Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Wednesday, April 24, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 2)

Terbangun dari tidur dengan kepala super berat serasa dipakein bando beton, akibat si 'sex on the beach' semalam (baca postingan sebelumnya). Hari kedua di kota cantik di jantung benua Eropa, aku berencana untuk mengeksplore isi kota dengan berjalan kaki. Ya, kota Praha tidaklah terlalu besar untuk ditaklukkan dengan sepasang kaki berbetis kencang seperti kakiku ini. Namun sisa-sisa hangover masih menghantui saat dengan malasnya aku merangkak keluar dari bunk bed tempatku tewas tadi malam! :D

Masih jam10 pagi, dengan santai aku dan teman-temanku mengambil posisi favorit di bar Belushi's yang baru buka. Posisi favorit kami berempat adalah di meja deretan paling depan, tepat di depan main stage. Rasa lapar sehabis cocktail party semalam membuat kami memutuskan untuk kembali makan Flying Pigs porsi jumbo seperti kemarin, ditambah dengan Wedges Fries dan salad. Tanpa tedeng aling-aling, kami melahap tulang-tulang rusuk bakar itu hingga tak bersisa. Dan baru sadar ternyata banyak bule-bule di sekitar kami yang memandang takjub kearah empat gadis Indonesia berbadan mini dengan porsi makan kuli ini. Hehehe... Memang sih, dibandingkan dengan menu sarapan para bule itu, menu kami memang bisa dibilang nggak tahu diri. Masih pagi koq ya bisa-bisanya menyantap porsi jumbo Pork Ribs! Tapi ya begitulah orang Indonesia tho? Makan kudu nampol pooolll.... :p

Tepat tengah hari, kami keluar hostel untuk memulai penjelajahan dengan tujuan pertama adalah Prague Castle. Namun sayang, sarung tangan ku ketinggalan di kamar. Jadilah teman-temanku pergi jalan duluan ke arah Vltava river bank, sementara aku kembali masuk ke hostel untuk mengambil sarung tangan. Maklum, suhu musim dingin seringkali membuat badan menggigil nggak karuan jika tidak memakai perlengkapan perang yang hangat. Keluar dari hostel, aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi di jalanan. Berbekal peta, aku menyusuri jalanan cobbled stone di area Odborů, mencoba menemukan ketiga temanku yang ternyata jalannya cepat juga. Setelah ngubek-ngubek gang dan jalanan di Odborů sampai ke jembatan Most Legii, akhirnya aku menyerah dan memutuskan jalan sendiri. Toh nanti kami pasti akan bertemu di Prague Castle juga bukan? Jadi ya nggak masalah kalau kali ini terpisah dari mereka.
Matahari pagi di kota Praha

Menyusuri pinggiran sungai Vltava menuju Charles Bridge, aku berjalan di trotoar tepi sungai yang siang itu ramai oleh wisatawan pejalan kaki. Aku perhatikan, semua orang berpakaian dengan warna-warna gelap. Entah itu hitam, abu-abu, biru dongker, ataupun coklat. Sekilas seolah mereka memakai mantel yang sama saking warna nya yang monoton semua. Jarang sekali ada yang memakai outer clothes atau coat dengan warna terang alias ngejreng. Sekalinya ada, sudah pasti yang memakai adalah orang Asia bermata sipit. Hehe... Entah kenapa, setelah aku perhatikan memang benar bahwa ras kulit kuning bermata sipit selalu berani tampil dengan warna cerah dan style yang sedikit lebih 'catchy' ketimbang orang-orang Eropa itu sendiri. Contoh, aku menemukan dua sejoli bermata sipit jalan-jalan di kota Praha yang notabene jalanannya nggak bisa dibilang mulus itu -yang full cobbled stone- bisa-bisanya si cewe pakai boots high heels runcing sekitar 15cm dan pakai stocking jala plus rok setengah paha loreng-loreng. Masalah gitu? Ya kalau bukan saat winter dan jalanan mulus sih ya nggak masalah. Cuma nggak bisa ngebayangin aja gitu, di suhu musim dingin yang terkadang minus ini, bisa aja ya pakai stocking jala yang bolong-bolong itu. Hehehe... nggak kenal sama masuk angin kayanya. Tapi aku acungi jempol buat style nya orang Asia yang unyu-unyu itu. Kalau bukan karna sentuhan warna-warna pakaian orang Asia, pasti pemandangan di Eropa akan sangat membosankan dengan seliweran manusia berbaju hitam atau abu-abu. (ssttt.... aku pun kini ketularan doyan baju warna gonjreng lho! hihi...)
Charles Bridge dengan latar belakang Mala Strana
 Menyusuri Charles Bridge di siang hari terasa sungguh berbeda dengan malam hari. Siang itu suasana jembatan tetap seramai malam, namun yang membedakan adalah di siang hari banyak terdapat street artist, baik pengamen maupun pelukis jalanan. Tak lupa juga para pedagang kaki lima penjual kartu pos. Hmmm... aku koq lebih suka suasana malamnya ya. Terasa lebih mistis dan damai kalau malam.
Saat menyeberangi Charles Bridge, terlihat beberapa kerumunan disekitar sebuah patung. Patung seorang Santo berukuran kecil itu ditempatkan di sebuah jeruji berukir, yang di sekitarnya banyak tergantuk gembok-gembok cinta. Penasaran aku ikut mendekat ke gerombolan manusia yang tampak mengantre tersebut. Dengar punya dengar ternyata ada kepercayaan yang mengatakan kalau kita mengusapkan tangan kita ke patung maka akan enteng jodoh bagi yang jomblo dan langgeng bagi yang berpasangan. Haha... Percaya? Gak tahu deh ya... aku sih ikut mencoba saja karena kepalang tanggung mengantri. (eh tapi beneran lho manjur! Terbukti sebulan setelah hari itu, aku beneran bertemu someone special! Hehe...)
Main street of Mala Strana
Di kejauhan, sudah terlihat sang Prague Castle yang berdiri kokoh diatas dataran tinggi Malá Strana. Aku bergegas menyeberangi jembatan dan mulai menyusuri jalanan Malá Strana yang menanjak itu, menapaki ratusan anak tangga satu persatu hingga mencapai gerbang utama Castle. Sampai di puncak tangga, sambil ngos-ngosan aku memandang sekeliling. Dan wow... Pemandangan dari atas sini sangat indah! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatannya terlihat cantik dari atas sini.
Puas memelototi hamparan kota Praha, aku memasuki area Castle yang didepannya terdapat lapangan luas yang dikelilingi beberapa bangunan besar seperti museum dan post office. Sebelum memasuki gerbang utama Castle, aku berfoto bersama tentara penjaga yang berdiri tegap tanpa ekspresi di sisi gerbang. Meski digodain atau diledekin sekalipun mereka tetap tidak bergeming bak patung! Ganteng-ganteng tapi dingin! Hahaha...
ratusan anak tangga menuju Castle
benteng pembatas Castle
square di halaman depan Castle

Memasuki kawasan Castle, aku memandang takjub pada bangunan gothic-bohemian yang menjulang tinggi di depan mata. Arsitektur rumit yang sudah menghitam dimakan usia itu terlihat masih kokoh dengan gargoyle-gargoyle yang berdiri angkuh di tiap-tiap sudut menaranya. Ya, Gargoyle! Salah satu icon favoritku pada bangunan kuno di Eropa, anjing-anjing serigala bertampang menyeramkan itu terlihat keren dan cool di mataku. Aku kelilingi bangunan Castle itu satu kali dan kemudian ikut mengantri untuk masuk ke dalam Cathedral nya. Bagian dalam Cathedral sih menurutku sama saja dengan cathedral-cathedral lainnya, menakjubkan dengan interior klasik dan rose windows. Namun bagian luar bangunannya lah yang paling indah. Bangunan batu yang penuh dengan bentuk-bentuk rumit itu sangat indah dengan warna pastel kelabu yang menghitam, menandakan usianya yang telah berdiri selama ratusan tahun. Puas menelusuri setiap jengkal Prague Castle, aku melangkah ke halaman belakang Castle dimana terdapat beberapa museum dan cafe di gang-gang kecil. Maksud hati mau ngopi sebentar di sebuah cafe mungil di sudut jalan, namun ternyata cafe nya tutup. Sial! Padahal dinginnya sore itu betul-betul menggigit. Aku pun kembali ke halaman utama Castle dan duduk di sebuah bangku sambil melihat pertunjukan drama kelahiran Yesus didepan Cathedral. Kebetulan pas lagi duduk disana, ketiga temanku datang dari arah depan Castle, dan akhirnya menemukanku. Jadilah kami bersama-sama kembali.
Gerbang utama Castle
Pintu depan Cathedral
detail yang rumit pada bangunan kastil
the cool gargoyles!! :D
halaman belakang kastil
bagian dalam Cathedral
patroli penjaga

Matahari musim dingin tenggelam dengan cepat. Jam 5 sore saat suasana sudah hampir gelap, kami turun menuju ke pusat kota, bermaksud untuk mencoba arena Ice Rink di dekat Old Town Square. Namun terlebih dahulu mampir ke John Lenon Wall yang terletak di Grand Priory Square, Malá Strana. Dinding yang penuh coretan dan graffiti ini dulunya di tahun 1980 merupakan dinding biasa yang digambari wajah John Lenon dan beberapa lyric lagu The Beattles. Dan kemudian belakangan menjadi dinding simbol Love & Peace graffiti dimana anak-anak muda Czech bebas menuangkan inspirasi dalam bentuk coretan di dinding itu. Hmmm... Tak ada yang menarik sih sebenarnya dari dinding itu, hanya sebuah gambar wajah John Lenon yang di depannya dipasangi lilin dan bunga-bunga, entah maksudnya apa. Mungkin untuk mengenang sang musisi tersebut.
Praha saat senja, dengan bulan menggantung diatasnya :)
suasana Old Town malam hari
Kembali menyeberangi Charles Bridge menuju ke Old Town Square, melewati puluhan toko-toko souvenir, aku mencoba melongok sebentar ke beberapa toko. Rata-rata harga souvenir seperti magnet kulkas dan gantungan kunci relatif sama seperti di kota-kota lain di Eropa, sekitar €3/pcs. Banyak kulihat souvenir Matrioska dan Telur-teluran, yang notabene aku tahu itu aslinya berasal dari karya seni Rusia. Namun para pedagang di Ceko mengklaim bahwa Matrioska aslinya dari Ceko. Yaiyalah secara dulunya kan Ceko juga bagian dr Rusia saat namanya masih Uni Soviet! Haha... Nggak mau tertipu ah! Beli Matrioska nya nanti saja kalau beneran menginjak tanah Rusia, beli di negara asalnya. Amin...
salah satu sudut cantik di Praha :)
Tiba di Ice Rink, kamipun mulai asyik meluncur diatas es. Ehmmm.... lebih tepatnya hanya salah satu dari kami yang mampu meluncur mulus diatas es. Ya, hanya Asri yang jago main ice skating. Sedangkan aku, Grace, dan Michelle cuma mampu terseok-seok dan jago gelendotan di pagar Ice Rink! hahaha... Tidak dikenakan biaya untuk masuk arena Ice Rink, hanya perlu menyewa sepatu skate seharga Kč50. Puas bermain ice skating (plus jatuh bangun) kami kembali ke hostel dengan terlebih dahulu mampir jajan ke christmas market. Kemudian aku dan Grace memutuskan untuk menikmati suasana malam di Wenceslas Square, sementara Asri dan Michelle kembali nongkrong di Belushi's Bar untuk bercocktail ria. Jadilah aku duduk-duduk  selonjoran di depan National Museum yang megah itu sampai jam 12 malam, menikmati indahnya malam di kota Praha, sambil berbagi cerita dan mimpi bersama Grace. Well... Praha memang cantik dan bikin betah!
Asri asyik meluncur, aku asyik gelendotan pagar! Haha :D
_to be continue_
Here we are front of Prague Castle :)

Thursday, April 11, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 1)

Guncangan turbulence membangunkanku dari posisi tidur yang sangat tidak nyaman itu. Duduk di window seater pesawat German Wings, dengan kepala terkulai kesamping membuat leher terasa sakit seolah minta dipakaikan gips! Perlahan-lahan aku menggerakkan leher yang kram dengan tengok kanan dan kiri. Di sebelah kanan, teman-temanku terlihat masih asyik tertidur dengan posisi sama tak nyamannya seperti yang aku alami tadi. Saat aku menengok ke kiri, mata kantuk ku langsung terbuka lebar BYARRR...!!! Awan putih yang berserakan perlahan membuka sebuah ruang pandang yang berlatar belakang warna hijau berbukit-bukit. Cepat-cepat kuambil kameraku dan bersiap memotret apapun itu yang terlihat di bawah sana. Perlahan aku mulai melihat hamparan bukit-bukit nan hijau, dengan semburat warna orange dan pastel di beberapa sudut, yang tak lain berasal dari warna atap dan dinding rumah penduduk di pedesaan. Di beberapa bagian masih terlihat sedikit salju sisa kemarin, serta kabut tipis yang mengambang di hutan yang sudah mulai gundul daunnya. Pemandangann lahan pertanian di perbukitan dengan warna hijau segar itu benar-benar indah! Daerah pinggirannya saja sudah bagus seperti ini, bagaimana dengan pusat kotanya?! Senyum-senyum aku mengagumi keindahan sebuah negara di jantung benua Eropa ini dari ketinggian beberapa ratus meter diatas tanah, dan tak sabar rasanya ingin segera menginjakkan kaki di negara kelima ku, Czech Republic atau yang lebih gampang diingat dengan nama Republik Ceko!
Welcome to Prague! :)
Masih dalam sesi winter trip, kali ini aku mampir ke salah satu negara di Central Europe yang konon katanya sangat cantik dengan sisa-sisa peninggalan masa Bohemian nya. Ya, Czech Republic! Bekas negara jajahan Uni Soviet ini yang dulunya bernama Ceko-Slovakia, kini telah merdeka dan berdiri sendiri menjadi Republik Ceko. Konon dulunya di negara inilah pusat kejayaan masa Bohemia berada. Dapat dilihat dari sisa-sisa bangunan dan kastil yang kental bergaya gothic-bohemian, negara dengan ibu kota Prague/Praha ini membuatnya masuk dalam daftar 'wajib kunjung' ku.
Jadilah aku bablas mampir kesana setelah menghabiskan 3 hari di Jerman. Dengan perjalanan kurang lebih selama satu jam dengan pesawat, kini tibalah aku di sebuah kota cantik bernama Praha!
Keluar dari Václav Havel Airport Prague, aku langsung mencari counter penjual tiket untuk naik bus/tram/metro/train. Disini, satu tiket berlaku untuk keempat jenis transportasi darat tersebut, dengan sistem timer yang akan dihitung sejak saat kita memasukkan tiket ke mesin stamp. Aku membeli tiket single trip seharga Kč32 (€1 = CZK/Kč 25) yang berlaku selama 90 menit sejak tiket tersebut divalidasi. Dari airport aku naik bus menuju Dejvická untuk kemudian berganti metro menuju pusat kota Praha. Ada yang unik dari salah satu stasiun metro di Praha, yaitu stasiun Karlovo Náměstí. Dimana terdapat eskalator dengan panjang dan tinggi yang luar biasa, seolah eskalator itu membawa kita dari perut bumi menuju permukaan tanah. Benar-benar panjang dan curam! Sampai-sampai nggak terbayang deh kalau harus mendaki eskalator ini saat mati lampu atau rusak. Alamaaak... Like a stairway to heaven! Haha.... 
Kali ini aku menginap di St. Christopher Mosaic House, sebuah hostel dengan reputasi yang bagus di rating hostelworld.com yang terletak di dekat stasiun metro Karlovo Náměstí. Letaknya yang strategis di daerah Odborů, ditambah dengan fasilitas bar dan restaurant Belushi's, plus harga yang bersahabat di kantong backpacker, membuat hostel ini selalu ramai didatangi para traveler dari berbagai belahan bumi. Untuk Female Dormitory Room, saat itu aku mendapat harga Kč250/malam untuk 2 malam pertama, dan Kč400 untuk malam terakhir. Mengingat saat itu adalah peak season yang bertepatan dengan liburan Natal, maka tak heran harganya sedikit lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya. Saat check in, para tamu yang menginap diberi privilege discount voucher untuk makan dan minum di Restaurant dan Bar disitu. Lumayan dapat diskon 25% untuk makan, dan pay 1 for 2 untuk minuman. Jadilah kami berempat makan siang di Belushi's Bar dengan menu super kalap! Kenapa kalap? Ya karena porsi makanan disini sangat besar dengan harga yang relatif murah dan nggak bikin kantong kere. Rasa? Jangan ditanya... Kalau rasanya tidak nikmat, bagaimana mungkin kami berempat mampu menghabiskan 4 porsi besar Pork Ribs, Flying Pigs, dan Jumbo Burger! Hasilnya? Hanya tersisa tulang belulang di piring dan empat anak manusia yang duduk terkulai kekenyangan! Hahaha... Kesemua makanan itu ternyata hanya menguras sekitar €22 saja dari kantong kami, yang artinya tak sampai €6 per orang. Cukup murah bukan untuk kualitas makan di restaurant dengan porsi sekelas kuli? ;)

Before :)

And after :))
Prague at night

salah satu sudut kota Praha
Malam pertama di Praha, kami berempat menyusuri seisi kota yang saat itu meriah gemerlap dengan lampu-lampu natal di setiap sudut kota. Menyusuri jalanan cobbled stone dari Odborů ke Wenceslas Square, aku hanya terbengong-bengong mengagumi tata arsitektur kota yang sangat klasik, rapi, dan bernuansa hangat. Bahkan gang-gang kecil pun terlihat cantik di malam hari dengan penerangan lampu jalan berwarna kuning hangat. Saat tiba di Wenceslas Square - Nové Město, kembali mulut ini ternganga ketika menengok ke kanan, terlihat sebuah bangunan besar bergaya klasik dengan kubah nan anggun. Ternyata itulah National Museum, yang berdiri kokoh disebuah dataran tinggi diujung Wenceslas Square. Sebenarnya sulit sekali menggambarkan keindahannya dengan kata-kata, jadi aku hanya akan menuliskannya dalam sebuah kata "Mengagumkan"!

National Museum
Di ujung kiri Wenceslas Square ada sebuah pasar natal yang sayangnya telah tutup saat aku tiba. Disana berdiri sebuah pohon natal raksasa setinggi sekitar 15m yang dijadikan tempat foto laris manis malam itu oleh sebagian besar pengunjung. Dari Wenceslas aku menyusuri gang-gang kecil yang dipadati dengan toko souvenir di kanan-kiri jalan, menuju ke sasaran utama malam itu yaitu Old Town Square - Staré Město. Malam itu suasana Old Town Square sangat ramai, hingga susah sekali mendapatkan spot foto yang bagus. Semua orang sepertinya ingin menghabiskan malam natal disana. Kerumunan manusia terlihat berkumpul di depan Astronomical Clock, menunggu jam kuno tersebut berdentang setiap satu jam sekali. Aku pernah mendengar bahwa banyak pengunjung yang penasaran terhadap si jam yang tersohor ini, namun akhirnya harus menelan kekecewaan akibat atraksi jam yang dibawah ekspektasi. Hmm... aku sendiri sebenarnya juga penasaran, ingin melihat seperti apa sih atraksi jam kuno yang menjadi icon kota Praha tersebut. Namun aku sudah bersiap-siap juga untuk menyaksikan kemungkinan terburuknya sekalipun. Dan benar saja! Tepat pukul 8 malam, sang Astronomical Clock itu berdentang dengan beberapa boneka kayu yang menari pelan di atasnya. Lalu? Ya sudah, itu saja ternyata! Hahaha... Aku pun tertawa terbahak-bahak seusai pertunjukan itu, melihat banyak wajah-wajah turis yang terbengong-bengong dengan suguhan atraksi yang... hmmm... biasa saja itu. Beneran deh, masih bagusan atraksi jam yang di Plaza Senayan kalau menurutku sih! hehehe...


The famous Astronomical Clock
Prague Christmas Market
Merry Xmas!!! :D
Old Town Square malam itu dipenuhi dengan jejeran kios-kios pasar natal bernuansa merah. Sangat semarak dengan hadirnya sebuah pohon terang dan ribuan lampu penghias taman. Seolah tak ada satu space pun yang terlewatkan dari lilitan lampu kerlap-kerlip itu. Dan menyusuri pasar malam tidak afdol rasanya kalau tidak mencicipi sesuatu, ya toch? Aku pun mencoba si pastry tradisional Trdelnik dan Crepes berisi Nutella. Puas cicip-cicip, lanjut lagi menyusuri si kota tua menuju ke arah The Famous Icon of Prague - Charles Bridge! Keindahan Charles Bridge ini akan selalu ditemukan disetiap kartu pos Praha. Sebuah jembatan cantik yang membelah sungai Vltava, dengan jejeran patung-patung klasik di sepanjang bahu jembatan, menghubungkan Old Town Staré Město dengan Lesser Town Malá Strana tempat sebuah kastil tua bertengger di atas bukitnya. Dan lagi-lagi mulut ini mengucap "Wow..." saat menapakkan kaki di atas jembatan cantik tersebut. Menyusuri sebuah jembatan paling cantik di sebuah kota paling cantik di jantung benua Eropa, rasanya.... betul-betul sebuah anugerah! Berdiam diri aku menikmati setiap jengkal Charles Bridge malam itu, sementara ketiga temanku lainnya sedang asyik foto-foto. Aku lebih memilih menikmati malam dingin itu dengan berjalan pelan dan khidmat di sepanjang Charles Bridge, di malam natal, mem-flash back kembali segala peristiwa dalam hidup, dan akhirnya mengucap syukur sepenuh hati atas semua berkat dan anugerah yang aku terima hingga detik itu. Damai sekali rasanya...
Vltva riverbank view from Charles Bridge
Prague Castle view from Charles Bridge
Malam semakin dingin dan berkabut. Udara winter bulan Desember memaksa kami untuk segera kembali ke hostel untuk mencari kehangatan. Kami berempat memutuskan untuk nongkrong sebentar di bar Belushi's dengan beberapa gelas bir dan seember cocktail. Apa? Seember? Ya, seember! Kami memesan cocktail 'Sex on the beach' yang merupakan campuran dari Vodka, peach, cranberry, serta orange juice berukuran sekitar 2.5ltr yang disajikan dalam goldfish-aquarium berlogo Bacardi. Cara minumnya pun unik, dengan menggunakan pipet/sedotan sepanjang setengah meter, yang dijamin bakal bisa bikin cepet tipsy! Hehehe... Rasanya? Enak! Dan murah, hanya €20 dan dibagi berempat. Jadilah kami menghangat malam itu. :p


This is it... Sex on the beach cocktail in a BIG glass :D
Yummieee....

And finally... One Girl Down!!! :))
_to be continue..._

Saturday, June 30, 2012

A Lil' Step to.... Ho Chi Minh - Vietnam (Day 4)


 "Petualangan Hari Keempat"

Jam 5 pagi, terbengong-bengong kami turun dari bus, celingukan kanan kiri mencoba mencari tahu dimana kami sebenarnya saat ini berada. Para sopir taxi langsung ngerubutin, menawarkan jasa taxinya. Rupanya, pulasnya tidur didalam sleeper bus malam itu, membuat kami bertiga kelabasan sampai di tujuan akhir bus, yaitu di pul bus Phuong Trang di daerah Le Hong Phong -  District 5 HCM City. Harusnya kami turun di De Tham street – District 1, tapi rupanya kami nggak bangun saat bus menurunkan penumpang tadi disana. Yasudah deh, akhirnya kami numpang bersih-bersih di toilet kantor Phuong Trang yang besar itu. Toiletnya cukup bersih, lumayan bisa buat cuci muka-gosok gigi-ganti baju (catet: hari itu kami nggak mandi). Ini dia seninya backpacking, siap nggak mandi selama 2 hari. Hahaa… Selesai bersih-bersih, kami naik taxi ke De Tham street di kawasan Pham Ngu Lao. Pakai taxi resmi Phuong Trang, dengan argo normal, VND 40.000 saja. Sampai di Pham Ngu Lao, bingung mau ngapain secara masih subuh. Akhirnya kami nongkrong didepan MyMy Arthouse yang pintunya masih tertutup, hostel tempat kami menginap sebelumnya. Rencananya sih kami mau nitipin ransel kami disana, sementara kami keliling HCM sampai sore nanti. Dan ternyata pemilik hostelnya baiiiiik banget, kami diperbolehkan nitip tas di lobby GRATIS! (catet: gratis lhooo, padahal biasanya kan ada additional fee untuk left luggage gitu) Kami benar-benar beruntung! 
Bingung mau ngapain pagi-pagi begitu, kami gambling saja menyusuri alleys menuju Bui Vien street. Jalanan yang selalu ramai padat di malam hari dengan go-go bars nya itu terlihat sangat lengang di pagi hari. Hanya beberapa kios nasi dan warung kopi yang sudah buka, dengan beberapa pembeli yang asyik nongkrong sarapan di dingklik plastik kecil warna warni. Kami masuk ke salah satu kios nasi dengan menu andalan tetap Com Tam Binh Dan serta Bahn Mie. Kami pesan seporsi Com Tam dan seporsi Lam Chong, dimakan bertiga. Iseng-iseng aku berniat mau cari colokan listrik buat ngecharge hape, eh tau-tau aku dipelototin dan diomelin pakai bahasa dewa oleh nenek yang jaga kios itu. Karena aku nggak ngerti sama sekali dia ngomong apa, aku dengan polosnya cuma bilang mau nyolok sebentar, dan dengan cueknya masukin chargeran hape ke colokan listrik yang ada disitu. Dan disitulah terjadi adegan ‘miskon yang ke-4’ kalinya. Rupanya si nenek ini ngomel saat tahu aku mau numpang nyolok listrik, dan dia pun memberi tahu semua orang yang datang ke kios dia, ngomel-ngomel pakai bahasa dewa sambil nunjuk-nunjuk kearah kami bertiga. Dan salah satu pengunjung yang bisa bahasa Inggris patah-patah memberi tahu kami bahwa si nenek menganggap kami kurang sopan karena seenaknya pakai listrik tanpa permisi. Nah lhoo… salah deh numpang nyolok disini! Karena si nenek terus-terusan ngomel dan melototin kami, aku pun nyerah dan mencabut charger hape ku, meski indikator baterai masih merah dan menjerit minta disupplay aliran listrik! Cari aman saja deh, daripada dicincang ama nenek dan dijadiin Lam Chong. Haha…. Makan pun jadi nggak selera akibat kejadian itu.
Selesai makan ati di kios nenek (eh? Makan ati? Haha) kami kembali menyusuri Bui Vien yang sepi. Mampir deh di warung kopi, pesan es susu segar dan es kopi susu, yang kali ini nggak perlu aku praktekkan ‘susu’nya karena selain yang jualan adalah mas-mas, dia juga udah ngerti bahasa Inggris. Hehe… amaaannn…. Trus nyobain jajanan yang lewat, nggak tau ini namanya apa, tapi bentuknya pisang rebus dipotong kecil-kecil, dicampur kolang-kaling rebus, disiram vla santan dan wijen. Rasanya? Enak buat sarapan dengan ditemani segelas kopi Vietnam itu!
sarapan pagi
Matahari sudah lumayan terang, kami lanjut berjalan kaki ke arah Nguyen Thi Minh Kai street, dengan tujuan War Remnant Museum yang buka mulai jam 8 pagi. Di halaman depan museum ini, dipajang berbagai kendaraan tempur dari jaman perang Vietnam dulu. Tank, pesawat tempur, dan helikopter berjajar rapi dan terawatt bersih. Masuk kedalam museum perang ini, di lantai 1 kita akan disambut dengan jejeran foto yang bercerita mengenai revolusi Vietnam. Naik ke lantai 2, ada galeri yang menceritakan kekejaman perang antara Amerika-Vietnam, lengkap dengan benda-benda sisa perang. Bagi yang nggak kuat lihat, mungkin akan mual memandang sebagian besar foto yang memaparkan korban peperangan, dari yang masih berbentuk hingga yang hanya berupa potongan kepala yang ditenteng tentara Amerika. Ough! Lanjut di lantai 3, ada gallery yang memaparkan mengenai korban perang yang menderita cacat fisik akibat terkena serangan senjata kimia. Membaca sejarah dan melihat betapa kejamnya perang itu merusak alam-ekosistem-serta manusia itu sendiri, membuatku merinding dan bersyukur aku hidup di abad 20 dan tidak perlu merasakan dijajah ataupun perang.
@ War Remnant Museum
jejeran Tank berbaris rapi di halaman museum
salah satu contoh foto yang menggambarkan kejamnya peperangan :(

Selesai kilas balik sejarah di museum perang, kami menuju Cho Ben Thanh dengan melalui jalan memutar ke arah Taman kota - Notre Dame – Opera House – Le Loi Avenue. Kenapa memilih jalan memutar yang lebih jauh? Karena kami masih penasaran dengan pertanyaan yang dari kemarin-kemarin belum bisa terjawab: “Dimana sih bisa menemukan supermarket di HCM ini?” karena selama kami disini, belum pernah kami lihat ada supermarket semacam Giant atau Carefour gitu. Penasaran aja dimana warganya belanja bulanan. Hehe… Otak para wanita emang isengnya seputaran belanja aja ya!
Pas sampai Cong Xa Pari Square (taman kota didekat Notre Dame), kami istirahat sebentar duduk-duduk di kursi taman dengan naungan pepohonan rindang. Seandainya Jakarta punya taman-taman begini, pasti seru menghabiskan sore sepulang kantor sambil makan bakso bareng teman! Nah di taman inilah terjadi ‘adegan miskom ke-5’ saat seorang tukang es krim lewat dan menawarkan dagangannya. Aku memesan 1 cone es krim, tapi dibikinkan 3. padahal aku sudah dengan nada tinggi bilang “ONE! Only ONE, no more!” (macam lagu Adele saja – One and Only. Hehe) Tapi tetep aja si abang es krim nya cuek bebek bikin 3 cone. Dasar Ondos! Hiiih, tambah bikin emosi saat dia keukeuh minta bayaran atas 3 cone itu sebesar VND 60.000. Adu ngotot lah antara bahasa dewa vs bahasa Inggris. Enak aja nembak harga es krim semahal itu, lagian siapa yang pesan 3 cone coba? Akhirnya tawar menawar setengah marah pun terjadi, sampai cone es krim nya bolak-balik berpindah tangan dari abang itu ke tangan kami trus ke abang nya lagi. Hayaaah… nih abang tetep ngotot suruh kami bayar. Akhirnya aku kasih selembar VND 20.000 dan aku ambil 2 cone es krim itu (setengah maksa sih ngambilnya! LOL) Bukan bermaksud kejam atau perhitungan, cuma aku sudah sering dengar warning bahwa di taman ini banyak terjadi kasus scam atau penipuan pada turis. Makanya lebih baik sedikit galak daripada dipalak. 
@ City Hall

Lanjut keliling District 1 demi menemukan sebuah supermarket, kami malah nggak sengaja ketemu sama landmark nya HCM City, yaitu City Hall dengan patung Paman Ho yang sedang memangku anak kecil itu. Landmark inilah yang sering muncul saat kita googling tentang HCM. Foto-foto lah kami disana, dibawah sengatan matahari yang ampun-ampunan panasnya hari itu. Lanjut lagi, gan! Kembali menyusuri Le Loi Avenue, kami lagi-lagi nggak sengaja ketemu Café Trung Nguyen. Waaah… ini dia tujuan utama ke Vietnam, apalagi kalau bukan beli kopi Trung Nguyen yang famous itu. Pilih-pilih berbagai macam kopi, tak terasa setelah di kasir, angka di monitor menunjukkan hampir SATU JUTA VND! Omaigat, ini sama artinya dengan setengah juta rupiah kami habiskan buat kopi. Hahaha…. Belanja terbanyak nih sepertinya. Tapi nggak apa-apa, karena memang sudah diniatin mau beli Trung Nguyen di Vietnam. Dan sukseslah kopi-kopi itu memenuhi 1 travel bag full, yang akhirnya kami titipkan di café itu, sementara kami pergi ke Cho Ben Thanh. 
Trung Nguyen Coffee

Patung didepan Ben Thanh
Cho Ben Thanh

Dengan sisa Dong didompet, sudah pasti nggak bisa belanja macem-macem lagi nih di Ben Thanh, hanya cukup untuk makan siang dan ongkos ke airport nanti sore. Kami menuju bagian belakang pasar, disana terdapat banyak kios makanan. Kami pesan seporsi nasi goreng dan spring roll, dimakan bertiga. Jadi backpacker yang nggak kuat iman belanja, harus siap makan seadanya dan ngirit. Haha…. Sepulang dari Ben Thanh, kami bergantian menggotong tas besar isi kopi yang lumayan berat itu menuju hostel tempat kami titip barang. Sampai di hostel, istirahat sebentar sambil ngobrol sama pemilik hostel. Tak lupa kami meninggalkan kenang-kenangan berupa uang kertas Rp.2000 yang kami tulis-tulisi nama kami, kemudian memasukkannya kedalam kaca di meja tamu, bersama ratusan kartu nama-foto-dan uang kertas peninggalan para tamu yang menginap disana. Rupanya ini sebagai memorable media, tempat para tamu meninggalkan kesan pesan selama menginap disana. Cukup unik! 
daftar menu makanan dengan bahasa dewa :p
nasi goreng seafood, lumayan enak!
spring rolls
rasanya nendang!
 
Setelah berpamitan dan berterimakasih pada pemilik hostel yang baik hati itu, kami kembali berjuang jalan kaki dengan menggendong ransel dan menyeret tas isi kopi, menuju terminal bus didepan Ben Thanh. Jalan kaki di HCM harus punya mata ayam, alias kanan kiri harus diperhatikan. Salah-salah nyebrang jalan bisa ditabrak sepeda motor yang jumlahnya bagai lebah dijalanan. Jalan kaki tanpa bawaan saja sudah repot saat nyebrang, apalagi dengan bawaan segambreng begini! Dari Pham Ngu Lao ke Ben Thanh, kami harus jalan kaki sejauh kurang lebih 1km, dengan 6 kali menyeberang jalan termasuk 1 kali menyeberang di ‘simpang setan’. Kenapa kami sebut simpang setan? Karena persimpangan ini adalah muara dari 7 jalan, dengan kondisi jalan yang ampun-ampunan semrawutnya oleh sepeda motor. Pilihannya hanya ada dua: takut-takut nyebrang atau pasang badan dengan taruhan nyawa! Haha, bukan mau lebay tapi memang beneran bikin migrain ini simpang setan. Akhirnya kami bertekad, pasang badan (pasang tas dipunggung) menyeberang dengan gagah berani melintasi simpang setan ini. Thanks God, motor-motor itu pandai bermanuver dan ngerem pakem, berusaha menghindari 3 cewek nekat yang nggak takut mati ini. Sayang batere kamera sudah sekarat, sehingga tak sempat mengabadikan keganasan dari Simpang Setan ini. (-.-“)
peninggalan kami di meja tamu @ Mymy Arthouse :)

Kami naik bus nomor 152, jurusan Tan Son Naht Airport, dengan tarif VND 3000 saja (lebih murah dari Kopaja!). Kami sampai di airport satu jam sebelum boarding. Dan percaya nggak, berapa sisa Dong yang ada di dompetku saat itu? Hanya VND 2000 alias cuma seribu perak! *LOL* Total aku hanya menghabiskan $130 saja untuk survive 4 hari di 2 kota di Vietnam Selatan ini. Dan yang selalu bikin kangen dari Vietnam adalah: Es Kopi Susu + Com Tam Binh Dan nya! So, see you Ho Chi Minh city, I’ll be back someday! Cam Eeennn…. (*Cam En: terima kasih)
dan kami pun kelelahan :-Q

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post