kotak bolong-bolong, yang bisa dengan jelas melihat dataran tanah jauh dibawah sana! Hadoh... saya lupa kalau saya takut ketinggian (-__-") Alhasil dengan hati kebat-kebit saya tarik si Ananda yang sudah jejeritan ketakutan dari tadi. Kami naik ke lantai paling puncak menara yang.... Thank God! terbuat dari semen utuh tanpa pemandangan tanah puluhan meter dibawah kaki. Yeaaayyy... mulai deh asyik foto-foto pemandangan yang sangat cantik dilihat dari ketinggian ini. Hamparan hijau padang rumput dan hutan serta rumah-rumah putih di pedesaan terlihat sangat asri. Juga beberapa kincir angin di kejauhan, serta rel kereta yang meliuk diantara pepohonan. Berkesempatan memandang 3 negara sekaligus dari atas sini, merupakan sebuah pengalaman berkesan dalam hidup saya. :)

Puas menikmati (dan foto-foto juga) di area Drielandenpunt, kami turun bukit untuk kembali melanjutkan eksplorasi ke Limburg. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan sebagian anggota rombongan memilih untuk kembali ke Jerman. Sedangkan rombongan asal Belanda akan melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju Maastricht dengan mengambil rute panjang melewati desa-desa Kleine Swiss. Naik bus no.50 menuju Gulpen, kemudian berganti bus no.57 tujuan Maastricht, kami melewati bukit-bukit hijau dengan hamparan padang rumput dan hutan. Sangat cantik, dengan senja yang menguning di horizon, serta melewati jejeran rumah-rumah mungil nan klasik bergaya Swiss di sepanjang jalan. Saking terlena menikmati pemandangan ala buku dongeng itu, saya sampai lupa untuk memfotonya! Tapi tak apalah... Keindahan alam South Limburg memang paling pas untuk dinikmati dengan mata kepala sendiri. Jadi kalau ada yang penasaran tentang keindahan desa-desa Kleine Swiss di perbukitan Limburg, saya menyarankan untuk mengunjunginya langsung dan merasakan sendiri mulut menganga dan berdecak kagum menyaksikan salah satu landscape indah ciptaan Tuhan yang selama ini hanya terbayang di buku-buku dongeng pengantar tidur. :)

Sekian dan salam Traveler!!

Para peserta "Backpacker Dunia Gathering West Europe I"

Thursday, May 16, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 3)

Hari itu, aku sengaja bangun siang karena planning hari itu memang cuma leyeh-leyeh menikmati sisa libur. Asri dan Grace sudah kembali ke Belanda pagi itu, sedangkan aku dan Michelle akan pulang besok siang. Tapi kelamaan tidur-tiduran di hostel juga bikin pegel dan wasting time. Akhirnya jam11 aku memutuskan untuk keluar dan berjalan tanpa tahu tujuan pastinya kemana. Mampir disebuah toko Asia di pojokan jalan Vitezna, kami membeli beberapa Croissant dan sebungkus besar Lay's rasa Grilled Bacon, yang setelah dijajal busyet... rasanya bener-bener bebong banget! Haha... Lumayan lah buat menu sarapan. Maklum di hostel Mosaic tidak ada dapur, sehingga kami nggak bisa masak Indomie.
menu sarapan traveler budget pas-pasan :D

Menikmati sarapan ala kadarnya, kami duduk di sebuah bangku taman didekat Funicular station sambil memperhatikan tram-tram tua yang melintas, dan rombongan turis-turis yang lalu-lalang. Lagi-lagi terlihat seliweran turis Asia bermata sipit. Sepertinya ras kulit kuning bermata sipit memang tersebar di seluruh penjuru dunia ya. Kemanapun pergi pasti berjumpa dengan orang Asia. Kalau kata Michelle sih "orang Asia itu kaya-kaya, pada punya toko semua, makanya bisa traveling kemana-mana!" haha...
Lagi enak-enaknya ngunyah Lay's bebong, eeeh tau-tau didatangi beberapa pria homeless yang cengar-cengir minta duit. Kami dengan sopan menolak halus dengan dalih nggak bisa ngomong pake bahasa Inggris dan nggak ngerti apa maksud mereka (bohong banget padahal). Tapi memang itulah cara teraman untuk menghalau mereka. Bukan dengan pasang muka jutek atau lari tunggang-langgang. Bisa-bisa malah dikejar sama gerombolan homeless tersebut.
Praha memang cantik, namun sedikit menjadi kurang nyaman karena banyaknya jumlah homeless dan pengemis di pinggir jalan, terutama di sepanjang Charles Bridge. Hmmm... semoga kedepannya pemerintah Ceko bisa menanggulangi masalah ini sehingga para wisatawan yang berkunjung tidak merasa risih saat mengeksplore kota Praha.
salah satu patung di Petrin Hill
Disamperin homeless, bikin selera makan hilang. Haha... yasudah lanjut jalan saja menyusuri jalan Ujezd dan Karmelitska ke arah Malá Strana. Tadinya nggak ada rencana mau mendaki Lesser Town ini menuju Petrin Hill, tapi rasa penasaran menggelitik naluri penjelajah dalam diriku. Alhasil pelan-pelan kami menyusuri jalanan menanjak di kawasan Lesser Town - Malá Strana yang di kanan kiri nya banyak terdapat kantor Embassy. Tebak, Embassy apa yang terlihat mencolok disana? Sebuah kantor Embassy paling besar dan berdiri angkuh di tepi jalan itu tak lain dan tak bukan adalah Embassy nya Jerman! Dziiiggg.... lagi-lagi bayangan Hitler melintas di kepala saat aku mengamati bangunan tinggi besar itu! Haha... :D

Jalanan terus menanjak, berganti dari cobbled stone pavement ke jalan setapak aspal kasar dengan rerumputan hijau segar di kanan kirinya. Hmmm... sudah sampai di punggung bukit Petrin Hill rupanya. Menoleh ke belakang, terlihat jalan sempit nan curam dengan jejeran rumah berwarna pastel mengapit rapi di kanan kirinya. Sangat cantik! Wow, tak sabar rasanya untuk segera sampai di atas bukit. Puncak Petrin Tower yang menyerupai mini Eiffel itu pun sudah terlihat menyembul dari balik pepohonan hutan gundul. Dengan bersemangat kami kembali mendaki melewati hutan dengan vegetasi pepohonan empat musim yang telah gundul dan tumpukan dedaunan berwarna coklat di bawahnya, serta lumut-lumut hijau yang menyelimuti akar-akarnya. View yang sungguh cantik, bagi aku orang tropis yang hanya pernah melihat hutan pohon jati di pulau Jawa! Dan pendakian kami pun tidak sia-sia. Sampai di atas, tepat di area terbuka di depan Strahov Monastery, disuguhkan lukisan alam yang sangat cantik! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatan-jembatan nya terpampang bak lukisan di depan mata. Tak lupa juga Prague Castle yang berdiri anggun di atas ketinggian ikut mempercantik pemandangan itu. Rasanya kata-kata saja sulit untuk mendeskripsikan keindahannya. Sembari ternganga takjub, aku bergumam... "I'm falling in love with this city for sure!". Bahkan Paris pun masih kalah cantik dibandingkan dengan view yang tersaji di depan mata ini. Speechless deh!




Rupanya perjalanan belum selesai. Untuk mencapai Petrin Tower masih harus naik lebih tinggi lagi, bisa melalui rute landai Jalan Salib yang sering digunakan para jemaat gereja, atau melalui rute shortcut curam namun lebih singkat. Karena malas buang-buang waktu, akhirnya kami pilih shortcut dengan tanjakan curam itu. Dan taraaa.... sampailah kami di puncak bukit Petrin, di ketinggian 327m. Dari atas bukit ini, jika kita mau melihat keseluruhan pemandangan kota Praha 380' tanpa terhalang ranting-ranting pepohonan gundul, bisa memanfaatkan fasilitas Petrin Tower dengan tiket masuknya Kč105 atau sekitar €4. Dari menara setinggi 63,5m dengan 299 anak tangga ini, pengunjung bisa dengan leluasa menyaksikan pemandangan cantik Praha. Tapi ya berhubung aku ini backpacker dengan budget terbatas, sayang rasanya uang Kč105 dihabiskan hanya untuk naik ke menara. Toh aku masih bisa menyaksikan Praha dari atas sini, meski terhalang rimbunnya ranting pepohonan. Ya nggak apa-apa lah, mending duitnya buat beli makan siang nanti. Hehe...
Puas jalan-jalan di taman sekitar Petrin Tower, kami pun turun melalui jalur landai yang panjang berkelok-kelok menuju ke arah Lesser Town tapi dari sisi yang berbeda. Jalanan yang menurun membuat langkah kaki ini lebih cepat dibanding saat berangkat tadi. Yaiyalah ya... Sampai di Lesser Town, aku teringat untuk membeli kartu pos dan mengirimkannya ke beberapa sahabat di Indonesia. Namun, cuaca sedang tidak ramah sore itu. Hujan pun turun saat aku sedang sibuk menulis kartu pos didepan sebuah mailbox. Yaaahhh.... semoga si kartu pos yang sedikit lepek basah itu nanti sampai dengan selamat ke Jakarta, Bekasi, Manado, dan Jambi. Hehe...
Kehujanan, kedinginan, lapar, plus persediaan uang sudah mulai menipis. Menyusuri jejeran cafe di sepanjang Malá Strana, berniat untuk ngopi demi menghangatkan diri, tapi koq ya semua harganya nggak bersahabat sama kantong backpacker kere macam kami ini. Segelas kopi dibanderol Kč100-150, belum lagi cemilan sebangsa cake maupun pastry nya. Walaaaah.... sisa uang Kč300 ini masa mau dihabiskan untuk sekedar ngopi sih? Nggak rela rasanya. Masih dengan kedinginan bersedekap, aku dan Michelle mencari-cari plang hijau dengan tulisan M emas. Karena kalau nggak salah ingat kemarin aku lihat ada Mc.D disini. Dan benar saja, beberapa meter didepan kami terlihat plang si M emas berlatar hijau itu! (di Eropa, warna Mc.D bukan merah melainkan hijau). Dengan persepsi, dimanapun juga harga segelas kopi di Mc.D maupun Mc.Cafe pasti lebih manusiawi ketimbang di cafe-cafe pinggir jalan lainnya tho? Ramainya suasana didalam resto cepat saji itu menunjukkan kebenarannya. Kami memesan segelas Ledová čokoláda (hot chocolate with cream), segelas Coffee Americano tanpa gula (favoritnya Michelle), dan sepotong Cheese Cake. Total semuanya hanya Kč155 alias hanya sekitar €6 saja, dan jangan salah... ukuran gelas kopi nya bukan yang small, melainkan yang segede bagong! Kami saja sampai bengong saat menerima orderan kami, benar-benar murah untuk segelas kopi seukuran besar begini. Di negara lain di Eropa biasanya segelas kecil kopi seharga €1,5 tapi disini hanya €2 segelas gede. Dijamin deh, backpacker kere sekalipun nggak akan kelaparan disini asal nemu Mc.D hahaha :D
Iseng-iseng mata jelalatan ke menu tempting Mc.D yang terpampang. Dan wow... ternyata ada menu paket yang sangat murah! Hanya seharga Kč199 alias €8 untuk 2 buah Burger, 2 buah French Fries, 6 Nuggets, dan 2 Soft Drinks. Beneran gila nggak tuh harga? Aku dan Michelle pun saling nyengir, jadilah kami memesan menu paket jumbo itu, untuk lunch dan dinner sekalian. Maklum dari pagi kami hanya makan Lay's sekantong dan beberapa croissant. Dan men-skip makan siang pula. Akhirnya kami melahap nugget dan fries malam itu sebagai menu makan malam terakhir kami di Praha. Masih ada sisa 2 burger, kami simpan untuk sarapan besok pagi. Hehe... Pokoknya kalau hari-hari terakhir backpackingan itu selalu terselamatkan oleh Mc.Donalds maupun Kolonel Sanders KFC deh... Mereka ini ngertiin banget kalau budget para traveler kere ini sudah mulai menipis.
Hujan reda, perut kenyang, kaki pun sudah mulai lelah hasil naik turun bukit. Sambil menghitung sisa recehan Krone di dompet, kami berjalan pulang ke hostel untuk packing dan beristirahat. Masih ada sisa uang yang cukup untuk jajan Sate Ayam Praha dan seporsi Goulash untuk lunch besok. Aaaahhh.... bahagia rasanya traveling di negara serba murah ini. Bahkan dengan budget pas-pasan pun kami tidak pernah kelaparan, malah selalu jajan nggak karuan. Alhasil timbangan sepulang dari liburan musim dingin ini pun naik 2kg! Hahaha :D
Akhir kata... Perjalanan ku selama 4 hari 3 malam di Praha itu hanya menghabiskan dana sekitar €220. Dengan penjabaran sbb:
# Tiket pesawat PP Köln-Prague & Prague-Rotterdam = €125
# Hostel 3 malam = €36
# Biaya makan, transport, jajan, souvenir, dll = +/- €60
Nantikan cerita perjalananku lainnya ya... :)
(hints: next post is about somewhere in Spain - Hungary - and Belgium)
Salam Backpacker!!

Wednesday, April 24, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 2)

Terbangun dari tidur dengan kepala super berat serasa dipakein bando beton, akibat si 'sex on the beach' semalam (baca postingan sebelumnya). Hari kedua di kota cantik di jantung benua Eropa, aku berencana untuk mengeksplore isi kota dengan berjalan kaki. Ya, kota Praha tidaklah terlalu besar untuk ditaklukkan dengan sepasang kaki berbetis kencang seperti kakiku ini. Namun sisa-sisa hangover masih menghantui saat dengan malasnya aku merangkak keluar dari bunk bed tempatku tewas tadi malam! :D

Masih jam10 pagi, dengan santai aku dan teman-temanku mengambil posisi favorit di bar Belushi's yang baru buka. Posisi favorit kami berempat adalah di meja deretan paling depan, tepat di depan main stage. Rasa lapar sehabis cocktail party semalam membuat kami memutuskan untuk kembali makan Flying Pigs porsi jumbo seperti kemarin, ditambah dengan Wedges Fries dan salad. Tanpa tedeng aling-aling, kami melahap tulang-tulang rusuk bakar itu hingga tak bersisa. Dan baru sadar ternyata banyak bule-bule di sekitar kami yang memandang takjub kearah empat gadis Indonesia berbadan mini dengan porsi makan kuli ini. Hehehe... Memang sih, dibandingkan dengan menu sarapan para bule itu, menu kami memang bisa dibilang nggak tahu diri. Masih pagi koq ya bisa-bisanya menyantap porsi jumbo Pork Ribs! Tapi ya begitulah orang Indonesia tho? Makan kudu nampol pooolll.... :p

Tepat tengah hari, kami keluar hostel untuk memulai penjelajahan dengan tujuan pertama adalah Prague Castle. Namun sayang, sarung tangan ku ketinggalan di kamar. Jadilah teman-temanku pergi jalan duluan ke arah Vltava river bank, sementara aku kembali masuk ke hostel untuk mengambil sarung tangan. Maklum, suhu musim dingin seringkali membuat badan menggigil nggak karuan jika tidak memakai perlengkapan perang yang hangat. Keluar dari hostel, aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi di jalanan. Berbekal peta, aku menyusuri jalanan cobbled stone di area Odborů, mencoba menemukan ketiga temanku yang ternyata jalannya cepat juga. Setelah ngubek-ngubek gang dan jalanan di Odborů sampai ke jembatan Most Legii, akhirnya aku menyerah dan memutuskan jalan sendiri. Toh nanti kami pasti akan bertemu di Prague Castle juga bukan? Jadi ya nggak masalah kalau kali ini terpisah dari mereka.
Matahari pagi di kota Praha

Menyusuri pinggiran sungai Vltava menuju Charles Bridge, aku berjalan di trotoar tepi sungai yang siang itu ramai oleh wisatawan pejalan kaki. Aku perhatikan, semua orang berpakaian dengan warna-warna gelap. Entah itu hitam, abu-abu, biru dongker, ataupun coklat. Sekilas seolah mereka memakai mantel yang sama saking warna nya yang monoton semua. Jarang sekali ada yang memakai outer clothes atau coat dengan warna terang alias ngejreng. Sekalinya ada, sudah pasti yang memakai adalah orang Asia bermata sipit. Hehe... Entah kenapa, setelah aku perhatikan memang benar bahwa ras kulit kuning bermata sipit selalu berani tampil dengan warna cerah dan style yang sedikit lebih 'catchy' ketimbang orang-orang Eropa itu sendiri. Contoh, aku menemukan dua sejoli bermata sipit jalan-jalan di kota Praha yang notabene jalanannya nggak bisa dibilang mulus itu -yang full cobbled stone- bisa-bisanya si cewe pakai boots high heels runcing sekitar 15cm dan pakai stocking jala plus rok setengah paha loreng-loreng. Masalah gitu? Ya kalau bukan saat winter dan jalanan mulus sih ya nggak masalah. Cuma nggak bisa ngebayangin aja gitu, di suhu musim dingin yang terkadang minus ini, bisa aja ya pakai stocking jala yang bolong-bolong itu. Hehehe... nggak kenal sama masuk angin kayanya. Tapi aku acungi jempol buat style nya orang Asia yang unyu-unyu itu. Kalau bukan karna sentuhan warna-warna pakaian orang Asia, pasti pemandangan di Eropa akan sangat membosankan dengan seliweran manusia berbaju hitam atau abu-abu. (ssttt.... aku pun kini ketularan doyan baju warna gonjreng lho! hihi...)
Charles Bridge dengan latar belakang Mala Strana
 Menyusuri Charles Bridge di siang hari terasa sungguh berbeda dengan malam hari. Siang itu suasana jembatan tetap seramai malam, namun yang membedakan adalah di siang hari banyak terdapat street artist, baik pengamen maupun pelukis jalanan. Tak lupa juga para pedagang kaki lima penjual kartu pos. Hmmm... aku koq lebih suka suasana malamnya ya. Terasa lebih mistis dan damai kalau malam.
Saat menyeberangi Charles Bridge, terlihat beberapa kerumunan disekitar sebuah patung. Patung seorang Santo berukuran kecil itu ditempatkan di sebuah jeruji berukir, yang di sekitarnya banyak tergantuk gembok-gembok cinta. Penasaran aku ikut mendekat ke gerombolan manusia yang tampak mengantre tersebut. Dengar punya dengar ternyata ada kepercayaan yang mengatakan kalau kita mengusapkan tangan kita ke patung maka akan enteng jodoh bagi yang jomblo dan langgeng bagi yang berpasangan. Haha... Percaya? Gak tahu deh ya... aku sih ikut mencoba saja karena kepalang tanggung mengantri. (eh tapi beneran lho manjur! Terbukti sebulan setelah hari itu, aku beneran bertemu someone special! Hehe...)
Main street of Mala Strana
Di kejauhan, sudah terlihat sang Prague Castle yang berdiri kokoh diatas dataran tinggi Malá Strana. Aku bergegas menyeberangi jembatan dan mulai menyusuri jalanan Malá Strana yang menanjak itu, menapaki ratusan anak tangga satu persatu hingga mencapai gerbang utama Castle. Sampai di puncak tangga, sambil ngos-ngosan aku memandang sekeliling. Dan wow... Pemandangan dari atas sini sangat indah! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatannya terlihat cantik dari atas sini.
Puas memelototi hamparan kota Praha, aku memasuki area Castle yang didepannya terdapat lapangan luas yang dikelilingi beberapa bangunan besar seperti museum dan post office. Sebelum memasuki gerbang utama Castle, aku berfoto bersama tentara penjaga yang berdiri tegap tanpa ekspresi di sisi gerbang. Meski digodain atau diledekin sekalipun mereka tetap tidak bergeming bak patung! Ganteng-ganteng tapi dingin! Hahaha...
ratusan anak tangga menuju Castle
benteng pembatas Castle
square di halaman depan Castle

Memasuki kawasan Castle, aku memandang takjub pada bangunan gothic-bohemian yang menjulang tinggi di depan mata. Arsitektur rumit yang sudah menghitam dimakan usia itu terlihat masih kokoh dengan gargoyle-gargoyle yang berdiri angkuh di tiap-tiap sudut menaranya. Ya, Gargoyle! Salah satu icon favoritku pada bangunan kuno di Eropa, anjing-anjing serigala bertampang menyeramkan itu terlihat keren dan cool di mataku. Aku kelilingi bangunan Castle itu satu kali dan kemudian ikut mengantri untuk masuk ke dalam Cathedral nya. Bagian dalam Cathedral sih menurutku sama saja dengan cathedral-cathedral lainnya, menakjubkan dengan interior klasik dan rose windows. Namun bagian luar bangunannya lah yang paling indah. Bangunan batu yang penuh dengan bentuk-bentuk rumit itu sangat indah dengan warna pastel kelabu yang menghitam, menandakan usianya yang telah berdiri selama ratusan tahun. Puas menelusuri setiap jengkal Prague Castle, aku melangkah ke halaman belakang Castle dimana terdapat beberapa museum dan cafe di gang-gang kecil. Maksud hati mau ngopi sebentar di sebuah cafe mungil di sudut jalan, namun ternyata cafe nya tutup. Sial! Padahal dinginnya sore itu betul-betul menggigit. Aku pun kembali ke halaman utama Castle dan duduk di sebuah bangku sambil melihat pertunjukan drama kelahiran Yesus didepan Cathedral. Kebetulan pas lagi duduk disana, ketiga temanku datang dari arah depan Castle, dan akhirnya menemukanku. Jadilah kami bersama-sama kembali.
Gerbang utama Castle
Pintu depan Cathedral
detail yang rumit pada bangunan kastil
the cool gargoyles!! :D
halaman belakang kastil
bagian dalam Cathedral
patroli penjaga

Matahari musim dingin tenggelam dengan cepat. Jam 5 sore saat suasana sudah hampir gelap, kami turun menuju ke pusat kota, bermaksud untuk mencoba arena Ice Rink di dekat Old Town Square. Namun terlebih dahulu mampir ke John Lenon Wall yang terletak di Grand Priory Square, Malá Strana. Dinding yang penuh coretan dan graffiti ini dulunya di tahun 1980 merupakan dinding biasa yang digambari wajah John Lenon dan beberapa lyric lagu The Beattles. Dan kemudian belakangan menjadi dinding simbol Love & Peace graffiti dimana anak-anak muda Czech bebas menuangkan inspirasi dalam bentuk coretan di dinding itu. Hmmm... Tak ada yang menarik sih sebenarnya dari dinding itu, hanya sebuah gambar wajah John Lenon yang di depannya dipasangi lilin dan bunga-bunga, entah maksudnya apa. Mungkin untuk mengenang sang musisi tersebut.
Praha saat senja, dengan bulan menggantung diatasnya :)
suasana Old Town malam hari
Kembali menyeberangi Charles Bridge menuju ke Old Town Square, melewati puluhan toko-toko souvenir, aku mencoba melongok sebentar ke beberapa toko. Rata-rata harga souvenir seperti magnet kulkas dan gantungan kunci relatif sama seperti di kota-kota lain di Eropa, sekitar €3/pcs. Banyak kulihat souvenir Matrioska dan Telur-teluran, yang notabene aku tahu itu aslinya berasal dari karya seni Rusia. Namun para pedagang di Ceko mengklaim bahwa Matrioska aslinya dari Ceko. Yaiyalah secara dulunya kan Ceko juga bagian dr Rusia saat namanya masih Uni Soviet! Haha... Nggak mau tertipu ah! Beli Matrioska nya nanti saja kalau beneran menginjak tanah Rusia, beli di negara asalnya. Amin...
salah satu sudut cantik di Praha :)
Tiba di Ice Rink, kamipun mulai asyik meluncur diatas es. Ehmmm.... lebih tepatnya hanya salah satu dari kami yang mampu meluncur mulus diatas es. Ya, hanya Asri yang jago main ice skating. Sedangkan aku, Grace, dan Michelle cuma mampu terseok-seok dan jago gelendotan di pagar Ice Rink! hahaha... Tidak dikenakan biaya untuk masuk arena Ice Rink, hanya perlu menyewa sepatu skate seharga Kč50. Puas bermain ice skating (plus jatuh bangun) kami kembali ke hostel dengan terlebih dahulu mampir jajan ke christmas market. Kemudian aku dan Grace memutuskan untuk menikmati suasana malam di Wenceslas Square, sementara Asri dan Michelle kembali nongkrong di Belushi's Bar untuk bercocktail ria. Jadilah aku duduk-duduk  selonjoran di depan National Museum yang megah itu sampai jam 12 malam, menikmati indahnya malam di kota Praha, sambil berbagi cerita dan mimpi bersama Grace. Well... Praha memang cantik dan bikin betah!
Asri asyik meluncur, aku asyik gelendotan pagar! Haha :D
_to be continue_
Here we are front of Prague Castle :)

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post