Showing posts with label Oleh-oleh. Show all posts
Showing posts with label Oleh-oleh. Show all posts

Tuesday, October 16, 2012

Shop Hop in Netherlands!

Aku pernah membaca sebuah artikel tentang Belanda, dimana dikatakan bahwa "Bad Girl go to Amsterdam, Good Girl go to Delft, and Shoppaholic go to Rotterdam". Ungkapan tersebut tidaklah berlebihan, mengingat memang di Amsterdam lah sentra segala yang dilegalkan. Kemudian Delft dijuluki sebagai Kota Pelajar dimana terdapat banyak mahasiswa dari berbagai penjuru negeri yang menuntut ilmu di universitas-universitas ternama di Delft. Sedangkan Rotterdam, si kota metropolitan yang berbalut serba kemodernan itu disebut-sebut sebagai surga belanja. Well, apakah benar? Mari kita ulas.

Rotterdam terkenal sebagai The Biggest Port in Medieval Europe. Kota ini merupakan persinggahan dari berbagai negara yang melintas di perairan sekitar Belanda. Hal ini menciptakan keberagaman etnis yang turut berpengaruh kedalam dunia fashion. Sebagai kota pelabuhan yang selalu ramai, maka dapat dipastikan pertumbuhan sektor niaga pun berkembang pesat. Hingga pada saat Rotterdam diluluhlantakkan oleh Jerman, maka dibangunlah Rotterdam yang baru dengan konsep modern. Susunan tata kota pun diatur sedemikian rupa dengan pembagian district-district yang selaras. Terdapat sebuah district yang menjadi denyut nadi kehidupan bisnis dan niaga di Rotterdam. District pusat kota yang biasa disebut Centrum ini memiliki sekian blok yang dipadati toko-toko fashion pemuas selera fashionista. Hingga dibangunlah sebuah jalan bernama Lijnbaan pada 1953, yang merupakan car free zone shopping walk terbesar di Eropa pada masa itu. Lijnbaan memiliki banyak cabang yang menembus ke jalan-jalan disekitar Lijnbaan itu sendiri. Di sepanjang jalan ini dipadati ratusan toko-toko fashion yang up to date serta cafe-cafe outdoor yang cozy. Berbagai butik dengan merk kenamaan seperti Esprit, Mango, Zara, C&A, H&M, Hugo Boss, Shoebaloo, dll, tersebar diseputaran City Centrum.

Lijnbaan Street
Berdasarkan hasil survei, harga barang-barang fashion di Rotterdam memang relatif lebih murah dari kota lainnya di Belanda. Harga barang di butik kenamaan di Lijnbaan pun masih tergolong "acceptable". Sebagai contoh, mantel tebal musim dingin dibanderol mulai dari EUR59. Berbagai jaket chic wanita mulai dari EUR29. Bahkan aku bisa mendapat jaket tebal untuk musim dingin hanya seharga EUR10 saja!! Entah sedang musim diskon atau memang aku sedang hoki, kebanyakan hasil belanjaanku kudapatkan dengan harga diskon. Hanya beberapa items saja yang aku beli dengan harga normal. Tak hanya di Lijnbaan, di sepanjang Beurstraverse pun kita bisa menemukan toko-toko murah, salah satunya The Sting. Toko ini ada dua macam, meskipun masih sama-sama berada di area City Centrum. Di The Sting yang berada didalam underground area Beurstraverse, kita bisa menemukan barang2 yang diobral dengan harga konyol mulai dari EUR1 saja. Aku berhasil mendapatkan sebuah baju atasan tanpa lengan hanya dengan EUR1 dan sebuah denim hanya dengan EUR5. Padahal harga asli denim di rata-rata toko kebanyakan mulai dari EUR15 lho... Begitu juga dengan jaket kulit sintetis, bisa didapatkan dengan EUR15 saja, sedangkan di toko lainnya mulai EUR29 untuk jenis jaket yang sama. Namun berbeda dengan The Sting yang satu lagi yang ada diluar underground Beurstraverse, disana barang-barang yang dijual jauh lebih mahal dan nyaris tanpa diskon. Rupanya The Sting memang dibagi dua, satu untuk barang-barang tanpa diskon, satu lagi khusus untuk barang yang didiskon habis-habisan. Masih di Lijnbaan, ada satu butik favoritku namanya Ti Amo. Di butik ini harga baju-bajunya sangat acceptable, bahkan hanya disinilah aku menemukan berbagai macam belt/ikat pinggang berbagai model dengan harga hanya EUR1 all items!! Ditempat lain aku cek, tidak ada yang menjual belt dibawah harga EUR5. 

Jejeran sepatu yang bikin ngiler :D
Tak hanya baju up to date harga miring yang bisa kita temukan di Lijnbaan, sepatu dan tas pun bisa kita dapat dengan harga yang bikin melongo. Beberapa toko sepatu yang terkenal murah adalah Van Haren, Axi Schoen, dan Shoe Outlet. Di ketiga toko ini, banyak boots-boots dijual dengan harga diskon. High boots termurah yang berhasil didapatkan oleh salah satu temanku di Shoe Outlet hanya seharga EUR10 saja! Wow... Intinya kalau belanja barang diskon harus sabar dan teliti, maka bukan mustahil kita bisa mendapatkan barang-barang kualitas oke dengan harga yang nggak bikin kantong kere. :)

Bicara mengenai shopping di Rotterdam, tak hanya ada di City Centrum. Rotterdam juga punya yang namanya Alexandrium dan Primark. Kedua tempat shopping ini berada di kawasan Prins Alexander, Rotterdam. Hanya perlu naik kereta selama kurang lebih 8 menit dengan tiket EUR2.40 untuk sekali jalan, sudah bisa memuaskan hasrat shopping disana. Alexandrium dan Primark berdiri bersebelahan masih didalam komplek niaga yang sama, tepat diseberang stasiun Rotterdam Alexander.

Jika Alexandrium merupakan sebuah area tempat berjejernya butik-butik dan berbagai toko serta cafe, maka Primark adalah sebuah bangunan terpisah yang merupakan sebuah department store yang berisi segala macam kebutuhan fashion. Semacam Matahari dept.store lah ya kalau di Indonesia. Soal harga? Jangan ditanya.... Di Primark ini setiap shoppaholic bisa mendadak gila karena melihat price tag yang murah-murah! Namun, harga murah bukan berarti barang nya pun murahan. Kualitas barang di Primark ini bisa masuk kategori oke dan bagus, bahkan kalau anda jeli bisa mendapatkan barang berkualitas super dengan harga miring tentunya. Coat yang umumnya dibanderol seharga EUR60-80 di Lijnbaan, bisa didapat di Primark mulai harga EUR25 saja! Aku pun tak mau ketinggalan menyabet sepasang snow boots bulu-bulu untuk musim dingin, hanya seharga EUR10. hehe.... I told you, Shoppaholic can shop til drop here! 

mari ngeborong :)
Primark adalah dept.store asal Irlandia yang membuka cabang di beberapa negara di Eropa yaitu di Austria, Belgia, Belanda, Jerman, Portugal, Spanyol, dan United Kingdom. Aslinya, di Irlandia toko ini bernama Penneys, namun diluar Irlandia namanya Primark. Dept.store ini sangat terkenal di Eropa, membuat setiap orang berbondong-bondong belanja di Primark, terutama weekend. Jadi jangan kaget saat melihat antrian mengular didepan kasir, yang meskipun berjumlah belasan bahkan sampai puluhan kasir tetap saja seolah kewalahan menghadapi serbuan pembeli dengan belanjaan segambreng! Haha....

boots lucu anak-anak seharga EUR15-20 saja

Antrian kasir yang mengular (-__-")

Kios keju tradisional Belanda
Selain belanja di butik, toko, maupun dept.store, belanja di pasar atau sering disebut Open Markt juga cukup menyenangkan. Berbagai kebutuhan tak hanya sandang namun juga pangan dan kebutuhan lainnya bisa didapat di pasar tradisional dengan harga miring. Setiap pasar tradisional punya jadwal buka masing-masing. Tidak setiap hari ada, melainkan seminggu 1x sampai 2x saja. Umumnya, di pasar ini banyak pedagang asal Turki dan Suriname. Soal fashion, di pasar bisa ditemukan kios baju baik yang baru maupun kios baju bekas. Aku tidak menyarankan untuk beli baju di pasar tradisional, karena kualitas nya kurang bagus. Namun di pasar ini, kita bisa menemukan sayur mayur segar serta buah-buahan murah, juga bisa wisata kuliner murah meriah sampai kenyang di berbagai kios makanan didalam pasar. Mulai dari makanan khas Turki, Suriname, Vietnam, hingga kios ikan segar yang menjual ikan Harring untuk dimakan mentah. Menyusuri pasar ini sambil jajan berbagai jenis makanan itu sangat menyenangkan! Tanpa sadar bahwa berat badan makin bertambah jika setiap minggu wisata kuliner di pasar tradisional macam ini. Haha :)

paling suka jajan ini :) aneka seafood goreng!!

ikan Harring yang dimakan mentah pakai bawang

kios Buah dan Sayur

Bicara soal belanja, mungkin tak hanya mencakup soal dunia fashion. Satu lagi yang menarik adalah belanja souvenir khas negeri kincir ini. Seperti kita tahu, kita berasal dari sebuah negara dengan budaya "oleh-oleh" nya yang kental. Tak jarang (bahkan selalu) saat kita bepergian kesuatu tempat, banyak yang nyeletuk "Oleh-olehnya ya jangan lupa". Tak hanya keluarga yang sering berkomentar begitu, teman, tetangga, BAHKAN orang yang belum bisa dikategorikan "teman" pun kadang suka minta oleh-oleh. Heran deh.... Budaya oleh-oleh ini kadang cukup merepotkan saat akan membawanya pulang, namun sekaligus sangat menyenangkan saat sedang hunting pernak-pernik souvenir itu sendiri. Hehe... Dilema ya!

Clogs Shoe
Jika ditanya oleh-oleh dari Belanda, pasti yg ter-pop up di kepala adalah sebentuk sepatu kayu warna kuning. Bener kan? Tuh senyum-senyum sendiri bacanya. Hehe... Well, sebenernya bukan hanya si sepatu kayu kuning itu saja yang khas dari Belanda. Coba sebutkan, tulip, kincir angin, keju, dan pernak-pernik keramik biru-putih. Nah yang belakangan aku sebutkan tadi itu yang paling khas dari Belanda. Seni kerajinan keramik dengan nuansa biru-putih dengan berbagai bentuk dapat ditemukan murah di kota Delft. Karena di Delft inilah asal dari si biru-putih yang terkenal itu.


Blue-White pottery, khas kota Delft
Sempat tadi aku sebutkan Delft adalah kota pelajar, dan memang betul. Kota kecil ini tidak seramai Rotterdam, jauh lebih sepi, jauh banget malah bedanya. Penampakan kota ini cukup indah dengan jejeran bangunan tempo doeloe disepanjang sisi kanal-kanal yang tersebar diseluruh penjuru kota. Banyak terdapat flat-flat atau kos-kosan bagi para mahasiswa, toko-toko dan cafe cantik bertengger disisi kanal, serta beberapa gereja tua yang indah. Yang paling terkenal tentu saja gereja tua Oudekerk di tepi kanal, dan gereja baru Nieuwekerk di Square (centrum) pusat kota. Menara gereja Nieuwekerk yang menjulang setinggi 108,75m merupakan icon kota Delft yang sering muncul di gambar kartu pos. Nah, disekitar Nieuwekerk ini banyak tersebar toko souvenir yang menawarkan pernak-pernik untuk oleh-oleh dengan harga murah. Harga souvenir di Delft merupakan yang termurah dibandingkan dengan kota lainnya di Belanda. Harus jeli dalam mensurvei harga dari satu toko ke toko lainnya. Tiap toko punya keistimewaan diskon masing-masing. Yang termurah yang aku temukan adalah koleksi souvenir di toko pertama sebelah kiri gereja. Di toko ini, aku bisa mendapatkan selusin pajangan keramik biru-putih berbentuk sepatu clogs yang diikat bendera Belanda, hanya seharga EUR6. Atau pajangan (masih keramik biru-putih) bentuk sepatu   dengan beberapa tulip kecil didalamnya seharga EUR1/buah. Gantungan kunci pun sangat murah, assorted keychain berbagai bentuk dihargai EUR10/lusin. Atau magnet kulkas berbagai bentuk seharga EUR10/5buah. Kalau di-convert ke Rupiah memang terlihat mahal, namun percayalah ini masih lebih murah dibanding harga souvenir di kota lainnya di Belanda. Harga souvenir memang lebih mahal di Eropa dibandingkan di Asia.

ayo diborong! :D
Selain berburu souvenir di Markt Square, ada baiknya melipir sebentar ke Centrum nya Delft. Disana terdapat jejeran butik dan toko dengan berbagai koleksinya. Jangan bayangkan Mall atau pertokoan modern canggih kelas wahid. Di Delft ini, semua toko dan cafe berdiri disetiap bangunan asli kota Delft, which is old building. Kesan hangat dan nyaman sangat terasa saat menyusuri area centrum, kemudian berakhir di sebuah grottemarkt untuk mampir mencicipi segelas chocomelk with slaagroom yang yummiii..... :D

Pengalaman belanja menarik juga aku dapatkan saat di Den Haag. Di centrumnya, terdapat sebuah Passage dimana didalamnya berjejer toko dan cafe dengan nuansa klasik modern. Selain De Passage, hasrat belanja juga bisa dipuaskan di area Spuidstraat, sebuah pedestrian walking yang sarat dengan jejeran toko-toko dan butik berkelas. Suasana disepanjang jalan ini sangat klasik dengan bangunan tuanya yang dijadikan ruko.  Harga? Relatif standar dan tidak lebih murah dari Rotterdam. Namun suasananya itulah yang membuat kita nyaman saat tanpa sadar menghabiskan beberapa lembar Euro! :D

Saturday, June 30, 2012

A Lil' Step to.... Ho Chi Minh - Vietnam (Day 4)


 "Petualangan Hari Keempat"

Jam 5 pagi, terbengong-bengong kami turun dari bus, celingukan kanan kiri mencoba mencari tahu dimana kami sebenarnya saat ini berada. Para sopir taxi langsung ngerubutin, menawarkan jasa taxinya. Rupanya, pulasnya tidur didalam sleeper bus malam itu, membuat kami bertiga kelabasan sampai di tujuan akhir bus, yaitu di pul bus Phuong Trang di daerah Le Hong Phong -  District 5 HCM City. Harusnya kami turun di De Tham street – District 1, tapi rupanya kami nggak bangun saat bus menurunkan penumpang tadi disana. Yasudah deh, akhirnya kami numpang bersih-bersih di toilet kantor Phuong Trang yang besar itu. Toiletnya cukup bersih, lumayan bisa buat cuci muka-gosok gigi-ganti baju (catet: hari itu kami nggak mandi). Ini dia seninya backpacking, siap nggak mandi selama 2 hari. Hahaa… Selesai bersih-bersih, kami naik taxi ke De Tham street di kawasan Pham Ngu Lao. Pakai taxi resmi Phuong Trang, dengan argo normal, VND 40.000 saja. Sampai di Pham Ngu Lao, bingung mau ngapain secara masih subuh. Akhirnya kami nongkrong didepan MyMy Arthouse yang pintunya masih tertutup, hostel tempat kami menginap sebelumnya. Rencananya sih kami mau nitipin ransel kami disana, sementara kami keliling HCM sampai sore nanti. Dan ternyata pemilik hostelnya baiiiiik banget, kami diperbolehkan nitip tas di lobby GRATIS! (catet: gratis lhooo, padahal biasanya kan ada additional fee untuk left luggage gitu) Kami benar-benar beruntung! 
Bingung mau ngapain pagi-pagi begitu, kami gambling saja menyusuri alleys menuju Bui Vien street. Jalanan yang selalu ramai padat di malam hari dengan go-go bars nya itu terlihat sangat lengang di pagi hari. Hanya beberapa kios nasi dan warung kopi yang sudah buka, dengan beberapa pembeli yang asyik nongkrong sarapan di dingklik plastik kecil warna warni. Kami masuk ke salah satu kios nasi dengan menu andalan tetap Com Tam Binh Dan serta Bahn Mie. Kami pesan seporsi Com Tam dan seporsi Lam Chong, dimakan bertiga. Iseng-iseng aku berniat mau cari colokan listrik buat ngecharge hape, eh tau-tau aku dipelototin dan diomelin pakai bahasa dewa oleh nenek yang jaga kios itu. Karena aku nggak ngerti sama sekali dia ngomong apa, aku dengan polosnya cuma bilang mau nyolok sebentar, dan dengan cueknya masukin chargeran hape ke colokan listrik yang ada disitu. Dan disitulah terjadi adegan ‘miskon yang ke-4’ kalinya. Rupanya si nenek ini ngomel saat tahu aku mau numpang nyolok listrik, dan dia pun memberi tahu semua orang yang datang ke kios dia, ngomel-ngomel pakai bahasa dewa sambil nunjuk-nunjuk kearah kami bertiga. Dan salah satu pengunjung yang bisa bahasa Inggris patah-patah memberi tahu kami bahwa si nenek menganggap kami kurang sopan karena seenaknya pakai listrik tanpa permisi. Nah lhoo… salah deh numpang nyolok disini! Karena si nenek terus-terusan ngomel dan melototin kami, aku pun nyerah dan mencabut charger hape ku, meski indikator baterai masih merah dan menjerit minta disupplay aliran listrik! Cari aman saja deh, daripada dicincang ama nenek dan dijadiin Lam Chong. Haha…. Makan pun jadi nggak selera akibat kejadian itu.
Selesai makan ati di kios nenek (eh? Makan ati? Haha) kami kembali menyusuri Bui Vien yang sepi. Mampir deh di warung kopi, pesan es susu segar dan es kopi susu, yang kali ini nggak perlu aku praktekkan ‘susu’nya karena selain yang jualan adalah mas-mas, dia juga udah ngerti bahasa Inggris. Hehe… amaaannn…. Trus nyobain jajanan yang lewat, nggak tau ini namanya apa, tapi bentuknya pisang rebus dipotong kecil-kecil, dicampur kolang-kaling rebus, disiram vla santan dan wijen. Rasanya? Enak buat sarapan dengan ditemani segelas kopi Vietnam itu!
sarapan pagi
Matahari sudah lumayan terang, kami lanjut berjalan kaki ke arah Nguyen Thi Minh Kai street, dengan tujuan War Remnant Museum yang buka mulai jam 8 pagi. Di halaman depan museum ini, dipajang berbagai kendaraan tempur dari jaman perang Vietnam dulu. Tank, pesawat tempur, dan helikopter berjajar rapi dan terawatt bersih. Masuk kedalam museum perang ini, di lantai 1 kita akan disambut dengan jejeran foto yang bercerita mengenai revolusi Vietnam. Naik ke lantai 2, ada galeri yang menceritakan kekejaman perang antara Amerika-Vietnam, lengkap dengan benda-benda sisa perang. Bagi yang nggak kuat lihat, mungkin akan mual memandang sebagian besar foto yang memaparkan korban peperangan, dari yang masih berbentuk hingga yang hanya berupa potongan kepala yang ditenteng tentara Amerika. Ough! Lanjut di lantai 3, ada gallery yang memaparkan mengenai korban perang yang menderita cacat fisik akibat terkena serangan senjata kimia. Membaca sejarah dan melihat betapa kejamnya perang itu merusak alam-ekosistem-serta manusia itu sendiri, membuatku merinding dan bersyukur aku hidup di abad 20 dan tidak perlu merasakan dijajah ataupun perang.
@ War Remnant Museum
jejeran Tank berbaris rapi di halaman museum
salah satu contoh foto yang menggambarkan kejamnya peperangan :(

Selesai kilas balik sejarah di museum perang, kami menuju Cho Ben Thanh dengan melalui jalan memutar ke arah Taman kota - Notre Dame – Opera House – Le Loi Avenue. Kenapa memilih jalan memutar yang lebih jauh? Karena kami masih penasaran dengan pertanyaan yang dari kemarin-kemarin belum bisa terjawab: “Dimana sih bisa menemukan supermarket di HCM ini?” karena selama kami disini, belum pernah kami lihat ada supermarket semacam Giant atau Carefour gitu. Penasaran aja dimana warganya belanja bulanan. Hehe… Otak para wanita emang isengnya seputaran belanja aja ya!
Pas sampai Cong Xa Pari Square (taman kota didekat Notre Dame), kami istirahat sebentar duduk-duduk di kursi taman dengan naungan pepohonan rindang. Seandainya Jakarta punya taman-taman begini, pasti seru menghabiskan sore sepulang kantor sambil makan bakso bareng teman! Nah di taman inilah terjadi ‘adegan miskom ke-5’ saat seorang tukang es krim lewat dan menawarkan dagangannya. Aku memesan 1 cone es krim, tapi dibikinkan 3. padahal aku sudah dengan nada tinggi bilang “ONE! Only ONE, no more!” (macam lagu Adele saja – One and Only. Hehe) Tapi tetep aja si abang es krim nya cuek bebek bikin 3 cone. Dasar Ondos! Hiiih, tambah bikin emosi saat dia keukeuh minta bayaran atas 3 cone itu sebesar VND 60.000. Adu ngotot lah antara bahasa dewa vs bahasa Inggris. Enak aja nembak harga es krim semahal itu, lagian siapa yang pesan 3 cone coba? Akhirnya tawar menawar setengah marah pun terjadi, sampai cone es krim nya bolak-balik berpindah tangan dari abang itu ke tangan kami trus ke abang nya lagi. Hayaaah… nih abang tetep ngotot suruh kami bayar. Akhirnya aku kasih selembar VND 20.000 dan aku ambil 2 cone es krim itu (setengah maksa sih ngambilnya! LOL) Bukan bermaksud kejam atau perhitungan, cuma aku sudah sering dengar warning bahwa di taman ini banyak terjadi kasus scam atau penipuan pada turis. Makanya lebih baik sedikit galak daripada dipalak. 
@ City Hall

Lanjut keliling District 1 demi menemukan sebuah supermarket, kami malah nggak sengaja ketemu sama landmark nya HCM City, yaitu City Hall dengan patung Paman Ho yang sedang memangku anak kecil itu. Landmark inilah yang sering muncul saat kita googling tentang HCM. Foto-foto lah kami disana, dibawah sengatan matahari yang ampun-ampunan panasnya hari itu. Lanjut lagi, gan! Kembali menyusuri Le Loi Avenue, kami lagi-lagi nggak sengaja ketemu Café Trung Nguyen. Waaah… ini dia tujuan utama ke Vietnam, apalagi kalau bukan beli kopi Trung Nguyen yang famous itu. Pilih-pilih berbagai macam kopi, tak terasa setelah di kasir, angka di monitor menunjukkan hampir SATU JUTA VND! Omaigat, ini sama artinya dengan setengah juta rupiah kami habiskan buat kopi. Hahaha…. Belanja terbanyak nih sepertinya. Tapi nggak apa-apa, karena memang sudah diniatin mau beli Trung Nguyen di Vietnam. Dan sukseslah kopi-kopi itu memenuhi 1 travel bag full, yang akhirnya kami titipkan di café itu, sementara kami pergi ke Cho Ben Thanh. 
Trung Nguyen Coffee

Patung didepan Ben Thanh
Cho Ben Thanh

Dengan sisa Dong didompet, sudah pasti nggak bisa belanja macem-macem lagi nih di Ben Thanh, hanya cukup untuk makan siang dan ongkos ke airport nanti sore. Kami menuju bagian belakang pasar, disana terdapat banyak kios makanan. Kami pesan seporsi nasi goreng dan spring roll, dimakan bertiga. Jadi backpacker yang nggak kuat iman belanja, harus siap makan seadanya dan ngirit. Haha…. Sepulang dari Ben Thanh, kami bergantian menggotong tas besar isi kopi yang lumayan berat itu menuju hostel tempat kami titip barang. Sampai di hostel, istirahat sebentar sambil ngobrol sama pemilik hostel. Tak lupa kami meninggalkan kenang-kenangan berupa uang kertas Rp.2000 yang kami tulis-tulisi nama kami, kemudian memasukkannya kedalam kaca di meja tamu, bersama ratusan kartu nama-foto-dan uang kertas peninggalan para tamu yang menginap disana. Rupanya ini sebagai memorable media, tempat para tamu meninggalkan kesan pesan selama menginap disana. Cukup unik! 
daftar menu makanan dengan bahasa dewa :p
nasi goreng seafood, lumayan enak!
spring rolls
rasanya nendang!
 
Setelah berpamitan dan berterimakasih pada pemilik hostel yang baik hati itu, kami kembali berjuang jalan kaki dengan menggendong ransel dan menyeret tas isi kopi, menuju terminal bus didepan Ben Thanh. Jalan kaki di HCM harus punya mata ayam, alias kanan kiri harus diperhatikan. Salah-salah nyebrang jalan bisa ditabrak sepeda motor yang jumlahnya bagai lebah dijalanan. Jalan kaki tanpa bawaan saja sudah repot saat nyebrang, apalagi dengan bawaan segambreng begini! Dari Pham Ngu Lao ke Ben Thanh, kami harus jalan kaki sejauh kurang lebih 1km, dengan 6 kali menyeberang jalan termasuk 1 kali menyeberang di ‘simpang setan’. Kenapa kami sebut simpang setan? Karena persimpangan ini adalah muara dari 7 jalan, dengan kondisi jalan yang ampun-ampunan semrawutnya oleh sepeda motor. Pilihannya hanya ada dua: takut-takut nyebrang atau pasang badan dengan taruhan nyawa! Haha, bukan mau lebay tapi memang beneran bikin migrain ini simpang setan. Akhirnya kami bertekad, pasang badan (pasang tas dipunggung) menyeberang dengan gagah berani melintasi simpang setan ini. Thanks God, motor-motor itu pandai bermanuver dan ngerem pakem, berusaha menghindari 3 cewek nekat yang nggak takut mati ini. Sayang batere kamera sudah sekarat, sehingga tak sempat mengabadikan keganasan dari Simpang Setan ini. (-.-“)
peninggalan kami di meja tamu @ Mymy Arthouse :)

Kami naik bus nomor 152, jurusan Tan Son Naht Airport, dengan tarif VND 3000 saja (lebih murah dari Kopaja!). Kami sampai di airport satu jam sebelum boarding. Dan percaya nggak, berapa sisa Dong yang ada di dompetku saat itu? Hanya VND 2000 alias cuma seribu perak! *LOL* Total aku hanya menghabiskan $130 saja untuk survive 4 hari di 2 kota di Vietnam Selatan ini. Dan yang selalu bikin kangen dari Vietnam adalah: Es Kopi Susu + Com Tam Binh Dan nya! So, see you Ho Chi Minh city, I’ll be back someday! Cam Eeennn…. (*Cam En: terima kasih)
dan kami pun kelelahan :-Q

Monday, December 12, 2011

A Lil' Step to.... Bangkok & Pattaya - Thailand

            Bangkok Trip – Day 1

Sawasdee ka…..!! Baru tiga minggu yang lalu saya pulang dari summer holiday di Phuket – South Thailand, pagi ini saya sudah nongkrong di Soetta airport untuk terbang kembali ke negeri Gajah Putih itu. Namun kali ini bukan untuk liburan 100%, melainkan juga dalam rangka tugas dari kantor. Ya gak papa lah, bekerja sambil liburan tho namanya. Hehe… Saya akan bagikan pengalaman liburan saya selama 5 hari di Bangkok dan Pattaya. Cekidooott….
Kali ini saya dapat flight Malaysia Airlines pukul 5 pagi, first flight. Namun karena ini merupakan maskapai asal Malaysia, flightnya pun diwajibkan transit terlebih dahulu di Kuala Lumpur selama 1 jam. Jadi total perjalanan saya kali ini ke Bangkok memakan waktu 5 jam! Jauh lebih lama disbanding dengan direct flight JKT-BKK yang Cuma butuh waktu 3 jam penerbangan. Hmm…tp gak papa deh, toh ini juga dibayarin kantor tiketnya, plus dapat 2x makan pula dipesawat! Hehehe….
Pukul 10.00 saya tiba di Suvarnabhumi Airport – Bangkok. Tidak ada perbedaan waktu antara Thailand dan Indonesia. Suvarnabhumi Airport ini bersih, modern, dan langsung terasa ‘aura’ Thai nya, lantaran banyak ornamen2 khas Thai  di berbagai penjuru airport. Dari airport saya langsung menuju Din Daeng District untuk makan siang. Kali ini saya nggak sebutkan ya makan dimana dan habis berapa, karna lagi2 dengan alasan: kali ini saya nggak backpackingan, melainkan urusan kantor. Hihihi…

Patung megah di Suvarnabhumi Airport
Selesai lunch, saya langsung meluncur ke Chatucak Weekend Market, karena kebetulan hari itu hari Minggu. Untuk mengexplore chatucak ini, rasanya butuh waktu berhari-hari lantaran luas Chatucak yang mencakup hingga beberapa hektar lahan dengan beberapa ribu kios didalamnya! Tak heran Chatucak disebut-sebut sebagai “The largest Market In The World”. Oleh karena itu tak hanya waktu luang yang dibutuhkan, namun juga stamina dan tas belanja yang besar untuk menjelajah setiap sudut Chatucak. Karena segala hal A-Z ada semua disini.
Siang itu saya menghabiskan 4 jam untuk mblusak-mblusuk di Chatucak. Itu pun saya rasa baru 30% nya saja dari luas Chatucak seluruhnya yang berhasil saya jelajahi hari itu. Dimulai dari area dekat JJ Mall, saya menyusuri gang-gang yang penuh dengan jejeran kios beraneka ragam. Pasar ini sangat rapi, dibagi menjadi puluhan blok sesuai kategori barang dagangannya. Ada blok souvenir, baju, furniture, kerajinan tangan, dll.
Disini saya berhasil menawar tas cangklong warna-warni khas Thailand dari harga THB 150 menjadi THB 80 saja. Berhubung untuk oleh2, saya borong saja 1 lusin. Begitu pula dengan tempat tissue, pajangan dinding, dompet, magnet kulkas, dll semuanya bisa ditawar hingga ½ harga. Karena belanja banyak di kios ini, saya dapat bonus 1 set gantungan kunci. Asyiiik…. Lumayan buat tambahan oleh2. Lanjut lagi berjalan menyusuri pasar dengan ransel yang kian menggelembung. Beli ini itu sampai akhirnya saya sadar, uang Bath di dompet saya habis! Weww…. Akhirnya mau tak mau saya balik lagi ke JJ Mall untuk mencari Money Changer. Haha…

Chatucak Market

Singkat kata, setelah 4 jam menggila di Chatucak dan menghabiskan beberapa ribu Bath, saya kembali ke mobil dengan menggendong ransel gendut dan membopong tas belanja. Fiiuuhhh…. Udah ah, tobat belanjanya! Masih ada 4hr kedepan soalnya. Oia, di Chatucak ini banyak kios2 makanan berjejer di pinggir pasar. Kalau mau cobain makanan Thai yang aneh2 ada semua disini. Aroma serangga goreng, octopus bakar, kodok panggang, semua bercampur di udara. Saya sih bukan tipe2 “extreme food hunter”, jadi saya cukup menikmati Milk Thai Ice Tea favorit saya dan aneka macam handmade sosis & seafood bakar. Ada sih beberapa orang dari rombongan saya yang mencoba belalang goreng dan keripik ulat. Ouch…. Saya sih gak berani coba! Hihihi…
Selesai ngubek-ubek Chatucak, saya menuju Madame Tussaud Museum di Siam Discovery, kawasan Siam Square. Namun ternyata macetnya Bangkok jauh lebih bikin stress ketimbang Jakarta lho… Hadeh…. 5 hari disana bikin saya bete tiap kali di jalanan, macetnya parah!
Saya menghabiskan 1 jam berkeliling Madame Tussaud. Walau tak sebesar Madame Tussaud yang di Hongkong, museum patung lilin dengan 11 section ini mampu membuat hati senang. Kenapa? Ya karena bisa ketemu tokoh2 terkenal di dunia, walaupun hanya sebatas patung lilinnya saja. Hehehe…. Saya pun tak menyia-nyiakan foto bareng orang2 ganteng seperti Steven Gerard, Nicholas Cage, Brad Pitt. Dan yan paling bikin saya girang adalah ketemu sang pujaan hati, Will Smith!! Biarin deh dibilang norak, habis saya emang kesemsem banget sama si hitam manis Will Smith dari dulu. Haha…

Me n my love... Will Smith! :D
Puas mengexplore Madame Tussaud, saya meluncur ke Royal Dragon Restaurant di kawasan Bang Na. Restaurant kebanggaan Bangkok ini pernah menyabet gelar  “The World Largest Restaurant” by Guinness Book of Record pada tahun 1992. Konon restaurant ini mampu menampung 5.000 customers, dengan 1200 staff dan luas area lebih dari 1.600m2. Wow!! Soal rasa? Jangan ditanya…. Seafood nya maknyuusss…..
Malam itu saya menginap di Amari Atrium Hotel di kawasan Petchaburi. Hotel bintang 4 ini lumayan oke, namun sayang lokasinya kurang strategis, sehingga agak jauh kalau mau kemana-mana.

Note: Jika bukan karena urusan kantor, saya pasti memilih kawasan Khaosan Road untuk menginap. Karena kawasan ini adalah pusatnya backpacker di Bangkok. Jadi banyak banget hostel2 dan tempat makan yang low budget, sesuai dengan kebutuhan.



Bangkok Trip – Day 2

Hari ini saya meninggalkan kota Bangkok untuk menuju Pattaya, sebuah kota berpantai dengan jarak 2-3 jam perjalanan darat. Tak lupa saya mampir ke Sriracha Zoo & Tiger Farm untuk melihat uniknya interaksi antar hewan2 disana. Serta menonton atraksi2 binatang buas yang menakjubkan.
Setiba di Pattaya, saya langsung menonton Alcazar cabaret show. Alcazar Show ini adalah show cabaret dengan tata panggung yang dramatis serta para pemain yang cuantik cantik. Eitz, tapi jangan tertipu…. Mereka ini bukanlah perempuan tulen, melainkan para waria/banci yang sudah dipermak sana sini. Ya, banci2 Thailand memang sudah tak asing lagi di telinga kita. Kecantikan banci2 Thailand bahkan bisa mengalahkan kecantikan artis2 wanita tulen disana. Saking cantiknya, mereka terlihat bak boneka Barbie diatas panggung. Mereka bernyanyi lip-sync dan menari selama show kurang lebih 1 jam ini. Selesai show mereka akan berbaris disamping gedung pertunjukan menawarkan diri untuk berfoto dengan pengunjung. Tarif 1x foto bersama seorang waria disana sekitar THB 40-50. Cukup murah bukan? Hmmm…. Tapi ada pepatah mengatakan: “Jika anda seorang wanita, jangan berfoto dengan banci Thailand jika tak ingin disangka Anda lah pembokatnya!” Hahaha….
Malam itu, saya menghabiskan setengah malam di Hard Rock Café Pattaya bersama teman-teman, sembari menikmati semilir angin pantai dan ditemani beberapa botol Hei**ken dan Chang (merk khas Thailand). Puas ngobrol2 kamipun berjalan kaki menyusuri pantai kembali ke hotel tempat kami menginap malam itu, A-One Royal Cruise Hotel. Diperjalanan, kebetulan kami bertemu penjual sate sosis keliling. Berbagai macam sosis, seafood, kulit ayam, kodok, bahkan kalajengking goreng pun ada! Mumpung di Thailand, tak ragu lagi kami pun menjajal si Kalajengking goreng, Ulat goreng crispy, dan belalang goreng. Rasanya??? Mmm…. Silahkan anda coba sendiri. Hehehe…… Asin-asin campur sangit-sangit gimanaaaa gitu! Hihi…..



Bangkok Trip – Day 3

Hmmm…. Bangun kesiangan pagi ini. Gagal deh rencana jalan2 pagi di pantai Pattaya! Haha…. Alhasil bersantai saja sarapan pagi di swimming pool area. Namun sayang cuaca hari itu kurang bersahabat, hujan rintik2 pun membasahi Pattaya.

Breakfast @ A-One Royal Cruise
Setelah hujan reda, saya check out dari hotel. Ya, saya hanya menginap satu malam di Pattaya karena padatnya jadwal kegiatan dan jalan2 yang sudah disusun. Saya kemudian menuju ke Nongnooch Village Botanical Garden. Mau ngapain disana? Ya pastinya mau lihat keindahan kebun bunga dan tanaman2 unik disana. Serta menonton pertunjukan Thai Dance dan atraksi gajah yang konon katanya ‘lebih pintar’ dari gajah2 di Sriracha Zoo.

Butterfly Hills - Nongnooch Village
Di Nongnooch Village, saya menyaksikan pertunjukan Thai Dance kolosal, menonton atraksi serombongan gajah pintar dan atraktif, foto2 bersama Harimau, gajah, dan burung Kakatua pintar, serta berkeliling di taman bunga serta maze. Untuk berkeliling taman bunga, kita bisa naik mobil mini terbuka dengan tarif THB 100 untuk sekali keliling. Lumayan bisa dapat spot2 menarik untuk foto2. Namun karena cuaca terik, kali itu saya tidak ikutan keliling taman. Saya menghabiskan waktu dengan nongkrong di salah satu café outdoor didalam komplek taman, sambil menikmati Ice Chocolate dan buah-buahan tropis dingin dibawah lambaian pepohonan diatas kepala saya. Hmmm…. Segaaarrrrr…. Tak ketinggalan juga Durian Monthong nya!

@ Nongnooch Village
Puas leyeh-leyeh di Nongnooch Village, sore harinya saya melanjutkan perjalanan kembali ke Bangkok. Tujuan kali ini adalah MBK atau Mahbongkroong. Sebuah dept.store macam Mangga Dua yang sarat barang2 fashion dengan harga terjangkau. Di MBK saya memborong produk Boots (yang memang menjadi tujuan utama saya belanja kali ini). Karena produk2 perawatan Boots tidak dijual di Indonesia, maka inilah kesempatan memborong segala macam produk kecantikan dan perawatan tubuh di toko ini. Dua kantong plastik besar penuh dengan produk perawatan, cukup bikin saya kerepotan saat membawanya menyusuri MBK. Hehe… gapapa lah, niatnya emang bukan cuma untuk dipakai sendiri, tapi juga dipasarkan melalui online shop saya. Hihi….



Bangkok Trip – Day 4

Selamat pagi Bangkok! Cuaca cerah dan pemandangan dari lantai 16 hotel Amari Atrium ini cukup oke sebagai pencerah mata saya yang masih ngantuk. Rencana hari ini, saya mau mengeksplore spot2 wisata utama di kota Bangkok. Maka, selesai sarapan saya langsung meluncur menuju pusat kota. (maklum hotel tempat saya menginap terletak agak di pinggir kota) hehehe…
Spot Pertama, melewati Erawan Shrine. Sebuah tempat pemujaan yang konon dipercaya dapat membawa keberuntungan dan kekayaan bagi siapapun yang sembahyang dengan rutin di kuil mini ini. Mungkin kalau di Indonesia semacam tempat untuk cari pesugihan gitu kali ya… katanya sih banyak orang dari berbagai penjuru yang datang kesini dan meletakkan sesajen dengan harapan doa mereka terkabul dan keberuntungan selalu menyertai mereka. Kuil mini ini terletak dipelataran Grand Hyatt Erawan, dekat dengan beberapa shopping centre seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza. Letaknya yang strategis di perempatan jalan membuat tempat ini selalu ramai dikunjungi setiap hari. So, mau coba cari peruntungan di Erawan Shrine? Saya sih gak minat, makanya cuma lewat sambil melongok-longok saja. Hehehe…..
Spot Kedua: Saya menuju Grand Palace, sebuah istana yang pernah ditinggali keluarga raja sejak tahun 1700 sampai pertengahan 1900. Raja yang saat ini menjabat, Raja Bhumibol, kini tinggal di Chitralada Palace, istana resmi tempat tinggal keluarga raja di masa kini. Sedangkan Grand Palace sendiri kini murni sebagai tempat tujuan wisata. Didalam komplek Grand Palace ini, terdapat banyak bangunan yang didominasi warna emas. So jangan lupa siapkan sunglasses anda, apalagi dalam cuaca terik, karena sebagian besar bangunan didalam komplek ini dapat menyilaukan mata anda! Hehe…. Ada sebuah kuil yang sangat indah didalam komplek ini, Wat Phra Kaew. Kuil yang keseluruhan bangunan nya berlapis emas ini merupakan bangunan kuil perpaduan Thailand dan Cambodia, dimana terdapat bentuk2 hasil adopsi dari Angkor Wat didalam komplek kuil ini. Lelah berkeliling di komplek istana, saya melanjutkan perjalanan menuju sebuah pasar didekat komplek istana. Tak lupa saya membeli buah potong segar yang disiram saus asam manis, lumayan untuk mendinginkan ubun2 saya yang sudah berasap, saking panasnya cuaca siang itu.

Keramaian Grand Palace
Spot Ketiga: saya berjalan kaki menyeberangi bagian dalam pasar menuju pelabuhan kecil untuk menuju Wat Arun. Dengan menaiki perahu motor, saya dan rombongan dibawa menyusuri sungai Chao Phraya dan mampir ke sebuah kuil ditepi sungai. Bukan untuk turun dan masuk ke kuil tersebut, melainkan untuk memberi makan ikan patin dari atas perahu. Ikan patin di kuil ini bukan ikan biasa menurut masyarakat setempat. Ikan2 ini dianggap keramat dan disucikan. Selain ukurannya yang sangat besar, berbeda dengan ikan patin biasa, warna ikan2 ini pun abu2 pucat. Bahkan jika anda beruntung, anda dapat melihat ikan yang berwarna putih, dan itu tandanya doa yang anda panjatkan akan terkabul. Perjalanan dilanjutkan menuju kuil Wat Arun atau sering disebut Temple of the Dawn (Kuil Embun). Kuil ini unik, karena seluruh permukaannya dilapisi pecahan porselen warna-warni yang disusun membentuk lukisan dan gambar2 indah. Wow! Amazing…. Yang membedakan kuil ini dengan kuil2 lainnya di Bangkok adalah, kuil ini tidak berwarna emas, melainkan warna-warni porselen. Sangat indah!

Lapisan porselen warna-warni di dinding Wat Arun
Oiya, disebelah kuil ini terdapat sebuah sentra oleh2, dimana kita bisa mendapatkan berbagai souvenir khas Thailand. Disini, saya dapat selusin gantungan kunci gajah hanya seharga THB 100 saja. Juga kaos bergambar gajah, untuk dewasa dan anak2 pun harganya cukup murah disini. Hmmm…. Lagi2 ransel saya menggelembung! Hahaha…. Selesai belanja, saya kembali menaiki perahu motor untuk menyeberangi sungai Chao Phraya. Nah, saat saya menunggu bus di tepi jalan ini, saya ketemu tukang es krim khas Thailand; es krim buah dan sayur! Es krim ini semacam es “Tung-tung” kalo di Indonesia. Penyajiannya pun sama, dua scoop es krim ditaruh diatas selembar roti tawar, yang cukup dilapisi tissue dibagian bawahnya. Bedanya, kalo di Indo rasa es tung-tung biasanya seputar nangka, alpukat, duren, atau coklat. Tapi di Bangkok ini, rasanya perpaduan buah dan sayur. Terbukti dari adanya potongan kecil2 buah nangka, mangga, pepaya, kacang kapri, buncis, dll. Penasaran rasanya? Hmmm…. Nagih!!! (ngebayanginnya aja ngilerrrr….) (>,<!)
Spot Keempat: Wat Pho. Masih terletak dikawasan sekitar Grand Palace, saya menyusuri jalan menuju komplek The Nine Wonders of Wat Pho. Di komplek ini terdapat Patung Buddha Tidur atau Reclining Buddha yang tersohor itu. Dengan panjang 46m dan tinggi 15m, keseluruhan patung ini berlapis emas dan mata patung terbuat dari mutiara. Sebetulnya selain Reclining Buddha, masih ada 8 spot menarik lainnya didalam komplek ini. Spot2 tersebut mempunyai karakteristik dan kisahnya masing2. Namun keterbatasan waktu yang saya miliki membuat saya tak sempat menjelajahi komplek ini lebih jauh lagi. Ditambah waktu pun sudah sore dan mendung tebal sudah menggelayut diatas Bangkok. Saya pun memutuskan kembali ke hotel karena hujan deras mulai mengguyur macetnya kota Bangkok sore itu.

Macetnya Bangkok :(
Malam itu, setelah istirahat sebentar di hotel sambil menunggu hujan reda, saya memutuskan untuk wisata kuliner. Bersama beberapa teman, saya naik taxi menuju kawasan Phahurat (Bangkok’s Little India) untuk mencoba beberapa stall makanan dipinggir jalan. Namun jenis makanan di kawasan ini rata2 makanan Timur Tengah seperti Sish Kebab, Briyani, Prata, Kari, dll. Ah, sudah biasa sepertinya di Indo juga banyak! Haha…. Kamipun lanjut naik taxi lagi (berhubung sudah diatas jam10 malam, agak susah cari bus) menuju ke Yaowarat atau lebih dikenal dengan China Town. Disepanjang jalan banyak berjejer seafood stall. Tujuan kami adalah stall “Shark Fin Soup” atau “Sup Sirip Ikan Hiu” yang notabene makanan langka itu! Ouch… denger nya aja udah miris banget, apalagi makan! Waduh, gak deh… Saya gak tega ngebayangin ikan hiu dimasak! Haha…. Alhasil saya gak ikutan makan si hiu, melainkan berburu cemilan macam Roasted Chestnut, Sausage satay, dan es buah. Cemal-cemil sana sini bikin lupa waktu sampai lewat tengah malam. Akhirnya setelah kantuk mendera dan perut begah, kami pun kembali ke hotel.



Bangkok Trip – Day 5

Hoaammmm…..!! Hari ini bangun kesiangan lagiiii…. Kalo pintu kamar saya ga digedor mungkin saya bisa molor sampai siang! Hari itu gak ada jadwal kemana-mana. Freetime sampai siang lalu ke airport untuk kembali ke Tanah Air. Saya pun mulai packing, koper-travelbag-ransel, semua gendut-gendut! Hihi… berdoa semoga bagasi gak over weight!
Selesai sarapan, saya check out hotel kemudian langsung menuju airport. Oiya, diperjalanan, saya masih sempat mampir Big-C, sebuah department store yang gak terlalu besar, namun lumayan oke buat menghabiskan sisa Bath didompet! Di Big-C ini saya jajan kuliner saja, selagi para peserta rombongan yg lain sedang berburu ini itu. Siang itu saya jajan Thai Milk Ice Tea, Honey Waffle, Chestnut, dan Thai Crepes. Hadeh, pokoknya kalo liburan di Thai pastiiiii bikin gemuk, secara jajan nya banyak! Hahaha…..
Akhirnya, tiba saatnya saya harus kembali ke Tanah Air…. Hujan siang itu turun saat saya tiba di Suvarnabhumi Airport. Hmm…. Masih ada waktu 2 jam sebelum boarding, saya manfaatkan (lagi-lagi) menghabiskan sisa recehan Bath dikantong! Beberapa bungkus manisan mangga, permen durian, dan coklat berhasil dipaksa masuk ke ransel yang sudah teriak-teriak kepenuhan! Hihihi….
Sebuah perjalanan yang menyenangkan, 5 hari berada di Bangkok dan Pattaya. Meski diwarnai hujan selama 3 hari dan macet setiap hari, namun okelah untuk menetralisir stress saya. Lain kali, saya sih masih mau banget liburan kesini lagi, tentunya tanpa dibarengi dengan urusan kantor. Supaya saya bisa menyelusuri lebih jauh lagi ke seluruh pelosok kota Bangkok, bisa membaur dengan masyarakat lokal, bisa mengenal budaya Thai lebih dalam lagi, dan tentunya bisa liburan ala Backpacker kembali! Hoho…. Kaphoonkaa Bangkok, see u next time! Sawasdee ka…… \(^_^)/




Saturday, November 19, 2011

A Lil' Step to..... Phuket - South Thailand


       
            Phuket Trip – Day 1

It’s Summer! Time to touch beaches…… Ya, tujuan liburan saya kali ini adalah Phuket, sebuah provinsi di daerah selatan Thailand. Phuket sudah sangat terkenal dengan udara tropisnya, pantai-pantai indahnya, kuliner khasnya, dan keramahannya. Lagi-lagi saya beruntung dapat tiket promo Air Asia. Hehe… Dan kembali saya menyandang backpack dipunggung menuju Soetta Airport.
Suasana Airport siang itu cukup ramai, karena memang pas lagi musim liburan sekolah kali ya…. Kali ini saya berangkat bersama Rebecca (lagi). Sebenarnya kami liburan bertiga dengan Angelina juga, tapi Angel sudah berangkat duluan ke Bangkok seminggu yang lalu. Jadi nanti kami ketemuan di Phuket International Aiport.
Flight kami sore itu delay selama 40 menit, katanya sih karena cuaca di Phuket sedang kurang bagus. Akhirnya kami take off jam 4.45 sore. Butuh waktu tempuh selama 3 jam dari Jakarta – Phuket, dengan catatn direct flight yaaa….. untungnya sekarang Air Asia ada direct flight ke Phuket, jadi ga perlu repot2 transit lg deh…. Hehe…
½ jam sebelum mendarat, cuaca diatas kota Phuket memburuk. Hujan dan turbulence mengguncang pesawat kami. Untungnya cuma selama 15 menit aja sih pesawatnya shaking, tp lumayan berhasil juga bikin si Rebecca mabuk udara! Hihihi….. Sampai di Phuket International Airport langit masih mendung, dan waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Kasian Angelina yang sudah menunggu kami sejak sore tadi…
Rencana awal, kami mau naik Airport Shuttle Bus dari bandara ke tempat kami menginap, tapi ternyata akibat flight tadi delay, kami ketinggalan bus. Dan jadwal keberangkatan bus selanjutnya masih 45 menit kedepan. Kelamaan! Selain udah kemaleman, laper, dan kondisi teman kami Rebecca sudah lemas akibat mabuk, kami pun memutuskan untuk mencarter minivan yang banyak ngetem disekitar pintu keluar arrival. Tawar menawar, akhirnya sepakat di harga THB 200 (Rp 60rb) untuk bertiga. Lumayan murah untuk ukuran sebuah private minivan, yang isinya cuma kami bertiga. Kami pun minta diantar ke Lub Sbuy Guesthouse, sebuah penginapan backpacker di kawasan Phuket Town. Seperti biasa, kami booking hostel ini melalui www.hostelworld.com. Kami booking kamar Japanese Room, sebuah kamar dengan tiga tempat tidur ala jepang, kipas angin, dan shared bathroom yang bersih. Cuma seharga +/- Rp.90 rb /org semalam, kami dapat tempat tinggal yang bersih dan strategis didekat terminal bus Phuket Town.
Malam itu sesampainya di hostel, kami langsung keluar cari makan. Sudah melapar sangat….. kami ketemu tukang jajanan sosis di perempatan jalan depan terminal. Isi dagangannya variatif, semuanya serba ditusuk. Mulai dari sosis, shrimp, baso, tofu, cumi, dll. Ada pork, beef, chicken, dan seafood. Harga per tusuk nya Cuma THB 5-10 saja! (Rp.1500-3000) Sate tersebut digoreng, kemudian makannya pakai saus khas Thailand dengan potongan timun segar. Hmmmm……maknyuuusssss! (saya aja sampai ngiler pas nulis ini krn ngebayangin enaknya sate sosis itu…) hehe…
Berdasarkan keterangan si bapak tukang sosis tersebut, kami melangkahkan kaki menyusuri Phuket Town yang sudah sangat sepi tersebut (padahal masih jam10 malam). Sekitar 10 menit jalan kaki, kami tiba di sebuah pasar malam di Ong Sim Phai Road, belakang Robinson Mall. Dipasar itu berjejer kios2 yang menjual berbagai makanan (mirip Jl.Alor di KL. Baca postingan saya sebelumnya). Kami memesan Tom Yam, Pad Thai, Crispy Vegie Noodle, dan tak lupa Thai Herbal Tea. Range harga di pasar ini di kisaran +/- Rp.30.000an /porsi.



Phuket  Trip – Day 2

Hari Sabtu pagi planning kami akan mengeksplore kota Phuket keseluruhan. Pertama-tama kami menyusuri Phang Nga Road menuju Phuket Old Town, sebuah district yang dipenuhi bangunan2 bergaya Sino Portuguese peninggalan jaman dulu. Di perempatan jalan tempat bertemunya Phuket Rd dan Phang Nga Rd, ada sebuah bangunan antik dengan Jam besar diatasnya. Lumayan oke buat foto2. Namun sayang, kota Phuket Town ini terlihat semrawut dengan juntaian kabel2 listrik dan telepon yang terpasang secara asal-asalan disetiap tiang listrik di sepanjang jalan. Benar-benar merusak pemandangan!

gerah liatnya :(
Sampai diujung jalan Phang Nga Rd, kami belok kanan menuju jalan Yaowart Rd, menuju sebuah tempat makan bernama “Local Food”. Namun sayang, kami datang kepagian, alhasil beberapa kios makanan belum membuka gerobak dagangan mereka. Sarapan kali ini kurang nendang menurut saya, rasa makanan ditempat itu kurang pas di lidah. Kami pun melanjutkan berjalan kaki kearah Thalat Dibuk Rd. Karena menurut peta ditangan kami, di jalan Dibuk ini ada sebuat Wat (kuil), yang rasanya patut untuk dikunjungi.
Kami pun tiba disebuah Wat yang terletak di belakang sebuah sekolah. Nama kuil ini Wat Puttamongkon. Bagi saya yang belum pernah melihat keindahan Wat Thailand sebelumnya, Wat Puttamongkon ini cukup indah arsitekturnya. Dengan didominasi warna emas dan merah sebagai cirri khas kuil Buddha di Thailand. Namun, Angelina yang sudah seminggu di Bangkok mengingatkan, masih ada Wat-wat lain yang lebih indah di seluruh penjuru Thailand ini. Hehe….. Pada saat kami ke Wat ini, sedang ada upacara kremasi. Kami pun buru-buru keluar komplek, ngeri euy! Tak lupa kami mencicipi sate pisang bakar siram vanilla fla yang dijual keliling didalam komplek Wat ini.

Phuket Old Town
Saat kami keluar komplek, ada seorang sopir tuk-tuk yang menawarkan kami keliling Phuket Town dengan harga murah. Setelah tawar-menawar, disepakati harga THB 250 untuk keliling kota mengunjungi spot2 wisata menarik dikota itu, termasuk Wat yang paling terkenal di Phuket, Wat Chalong!
Destinasi pertama kami adalah Big Buddha. Sebuah kuil dengan patung Buddha setinggi 18m dilereng bukit yang menghadap ke kota Phuket. Big Buddha ini terletak satu komplek dengan sebuah Wat cantik yang baru saja dibangun (atau direnovasi mungkin). Keseluruhan bangunan wat ini didominasi warna emas dengan bagian dalam yang dinding dan langit-langitnya dilukis dengan sangat indah.
@ Big Buddha
Puas foto2, kami lanjut ke Rang Hill – Phuket View Point. Tempat ini adalah puncak bukit dimana terdapat spot utama tempat melihat pemandangan seluruh kota Phuket dari ketinggian. Bahkan Andaman Sea pun terlihat jelas disini. Selanjutnya kami turun bukit menuju pusat kota Phuket untuk booking trip ke Phi-Phi besok hari Sabtu. Kami mendapat harga THB 900 /pax (Rp.270rb) untuk One Day Trip to Phi-Phi Island, sudah termasuk akomodasi antar-jemput, makan, cruise ship, dan alat snorkeling. Selain itu kami juga membeli paket One Day Tour ke Phang Nga Bay atau yang lebih dikenal dengan James Bond Island untuk hari Minggu. Harga per paketnya THB 700 /org, atau sekitar Rp.210.000 saja.

Phuket Town view
Selanjutnya kami menuju luar kota Phuket bagian selatan, ke kuil Wat Chalong. Diperjalanan kami diajak mampir ke Gems Store dan Toko cemilan terkenal yang bernama “Sri Bhurapa Orchid”. Disini, kita bisa membeli oleh2 makanan khas Thai, seperti manisan buah kering, permen asem, dan teng-teng kacang mede.
Tepat jam 2 siang, kami tiba di komplek Wat terbesar di Phuket; Wat Chalong. Cuaca sedang panas-panasnya saat itu, dan sialnya tak satupun dari kami pakai sunblock!! Kebayang donk gimana itemnya foto2 ditengah terik matahari ganas begitu….

Wat Chalong
Komplek wat ini terdiri dari beberapa bangunan kuil. Dibagian depan ada sebuah cerobong asap tempat pembakaran petasan, yang menyala tiap beberapa saat. Siap-siap tutup kuping deh tiap kali ada yang nyalain petasan disini, karena suaranya itu lho…. Bikin budeg siapapun yang lewat didepannya! Haha…

Singkat kata, setelah puas menggosongkan diri foto2 di komplek Wat Chalong itu, kami dibawa kembali ke kota oleh tukang tuk-tuk sewaan kami. Dengan tak lupa mampir ke toko Spa Aromatherapy “Mook Phuket” didekat pasar tradisional “Chatucak Phuket”; tujuan kami terakhir hari itu.
Di Chatucak sore itu, kami berwisata kuliner mencicipi makanan2 khas yang banyak dijual murah di pasar itu. Mulai dari sate sosis aneka rasa, sate seafood, aneka sushi warna-warni, Thai Crepes, dll. Setelah puas icip2, kami mulai mengeksplore pasar Chatucak Phuket ini. Kenapa namanya sama dengan Pasar Chatucak Bangkok? Ya karena pasar ini adanya cuma pas weekend dan hampir serupa dengan pasar yang di Bangkok itu.
Mayoritas barang2 yang dijual disini seputar fashion dan souvenir. Baju2 trendy dengan harga miring berjejer cantik di tiap kios. Modelnya serupa dengan baju2 yang banyak dijual di online shop di Indonesia, yang biasanya dengan embel-embel PO Korea. Hehe…  Kami dapat beberapa barang unik disini, diantaranya miniatur minuman keras bermerk Jack Daniels, Vodka, Black Label, dll. Harganya pun relatif miring dibandingkan dengan miniatur minuman yang biasa dijual di Duty Free Shop airport. Kami pun mendapat asesoris lucu2, serupa yg dijual di olshop Indonesia dengan embel2 PO-POan itu, dengan harga 5x lebih murah dari harga olshop!! Yippiiieeee……..
Maksud hati masih ingin menjelajah pasar tersebut, namun apa daya kaki kami sudah sangat kelelahan. Betis pun sudah berkonde gede-gede! Hehe… akhirnya kami naik ojek untuk pulang ke penginapan…. Hmmmm….hari yang melelahkan namun sarat pengalaman.


Phuket Trip – Day 3

Hari ini kami bangun kesiangan karena malamnya kecapean muter2 pasar Chatucak Phuket, padahal pagi ini kami akan dijemput jam8 pagi untuk One Day Trip ke Phi-phi Island. Untungnya si sopir penjemput mau berbaik hati menunggu kami siap. Kami semobil dengan sekitar 8 orang lainnya yang rata2 bule. Kami dibawa ke pier / pelabuhan yang jaraknya tak jauh dari kota Phuket.
Boat kami, Sea Angel Luxury, sudah tertambat rapi di pier tersebut. Suasana pelabuhan cukup ramai. Dan tepat jam8.30 boat Sea Angel pun bertolak. Tak lama, breakfast ringan pun dibagikan; teh dan kue. Kami kebagian tempat duduk di dek kedua, open air, jadi dijamin selama 2 jam kedepan bakal berangin-angin ria diatas dek kapal. Hehe… no wonder si Rebecca pun akhirnya K.O lagi ditengah perjalanan. Mungkin karena Becca tidak kuat dengan ayunan gelombang laut dan terpaan angina kencang, makanya doi mabuk laut dan teler.

otw to Phi-phi
Sepanjang perjalanan, laut mulai berubah warna. Dari biru keruh ke biru dongker, kemudian berganti warna ke biru terang hingga akhirnya ke warna paling indah, Turquoise, saat mulai memasuki kawasan Phi-phi island. Bukit2 Limestone pun mulai bermunculan dari permukaan laut. Makin lama makin banyak hingga membentuk sebuah kelompok pegunungan limestone yang tak lain adalah kawasan Koh Phi-phi Ley. ‘Koh’ berarti ‘pulau’ dalan bahasa Thai. Sedangkan Phi-phi Island sendiri terbagi menjadi dua wilayah: Koh Phi-phi Ley dan Koh Phi-phi Don. Phi-phi Ley adalah gugusan pulau yang tidak berpenghuni, dimana terdapat Maya Bay, sebuah laguna cantik yang pernah dipakai untuk syuting film ‘The Beach’ nya Leonardo Di Caprio. Sedangkan Phi-phi Don adalah pulau yang berpenghuni, dimana terdapat perkampungan, hotel2, resort, dan penginapan. Koh Phi-phi Don selalu ramai oleh para wisatawan yang ingin menghabiskan waktu liburan di Phi-phi.

Me, on a cruise :)
Boat kami perlahan-lahan melintasi gunung2 batu kapur / limestone indah. Kemudian melewati Maya Bay yang tersohor itu, namun sayang paket tour yang kami ikuti tidak menyediakan program untuk mampir ke Maya Bay; tempat syuting nya si ganteng Leo di Caprio. Hiks… alhasil kami hanya mampu mengagumi keindahannya dari jauh saja. Kemudian kami diajak melewati Viking Cave, sebuah goa2 dibawah gunung batu yang terbentuk akibat kikisan air. Konon goa itu disebut Viking Cave karena terdapat lukisan kapal Viking di dinding goa yang kini menjadi sarang ribuan burung wallet itu.

Maya Bay
Akhirnya sampailah kami di sebuah spot untuk snorkeling, dimana warna airnya yang bukan lagi biru melainkan hijau terang, turquoise! Sangat indah…. Namun sayang Rebecca masih mabuk laut berat sehingga tidak dapat bergabung dengan kami untuk berenang dan snorkeling. Saya dan Angel pun tidak buang2 waktu lagi, kami langsung nyebuuurrr….. Wow, seru! Variasi ikan2 disini lumayan banyak, dengan berbagai warna dan ukuran. Namun sayang terumbu karang disini benar2 sudah hancur. Sungguh amat disayangkan sekali ditempat seindah ini terumbu karangnya tidak ikut dirawat. Jadi para wisatawan hanya bisa menikmati keindahan ikan2nya saja tanpa diimbangi dengan habitat terumbu karangnya. Namun bagi yang bisa menyelam, jangan khawatir, Phi-phi masih punya beberapa spot menarik dan oke banget untuk diving.

Snorkeling here @ Koh Phi-phi Ley
Selesai snorkeling (yang hanya 1 jam saja, gak puas!!) kami dibawa ke Phi-phi Don untuk santap siang. Sampai di pier, kami berjalan melintasi pasar yang menjual banyak macam kerajinan tangan dan souvenir untuk oleh2. Santap siang kami disajikan buffet all you can eat dengan menu Western, Asia, dan Arabian. Hmmm……nikmat! Rebecca pun akhirnya pulih dari mabuk lautnya.
Selesai makan siang, kami diberi waktu bebas mengexplore Phi-phi Don sampai jam 2 siang. Kami memutuskan untuk bermain-main di Tonsay Bay. Sebuah pantai melengkung yang landai, dengan jejeran kursi pantai memenuhi sepajang sisi pantai. Namun kursi pantainya gak gratis, bayar THB 100 per kursi. Hehe… kami yang backpackeran ini memilih spot dibawah pohon saja, dengan menggelar kain pantai, kami menikmati suasana terik siang bolong dipantai itu secara gratissss…. Angel dan Becca memutuskan untuk berenang. Secara Becca dari tadi kan belum menyentuh air laut karena mabuk. Hehe… saya sih Cuma tidur-tiduran saja leyeh-leyeh dipinggir pantai, dibawah pohon, dengan muka ditutupi topi pantai….
@ Tonsai Bay
   


“rasanya seperti terbang…..melayang-layang…..sinar terang dimana-mana…..hangat…..kepala jd ringan….mmmm….udara cenderung panas….tp nyaman sekali….serasa di….surga!” Tiba-tiba ada suara… “Sis! Sisca! Bangun woy!! Kita ketinggalan kapal!!!” What The ****!!! Oh, GOD……saya ketiduraaaaannnn…..tadi itu ternyata mimpiiiii…..mimpi melayang-layang di surga! Haha…  dan ternyata sudah jam 2! Saya diomelin teman2 karena harusnya saya yang jagain barang dan jagain waktu, supaya mengingatkan yang lain untuk gak terlambat kembali ke kapal. Hihi… map ya teman….abis enak banget sih tidur dibawah pohon – pinggir pantai – siang bolong gitu!

@ Koh Phi-phi Don Market
Kami berlari-lari ke pier, berharap semoga kapal kami belum berangkat. Thanx God, kapalnya masih bersandar manis di dermaga, meski dengan kondisi ¾ penuh. Kami kembali dapat tempat duduk di dek terbuka yang tadi. Namun kali ini kami memilih untuk duduk di bawah roof, karena niatan kami mau tidur selama perjalanan pulang. Setelah kapal perlahan-lahan meninggalkan deretan limestone indah itu, kami pun terlelap…
Jam 4 sore kami tiba kembali di dermaga kota Phuket. Kami diantar pulang dengan minivan yang tadi pagi menjemput. Namun tak lupa kami membeli oleh2 berupa foto kami masing2 yang dicetak diatas piring keramik pajangan seharga THB 100 saja. J
Malam harinya, kami kembali menyusuri jalanan sepi Phuket Town untuk mencari makan malam. Kami berjalan kearah Phuket Old Town, kemudian sesampainya di pertigaan dekat Communication Centre, kami belok kiri ke perempatan Ranong Rd.
Saat kami menyusuri Ranong Rd yang sudah mulai sepi, tak disangka-sangka kami menemukan sebuah travel agent yang memasang iklan didepan rukonya “ONE DAY TOUR PHI-PHI ISLAND, ONLY THB 700” What the?! Agent ini menawarkan harga paket tour yang THB 200 lebih murah dari yang sudah kami booking kemarin! Dengan fasilitas dan spot2 destinasi yang sama persis! Hmmm…..jadi pembelajaran bagi kami, bahwa lain kali harus lebih jeli dalam memilih travel agent. Karena ternyata harga tour di kota ini cukup bersaing ketat.
Malam itu kami memutuskan makan frozen food di 7eleven. Bedanya jaringan Sevel di Indonesia dengan di luar negeri adalah: hanya Indonesia yang menyediakan tempat duduk buat nongkrong dan kongkow-kongkow! Di luar negeri, semua Sevel yang saya lihat dan kunjungi tidak ada yang menyediakan tempat duduk, karena memang konsepnya hanya minimarket fast service. Jadi kalau beli makanan di Sevel, ya siap2 makan berdiri diluar atau duduk dipinggir jalan. Seperti yang kami lakukan malam itu, kami makan di trotoar depan sebuah sekolah. Hehehe…
Diperjalanan pulang ke hostel, kami menemukan sebuah toko kue kecil dipojokan jalan Ratsada Rd setelah hotel Tavorn. Tokonya mengingatkan kami pada toko kuenya Shan Chai di film Meteor Garden! Hahaha…. Terletak disebelah taman kecil yang rapi, cake shop ini sepertinya nyaman banget buat nongkrong. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan menyantap sepotong Cheese Cake lezat sambil menikmati Chinese Tea hangat. Suasana didalam toko sangat homey dan cozy, bikin betah. Sang ibu pemilik toko pun sangat ramah dan welcome. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 9.30 malam, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri Phuket Rd menuju Surin Circle, sebuah ringroad dengan monumen jam ditengahnya. Lumayan oke buat foto2 di siang hari, namun kami tetap saja narsis biarpun sudah hampir tengah malam. Hehehe… puas foto2, kami pulang ke hostel melewati Ocean & Robinson Mall.


Phuket Trip – Day 4

Pagi Jam 8 kami sudah dijemput oleh minivan dan seorang pemandu wisata yang kocak dan rame, Ms.Nok-nok namanya. Hari ini tujuan tour kami adalah James Bond Island, sebuah pulau yang pernah menjadi tempat syuting film James Bond 007; The Man with the Golden Gun. Tempat ini terletak di privinsi Phang Nga, sebuah taman nasional dengan pulau2 yang menyembul di Laut Andaman.
Untuk mencapai Phang Nga, kami menuju kearah utara, hingga melewati jembatan penghubung antara Phuket island ke mainland Thailand. Waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan darat. Ditengah perjalanan kami mampir ke Wat Tham Suwanakhuka (Buddha Cave Temple). Dari namanya sudah bisa dibayangkan bahwa kuil ini terletak didalam goa. Dengan spot utama berupa patung reclining Buddha (Buddha Tidur) sepanjang 15m.

Pintu masuk Wat Suwanakhuka
Bagian dalam Buddha Cave Temple
Dari kuil goa ini kami menuju ke Surakul Pier untuk mengarungi Andaman Sea dengan menggunakan longtail boat. Berbeda dengan Phi-phi, air laut di Andaman Sea taman nasional ini berwarna coklat keruh. Mengingatkan saya pada sungai2 besar kita di Kalimantan; Barito, Mahakam, dan Kapuas. Ya, kami seolah sedang menyusuri sungai2 di Kalimantan! Namun pemandangan sedikit demi sedikit berubah saat kami memasuki wilayah kepulauan Phang Nga. Gunung2 batu kapur dengan berbagai bentuk menyembul dari permukaan laut. Bahkan menurut mitos yang dipercaya warga Thailand, gunung2 ini mewakili bentuk2 binatang. Memang benar sih, setelah kami perhatikan dengan seksama, ada yang bentuknya seperti gajah, anjing, dll. Hehe…

@ Longtail Boat on Andaman Sea
Akhirnya sampailah kami di James Bond Island, sebuah pulau yang di brosur2 wisata terlihat eksotik. Namun ternyata aslinya ga sebagus yang di gambar brosur, majalah, dan internet. Hmmm…. Tp lumayan lah buat nambah2in pengalaman kami menjejakkan kaki di tempat2 terkenal. Hoho….. di pulau yang bernama asli Koh Khao Ping Kan ini, terdapat sebuah pulau berbentuk paku yang menancap ditengah laut, pulau paku ini bernama Koh Tapoo. Nah, Koh Tapoo inilah icon James Bond Island tersebut… di pulau utama sendiri, terdapat sebuah dinding kapur sangat tinggi yang seolah-olah dipotong rata dan disandarkan ke sisi tebing. Potongan dinding kapur inilah yang dinamakan Khao Ping Kan.

@ James Bond Island - Phang Nga Bay
Selesai foto2, kami menuju sebuah desa nelayan terapung yang bernama Koh Panyee. Desa ini mengingatkan saya pada Derawan! Dan ternyata, sang tour guide menjelaskan bahwa sejarah desa ini awal mulanya dibangun oleh orang2 Indonesia! Wow… kontan saja saat tour guide memperkenalkan kami ke seluruh peserta lainnya bahwa kami orang Indonesia, kami bangga dooonk….. hehehe….  Secara, nenek moyang kamilah yang dahulu mendirikan tempat ini 200 tahun yang lalu. Bahkan jika kita perhatikan, wajah2 para penduduk Koh Panyee ini mirip sekali dengan wajah orang Jawa dan Sumatera!
Di Koh Panyee, kami makan siang dan berkeliling pulau kecil itu. Jam 2 tepat kami bertolak meninggalkan sisa peninggalan nenek moyang kami di negeri orang ini… hmmm…. Koh Panyee, bukti nyata bahwa Nenek Moyangku memang Seorang Pelaut!!
Diperjalanan pulang, kami mampir toko perhiasan dan toko makanan kering. Sesampai di hostel, kami langsung ambil koper dan diantar oleh minivan ke Ranong Rd, tempat ngetemnya bus kearah Patong Beach. Ya, kami memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan kami di Patong, pusatnya kehidupan hingar bingar di provinsi Phuket.
Bus yang dimaksud, sebenarnya adalah truk yang dimodifikasi sehingga bisa mengangkut penumpang hingga 50 org. Bus jurusan Phuket – Patong ngetem didepan Sevel sebelah Phuket Backpacker Hostel. Kami naik bus terakhir hari itu dengan tarif THB 25 /org. Sepanjang perjalanan sore itu ke Patong, kami banyak mengabadikan kegiatan sehari-hari para warga yang kami lewati. Cukup menarik tinggal beberapa hari di kota Phuket Town yang sepi dan jauh dari hingar bingar geliat pariwisata seperti Patong yang akan kami datangi ini. Di Phuket Town yang sepi, layaknya Denpasar – Bali, kami dapat mengamati kebiasaan dan kehidupan sehari-hari penduduk lokal. Termasuk kebiasaan tidak mencabut kunci kontak saat memarkir motor! Wow, gak takut dicuri apa ya? Ternyata menurut keterangan warga setempat, kota ini memang sudah sangat aman, sehingga curanmor sangat langka terjadi. Hmmm…. Apa kabar Indonesia ya? Kapan curanmor di negeri kita bisa diberantas…..?

Phuket - Patong Bus
Sampai di Patong, kami disambut dengan gedung2 tinggi yang tak lain adalah hotel-hotel berbintang. Jalanan pun ramai dengan deretan toko2 dan passenger path yang penuh oleh turis2 bule. Mirip daerah Kuta atau Legian. Lalu lintas pun ramai berseliweran, hingar bingar kehidupan perkotaan sudah tercium. Hmmm…. Selamat tinggal Phuket Town yang damai, selamat datang Patong yang ramai! J
Kami turun tepat didepan hostel yang sudah kami booking kemarin via www.hostelworld.com, Coast Star Mansion. Hostel ini terletak di Rat U-thit Rd, tak jauh dari Jungceylon Mall. Hostel ini menempati lt. 2-4, diatas sebuah restaurant, dengan receptionist yang ramah. Kami dapat harga cukup murah disini. Kalau dirupiahkan hanya Rp.70.000 /org untuk kamar tipe dorm, dengan 2 ranjang tingkat, kamar mandi didalam, tv, kulkas, dan fan. Well, lumayan oke dengan kelengkapan fasilitas yg kami dapat. Kalau mau pakai AC tinggal tambah THB 100 /hr. Akses internet pun gampang, ada wi-fi yg bsa diakses dr kamar masing2, dan ada pula 2 buah pc computer yg bisa dipakai di lobby, gratis!! Berbeda dengan hostel yang kami tempati sebelumnya; Lub Sbuy Guesthouse, dimana wi-fi nya hanya bisa dijangkau di lobby saja, dan untuk mengakses internet di pc akan dikenakan biaya THB 10 / 15mnt. Hmmm….. kebayang kan betapa enaknya nginap di Coast Star Mansion ini…. Ehhehehe…
Malam itu kami rencananya mau wisata kuliner di Banzaan Market, kemudian dilanjutkan explore Bang La Rd. Dengan berjalan kaki, kami menyusuri Rat U-thit Rd yang ramai dengan bule2 seliweran. Sampai di Jungceylon Mall, kami menyeberangi mall menuju bagian belakang dimana si Banzaan Market ini berada. Hmmm…..aroma wangi daging panggang langsung menyambut kami saat kami memasuki area Banzaan Night Market yang dipenuhi para pedagang makanan kaki lima yang berjejer menjajakan dagangan. Ada banyak macam makanan disini, mulai dari yang halal sampai yang aneh. Harga pun relatif murah, makan nasi campur cuma Rp.15rbuan /org. Minumnya apalagi kalau bukan air jeruk segar yang langsung bikin adem badan di malam yang gerah itu.

suasana Banzaan Night Market
Selesai cicip2 di Banzaan kami menuju sebuah pasar di sebelah kiri Jungceylon. Pasar ini menjual baju2 dan souvenir. Namun harap berhati-hati saat belanja disini, rata2 pedagangnya kurang ramah dan ngotot. Saat kami menawar kaos dengan harga THB 100 (harga rata-rata kaos disana) kami ditertawakan dan dimaki-maki! Huuffttt….. akhirnya kami memutuskan untuk belanja di Patong Otop Market saja besok. Daripada belanja disini yang para pedagangnya tidak ramah dan harganya pun lebih mahal.
Kami pun melipir ke Bang La Road, sebuah jalanan sepanjang +/- 700m yang notabene merupakan pusat nightlife di Patong. Kami pun penasaran donk pengen nyicipin area yang tersohor itu…. Saat kami tiba diujung jalan, kami langsung disodori brosur2 oleh beberapa pria yg mangkal disana. Rupanya mereka menawarkan paket nonton “Tiger Show”!! wow…. Tau donk Tiger Show apaan…. Itu show yang menampilkan adegan2 erotis pria dan wanita, khusus untuk dewasa. Kami menolak dengan halus tawaran mereka. So far sih mereka sopan ya, gak maksa-maksa gitu…

Bang La Road @ Night
Suara musik hingar bingar disepanjang jalan, bar-bar berlampu warna warni tampak dipenuhi orang2. Bahkan beberapa bar menyajikan para penari semi striptis yang meliuk-liuk di tiang di atas meja-meja! Itu belum seberapa, ada pula sebuah bar yang memajang seorang wanita sangat cantik bak boneka, disebuah jendela kaca. Wanita itu akan melambai pada pria-pria yang lewat, memancing mereka untuk masuk dan mencoba beberapa service yang mereka tawarkan. Woooowww…… tak Cuma itu, ada pula toko baju yang khusus menjual kostum2 penari semi striptis, kostum cosplay, dan G-String genit untuk pria! Hmm…bisa dibayangkan bukan suasana malam di jalanan ini seperti apa? Hehe…

Pemandangan umum di sepanjang Bang La Road ;)
Niat hati sih pengen masuk di salah satu bar dan mencicipi sebotol dua botol bir, sambil nonton penari2 yang asyik joget diatas meja. Namun entah kenapa perut saya tiba2 melintir dan mulas luar biasa! Mungkin karena tadi saya makan masakan khas Thailand yang berbumbu sangat pedas. Atau mungkin juga sebuah teguran dari Yang Di Atas, supaya saya tidak masuk ke tempat ‘lampu merah’ itu. Hihihi….. gak tau juga ya, yang pasti saya langsung merengek pulang ke hostel saat itu juga. Maaf ya teman-temanku Angel n Becca, ga jadi ajojing deh kalian gara-gara aku…. Hehe…



Phuket Trip – Day 5

Bangun siang dan nyantai2 sampai perut keroncongan tengah hari. Ya, hari itu rasanya kami malas sekali mau keluar hostel, karena cuaca Patong sedang panas luar biasa! Hari itu kami minta extend menginap 1 malam lagi di hostel yang sama. Namun ternyata kami harus pindah ke kamar sebelah, karena kamar dorm yang kami tempati sudah di booking orang hari itu. But we were very lucky!! Kami dipindahkan ke sebuah kamar luas dengan double bed plus extra bed, tv, kulkas, kamar mandi didalam, lemari besar, dan meja rias. Wow…kami bisa jumpalitan dikamar segede ini! Ditambah lagi kamar baru kami ini menghadap langsung ke jalan, dan jendelanya bisa dibuka lebar2. Sejuk deh…. Dan berapa harganya??? HANYA +/- Rp.55.000 /org lhooo…. Bahkan lebih murah dari kamar kami sebelumnya! Horeee…..
Jam 1 siang kami keluar menuju Patong Otop Market. Sebuah pusat belanja yang khusus menjual baju2 dan souvenir untuk oleh2. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dari hostel. Cukup berjalan kaki sekitar 5menit, sampailah kami di pasar yang terletak diseberang Hard Rock Café tersebut. Setelah mengaduk-aduk pasar dan mendapatkan oleh2, terutama kaos gambar gajah khas Thailand dengan harga THB 100 / pc (gemas rasanya kalau ingat tadi malam kami sempat dimaki-maki pedagang di pasar yg satunya itu), kami beranjak ke 7eleven mencari makan siang. Kami makan frozen food seharga cuma THB 35, plus Thai Ice Tea yang sangat nikmat itu. Yang belakangan jadi minumam favorit saya! Hehehe…..
Sore nya, kami jalan2 ke Patong Beach yang terletak dibelakang hostel. Langit sore itu berawan, sehingga oke banget kalau mau berenang dan main ombak tanpa takut gosong. Saya dan Becca sibuk main ombak, sementara Angel tertidur pulas diatas pasir. Niatnya sih pengen lihat sunset di Patong, tp cuaca yang mendung menghalangi niat kami. Akhirnya kami hanya nimbrung main sepak bola bersama pemuda2 lokal, warga asli Thai. Yang lucunya tak kami ingat satupun namanya, karena nama mereka susaaaahhh… hahaha…. Lumayanlah, nambah temen.

Patong Beach
Play soccer with local guys
Malam harinya, kami kembali menyantap aneka makanan aneh2 di Banzaan Night Market. Saya berdoa dalam hati, semoga apapun itu yg masuk kedalam perut saya tidak membuat saya mulas lagi! Haha…. Kami memutuskan malam itu tidak menginjak Bang La Road, bukan karna kapok, tapi karna persediaan Bath kami mulai menipis! Hihihi…. Akhirnya kami hanya muterin Jungceylon Mall sambil beli beberapa produk Boots yang notabene tidak ada di Indonesia. Oia, diperjalanan pulang ke hostel, si Angel dan Becca mampir ke tukang buah Duren. Karena ada rules yang tidak memperbolehkan si Duren masuk ke semua hotel maupun hostel, merekapun menyantap si Duren tersebut ditempat. Saya sih kebetulan tidak suka duren, jadi ya tugasnya foto-fotoin mereka saja! Hehe…

para penggila duren :D


Phuket Trip – Day 6

Pagi-pagi jam 6, kami sudah menggulung seprei dan siap-siap. Bukan mau check out, melainkan mau pindah tidur ke pinggir pantai, mumpung ini hari terakhir di Patong! Berbekal Popmie, air mineral, dan sebotol Bir Chang yang kami beli di minimarket 24jam, kami menyusuri Bang La Road yang tiba-tiba berubah sangat sepi sekali dipagi hari. Ya, suasananya berbeda 180’ dengan malam hari. Sepanjang jalanan ini hanya ada kami bertiga yang masih selimutan kain pantai, berjalan sambil ngantuk menuju pantai.

Sunrise :) taken from Coast Star Mansion

Bang La Road di siang hari :D sepiiii ciiinnnn......


Tiba dipantai pun, masih sepi. Hanya ada beberapa bule yang jogging dan jalan2. Kami mencari pasir yang teduh dan mulai menggelar seprei dan bekal kami. Sarapan popmie dengan bir pagi-pagi? Cuma anak2 sinting macam kamilah yang cuek melakukannya dibawah tatapan heran beberapa bule yg lewat. Hahaha…. Setelah itu? Ya tiduuurrr……

Morning in Patong - Peacefully

Sunshine @ Patong (with a 'great' background) haha :))

Jam 11 siang, matahari mulai terik dan membangunkan tidur pulas kami. Hmmm…. Tidur pulas dipinggir pantai seperti itu memang benar-benar…. Sesuatu banget!! Suasana pantai sudah mulai ramai, kamipun beranjak kearah Thaweewong Road atau yang lebih dikenal dengan Patong Beach Road. Sampai di Holiday Inn, kami belok kiri memasuki Ruamjai Road menuju Hard Rock Café, kemudian langsung menuju hostel. Karena jadwal check out kami jam 12, kami pun buru2 mandi dan packing.
Berhubung airport transfer kami baru datang jam 4 sore, kamipun menitipkan koper & ransel kami di lobby, kemudian ke Banzaan Food Court (lagi-lagi Banzaan hihihi) untuk makan siang. Masih ada waktu sebentar, kami sempat membelanjakan Bath terakhir kami di Jungceylon. Beli apa? Kalau saya sih beli Nestea Thai Milk Ice Tea sachet, untuk nantinya bisa saya buat sendiri pas di Indo. Yummiiiee …
Minivan penjemput akhirnya tiba di hostel jam 4. Selain kami bertiga, ada beberapa bule dan seorang gadis Indonesia juga ternyata didalammya. Minivan mulai bergerak meninggalkan keramaian kota Patong di sore yang cerah itu. Kami melewati garis pantai Patong yang sore ini airnya berwarna biru keemasan tertimpa cahaya matahari sore. Minivan terus bergerak hingga mencapai Kalim Beach, pantai berbatu-batu karang disebelah Patong Beach. Perlahan-lahan mata saya tertutup oleh kantuk, namun dalam tidur saya tetap dapat melihat keindahan pantai-pantai bagian selatan Thailand ini. Hmmmm….. 6 hari yang terasa sangat singkat. Dalam hati saya berjanji, saya akan menginjakkan kaki kembali di pasir pantai Patong ini. Good Bye Phuket, see u in my next trip!

Airport staff nya pun Banci!! haha...


Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post