Wednesday, April 24, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 2)

Terbangun dari tidur dengan kepala super berat serasa dipakein bando beton, akibat si 'sex on the beach' semalam (baca postingan sebelumnya). Hari kedua di kota cantik di jantung benua Eropa, aku berencana untuk mengeksplore isi kota dengan berjalan kaki. Ya, kota Praha tidaklah terlalu besar untuk ditaklukkan dengan sepasang kaki berbetis kencang seperti kakiku ini. Namun sisa-sisa hangover masih menghantui saat dengan malasnya aku merangkak keluar dari bunk bed tempatku tewas tadi malam! :D

Masih jam10 pagi, dengan santai aku dan teman-temanku mengambil posisi favorit di bar Belushi's yang baru buka. Posisi favorit kami berempat adalah di meja deretan paling depan, tepat di depan main stage. Rasa lapar sehabis cocktail party semalam membuat kami memutuskan untuk kembali makan Flying Pigs porsi jumbo seperti kemarin, ditambah dengan Wedges Fries dan salad. Tanpa tedeng aling-aling, kami melahap tulang-tulang rusuk bakar itu hingga tak bersisa. Dan baru sadar ternyata banyak bule-bule di sekitar kami yang memandang takjub kearah empat gadis Indonesia berbadan mini dengan porsi makan kuli ini. Hehehe... Memang sih, dibandingkan dengan menu sarapan para bule itu, menu kami memang bisa dibilang nggak tahu diri. Masih pagi koq ya bisa-bisanya menyantap porsi jumbo Pork Ribs! Tapi ya begitulah orang Indonesia tho? Makan kudu nampol pooolll.... :p

Tepat tengah hari, kami keluar hostel untuk memulai penjelajahan dengan tujuan pertama adalah Prague Castle. Namun sayang, sarung tangan ku ketinggalan di kamar. Jadilah teman-temanku pergi jalan duluan ke arah Vltava river bank, sementara aku kembali masuk ke hostel untuk mengambil sarung tangan. Maklum, suhu musim dingin seringkali membuat badan menggigil nggak karuan jika tidak memakai perlengkapan perang yang hangat. Keluar dari hostel, aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi di jalanan. Berbekal peta, aku menyusuri jalanan cobbled stone di area Odborů, mencoba menemukan ketiga temanku yang ternyata jalannya cepat juga. Setelah ngubek-ngubek gang dan jalanan di Odborů sampai ke jembatan Most Legii, akhirnya aku menyerah dan memutuskan jalan sendiri. Toh nanti kami pasti akan bertemu di Prague Castle juga bukan? Jadi ya nggak masalah kalau kali ini terpisah dari mereka.
Matahari pagi di kota Praha

Menyusuri pinggiran sungai Vltava menuju Charles Bridge, aku berjalan di trotoar tepi sungai yang siang itu ramai oleh wisatawan pejalan kaki. Aku perhatikan, semua orang berpakaian dengan warna-warna gelap. Entah itu hitam, abu-abu, biru dongker, ataupun coklat. Sekilas seolah mereka memakai mantel yang sama saking warna nya yang monoton semua. Jarang sekali ada yang memakai outer clothes atau coat dengan warna terang alias ngejreng. Sekalinya ada, sudah pasti yang memakai adalah orang Asia bermata sipit. Hehe... Entah kenapa, setelah aku perhatikan memang benar bahwa ras kulit kuning bermata sipit selalu berani tampil dengan warna cerah dan style yang sedikit lebih 'catchy' ketimbang orang-orang Eropa itu sendiri. Contoh, aku menemukan dua sejoli bermata sipit jalan-jalan di kota Praha yang notabene jalanannya nggak bisa dibilang mulus itu -yang full cobbled stone- bisa-bisanya si cewe pakai boots high heels runcing sekitar 15cm dan pakai stocking jala plus rok setengah paha loreng-loreng. Masalah gitu? Ya kalau bukan saat winter dan jalanan mulus sih ya nggak masalah. Cuma nggak bisa ngebayangin aja gitu, di suhu musim dingin yang terkadang minus ini, bisa aja ya pakai stocking jala yang bolong-bolong itu. Hehehe... nggak kenal sama masuk angin kayanya. Tapi aku acungi jempol buat style nya orang Asia yang unyu-unyu itu. Kalau bukan karna sentuhan warna-warna pakaian orang Asia, pasti pemandangan di Eropa akan sangat membosankan dengan seliweran manusia berbaju hitam atau abu-abu. (ssttt.... aku pun kini ketularan doyan baju warna gonjreng lho! hihi...)
Charles Bridge dengan latar belakang Mala Strana
 Menyusuri Charles Bridge di siang hari terasa sungguh berbeda dengan malam hari. Siang itu suasana jembatan tetap seramai malam, namun yang membedakan adalah di siang hari banyak terdapat street artist, baik pengamen maupun pelukis jalanan. Tak lupa juga para pedagang kaki lima penjual kartu pos. Hmmm... aku koq lebih suka suasana malamnya ya. Terasa lebih mistis dan damai kalau malam.
Saat menyeberangi Charles Bridge, terlihat beberapa kerumunan disekitar sebuah patung. Patung seorang Santo berukuran kecil itu ditempatkan di sebuah jeruji berukir, yang di sekitarnya banyak tergantuk gembok-gembok cinta. Penasaran aku ikut mendekat ke gerombolan manusia yang tampak mengantre tersebut. Dengar punya dengar ternyata ada kepercayaan yang mengatakan kalau kita mengusapkan tangan kita ke patung maka akan enteng jodoh bagi yang jomblo dan langgeng bagi yang berpasangan. Haha... Percaya? Gak tahu deh ya... aku sih ikut mencoba saja karena kepalang tanggung mengantri. (eh tapi beneran lho manjur! Terbukti sebulan setelah hari itu, aku beneran bertemu someone special! Hehe...)
Main street of Mala Strana
Di kejauhan, sudah terlihat sang Prague Castle yang berdiri kokoh diatas dataran tinggi Malá Strana. Aku bergegas menyeberangi jembatan dan mulai menyusuri jalanan Malá Strana yang menanjak itu, menapaki ratusan anak tangga satu persatu hingga mencapai gerbang utama Castle. Sampai di puncak tangga, sambil ngos-ngosan aku memandang sekeliling. Dan wow... Pemandangan dari atas sini sangat indah! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatannya terlihat cantik dari atas sini.
Puas memelototi hamparan kota Praha, aku memasuki area Castle yang didepannya terdapat lapangan luas yang dikelilingi beberapa bangunan besar seperti museum dan post office. Sebelum memasuki gerbang utama Castle, aku berfoto bersama tentara penjaga yang berdiri tegap tanpa ekspresi di sisi gerbang. Meski digodain atau diledekin sekalipun mereka tetap tidak bergeming bak patung! Ganteng-ganteng tapi dingin! Hahaha...
ratusan anak tangga menuju Castle
benteng pembatas Castle
square di halaman depan Castle

Memasuki kawasan Castle, aku memandang takjub pada bangunan gothic-bohemian yang menjulang tinggi di depan mata. Arsitektur rumit yang sudah menghitam dimakan usia itu terlihat masih kokoh dengan gargoyle-gargoyle yang berdiri angkuh di tiap-tiap sudut menaranya. Ya, Gargoyle! Salah satu icon favoritku pada bangunan kuno di Eropa, anjing-anjing serigala bertampang menyeramkan itu terlihat keren dan cool di mataku. Aku kelilingi bangunan Castle itu satu kali dan kemudian ikut mengantri untuk masuk ke dalam Cathedral nya. Bagian dalam Cathedral sih menurutku sama saja dengan cathedral-cathedral lainnya, menakjubkan dengan interior klasik dan rose windows. Namun bagian luar bangunannya lah yang paling indah. Bangunan batu yang penuh dengan bentuk-bentuk rumit itu sangat indah dengan warna pastel kelabu yang menghitam, menandakan usianya yang telah berdiri selama ratusan tahun. Puas menelusuri setiap jengkal Prague Castle, aku melangkah ke halaman belakang Castle dimana terdapat beberapa museum dan cafe di gang-gang kecil. Maksud hati mau ngopi sebentar di sebuah cafe mungil di sudut jalan, namun ternyata cafe nya tutup. Sial! Padahal dinginnya sore itu betul-betul menggigit. Aku pun kembali ke halaman utama Castle dan duduk di sebuah bangku sambil melihat pertunjukan drama kelahiran Yesus didepan Cathedral. Kebetulan pas lagi duduk disana, ketiga temanku datang dari arah depan Castle, dan akhirnya menemukanku. Jadilah kami bersama-sama kembali.
Gerbang utama Castle
Pintu depan Cathedral
detail yang rumit pada bangunan kastil
the cool gargoyles!! :D
halaman belakang kastil
bagian dalam Cathedral
patroli penjaga

Matahari musim dingin tenggelam dengan cepat. Jam 5 sore saat suasana sudah hampir gelap, kami turun menuju ke pusat kota, bermaksud untuk mencoba arena Ice Rink di dekat Old Town Square. Namun terlebih dahulu mampir ke John Lenon Wall yang terletak di Grand Priory Square, Malá Strana. Dinding yang penuh coretan dan graffiti ini dulunya di tahun 1980 merupakan dinding biasa yang digambari wajah John Lenon dan beberapa lyric lagu The Beattles. Dan kemudian belakangan menjadi dinding simbol Love & Peace graffiti dimana anak-anak muda Czech bebas menuangkan inspirasi dalam bentuk coretan di dinding itu. Hmmm... Tak ada yang menarik sih sebenarnya dari dinding itu, hanya sebuah gambar wajah John Lenon yang di depannya dipasangi lilin dan bunga-bunga, entah maksudnya apa. Mungkin untuk mengenang sang musisi tersebut.
Praha saat senja, dengan bulan menggantung diatasnya :)
suasana Old Town malam hari
Kembali menyeberangi Charles Bridge menuju ke Old Town Square, melewati puluhan toko-toko souvenir, aku mencoba melongok sebentar ke beberapa toko. Rata-rata harga souvenir seperti magnet kulkas dan gantungan kunci relatif sama seperti di kota-kota lain di Eropa, sekitar €3/pcs. Banyak kulihat souvenir Matrioska dan Telur-teluran, yang notabene aku tahu itu aslinya berasal dari karya seni Rusia. Namun para pedagang di Ceko mengklaim bahwa Matrioska aslinya dari Ceko. Yaiyalah secara dulunya kan Ceko juga bagian dr Rusia saat namanya masih Uni Soviet! Haha... Nggak mau tertipu ah! Beli Matrioska nya nanti saja kalau beneran menginjak tanah Rusia, beli di negara asalnya. Amin...
salah satu sudut cantik di Praha :)
Tiba di Ice Rink, kamipun mulai asyik meluncur diatas es. Ehmmm.... lebih tepatnya hanya salah satu dari kami yang mampu meluncur mulus diatas es. Ya, hanya Asri yang jago main ice skating. Sedangkan aku, Grace, dan Michelle cuma mampu terseok-seok dan jago gelendotan di pagar Ice Rink! hahaha... Tidak dikenakan biaya untuk masuk arena Ice Rink, hanya perlu menyewa sepatu skate seharga Kč50. Puas bermain ice skating (plus jatuh bangun) kami kembali ke hostel dengan terlebih dahulu mampir jajan ke christmas market. Kemudian aku dan Grace memutuskan untuk menikmati suasana malam di Wenceslas Square, sementara Asri dan Michelle kembali nongkrong di Belushi's Bar untuk bercocktail ria. Jadilah aku duduk-duduk  selonjoran di depan National Museum yang megah itu sampai jam 12 malam, menikmati indahnya malam di kota Praha, sambil berbagi cerita dan mimpi bersama Grace. Well... Praha memang cantik dan bikin betah!
Asri asyik meluncur, aku asyik gelendotan pagar! Haha :D
_to be continue_
Here we are front of Prague Castle :)

Thursday, April 11, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 1)

Guncangan turbulence membangunkanku dari posisi tidur yang sangat tidak nyaman itu. Duduk di window seater pesawat German Wings, dengan kepala terkulai kesamping membuat leher terasa sakit seolah minta dipakaikan gips! Perlahan-lahan aku menggerakkan leher yang kram dengan tengok kanan dan kiri. Di sebelah kanan, teman-temanku terlihat masih asyik tertidur dengan posisi sama tak nyamannya seperti yang aku alami tadi. Saat aku menengok ke kiri, mata kantuk ku langsung terbuka lebar BYARRR...!!! Awan putih yang berserakan perlahan membuka sebuah ruang pandang yang berlatar belakang warna hijau berbukit-bukit. Cepat-cepat kuambil kameraku dan bersiap memotret apapun itu yang terlihat di bawah sana. Perlahan aku mulai melihat hamparan bukit-bukit nan hijau, dengan semburat warna orange dan pastel di beberapa sudut, yang tak lain berasal dari warna atap dan dinding rumah penduduk di pedesaan. Di beberapa bagian masih terlihat sedikit salju sisa kemarin, serta kabut tipis yang mengambang di hutan yang sudah mulai gundul daunnya. Pemandangann lahan pertanian di perbukitan dengan warna hijau segar itu benar-benar indah! Daerah pinggirannya saja sudah bagus seperti ini, bagaimana dengan pusat kotanya?! Senyum-senyum aku mengagumi keindahan sebuah negara di jantung benua Eropa ini dari ketinggian beberapa ratus meter diatas tanah, dan tak sabar rasanya ingin segera menginjakkan kaki di negara kelima ku, Czech Republic atau yang lebih gampang diingat dengan nama Republik Ceko!
Welcome to Prague! :)
Masih dalam sesi winter trip, kali ini aku mampir ke salah satu negara di Central Europe yang konon katanya sangat cantik dengan sisa-sisa peninggalan masa Bohemian nya. Ya, Czech Republic! Bekas negara jajahan Uni Soviet ini yang dulunya bernama Ceko-Slovakia, kini telah merdeka dan berdiri sendiri menjadi Republik Ceko. Konon dulunya di negara inilah pusat kejayaan masa Bohemia berada. Dapat dilihat dari sisa-sisa bangunan dan kastil yang kental bergaya gothic-bohemian, negara dengan ibu kota Prague/Praha ini membuatnya masuk dalam daftar 'wajib kunjung' ku.
Jadilah aku bablas mampir kesana setelah menghabiskan 3 hari di Jerman. Dengan perjalanan kurang lebih selama satu jam dengan pesawat, kini tibalah aku di sebuah kota cantik bernama Praha!
Keluar dari Václav Havel Airport Prague, aku langsung mencari counter penjual tiket untuk naik bus/tram/metro/train. Disini, satu tiket berlaku untuk keempat jenis transportasi darat tersebut, dengan sistem timer yang akan dihitung sejak saat kita memasukkan tiket ke mesin stamp. Aku membeli tiket single trip seharga Kč32 (€1 = CZK/Kč 25) yang berlaku selama 90 menit sejak tiket tersebut divalidasi. Dari airport aku naik bus menuju Dejvická untuk kemudian berganti metro menuju pusat kota Praha. Ada yang unik dari salah satu stasiun metro di Praha, yaitu stasiun Karlovo Náměstí. Dimana terdapat eskalator dengan panjang dan tinggi yang luar biasa, seolah eskalator itu membawa kita dari perut bumi menuju permukaan tanah. Benar-benar panjang dan curam! Sampai-sampai nggak terbayang deh kalau harus mendaki eskalator ini saat mati lampu atau rusak. Alamaaak... Like a stairway to heaven! Haha.... 
Kali ini aku menginap di St. Christopher Mosaic House, sebuah hostel dengan reputasi yang bagus di rating hostelworld.com yang terletak di dekat stasiun metro Karlovo Náměstí. Letaknya yang strategis di daerah Odborů, ditambah dengan fasilitas bar dan restaurant Belushi's, plus harga yang bersahabat di kantong backpacker, membuat hostel ini selalu ramai didatangi para traveler dari berbagai belahan bumi. Untuk Female Dormitory Room, saat itu aku mendapat harga Kč250/malam untuk 2 malam pertama, dan Kč400 untuk malam terakhir. Mengingat saat itu adalah peak season yang bertepatan dengan liburan Natal, maka tak heran harganya sedikit lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya. Saat check in, para tamu yang menginap diberi privilege discount voucher untuk makan dan minum di Restaurant dan Bar disitu. Lumayan dapat diskon 25% untuk makan, dan pay 1 for 2 untuk minuman. Jadilah kami berempat makan siang di Belushi's Bar dengan menu super kalap! Kenapa kalap? Ya karena porsi makanan disini sangat besar dengan harga yang relatif murah dan nggak bikin kantong kere. Rasa? Jangan ditanya... Kalau rasanya tidak nikmat, bagaimana mungkin kami berempat mampu menghabiskan 4 porsi besar Pork Ribs, Flying Pigs, dan Jumbo Burger! Hasilnya? Hanya tersisa tulang belulang di piring dan empat anak manusia yang duduk terkulai kekenyangan! Hahaha... Kesemua makanan itu ternyata hanya menguras sekitar €22 saja dari kantong kami, yang artinya tak sampai €6 per orang. Cukup murah bukan untuk kualitas makan di restaurant dengan porsi sekelas kuli? ;)

Before :)

And after :))
Prague at night

salah satu sudut kota Praha
Malam pertama di Praha, kami berempat menyusuri seisi kota yang saat itu meriah gemerlap dengan lampu-lampu natal di setiap sudut kota. Menyusuri jalanan cobbled stone dari Odborů ke Wenceslas Square, aku hanya terbengong-bengong mengagumi tata arsitektur kota yang sangat klasik, rapi, dan bernuansa hangat. Bahkan gang-gang kecil pun terlihat cantik di malam hari dengan penerangan lampu jalan berwarna kuning hangat. Saat tiba di Wenceslas Square - Nové Město, kembali mulut ini ternganga ketika menengok ke kanan, terlihat sebuah bangunan besar bergaya klasik dengan kubah nan anggun. Ternyata itulah National Museum, yang berdiri kokoh disebuah dataran tinggi diujung Wenceslas Square. Sebenarnya sulit sekali menggambarkan keindahannya dengan kata-kata, jadi aku hanya akan menuliskannya dalam sebuah kata "Mengagumkan"!

National Museum
Di ujung kiri Wenceslas Square ada sebuah pasar natal yang sayangnya telah tutup saat aku tiba. Disana berdiri sebuah pohon natal raksasa setinggi sekitar 15m yang dijadikan tempat foto laris manis malam itu oleh sebagian besar pengunjung. Dari Wenceslas aku menyusuri gang-gang kecil yang dipadati dengan toko souvenir di kanan-kiri jalan, menuju ke sasaran utama malam itu yaitu Old Town Square - Staré Město. Malam itu suasana Old Town Square sangat ramai, hingga susah sekali mendapatkan spot foto yang bagus. Semua orang sepertinya ingin menghabiskan malam natal disana. Kerumunan manusia terlihat berkumpul di depan Astronomical Clock, menunggu jam kuno tersebut berdentang setiap satu jam sekali. Aku pernah mendengar bahwa banyak pengunjung yang penasaran terhadap si jam yang tersohor ini, namun akhirnya harus menelan kekecewaan akibat atraksi jam yang dibawah ekspektasi. Hmm... aku sendiri sebenarnya juga penasaran, ingin melihat seperti apa sih atraksi jam kuno yang menjadi icon kota Praha tersebut. Namun aku sudah bersiap-siap juga untuk menyaksikan kemungkinan terburuknya sekalipun. Dan benar saja! Tepat pukul 8 malam, sang Astronomical Clock itu berdentang dengan beberapa boneka kayu yang menari pelan di atasnya. Lalu? Ya sudah, itu saja ternyata! Hahaha... Aku pun tertawa terbahak-bahak seusai pertunjukan itu, melihat banyak wajah-wajah turis yang terbengong-bengong dengan suguhan atraksi yang... hmmm... biasa saja itu. Beneran deh, masih bagusan atraksi jam yang di Plaza Senayan kalau menurutku sih! hehehe...


The famous Astronomical Clock
Prague Christmas Market
Merry Xmas!!! :D
Old Town Square malam itu dipenuhi dengan jejeran kios-kios pasar natal bernuansa merah. Sangat semarak dengan hadirnya sebuah pohon terang dan ribuan lampu penghias taman. Seolah tak ada satu space pun yang terlewatkan dari lilitan lampu kerlap-kerlip itu. Dan menyusuri pasar malam tidak afdol rasanya kalau tidak mencicipi sesuatu, ya toch? Aku pun mencoba si pastry tradisional Trdelnik dan Crepes berisi Nutella. Puas cicip-cicip, lanjut lagi menyusuri si kota tua menuju ke arah The Famous Icon of Prague - Charles Bridge! Keindahan Charles Bridge ini akan selalu ditemukan disetiap kartu pos Praha. Sebuah jembatan cantik yang membelah sungai Vltava, dengan jejeran patung-patung klasik di sepanjang bahu jembatan, menghubungkan Old Town Staré Město dengan Lesser Town Malá Strana tempat sebuah kastil tua bertengger di atas bukitnya. Dan lagi-lagi mulut ini mengucap "Wow..." saat menapakkan kaki di atas jembatan cantik tersebut. Menyusuri sebuah jembatan paling cantik di sebuah kota paling cantik di jantung benua Eropa, rasanya.... betul-betul sebuah anugerah! Berdiam diri aku menikmati setiap jengkal Charles Bridge malam itu, sementara ketiga temanku lainnya sedang asyik foto-foto. Aku lebih memilih menikmati malam dingin itu dengan berjalan pelan dan khidmat di sepanjang Charles Bridge, di malam natal, mem-flash back kembali segala peristiwa dalam hidup, dan akhirnya mengucap syukur sepenuh hati atas semua berkat dan anugerah yang aku terima hingga detik itu. Damai sekali rasanya...
Vltva riverbank view from Charles Bridge
Prague Castle view from Charles Bridge
Malam semakin dingin dan berkabut. Udara winter bulan Desember memaksa kami untuk segera kembali ke hostel untuk mencari kehangatan. Kami berempat memutuskan untuk nongkrong sebentar di bar Belushi's dengan beberapa gelas bir dan seember cocktail. Apa? Seember? Ya, seember! Kami memesan cocktail 'Sex on the beach' yang merupakan campuran dari Vodka, peach, cranberry, serta orange juice berukuran sekitar 2.5ltr yang disajikan dalam goldfish-aquarium berlogo Bacardi. Cara minumnya pun unik, dengan menggunakan pipet/sedotan sepanjang setengah meter, yang dijamin bakal bisa bikin cepet tipsy! Hehehe... Rasanya? Enak! Dan murah, hanya €20 dan dibagi berempat. Jadilah kami menghangat malam itu. :p


This is it... Sex on the beach cocktail in a BIG glass :D
Yummieee....

And finally... One Girl Down!!! :))
_to be continue..._

Monday, March 25, 2013

A Lil' Step to... Germany

Aku berkesempatan mengunjungi negara tetangga ini pada liburan Natal tahun lalu, Desember 2012. Letaknya yang bersebelahan dengan Belanda membuatnya mudah dicapai baik melalui darat maupun udara. Kali ini aku menggunakan jalur kereta yang hanya memakan waktu 3 jam dari Rotterdam menuju Düsseldorf, Jerman. Dengan tiket seharga €17.5 yang sudah aku booking sejak beberapa minggu sebelumnya, aku memulai petualangan bolang ke tiga kota di provinsi North-Rhine Westphalia yaitu Düsseldorf, Duisburg, dan Köln.

Düsseldorf HBF Station

Kereta dari Belanda tidak ada yang langsung menuju Jerman melainkan harus transit dulu di Venlo, sebuah kota di perbatasan Belanda-Jerman. Dari Belanda aku naik si kuning-biru Nederlandse Spoorwegen (NS) Intercity, kemudian berganti kereta Deutsche Bahn (DB) tujuan Düsseldorf. Saat berganti kereta, jelas terasa perbedaannya, antara lain bahasa yang digunakan sebagai petunjuk didalam kereta menggunakan bahasa Jerman, begitu pula pengumuman dari pengeras suara. Kereta DB hari itu penuh sekali, sangat berbeda dengan suasana kereta NS sebelumnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam, dengan satu kali transit di Moenchengladbach.

Tiba di Düsseldorf, suasana natal langsung menyeruak di langit-langit stasiun kereta The Düsseldorf Hauptbahnhof (HBF). Ratusan sparkling lamps menggantung lembut di setiap sudut, dengan beberapa pohon natal menghiasi pintu masuk, serta seorang berpakaian Santa sedang sibuk membagi-bagikan coklat dan permen di main hall. Keluar dari stasiun, langsung ketemu dengan beberapa kios snack&coffee yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan dedaunan Holly serta krans natal, sangat cantik. Aku bertemu dengan salah seorang teman dari Couchsurfing, Danell, seorang asal Venezuela yang bekerja di Düsseldorf selama beberapa tahun. Dia berbaik hati menemani dan mengantarkan aku dan teman-teman untuk keliling (well, sebagian kecil) kota Düsseldorf, terutama mengunjungi berbagai Christmas Market Bubble disana. Namun sayangnya cuaca hari itu sedang tidak bersahabat, gerimis dan hujan mengiringi perjalanan kami menelusuri sudut kota Düsseldorf.
Tujuan utama ke Jerman kali ini memang terfokus pada kemeriahan suasana Pasar Natalnya. Bergerak dari satu spot ke spot yang lain, mata ini dimanjakan dengan kemerlip indahnya segala ornamen hijau-merah dan gold, serta hidung yang terbuai oleh harumnya bau makanan dan wine hangat yang memenuhi atmosfer. Selain menelusuri Christmas Market Bubbles, aku juga diajak menyusuri salah satu jalanan paling terkenal di kota Düsseldorf ini, yaitu Königsallee, sebuah boulevard di tepi kanal yang sarat oleh butik-butik terkenal merk dunia di setiap sisi jalannya. Kemewahan butik-butik di Königsallee ini membuatnya dijuluki sebagai "Champs-Élysées"-nya Jerman! Yah, memang bukan "gue banget" dah menyusuri jalanan luxury ini, tapi namanya juga diantar oleh seorang teman yang bertindak sebagai tuan rumah, why not kalau dicoba.

salah satu tipikal gedung di Jerman

Bangunan di Düsseldorf mayoritas besar-besar dengan bentuk kaku dan kokoh serta berwarna suram dimakan usia yang sudah tua. Aura yang terasa ditengah kota ini seperti dingin dan defensif, meskipun sedang berada ditengah keramaian, namun seolah gedung-gedung tua itu menunduk dan menatap dingin kearahku. Entah cuma imajinasiku saja atau aku sedang menahan dinginnya suhu di negara Sang Nazi Hitler tersebut. Haha...

Ada pengalaman kurang menyenangkan selama menyusuri jalanan di Düsseldorf ini. Tau donk kalau aku selalu membawa ransel saat traveling? Nah, si ransel gendutku ini tanpa sengaja menyenggol orang saat menyeberangi zebra cross di dekat kawasan Königsallee. Aku sudah berniat baik meminta apologize, tetapi yang aku dapatkan malah makian dan gerundelan berbahasa Jerman dari seorang laki-laki, plus mata melotot dan mulut mengsong-mengsong ngomel! Whatttt??? Lho, salahku apa tho? Kan cuma ransel yang nyenggol tanpa sengaja saat gerombolan manusia memenuhi zebra cross untuk menyeberang jalan. Menurutku itu hal yang wajar dan tanpa disengaja, tetapi kenapa si mas Jerman ini ngomel gajebo and misuh-misuh begini? Dan kejadian ini kembali terulang hingga 3x! Bayangkan, TIGA KALI aku dimaki dan diomeli warga Jerman karena masalah "kesenggol ransel" doank! Kontan dari situ aku menjadi hilang respect sama warga Jerman, terutama cowok-cowok nya, yang menurutku tampangnya dingin semua seperti Hitler! Gggggrrr.....

Promenade Rhine River
Puas menyusuri Pasar Natal, si tuan rumah mengantarkan kami menelusuri Rhine River mulai dari The Promenade hingga ke Burgplatz, dimana terdapat sebuah menara peninggalan kastil tua yang kini dijadikan sebagai Museum Navigasi. Lapangan Burgplatz ini sangat cozy untuk acara ngopi-ngopi menikmati sore hari, namun sayangnya sore itu hujan deras sehingga kami tidak bisa mencicipi suasana ngopi di cafe outdoor. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri Altstadt atau Old Town, sebuah area downtown dimana terdapat ratusan bar, yang oleh dunia dijuluki sebagai "The Longest Bar In The World". Well, sebenarnya penampakannya bukan seperti namanya, Bar Terpanjang di Dunia, melainkan karena area ini dipenuhi oleh bar-bar di setiap sudut jalanannya, menjadikan tempat ini terlihat selalu ramai dan tak pernah sepi di malam hari. Kalau kesini, jangan lupa untuk mencicipi beer asli Jerman, Altbier, yang konon hanya diproduksi di daerah Düsseldorf dan sekitarnya.
Burgplatz
Salah satu sudut 'The Longest Bar in The World'
Hujan yang tak berkesudahan hari itu membuat kami semua cepat lelah karena kedinginan. Setelah menyantap sepotong Turkse Pizza untuk makan malam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Duisburg dengan kereta. Sebetulnya tujuan kami ke Duisburg bukan untuk mengeksplore kota kecil tersebut, melainkan karena host Couchsurfing yang akan menampung kami bermalam saat itu tinggal di Duisburg. Jadilah kami berpisah dengan Danell, si Venezuelan guy yang sudah berbaik hati menemani kami seharian di Düsseldorf itu. Aku dan ketiga temanku meluncur ke Duisburg menggunakan kereta dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.

Setiba di Duisburg, hujan belum juga berhenti. Kami memutuskan ngopi-ngopi sebentar di sebuah cafe Italia didepan stasiun, sambil menunggu host CS tiba. Chris, sang host CS, adalah seorang asli Jerman yang ramah (terlalu ramah malah untuk ukuran orang Jerman! Haha...) Dia mempersilahkan kami berempat menginap dirumahnya selama semalam. Jujur, ini pengalaman surfing CS yang paling konyol yang pernah aku alami. Si host ini rupanya seorang yang doyan banget ngomong. Dia tidak ada hentinya ngajakin ngobrol meski kami semua sudah kelelahan dan mengirim sinyal-sinyal bertanda "STOP TALKING" kepadanya. Alhasil cara terampuh untuk membuatnya sadar bahwa kami sudah mengantuk adalah aku pura-pura ketiduran di sofa! Haha... Konyol memang, tapi ya inilah serba-serbi per-couchsurfing-an. Ada kalanya beruntung mendapatkan host yang baik hati dan enak diajak komunikasi, dan ada kalanya sedikit sial mendapatkan host yang 'weird' dan menyebalkan. Well, aku nggak bilang si Chris ini nggak baik ya... Dia baik, cuma cerewetnya over dosis dan pakai battery Alkaline pula, yang menyebabkan kami semua buru-buru angkat kaki dari apartmentnya pagi-pagi keesokan harinya! haha...
suasana kota Duisburg yang sepi
Pagi hari di Duisburg, aku dan teman-teman menyusuri kota kecil ini dengan berjalan kaki menuju stasiun. Sepanjang jalan, sambil mengunyah biskuit sebagai menu sarapan (maklum traveler kere), kami menyusuri jalanan dengan gedung-gedung besar nan tua di kanan kiri jalan. Seperti kota mati saja rasanya! Hanya kami berempat yang terlihat di jalanan, dengan daun-daun kering beterbangan tertiup angin dingin di sela-sela langkah kami, benar-benar membuat suasana makin dingin dan horor! Berasa ada sepasang mata Hitler sedang mengawasi kami dan siap menembakkan bedilnya ke kepala kami... DOR!! Hahaha... Lebay ah! Tapi memang benar, kota ini terlihat sangat suram dan dingin. Sangat terlihat tidak ramah. Well, ingin rasanya cepat-cepat kabur dari kota ini dan melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya, Köln.

Mejeng didepan Kolner Dom :)
Kereta bergerak melewati jejeran rumah-rumah beratap tinggi khas Jerman, menuju selatan selama kurang lebih 45 menit. Memasuki pusat kota Köln, kereta menyeberangi jembatan Hohenzollernbrücke di atas Rhine River, yang merupakan salah satu icon kota Köln yang sering terpampang di kartu pos. Dari jembatan ini, sudah terlihat sebuah bangunan gothic tua yang menghitam dimakan usia, dengan menara-menaranya yang mencuat kokoh diantara bangunan disekitarnya. Ya, itulah Kölner Dom, sang icon kebanggaan kota Köln, salah satu gereja gothic tertua di Eropa.
Kolner Dom di malam hari
Stasiun kereta Köln HBF terletak persis disamping si gereja tua nan cantik Kölner Dom itu. Namun aku tidak buru-buru menyambanginya, melainkan terlebih dahulu ke hostel demi manaruh ransel. Jarak dari stasiun ke Pathpoint Hostel tidak begitu jauh, hanya perlu berjalan kaki 3 menit saja. Memasuki hostel, kami disambut dengan jejeran bendera-bendera kecil dari berbagai negara di pintu masuknya. Receptionist yang ramah memproses bookingan kami dan menyerahkan kunci, plus manawarkan sekeranjang kecil penuh kue-kue natal. Hmmm... pas banget lagi kelaperan (maklum backpacker kere! hehe) langsung comot saja beberapa Kokos cookies dan Spechulas. Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah: Masak INDOMIE Goreng!!! Ya, santap siang dengan menu Indomie goreng plus sambal ABC itu nikmatnya mengalahkan seloyang pizza maupun sepiring pasta! Kami masak di dapur hostel yang sangat bersih dan lengkap peralatannya. Para tamu hostel diperbolehkan memakai semua peralatan masak, dan kemudian membersihkannya kembali. Menjaga kebersihan secara independent sangatlah penting, karena di hostel ini apa-apa semua serba sendiri termasuk pasang seprai untuk kasur masing-masing. Di area dapur, terdapat sebuah dinding tempat para traveler menempelkan kertas berisi tulisan testimonial. Hampir dari seluruh benua aku lihat ada yang menginap disini, termasuk satu dari Indonesia beberapa bulan lalu, dan kemudian tentunya kami ber-empat, si gadis-gadis Indonesia ini. Hehe... Pathpoint hostel ini recomended deh. Selain rapi, bersih, fasilitas lengkap, juga sangat ramah pelayanannya. Letaknya pun sangat dekat dengan stasiun dan Kölner Dom, membuat hostel ini mendapat rating yang sangat bagus di hostelworld.com.
Pintu masuk hostel Pathpoint
dapur hostel yang bersih
Testimonial board
Female Dormitory Room, sangat bersih dan nyaman!
Aku hanya menghabiskan satu hari dan satu malam di Köln, dengan tujuan utama hanya mengeksplore Christmas Market dan Köln City Centre. Tentang betapa meriahnya christmas market sudah aku ulas di postingan sebelumnya. Namun tentang pengalaman (lagi-lagi) kurang enak selama disana, akan aku ceritakan disini, yang masih mengenai ketidak-ramahan orang-orang di Jerman. Selama berwisata kuliner di pasar natal itu, aku perhatikan sebagian besar penjual yang melayani pembeli tidak pernah mengucapkan kata-kata "You're Welcome" saat pembeli bilang "Thank You". Serta raut muka mereka yang rata-rata 'kencang' bak pakai masker putih telur itu, jarang sekali melayani pembeli dengan senyum renyah ramah tamah layaknya para penjual pada umumnya. Raut-raut muka sedingin Hitler tampak dengan tegas bak tentara melayani pembeli yang mengantre di depan kios mereka. Aku yang sudah terbiasa disapa dan dilayani dengan ramah oleh warga Belanda menjadi sedikit kecewa saat bertransaksi dengan para pedagang Jerman ini. Jika di Belanda para penjual slalu mengucapkan "Alstublieft" bernada ramah saat memberikan barang maupun uang kembalian, lain halnya dengan para pedagang Jerman yang dengan cueknya memberikan uang kembalian tanpa menjawab sapaan "Danke" dan senyumanku! Sial!
ke'tidakramah'an Jerman terlihat dari stasiun yang tidak menyediakan bangku di sepanjang peron nya :(
Tak hanya para pedagang yang bertampang jutek, para pengunjung pun (yang kemungkinan warga lokal) juga bertampang jutek. Contohnya, saat aku dan salah seorang teman hendak mengambil foto disebuah patung, ada seorang Ibu gendut dengan suami dan anaknya menghalangi angle kamera ku. Dengan sopan aku bilang ke si Bapak dan anak nya "Excuse me, I wanna take a picture. Could you please give me some space?" Si Bapak dan anak melipir ke samping memberikan tempat, tetapi si Ibu gendut masih tetap berdiri di tengah-tengah. Aku dengan sabar berdiri dan menunggu kalau-kalau si Ibu akan pindah posisi. Tapi yang ditunggu sepertinya nggak tahu ditunggu, si Ibu gendut dengan cueknya malah asyik mengunyah di tengah-tengah spot foto yang akan ku ambil. Sekali lagi aku menyapa dengan sopan ke si Ibu, tapi tahu apa yang terjadi selanjutnya??? Si Ibu malah dengan nyolotnya jawab "Why you didn't tell me before? Why you didn't just tell 'Excuse Me' hah?" dan dia menggerundel seribu bahasa dewa!! Aku yang shock diomelin si Ibu gendut hanya mampu menjawab dengan geram "Maam, I did it! I said 'Excuse Me' to you, even TWICE!!!". Dan si Ibu masih saja terus melotot dan menyinyirkan mulutnya, sampai si anak berkata padanya "Mom, she said it before but you didn't hear maybe". Dan kemudian si Ibu gendut pun ngeloyor pergi tanpa say sorry, diikuti suami dan anaknya yang tersenyum simpul. Aku masih berdiri shock dengan mulut menganga melihat kelakuan si Ibu jutek itu, kemudian aku menyumpah serapah dan bete sendiri gara-gara kejadian itu. Sampai-sampai aku bilang ke teman-temanku "Kagak bakal gue balik lagi ke Jerman!! Amit-amit dah ni negara kenapa isinya orang jutek semua?! Kemana-mana bawaannya ngeri diomelin orang mulu! Gue gak betaaaaahhhhh disiniiiii.....huwaaaaa....."
Namun untungnya ke-bete-an itu hanya berlangsung sesaat karena aku kembali sibuk berwisata kuliner. Hehe... Perut kenyang hatipun senang... :)
Daging panggang terpanjang! 50cm saja :D
Gluhwein, wine panas yang laris manis saat winter
cantiknya suasana malam di pasar natal
Menyusuri kota Köln di malam hari, berniat ingin mengabadikan foto jembatan Hohenzollernbrücke yang sangat indah dengan lampu-lampu melengkung nya. Tapi sayang si jembatan nan anggun itu terhalang oleh jembatan lainnya, sehingga kurang bagus untuk difoto. Alhasil kami hanya menyusuri sungai Rhine menuju Museum Chocolate, kemudian berputar ke arah Köln City Centre yang dipenuhi dengan pertokoan dan butik-butik kenamaan. Suasana di City Centre ini cukup meriah dengan hiasan lampu-lampu natal yang
menggantung di sepanjang jalan. Dan aku juga melihat counter Dunkin Donuts di salah satu sisi jalan. Hmmm... kangen juga dengan si donat gemuk itu! Sayang di Belanda tidak ada Dunkin... Apalagi J.co! Hehe...
Puas menyusuri malam di Köln, kami kembali ke hostel dan packing karena besok pagi harus check out dan langsung menuju Köln-Bonn Airport untuk terbang ke negara selanjutnya, Czech Republic! Kesan selama 3 hari di Jerman... Seru. Puas menjajal berbagai jenis makanan berporsi jumbo, puas keliling ke berbagai pasar natal, meski mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan orang Jerman. Hehe... So far, Jerman oke lah... Meski aku tidak yakin apakah akan kembali lagi kesana atau tidak. Dan kalaupun akan kembali ke Jerman, aku mengincar Berlin dan Bavaria. Amin! (diaminkan saja dulu ya. hehe)
Kami berempat :)

Tips:
- Mau traveling murah meriah? Jangan ragu bawa/beli Indomie buat sarapan. Harga Indomie di Jerman relatif terjangkau, hanya €0.29. Kan lumayan bisa masak sendiri di hostel, jadi irit biaya makan. Dan jangan lupa juga untuk mencoba berbagai jenis makanan khas Jerman seperti: Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. Dijamin puas kulineran di Jerman! Dan siap-siap menggendut setelahnya. Hahaaa... :D
- Total pengeluaran selama 3 hari di Jerman (Transportasi + Makan + Menginap) hanya €70. Yakin tuh??? Yakin dooonk... Tiket kereta dari Belanda ke Jerman saja cuma €17.5, transportasi selama di Jerman cuma €15.2, biaya hostel cuma €15, sisanya buat biaya makan. Irit bukan berarti kami kelaparan lhooo... :)
Sampai jumpa di cerita selanjutnya... Praha! ;)

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post