Friday, October 10, 2014

Canola Hunting


Pernah melihat iklan permen pelega tenggorokan Ricola? Ingat salah satu scene nya diambil di tengah hamparan kebun bunga kuning? Atau saat menonton drama Korea yang mengambil setting di Jeju Island saat musim semi, terihat hamparan bunga kuning yng sangat cantik bukan? Ya, itulah yang disebut Canola atau Rapeseed, bunga kuning penghasil minyak Canola. Di belahan bumi beriklim empat musim, bunga ini mekar saat musim semi dan dipanen sebelum musim panas tiba. Jika dilihat perbatang, bunga ini tidaklah begitu menarik ditambah lagi dengan baunya yang tidak wangi. Namun jika melihat hamparan berhektar-hektar lahan berbunga kuning tersebut, hati pun akan langsung jatuh cinta dan mengaguminya. Dan itu pulalah yang saya rasakan. :)

Pertama kali melihat hamparan bunga kuning itu di iklan Ricola, sudah membuat saya jatuh cinta. Hingga akhirnya melihat langsung dengan mata kepala sendiri, saat dalam perjalanan overland Denmark - Belanda musim semi lalu. Bukit-bukit landai tertutup hamparan kuning membuat mata tak lelah memandang dan mulut tak henti menganga. Saya yang penggemar bunga ini pun dibuat terkagum-kagum dengan keindahan landskap alam tersebut.

Hingga tergelitik menggoogling dan mencari tahu apakah ada kebun bunga Canola di kawasan sekitar Copenhagen tempat saya tinggal. Berdasarkan hasil ngubek-ngubek Instagram, akhirnya saya menemukan bahwa ada sebuah kawasan perkebunan Canola di daerah countryside Denmark, tak jauh dari Copenhagen. Tepatnya di kota Nivå, sekitar 34,5km dari Copenhagen. Kebetulan saya tinggal di area Hellerup, dengan jarak yang sedikit lebih dekat ke kota Nivå tersebut. Maka saya memutuskan untuk mencoba mencari lahan perkebunan itu dengan bersepeda.

Pada suatu hari di musim semi, sekitar jam 8 malam, saya mulai menggenjot sepeda saya berbekal Google Earth di handphone, menuju Nivå. Google Earth menunjukkan bahwa jarak dari rumah saya ke Nivå hanya sejauh 9 Mil saja, maka saya pun bersemangat mengayuh sepeda dengan kecepatan lumayan, karena berniat untuk sampai di kebun Canola sebelum sunset. Karena saat itu musim semi, matahari tenggelam sekitar jam 8:45 malam.

Menyusuri jalanan Strandvejen yang mengikuti garis pantai sebelah timur pulau Zealand, dengan pemandangan indah rumah-rumah cantik dan hamparan pantai. Perjalanan terasa mudah pada awalnya, sampai ketika jalan itu mulai naik turun dengan tidak sopannya, hingga membuat saya nyaris pingsan menggenjot sekuat tenaga! Mil demi mil berlalu, namun tak kunjung terlihat tanda-tanda penampakan kebun bunga kuning itu. Sedikit pesimis, saya kembali menelusuri Google Earth yang menunjukkan bahwa saya ada di jalur yang benar. Oke lah, saya pun kembali melanjutkan perjalanan hingga pada satu titik, jalur sepeda berbelok memisahkan diri dari jalur mobil yang selama ini saya ikuti. Jam 9 malam, memasuki sebuah kawasan sepi, dengan hanya rerumputan di kanan kiri jalan, saya terus mengayuh sepeda dengan sisa keremangan cahaya matahari yang sudah terbenam. 

Jalur sepeda menuju ke arah hutan, dimana akhirnya saya stuck! :p


Satu jam sudah saya mengayuh sepeda, dengan jarak 18km sesuai tertera di GPS, namun belum juga terlihat tanda-tanda saya akan tiba di Nivå. Hari mulai gelap saat saya memasuki kawasan hutan antah berantah. Sedikit menyesal juga karena memutuskan bersepeda malam-malam begini. Jalanan sepi, pepohonan di kanan kiri jalan makin rapat... makin gelap... Duh! Tiba-tiba sinyal 3G di handphone hilang! GPS tidak mau jalan dan saya sendirian di tengah hutan! Sendirian!!! Nyali pun langsung menciut saat sadar bahwa saya sedang sendirian di antah berantah tanpa tahu harus menuju arah mana. Kelebatan bayangan-bayangan fantasi dalam kepala saya pun mulai unjuk gigi. Berbagai pertanyaan "What if..." terlintas di kepala, mulai dari yang seram sampai yang nyeleneh nggak masuk akal. Sembari sedikit panik, saya berdoa dalam hati dan memutar balik sepeda, kemudian melaju kencang keluar dari hutan, kembali ke arah saya tiba tadi. Akhirnya sekitar setengah jam kemudian, saya menemukan jalan raya besar dan yang lebih menggembirakan lagi, saya melihat plang dengan tulisan "Station 2km"! Wohooo.... Thank God!!! Akhirnya saya menemukan sebuah stasiun kereta dengan jarak sekitar 6km dari Nivå. Saya memutuskan untuk menghentikan perburuan Canola saya hari itu setelah bersepeda sejauh 21km. Lagipula kaki ini sudah sangat lelah dan tak sanggup untuk bersepeda lagi meski hanya sejauh 6km, saya pun kembali pulang dengan naik kereta.

Dua hari kemudian, setelah tahu pasti dimana letak kebun Canola tersebut (berdasarkan hasil tanya-tanya ke Instagramer Copenhagen), dengan membawa serta sepeda saya naik kereta dengan tujuan Nivå. Sampai di stasiun Nivå jam 11 siang, dengan matahari bersinar cerah, membuat hati ini tak sabar untuk menemukan yang dicari-cari. Dengan bersepeda sebentar dari stasiun Nivå, akhirnya si kuning itu pun terlihat menghampar di depan mata. Yippiieeeee..... Gembira nian hati ini akhirnya bisa berdiri ditengah-tengah hamparan luas bunga kuning itu! Meski tak berbau sedap dan serbuk bunganya lumayan bikin kotor pakaian saat blusukan disana, hamparan Canola itu memang seindah di iklan Ricola. Dan perjuangan saya menemukan kebun Canola itu terbayar sudah dengan foto-foto cantik, baik foto landscape maupun selfie. Hehehe... Silahkan ditonton di bawah ini ;)



Overland to Scandinavia


Perjalanan overland antar negara kali ini saya gambarkan sbb:
Jarak Belanda-Denmark lebih cepat jika ditempuh dengan mobil ketimbang kereta. Dan saya pernah mencoba keduanya. Jika dengan kereta, waktu tempuh yang dibutuhkan dari Utrecht-Belanda menuju Copenhagen-Denmark sekitar 16 jam, namun dengan mobil hanya butuh 8-9 jam saja. Kenapa? Karena kereta harus melintasi jalur memutar dari Hamburg melalui mainland Jutland, pulau tengah Odense, baru kemudian pulau utama Denmark tempat Copenhagen berada yaitu Zealand. Sedangkan jika menggunakan mobil, tak perlu memutar melalui rute tersebut. Dari Hamburg bisa langsung menyeberang ke Zealand menggunakan Boat. Itulah mengapa overland dengan mobil ke Denmark jauh lebih singkat dari kereta.

View atau pemandangan sepanjang jalan lumayan bikin mata seger dengan warna hijau alam nya. Meski mungkin tak seindah pemandangan di sepanjang jalur overland Swirzerland, Austria, maupun Italia. Sebagian besar pemandangan sepanjang jalur Belanda-Denmark adalah hutan dan lahan pertanian. Dimana jika musim dingin kemungkinan akan sangat membosankan dengan pepohonan gundul dan lahan keabu-abuan itu.
Saat musim semi dan musim panas, lumayan oke dengan bunga-bunga liar sepanjang bahu jalan dan pepohonan hijau berjejer lebat. Saat musim gugur, di beberapa tempat dapat ditemukan kelompok pepohonan berdaun jingga bahkan merah.

Ada beberapa perbedaan yang bisa ditangkap dari 3 negara yang saya lalui saat overland trip.

1. Belanda
Negara artifisial ini benar2 terlihat rata, super flat, sejauh mata memandang. Kiri kanan highway kebanyakan areal lahan pertanian maupun peternakan. Banyak terlihat kanal-kanal kecil (biasa disebut Dijk) yang berfungsi sebagai marka pembatas sekaligus sebagai sistem irigasi, membelah-belah lahan pertanian. Hewan ternak seperti sapi perah warna hitam putih layaknya gambar di kemasan tetrapack Susu Ultra terlihat merumput berkelompok atau bahkan duduk goler-goler santai. Kuda dan poni pun bertebaran di lahan hijau terbuka, seringkali bersebelahan dengan domba-domba berbulu gemuk ala Shaun the Sheep yang juga asyik merumput. Tak jarang terlihat kelompok penunggang kuda sedang berkuda santai di sepanjang jalur Dijk dengan jejeran pohon Birch di kanan kirinya. Bentuk rumah di Belanda khas dengan rumah mungil beratap tinggi runcing, kebanyakan dengan dinding berwarna coklat gelap dan list jendela warna putih. Meski sebenarnya yang paling asli Belanda adalah rumah berwarna hijau tua, yang kini hanya dapat ditemukan di sedikit area saja, seperti di Zaandam contohnya. Well, balik lagi dengan rumah pinggir jalan yang sedang saya ceritakan, kebanyakan rumah2 tersebut punya pekarangan yang tertata rapi dan pasti ada saja bunga nya. Karena orang Belanda terkenal dengan kegemarannya terhadap bunga, maka tak heran di setiap pekarangan mereka pun ada tanaman bunga.

Pemandangan umum di lahan pertanian Belanda


2. Jerman
Negara dengan luas berkali-kali lipat dari Belanda ini memiliki kontur daratan yang tak terlalu rata alias sedikit naik turun. Dengan rata-rata areal nya berupa hutan ber vegetasi empat musim di kanan kiri jalan, serta areal lahan pertanian yang sepi dari kumpulan hewan ternak seperti yang terlihat di lahan pertanian Belanda. Hanya beberapa kali terlihat kelompok sapi berwarna cokelat, yang saya tebak sebagai ternak sapi potong, sedang merumput di area peternakan. Rumah2 Jerman berbentuk compact besar dan beratap tinggi, memberikan kesan luas dan kokoh. Jarak satu rumah dengan rumah lain tidak begitu dekat bahkan seringkali dipisahkan oleh lahan pertanian. Namun ini saya hanya bercerita tentang apa yang terlihat di sepanjang highway ya, country side, bukan di pusat kota. Tentu kondisi perumahan nya akan terlihat berbeda dengan yang ada di pusat kota. Dan masih banyak terlihat lahan kosong tak terpakai yang isinya hanya semak belukar dan beberapa pohon. Mungkin saking besar nya wilayah Jerman, sampai masih banyak lahan yang tidak bertuan dan dimanfaatkan.



3. Denmark
Kurang lebih sama seperti Jerman, landscape Denmark pun naik turun dengan landai. Pemandangan bukit-bukit berumput hijau mirip di film Teletubbies tampak menggemaskan di sepanjang jalan. Tak jarang melewati hutan empat musim, meski tak sebanyak di Jerman (sepanjang highway dari Zealand ke Hamburg).
Rumah-rumah di Denmark memiliki bentuk dan warna yang berbeda dengan rumah di Jerman maupun Belanda. Bentuk atap segitiga, dengan body rumah simetris dan berwarna putih atau pastel, dengan pekarangan luas. Bentuk rumah yang sangat simpel mengingatkan pada bentuk rumah yang umumnya ada di kertas gambar anak-anak.

Namun, di antara semua perbedaan itu, ada dua persamaan yang saya temukan di sepanjang perjalanan.
1. Banyak terdapat kincir angin di lahan-lahan terbuka. Bukan kincir angin tradisional seperti di Belanda ya, melainkan kincir angin besi berwarna putih, yang tak lain merupakan pembangkit listrik tenaga angin. Kincir-kincir itu berjejer rapi di lahan luas dekt highway.
2. Hamparan kebun bunga Canola atau Rapeseed berwarna kuning, yang terutama saat musim semi, banyak terlihat menghampar di kiri kanan highway. Berhektar-hektar tanaman penghasil minyak ini sangatlah indah dan lumayan mengusir bosan saat perjalanan. (Kisah perburuan Canola ada di postingan saya selanjutnya.)

Canola fields along the way


Singkat kata, perjalanan selama 9 jam bisa terasa membosankan atau mengasyikkan, tergantung bagaimana kita mempersiapkan nya. Berikut ini saya bocorkan tips supaya perjalanan overland terasa menyenangkan:
# Bawa buku! Lumayan dapat beberapa chapter selma perjalanan kan :)
# Nonton film di iPad atau handphone
# Isi iPod atau mp3 player dengan lagu2 yg bisa bikin goyang, jangan yang melow, biar gak ngantuk
# Bawa cemilan! Wah kalo ini sih saya selalu bawa sekarung. Hahaha...
# Sedia kopi siap minum atau energy drink, supaya gak ngantuk melulu.
# Kamera & Tongsis! Biar gak mati gaya, boleh donk foto-foto dijalan hihihi....
# Bagi yang suka art, bisa bawa art atau kerajinan tangan yang bisa dikerjain sambil duduk di mobil. Macam menyulam, looming, atau bahkan melukis sketsa.
# Ngeblog on the road! :D Hehe... dan ini yang biasanya saya lakukan. :p

Kisah perjalanan overland saya lainnya (di Eropa Timur) akan saya paparkan di cerita-cerita selanjutnya ya. ;)

                      

Tuesday, December 17, 2013

A Lil' Step to... Warsaw - Poland

Dinginnya lantai lobby airport Skavsta Stockholm malam itu perlahan-lahan menembus bentangan jas hujan yang saya gelar di samping deretan bangku ruang tunggu airport. Ditambah dengan berisiknya celotehan sekelompok mahasiswi Spanyol yang juga bermalam di airport saat itu, menambah mata ini sulit terpejam. Sepertinya saya benar-benar harus punya sleeping bag nih, untuk saat-saat traveling seperti ini, yang mengharuskan bermalam di airport. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya tidur di airport, saya sudah pernah beberapa kali bermalam di airport bahkan terminal bus juga. Namun saya yang backpacker kere ini memang tidak punya sleeping bag untuk bermalam darurat. Hanya bermodalkan selembar jas hujan dan kadang handuk lebar buat selimut. So far sih survive aja ya, tapi malam itu koq rasanya semalaman saya tidak bisa nyenyak tidur seperti biasa. Berisiknya obrolan orang Spanyol di sebelah terdengar seperti sekumpulan bebek yang kelaparan. Dengan intonasi tinggi dan kecepatan bicara 80km/jam itu, membuat orang Spanyol selalu dikategorikan sebagai manusia tercerewet! Haha...

Jadwal penerbangan saya hari itu jam 6 pagi, rute Stockholm - Warsaw, menggunakan pesawat Ryanair. Sebuah perjalanan yang sebetulnya tidak betul-betul direncanakan. Karena sebetulnya rencana saya ngetrip di musim gugur ini adalah pergi ke Sweden dan Norway. Namun saat sedang hunting tiket 2 minggu yang lalu, mata ini terpaku pada iklan pop-up Ryanair yang bertuliskan “Less than €5 to Warsaw” dengan huruf besar berwarna kuning gonjreng! Wow... Siapa yang tak mau ke Poland hanya dengan tiket seharga secangkir Starbucks? Langsung saja saya eksekusi tiket tersebut, yang rupanya harga promo tersebut hanya berlaku untuk keberangkatan dari Stockholm-Sweden. Ah, nggak masalah menurut saya. Toh saya juga berencana mengunjung Stockholm pada liburan saya kali ini. Jadilah akhirnya saya rubah planning Autumn Trip saya, dan mengunjungi Poland selama seminggu lamanya akhirnya menjadi sebuah trip dengan persiapan kilat. Dengan tiket seharga €4,80 saya pun terbang dari Stockholm-Sweden ke Warsaw-Poland. Sangat murah bukan? Ya, Ryanair memang setipe dengan AirAsia dalam hal obral-obralan tiket. 

Pesawat yang saya tumpangi seharusnya landing di Warsaw Modlin Airport, namun karena buruknya cuaca pada pagi hari itu akhirnya pesawat dialihkan ke Frederic Chopin Airport setelah terlebih dahulu berputar-putar di udara selama 45 menit yang menegangkan. Setelah mendapat konfirmasi bahwa pesawat akan mendarat di Chopin, saya pun bertanya-tanya dalam hati, Lho ini trus bagaimana dengan tiket shuttle Modlin Bus yang sudah saya booking? Saya yang sudah terlanjur membeli tiket Modlin Bus via online beberapa hari lalu pun terpaksa tidak bisa menggunakan tiket saya untuk pergi ke pusat kota karena Modlin Bus hanya beroperasi di jalur Modlin - Warsaw, tidak melalui Chopin. Hmmm... yasudah deh, tiket seharga 29 itupun mubazir dan tidak bisa di refund pula. Bisa mendarat dengan selamat tanpa dihantam badai saja saya sudah bersyukur sekali. Dan benar saja, saat pesawat mendarat, kabut pekat terlihat menyelimuti airport, plus dinginnya angin yang menusuk. Padahal masih Oktober, tapi pemandangan didepan mata terlihat seolah Poland sudah kedatangan winter duluan.
Kabut pekat di airport Chopin Warsaw
Warsaw City Centre
 
So, here I am… Menjejakkan kaki di negara ke-10 Uni Eropa (dalam list Eurotrip saya), Poland! Pusat kota Warsaw, seperti ibukota pada umumnya dimana banyak terdapat gedung-gedung tinggi nan modern dengan beberapa bangunan klasik menyembul di antaranya. Sesaat setelah turun dari bus didepan Warszawa Centralna Train Station, saya sedikit linglung dan disoriented. mata ini langsung tertuju pada bangunan putih lancip yang menjulang di sebelah station. Bangunan yang tak lain adalah gedung Palace of Culture and Science atau Pałac Kultury i Nauki dalam bahasa Polish ini, merupakan gedung tertinggi di Poland dan ke-6 tertinggi di wilayah Uni Eropa. Sembari mempelajari peta yang didapat dari airport, saya berjalan menuju arah Chillout hostel yang telah saya booking. Dalam perjalanan, terlihat ada banyak Carrefour Express dan minimarket yang uniknya ada tulisan “Alcohol 24 hours”. Oh wow, ok… Welcome to Vodka land! Selain Russia, Poland juga terkenal dengan Vodka nya. Tak heran banyak kita jumpai di toko-toko terpampang berjejer minuman alcohol, yang umumnya buka 24jam. Iseng-iseng saya masuk ke salah satu Carrefour Express, bukan untuk beli Vodka, tapi untuk cari cemilan pengganjal perut yang sudah mulai teriak-teriak kelaparan.  Saya pun menemukan sebuah makanan khas Polish, berupa ikan goreng dengan campuran semacam tumis lobak manis, yang rasanya enak sekali! Sempet berbinar melihat harga-harga di Carrefour Express tersebut, murah-murah banget! Ok… (again) Welcome to a cheap land!

Chillout Hostel, terletak di jalan ul. Poznanska 7/7, sekitar 5 menit jalan kaki dari pusat kota dan central station, namun agak jauh dari Old Town, meski tetap bisa dicapai dengan jalan kaki sekitar 20 menit. Dengan tarif 40 per malam, saya mendapat tempat di 8 mix dorm room. Hari itu kebetulan kamar yang saya tempati lumayan penuh, ada 2 gadis Australia, sepasang muda-mudi Poland, satu cowok Colombia, satu cewek UK, saya sendiri Indonesia, serta seorang kakek-kakek Yahudi dari Israel. Apa? Kakek? Yaaaa.... seorang kakek berumur sekitar 70an yang sedang dalam perjalanan ziarah ke Poland. Sayangnya si kakek ini tidak bisa berbahasa Inggris, jadi saat dia berceloteh dengan menggunakan bahasa Yahudi dan Russia, tak satupun dari kami yang mengerti. Haha...

Jam makan siang membuat saya tak mau berlama-lama di hostel. Setelah menaruh ransel, saya pun mulai mengeksplore kota Warsaw dengan berbekal peta dan sebuah buku Lonely Planet pinjaman dari perpus. Hal menarik pertama yang saya tangkap dari kota ini adalah sistem transportasinya yang sudah teratur dan nyaman. Sistem transportasi dalam kotanya didukung oleh kenyamanan metro, tram, dan bus, yang kesemuanya bisa diakses dengan sebuah single ticket. Saya menggunakan day pass 24jam seharga 25 untuk naik tram-metro-bus di Warsaw. Meski kebanyakan saya jalan kaki karena ingin lebih menikmati tiap sudut cantik kota ini.

Salah satu sudut cantik di Warsaw

Menyusuri jalanan pusat kota yang dimulai dari Centrum menuju Ulica Nowy Świat, sebuah boulevard yang wajib disusuri untuk menuju Old Town Stare Miasto. Di sepanjang jalan ini banyak terdapat bangunan klasik bersejarah serta café dan restaurant yang harganya ramah di kantong. Tak tahan rasanya untuk tidak segera hinggap di salah satu outdoor café tersebut untuk menuntaskan urusan perut. Mendekati area Stare Miasto, saya mampir di sebuah café dan memesan salah satu menu makanan Polish yaitu Kielbasa (Sosis khas Polish) serta tak ketinggalan menjajal salah satu beer favorit Polish yaitu Kasztelan. Seporsi makan siang jumbo dan setengah liter beer hanya seharga 25 alias sekitar 5-6. Wow… Dari Scandinavia ke Poland rasanya tiba-tiba jadi orang kaya! Hahaha…



Nowy Świat Boulevard
 
Salah satu gereja cantik di area Old Town

Makan siang jumbo seharga 33zl

Urusan perut selesai, saya kembali menyusuri boulevard menuju bangunan warna-warni pastel yang seolah bertumpuk-tumpuk di kejauhan. Ya, itulah Stare Miasto atau Old Town, area kota tua yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya Unesco, yang merupakan salah satu atraksi wajib kunjung saat berada di Warsaw. Dari lapangan Plac Zamkowy atau Castle Square, terlihat di kejauhan bangunan stadion Norodowy yang pernah menjadi tuan rumah event akbar sepak bola Euro 2012.  Di sebelah lapangan ini, terdapat bangunan berwarna maroon yang tak lain adalah Royal Castle yang kini berfungsi sebagai museum dengan salah satu koleksi lukisan dari Rembrandt. Namun saya lebih berminat menyusuri gang-gang sempit tempo doeloe ketimbang masuk ke Royal Castle tersebut. Jadilah saya menyusuri jalanan berbatu, keluar masuk gang-gang kecil dengan bangunan-banguanan tua bercat kusam mengapit di kanan-kiri nya. Kota tua nan klasik, yang pernah luluh lantak oleh bom pada masa Perang Dunia II, untuk kemudian dibangun kembali serupa aslinya, kini menjadi tujuan wajib para wisatawan di Warsaw. Kios-kios souvenir dan café – café menawarkan keunikannya masing-masing. Saya tertarik mencoba soft ice berbentuk spiral panjang dengan rasa coklat dan vanilla, yang menurut saya rasanya sih biasa saja, masih enakan Gelato kemana-mana! Hehehe… Serta snack wafer berbentuk roll dengan isi whip cream beku didalamnya, bernama Rurki, yang belakangan menjadi snack favorit saya selama di Poland. 
Rurkie

spiral soft ice
 
Norodowy Stadium - terlihat di kejauhan

Royal Castle

Monumen di Plac Zamkowy
Plac Zakomwy - Stare Miasto
Barbican Foretress

Menyusuri setiap jengkal kota tua Stare Miasto hingga ke Barbican Foretress, sebuah benteng pertahanan yang dulunya dibangun di abad ke-16 sebagai salah satu system pertahanan kota. Kemudian napak tilas jalur pedestrian yang pernah dilalui oleh Napoleon Bonaparte saat beliau mengunjungi kota ini, termasuk sebuah tangga batu yang terkenal dengan nama “Napoleon’s Stone Steps”. Melihat sebuah rumah tersempit di Kanonia triangle square, yang sebenarnya tidaklah sesempit kelihatannya. Menyentuh dan mengitari sebuah lonceng dari abad pertengahan yang dipercaya akan membawa keberuntungan jika mengitarinya sebanyak 3x. Menemukan spot menarik viewpoint di belakang gereja Virgin Mary di daerah Nove Miasto, dengan bangku-bangku menghadap ke Multimedia Fountain Park di tepi sungai Vistula. Tempat saya akhirnya duduk terkantuk-kantuk dibawah pepohonan yang mulai merontokkan daunnya. 






Lonceng Keberuntungan

The Narrowest House in Poland (in the middle)

Napoleon's Stone Steps

Monument of the Fallen & Murdered
Sebelum jatuh tertidur diatas caldera tepian sungai Vistula, saya kembali menyeret langkah dengan terkantuk-kantuk. Tak sengaja menemukan sebuah café pinggir jalan yang cantik, mampirlah saya untuk menikmati secangkir besar vanilla latte dengan harga  11 atau 2,5 saja. Luar biasa murahnya negara ini, dibandingkan dengan Copenhagen tempat saya tinggal, yang mematok harga secangkir kecil kopi 30kr atau 4! Sambil ngopi, saya pun menekuni peta dan LP untuk mencari dimana posisi saya saat itu dan adakah tempat menarik yang bisa dilihat disekitarnya. Rupanya saya sedang berada di daerah sekitar Nove Miasto, atau New Town. Dekat-dekat sini ada sebuah monumen yang bentuknya unik, membuat saya penasaran ingin melihatnya. Dan benar saja, setelah sempat nyasar ke sebuah panti rehabilitasi, saya akhirnya menemukan Pomnik Poległym i Pomordowanym na Wschodzie, atau Monument of the Fallen and Murdered in The East. Sebuah monumen yang menggambarkan kereta pengangkut batu nisan berbentuk salib, dengan nama-nama warga Poland korban perang Soviet yang terukir di sepanjang jalur rel nya. Monumen ini dibangun untuk mengenang para korban perang semasa Uni Soviet.
 
Salah satu sudut cantik di Praga
Tujuan saya selanjutnya adalah mengintip suasana malam di Praga, area di seberang sungai Vistula. Dengan menaiki tram, saya pun menuju Praga, yang konon katanya cukup happening dengan night life nya. Turun di Jagiellonska, iseng-iseng mampir ke Praski park, tempat dimana saya menemukan jejeran pohon dengan dedaunan kuning yang mulai rontok menutupi jalanan setapak di bawahnya. Indah sekali! The perfect autumn experience ever. Lanjut jalan kaki mengitari area Praga yang ‘katanya’ rame kalau malam itu. Namun entah karena masih sore (jam 8 malam saat itu) atau saya yang kurang mblusuk-mblusuk ke gang-gang nya, saya tidak menemukan sesuatu yang cukup bisa dikategorikan ‘happening’ disana. Well, mungkin memang harus mengajak orang lokal yang tahu area ini. Saya yang jalan sendirian malam itu sebenarnya lumayan menghindari jalanan redup dan sepi, jadi mungkin itulah sebabnya saya tidak menemukan club-club yang kemungkinan letaknya sedikit tersembunyi di balik gedung-gedung besar disana.

Plac Zakomwy di malam hari
Saya memutuskan kembali ke Stare Miasto untuk mencari makan malam. Menyusuri kota tua di malam hari benar-benar menimbulkan sensasi yang luar biasa, membuat seolah-olah terlempar ke masa lalu. Berjalan di jalanan sempit berbatu dan berlampu temaram sambil membayangkan dulunya di jalanan ini banyak kereta kuda lalu lalang dengan penumpang berpakaian abad pertengahan di atasnya. Wow… Saya sangat bersyukur bisa merasakan hidup di sebuah benua dengan peradaban tertua di dunia ini. Benua yang menyisakan bangunan-bangunan klasik tua, saksi bisu betapa Eropa ini memang sudah sangat cantik sejak dahulu kala.

Stare Miasto di malam hari

Setelah muter-muter sejenak di seputaran Old Town, saya menemukan bahwa area Stare Miasto ini tercover dengan fasilitas free wifi. Wah, langsung saja ngedeprok di pelataran monumen dekat jalan Podwale untuk online sejenak check in Path dan socmed lainnya. Haha… Tetep donk ya, as any other Asian, we’re addicted to be exist in every social media! Puas pamer posisi di dunia maya, saya memutuskan mencoba salah satu resto otentik di kota Warsaw, namanya Zapiecek, yang mengklaim dirinya memiliki Pierogi terenak di kota itu. Ya, Pierogi – sebutan untuk Polish dumpling yang diadopsi dari kebudayaan Rusia. Di Zapiecek ini terdapat berbagai macam jenis Pierogi, mulai dari yang klasik khas Rusia sampai yang sudah dimodifikasi. Pierogi klasik biasanya berisi sauerkrout atau mash potatoes dan direbus. Kali ini saya mencoba Pierogi Omma’s Style dengan isi daging cincang yang digoreng, dan segelas Dried Fruit Compote yang merupakan rebusan beberapa buah kering seperti apel, pear, kismis, serta kayu manis. Minuman ini enak sekali, bikin badan langsung terasa hangat. Kalau di Indonesia kita akrab dengan Bajigur, di Poland mereka punya Fruit Compote ini. Seporsi besar Pierogi dan segelas fruit compote dihargai 33zl saja. Dan malam itupun saya tidur nyenyak kekenyangan, tak peduli dibawah ranjang saya ada kakek-kakek yang mendengkur sepanjang malam. Hehe...
 
Makan malam seharga 33zl
Day 2
Jam 8 pagi saya sudah rapi menggendong ransel untuk check out dari hostel, mengingat hari ini jam 4 sore saya sudah harus meninggalkan Warsaw menuju Krakow. Jadi saya mau memanfaatkan hari terakhir di Warsaw untuk kembali lagi ke Stare Miasto! Bukan untuk sightseeing lagi, melainkan untuk duduk ngopi dan makan, sambil memperhatikan warga lokal yang sibuk lalu lalang di hari Selasa pagi tersebut. Saya memilih salah satu café di dekat Pomnik Mikołaja Kopernika, sebuah monumen dengan patung Nicolaus Copernicus duduk ditengah-tengah orbit galaksi Bimasakti, tepatnya didepan gereja Holy Cross Church, di ujung boulevard Nowy Świat. Secangkir besar Caffe Latte dan sepotong Cheese Cake jadi menu sarapan saya pagi itu. Duduk di teras café sambil memperhatikan para pelajar dan orang kantoran yang sedang bergegas untuk memulai hari mereka. Ini masih bulan Oktober, suhu masih kisaran 8-10’C yang menurut saya masih tergolong hangat. Saya saja masih tahan cuma berjaket kulit doank, namun para wanita di Warsaw ini sudah terlihat seliweran dengan fall/winter coat dan syal wol tebal. Hmmm… stylish sih memang. Mungkin juga karena mereka ini para sosialita di Ibu Kota kali yaaa… Jadi semacam gaya gitu, layaknya di Jakarta. Hehe…

Nongkrong kelamaan di café ternyata lumayan membuat saya akhirnya terburu-buru mengejar tram yang menuju Okopowa, ke tujuan saya selanjutnya yaitu Jewish Cemetery. Hah? Ke kuburan? Nggak salah? Hehe… Memang tujuan saya ke kuburan warga Yahudi terbesar di kota Warsaw. Bukan karena saya pecinta horror atau mistis, namun lebih ke keunikan areal pemakaman di Eropa yang rata-rata bercita rasa klasik di tiap nisannya. Sama seperti saat saya mengunjungi pemakaman di Montmartre Cemetery - Paris, bukannya merinding saya malah terkagum-kagum oleh kecantikan nisan-nisan bergaya Perancis itu. Nah, lain halnya dengan Jewish cemetery atau Pemakaman Yahudi yang saya datangi kali ini. Di pintu masuk area ini tertulis jelas peraturan bahwa kaum pria harus menggunakan penutup kepala saat memasuki area pemakaman. Karena menurut kepercayaan agama Yahudi, memakai penutup kepala bagi pria merupakan symbol penghormatan, sama halnya seperti saat mereka sedang beribadah. Namun bagi wanita tidak diharuskan memakai kerudung, hanya berpakaian sopan sudah cukup. Memasuki pintu gerbang pemakaman Yahudi tersebut, saya disambut ramah oleh dua orang security berbadan tegap dan berwajah Israel. Saya dengan santai balas tersenyum dan memasang hoodie di kepala, meski tidak wajib mengenakan tutup kepala, namun saya hanya ingin turut menghormati upacara keagamaan Yahudi yang tengah berlangsung disana. Kebetulan hari itu sedang berlangsung semacam upacara pengiriman doa di salah satu makam, dimana terlihat puluhan pria Yahudi berdiri membentuk lingkaran dan melantunkan nyanyian doa dengan khusyuk. Saya dan dua orang wisatawan lain perlahan-lahan menyusuri setiap sudut pemakaman yang lumayan creepy untuk foto-foto. 
Area Jewish Cemetery

Upacara keagamaan Yahudi

Salah satu nisan cantik :)

Saya tak mau berlama-lama di tempat ini, selain karena aura yang sedikit creepy, saya juga sudah harus segera menuju Wilanowska untuk melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, Krakow. Dengan berlari-lari kecil, saya menuju halte tram didepan pemakaman. Namun sialnya, saya ketinggalan tram yang hanya lewat setiap 20 menit sekali tersebut. Duh! Hati pun kebat-kebit mengingat jam sudah menunjukkan pukul 2:55 sore. Perjalanan dari Okopowa menuju Wilanowska memakan waktu kurang lebih 30 menit menggunakan tram dan metro. Dan Polskibus yang akan membawa saya ke Krakow akan berangkat pukul 4 sore. Huwaaaa…. Kejar-kejaran dengan waktu itu rasanya lebih horror daripada blusukan di dalam pemakaman Yahudi tadi. Namun Tuhan selalu mencukupkan di setiap kekurangan. Berkat sistem transportasi Warsaw yang tepat waktu, saya tiba di terminal bus Wilanowska tepat 10 menit sebelum bus meninggalkan terminal. Fiiuuhh…. Lega rasanya!

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post