Monday, March 25, 2013

A Lil' Step to... Germany

Aku berkesempatan mengunjungi negara tetangga ini pada liburan Natal tahun lalu, Desember 2012. Letaknya yang bersebelahan dengan Belanda membuatnya mudah dicapai baik melalui darat maupun udara. Kali ini aku menggunakan jalur kereta yang hanya memakan waktu 3 jam dari Rotterdam menuju Düsseldorf, Jerman. Dengan tiket seharga €17.5 yang sudah aku booking sejak beberapa minggu sebelumnya, aku memulai petualangan bolang ke tiga kota di provinsi North-Rhine Westphalia yaitu Düsseldorf, Duisburg, dan Köln.

Düsseldorf HBF Station

Kereta dari Belanda tidak ada yang langsung menuju Jerman melainkan harus transit dulu di Venlo, sebuah kota di perbatasan Belanda-Jerman. Dari Belanda aku naik si kuning-biru Nederlandse Spoorwegen (NS) Intercity, kemudian berganti kereta Deutsche Bahn (DB) tujuan Düsseldorf. Saat berganti kereta, jelas terasa perbedaannya, antara lain bahasa yang digunakan sebagai petunjuk didalam kereta menggunakan bahasa Jerman, begitu pula pengumuman dari pengeras suara. Kereta DB hari itu penuh sekali, sangat berbeda dengan suasana kereta NS sebelumnya. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam, dengan satu kali transit di Moenchengladbach.

Tiba di Düsseldorf, suasana natal langsung menyeruak di langit-langit stasiun kereta The Düsseldorf Hauptbahnhof (HBF). Ratusan sparkling lamps menggantung lembut di setiap sudut, dengan beberapa pohon natal menghiasi pintu masuk, serta seorang berpakaian Santa sedang sibuk membagi-bagikan coklat dan permen di main hall. Keluar dari stasiun, langsung ketemu dengan beberapa kios snack&coffee yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan dedaunan Holly serta krans natal, sangat cantik. Aku bertemu dengan salah seorang teman dari Couchsurfing, Danell, seorang asal Venezuela yang bekerja di Düsseldorf selama beberapa tahun. Dia berbaik hati menemani dan mengantarkan aku dan teman-teman untuk keliling (well, sebagian kecil) kota Düsseldorf, terutama mengunjungi berbagai Christmas Market Bubble disana. Namun sayangnya cuaca hari itu sedang tidak bersahabat, gerimis dan hujan mengiringi perjalanan kami menelusuri sudut kota Düsseldorf.
Tujuan utama ke Jerman kali ini memang terfokus pada kemeriahan suasana Pasar Natalnya. Bergerak dari satu spot ke spot yang lain, mata ini dimanjakan dengan kemerlip indahnya segala ornamen hijau-merah dan gold, serta hidung yang terbuai oleh harumnya bau makanan dan wine hangat yang memenuhi atmosfer. Selain menelusuri Christmas Market Bubbles, aku juga diajak menyusuri salah satu jalanan paling terkenal di kota Düsseldorf ini, yaitu Königsallee, sebuah boulevard di tepi kanal yang sarat oleh butik-butik terkenal merk dunia di setiap sisi jalannya. Kemewahan butik-butik di Königsallee ini membuatnya dijuluki sebagai "Champs-Élysées"-nya Jerman! Yah, memang bukan "gue banget" dah menyusuri jalanan luxury ini, tapi namanya juga diantar oleh seorang teman yang bertindak sebagai tuan rumah, why not kalau dicoba.

salah satu tipikal gedung di Jerman

Bangunan di Düsseldorf mayoritas besar-besar dengan bentuk kaku dan kokoh serta berwarna suram dimakan usia yang sudah tua. Aura yang terasa ditengah kota ini seperti dingin dan defensif, meskipun sedang berada ditengah keramaian, namun seolah gedung-gedung tua itu menunduk dan menatap dingin kearahku. Entah cuma imajinasiku saja atau aku sedang menahan dinginnya suhu di negara Sang Nazi Hitler tersebut. Haha...

Ada pengalaman kurang menyenangkan selama menyusuri jalanan di Düsseldorf ini. Tau donk kalau aku selalu membawa ransel saat traveling? Nah, si ransel gendutku ini tanpa sengaja menyenggol orang saat menyeberangi zebra cross di dekat kawasan Königsallee. Aku sudah berniat baik meminta apologize, tetapi yang aku dapatkan malah makian dan gerundelan berbahasa Jerman dari seorang laki-laki, plus mata melotot dan mulut mengsong-mengsong ngomel! Whatttt??? Lho, salahku apa tho? Kan cuma ransel yang nyenggol tanpa sengaja saat gerombolan manusia memenuhi zebra cross untuk menyeberang jalan. Menurutku itu hal yang wajar dan tanpa disengaja, tetapi kenapa si mas Jerman ini ngomel gajebo and misuh-misuh begini? Dan kejadian ini kembali terulang hingga 3x! Bayangkan, TIGA KALI aku dimaki dan diomeli warga Jerman karena masalah "kesenggol ransel" doank! Kontan dari situ aku menjadi hilang respect sama warga Jerman, terutama cowok-cowok nya, yang menurutku tampangnya dingin semua seperti Hitler! Gggggrrr.....

Promenade Rhine River
Puas menyusuri Pasar Natal, si tuan rumah mengantarkan kami menelusuri Rhine River mulai dari The Promenade hingga ke Burgplatz, dimana terdapat sebuah menara peninggalan kastil tua yang kini dijadikan sebagai Museum Navigasi. Lapangan Burgplatz ini sangat cozy untuk acara ngopi-ngopi menikmati sore hari, namun sayangnya sore itu hujan deras sehingga kami tidak bisa mencicipi suasana ngopi di cafe outdoor. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri Altstadt atau Old Town, sebuah area downtown dimana terdapat ratusan bar, yang oleh dunia dijuluki sebagai "The Longest Bar In The World". Well, sebenarnya penampakannya bukan seperti namanya, Bar Terpanjang di Dunia, melainkan karena area ini dipenuhi oleh bar-bar di setiap sudut jalanannya, menjadikan tempat ini terlihat selalu ramai dan tak pernah sepi di malam hari. Kalau kesini, jangan lupa untuk mencicipi beer asli Jerman, Altbier, yang konon hanya diproduksi di daerah Düsseldorf dan sekitarnya.
Burgplatz
Salah satu sudut 'The Longest Bar in The World'
Hujan yang tak berkesudahan hari itu membuat kami semua cepat lelah karena kedinginan. Setelah menyantap sepotong Turkse Pizza untuk makan malam, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Duisburg dengan kereta. Sebetulnya tujuan kami ke Duisburg bukan untuk mengeksplore kota kecil tersebut, melainkan karena host Couchsurfing yang akan menampung kami bermalam saat itu tinggal di Duisburg. Jadilah kami berpisah dengan Danell, si Venezuelan guy yang sudah berbaik hati menemani kami seharian di Düsseldorf itu. Aku dan ketiga temanku meluncur ke Duisburg menggunakan kereta dengan jarak tempuh sekitar 20 menit.

Setiba di Duisburg, hujan belum juga berhenti. Kami memutuskan ngopi-ngopi sebentar di sebuah cafe Italia didepan stasiun, sambil menunggu host CS tiba. Chris, sang host CS, adalah seorang asli Jerman yang ramah (terlalu ramah malah untuk ukuran orang Jerman! Haha...) Dia mempersilahkan kami berempat menginap dirumahnya selama semalam. Jujur, ini pengalaman surfing CS yang paling konyol yang pernah aku alami. Si host ini rupanya seorang yang doyan banget ngomong. Dia tidak ada hentinya ngajakin ngobrol meski kami semua sudah kelelahan dan mengirim sinyal-sinyal bertanda "STOP TALKING" kepadanya. Alhasil cara terampuh untuk membuatnya sadar bahwa kami sudah mengantuk adalah aku pura-pura ketiduran di sofa! Haha... Konyol memang, tapi ya inilah serba-serbi per-couchsurfing-an. Ada kalanya beruntung mendapatkan host yang baik hati dan enak diajak komunikasi, dan ada kalanya sedikit sial mendapatkan host yang 'weird' dan menyebalkan. Well, aku nggak bilang si Chris ini nggak baik ya... Dia baik, cuma cerewetnya over dosis dan pakai battery Alkaline pula, yang menyebabkan kami semua buru-buru angkat kaki dari apartmentnya pagi-pagi keesokan harinya! haha...
suasana kota Duisburg yang sepi
Pagi hari di Duisburg, aku dan teman-teman menyusuri kota kecil ini dengan berjalan kaki menuju stasiun. Sepanjang jalan, sambil mengunyah biskuit sebagai menu sarapan (maklum traveler kere), kami menyusuri jalanan dengan gedung-gedung besar nan tua di kanan kiri jalan. Seperti kota mati saja rasanya! Hanya kami berempat yang terlihat di jalanan, dengan daun-daun kering beterbangan tertiup angin dingin di sela-sela langkah kami, benar-benar membuat suasana makin dingin dan horor! Berasa ada sepasang mata Hitler sedang mengawasi kami dan siap menembakkan bedilnya ke kepala kami... DOR!! Hahaha... Lebay ah! Tapi memang benar, kota ini terlihat sangat suram dan dingin. Sangat terlihat tidak ramah. Well, ingin rasanya cepat-cepat kabur dari kota ini dan melanjutkan perjalanan menuju kota berikutnya, Köln.

Mejeng didepan Kolner Dom :)
Kereta bergerak melewati jejeran rumah-rumah beratap tinggi khas Jerman, menuju selatan selama kurang lebih 45 menit. Memasuki pusat kota Köln, kereta menyeberangi jembatan Hohenzollernbrücke di atas Rhine River, yang merupakan salah satu icon kota Köln yang sering terpampang di kartu pos. Dari jembatan ini, sudah terlihat sebuah bangunan gothic tua yang menghitam dimakan usia, dengan menara-menaranya yang mencuat kokoh diantara bangunan disekitarnya. Ya, itulah Kölner Dom, sang icon kebanggaan kota Köln, salah satu gereja gothic tertua di Eropa.
Kolner Dom di malam hari
Stasiun kereta Köln HBF terletak persis disamping si gereja tua nan cantik Kölner Dom itu. Namun aku tidak buru-buru menyambanginya, melainkan terlebih dahulu ke hostel demi manaruh ransel. Jarak dari stasiun ke Pathpoint Hostel tidak begitu jauh, hanya perlu berjalan kaki 3 menit saja. Memasuki hostel, kami disambut dengan jejeran bendera-bendera kecil dari berbagai negara di pintu masuknya. Receptionist yang ramah memproses bookingan kami dan menyerahkan kunci, plus manawarkan sekeranjang kecil penuh kue-kue natal. Hmmm... pas banget lagi kelaperan (maklum backpacker kere! hehe) langsung comot saja beberapa Kokos cookies dan Spechulas. Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah: Masak INDOMIE Goreng!!! Ya, santap siang dengan menu Indomie goreng plus sambal ABC itu nikmatnya mengalahkan seloyang pizza maupun sepiring pasta! Kami masak di dapur hostel yang sangat bersih dan lengkap peralatannya. Para tamu hostel diperbolehkan memakai semua peralatan masak, dan kemudian membersihkannya kembali. Menjaga kebersihan secara independent sangatlah penting, karena di hostel ini apa-apa semua serba sendiri termasuk pasang seprai untuk kasur masing-masing. Di area dapur, terdapat sebuah dinding tempat para traveler menempelkan kertas berisi tulisan testimonial. Hampir dari seluruh benua aku lihat ada yang menginap disini, termasuk satu dari Indonesia beberapa bulan lalu, dan kemudian tentunya kami ber-empat, si gadis-gadis Indonesia ini. Hehe... Pathpoint hostel ini recomended deh. Selain rapi, bersih, fasilitas lengkap, juga sangat ramah pelayanannya. Letaknya pun sangat dekat dengan stasiun dan Kölner Dom, membuat hostel ini mendapat rating yang sangat bagus di hostelworld.com.
Pintu masuk hostel Pathpoint
dapur hostel yang bersih
Testimonial board
Female Dormitory Room, sangat bersih dan nyaman!
Aku hanya menghabiskan satu hari dan satu malam di Köln, dengan tujuan utama hanya mengeksplore Christmas Market dan Köln City Centre. Tentang betapa meriahnya christmas market sudah aku ulas di postingan sebelumnya. Namun tentang pengalaman (lagi-lagi) kurang enak selama disana, akan aku ceritakan disini, yang masih mengenai ketidak-ramahan orang-orang di Jerman. Selama berwisata kuliner di pasar natal itu, aku perhatikan sebagian besar penjual yang melayani pembeli tidak pernah mengucapkan kata-kata "You're Welcome" saat pembeli bilang "Thank You". Serta raut muka mereka yang rata-rata 'kencang' bak pakai masker putih telur itu, jarang sekali melayani pembeli dengan senyum renyah ramah tamah layaknya para penjual pada umumnya. Raut-raut muka sedingin Hitler tampak dengan tegas bak tentara melayani pembeli yang mengantre di depan kios mereka. Aku yang sudah terbiasa disapa dan dilayani dengan ramah oleh warga Belanda menjadi sedikit kecewa saat bertransaksi dengan para pedagang Jerman ini. Jika di Belanda para penjual slalu mengucapkan "Alstublieft" bernada ramah saat memberikan barang maupun uang kembalian, lain halnya dengan para pedagang Jerman yang dengan cueknya memberikan uang kembalian tanpa menjawab sapaan "Danke" dan senyumanku! Sial!
ke'tidakramah'an Jerman terlihat dari stasiun yang tidak menyediakan bangku di sepanjang peron nya :(
Tak hanya para pedagang yang bertampang jutek, para pengunjung pun (yang kemungkinan warga lokal) juga bertampang jutek. Contohnya, saat aku dan salah seorang teman hendak mengambil foto disebuah patung, ada seorang Ibu gendut dengan suami dan anaknya menghalangi angle kamera ku. Dengan sopan aku bilang ke si Bapak dan anak nya "Excuse me, I wanna take a picture. Could you please give me some space?" Si Bapak dan anak melipir ke samping memberikan tempat, tetapi si Ibu gendut masih tetap berdiri di tengah-tengah. Aku dengan sabar berdiri dan menunggu kalau-kalau si Ibu akan pindah posisi. Tapi yang ditunggu sepertinya nggak tahu ditunggu, si Ibu gendut dengan cueknya malah asyik mengunyah di tengah-tengah spot foto yang akan ku ambil. Sekali lagi aku menyapa dengan sopan ke si Ibu, tapi tahu apa yang terjadi selanjutnya??? Si Ibu malah dengan nyolotnya jawab "Why you didn't tell me before? Why you didn't just tell 'Excuse Me' hah?" dan dia menggerundel seribu bahasa dewa!! Aku yang shock diomelin si Ibu gendut hanya mampu menjawab dengan geram "Maam, I did it! I said 'Excuse Me' to you, even TWICE!!!". Dan si Ibu masih saja terus melotot dan menyinyirkan mulutnya, sampai si anak berkata padanya "Mom, she said it before but you didn't hear maybe". Dan kemudian si Ibu gendut pun ngeloyor pergi tanpa say sorry, diikuti suami dan anaknya yang tersenyum simpul. Aku masih berdiri shock dengan mulut menganga melihat kelakuan si Ibu jutek itu, kemudian aku menyumpah serapah dan bete sendiri gara-gara kejadian itu. Sampai-sampai aku bilang ke teman-temanku "Kagak bakal gue balik lagi ke Jerman!! Amit-amit dah ni negara kenapa isinya orang jutek semua?! Kemana-mana bawaannya ngeri diomelin orang mulu! Gue gak betaaaaahhhhh disiniiiii.....huwaaaaa....."
Namun untungnya ke-bete-an itu hanya berlangsung sesaat karena aku kembali sibuk berwisata kuliner. Hehe... Perut kenyang hatipun senang... :)
Daging panggang terpanjang! 50cm saja :D
Gluhwein, wine panas yang laris manis saat winter
cantiknya suasana malam di pasar natal
Menyusuri kota Köln di malam hari, berniat ingin mengabadikan foto jembatan Hohenzollernbrücke yang sangat indah dengan lampu-lampu melengkung nya. Tapi sayang si jembatan nan anggun itu terhalang oleh jembatan lainnya, sehingga kurang bagus untuk difoto. Alhasil kami hanya menyusuri sungai Rhine menuju Museum Chocolate, kemudian berputar ke arah Köln City Centre yang dipenuhi dengan pertokoan dan butik-butik kenamaan. Suasana di City Centre ini cukup meriah dengan hiasan lampu-lampu natal yang
menggantung di sepanjang jalan. Dan aku juga melihat counter Dunkin Donuts di salah satu sisi jalan. Hmmm... kangen juga dengan si donat gemuk itu! Sayang di Belanda tidak ada Dunkin... Apalagi J.co! Hehe...
Puas menyusuri malam di Köln, kami kembali ke hostel dan packing karena besok pagi harus check out dan langsung menuju Köln-Bonn Airport untuk terbang ke negara selanjutnya, Czech Republic! Kesan selama 3 hari di Jerman... Seru. Puas menjajal berbagai jenis makanan berporsi jumbo, puas keliling ke berbagai pasar natal, meski mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan dengan orang Jerman. Hehe... So far, Jerman oke lah... Meski aku tidak yakin apakah akan kembali lagi kesana atau tidak. Dan kalaupun akan kembali ke Jerman, aku mengincar Berlin dan Bavaria. Amin! (diaminkan saja dulu ya. hehe)
Kami berempat :)

Tips:
- Mau traveling murah meriah? Jangan ragu bawa/beli Indomie buat sarapan. Harga Indomie di Jerman relatif terjangkau, hanya €0.29. Kan lumayan bisa masak sendiri di hostel, jadi irit biaya makan. Dan jangan lupa juga untuk mencoba berbagai jenis makanan khas Jerman seperti: Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. Dijamin puas kulineran di Jerman! Dan siap-siap menggendut setelahnya. Hahaaa... :D
- Total pengeluaran selama 3 hari di Jerman (Transportasi + Makan + Menginap) hanya €70. Yakin tuh??? Yakin dooonk... Tiket kereta dari Belanda ke Jerman saja cuma €17.5, transportasi selama di Jerman cuma €15.2, biaya hostel cuma €15, sisanya buat biaya makan. Irit bukan berarti kami kelaparan lhooo... :)
Sampai jumpa di cerita selanjutnya... Praha! ;)

Wednesday, January 16, 2013

Sparkling Culinary Christmas Market

So this is Christmas....
I hope you have fun....
The near and the dear one...
The old and the young...

Ya, suasana natal sudah marak terlihat di berbagai sudut Eropa. Atmosfer natal dihadirkan di setiap tempat umum seperti stasiun kereta, pusat kota, shopping area, jalanan, bahkan ada yang namanya Pasar Natal atau Christmas Market yang tersebar di seluruh negara di Eropa. Menurut survey, England - UK adalah negara dengan Christmas Market terbanyak, disusul oleh Germany di urutan kedua. Namun berhubung visa ku hanya berlaku di Schengen area, maka aku tidak bisa mencicipi atmosfer natal di negara nya Harry Potter tersebut. But thanks God aku berkesempatan menikmati Christmas Market di Belanda, Jerman, dan Ceko.

Maastricht, sebuah kota kecil yang letaknya nyempil di ujung selatan Belanda, dan diapit oleh dua negara tetangga yaitu Jerman dan Belgia. Suasana kota Maastricht sangat berbeda dengan kota lain kebanyakan di Belanda. Mungkin karena letaknya yang berada di border Jerman-Belgia menyebabkan kota ini memiliki karakteristik bangunan yang unik, bahasa dan dialek yang berbeda, dan citarasa makanan yang juga berbeda dari Belanda.

Ice Rink @ Christmas Market
Aku mengunjungi Maastricht karena tertarik dengan Christmas Market & Lights Festival nya. Konon katanya, Kerstmarkt disana adalah yang paling meriah karena atmosfer natal nya berbeda dan unik. Perjalanan Rotterdam-Maastricht memakan waktu 2 jam 14 menit dengan kereta, dengan satu kali transit di Eindhoven. Lumayan jauh juga mengingat letaknya yang menjorok keluar dari perbatasan Belanda. Namun perjalanan panjang itu sebanding dengan apa yang akan kita lihat di kota itu.
Begitu keluar stasiun, mata langsung disambut dengan jejeran bangunan berwarna plain dengan bentuk bangunan yang sama sekali bukan tipically Belanda. Sepanjang jalan menuju Centrum dihiasi dengan ornamen-ornamen natal dan kelap-kelip lampu, termasuk sepanjang jembatan Sint Servaasburg yang dihiasi lampu-lampu gemerlap. Menyusuri Centrum hingga tiba di Vrijthof, lapangan tempat Kerstmarkt berada, yang dipenuhi dengan stand-stand makanan, dagangan, hingga permainan. Mirip dengan pasar malam lah kalo di Indonesia. Cuma bedanya, kalau di Kerstmarkt ini kental dengan suasana natal.

Maastricht Christmas Market
Di Kersmarkt Maastricht ini banyak sekali stand makanan seperti Bratwurst Sosis khas Jerman, Belgian Waffle, Jamur goreng, Ayam panggang, dll. Kebanyakan makanan itu bercitarasa Jerman atau Belgia. Bahkan aku tidak menemukan satupun stand yang menjual Stroopwaffle makanan khas Belanda. Hanya ada satu stand Poffertjes, dengan mas-mas ganteng sebagai penjualnya. Hehe...
Di kerstmarkt ini juga terdapat berbagai permainan seperti giant Ferris Wheel, Carousel, dan tak lupa yang paling khas dari winter adalah Ice Rink. Di arena Ice Rink ini kita bisa main ice skating dengan tiket masuk €4.50 dan rental sepatu €4 selama 1 jam. Ditengah arena Ice Rink terdapat sebuah sparkling tree yang menyala indah di malam hari. Selain itu, juga terdapat banyak stand penjual aneka ornamen natal, hiasan pohon natal, dan winter outfit seperti syal dan topi bulu-bulu. Suasana di Maastricht saat menjelang natal memang selalu ramai.

Dordrecht Christmas Market
Lain halnya dengan di Dordrecht. Meski masih sama-sama di Belanda, suasana di Dordrecht terasa berbeda dengan di Maastricht. Kalau di Maastrict, Kerstmarkt nya terpusat di sebuah plein (lapangan) dan ragam kulinernya sarat dengan ciri khas Jerman dan Belgia. Sedangkan di Dordrecht yang di klaim sebagai "The Biggest Christmas Market in Holland" itu tidak terpusat di satu tempat melainkan tersebar di gang-gang seputaran centrum. Kerstmarkt dengan sekitar 200 kios ini lebih terlihat seperti openmarkt biasa yang menjual berbagai kebutuhan sandang dan jg aneka kuliner. Tak ada yang special di barang dagangannya, karena barang yang dijual sama dengan yang dijual di openmarkt setiap minggunya. Yang membedakan hanyalah kios-kios tersebut diramaikan dengan hiasan dan ornamen natal, serta adanya sebuah arena Ice Rink kecil di tengah-tengah pasar, dengan tiupan salju buatan dari atap-atap bangunan disekitarnya. Kulinernya pun nggak jauh-jauh dari makanan khas Belanda, meski aku juga melihat ada satu kios makanan Spanyol.

Germany Fries & Reibekuchen
Suasana yang jauh berbeda (jauh banget malah) aku dapatkan saat mengunjungi Jerman dan Republik Ceko saat Natal kemarin. Di Jerman, pertama-tama aku mengeksplorasi Christmas Market Bubbles di Duesseldorf, menjelajah dari satu Bubbles ke Bubbles yang lain. Bubbles adalah sebutan untuk area dibukanya Christmas Market, dan di kota ini Christmas Market nya tersebar di beberapa tempat alias bubbles. Dan tahu nggak apa yang paling bikin nggak kuat iman disana? Kulinernya itu lho yang bikin jarum timbangan seolah menjerit ketakutan! Segala macam makanan khas Jerman mulai dari Bratwurst, Gluhwein, Brezel, Eierkuchen, Kartoffelpuffer, Reibekuchen, Champignon, etc. sungguh-sungguh menggoda hati untuk mencicipinya satu-persatu. Namun berhubung suasana kurang mendukung saat itu, hujan gerimis mengundang, membuat acara santap kuliner menjadi kurang semangat. Makan Reibekuchen alias Bakwan Jerman masa dengan campuran tetesan hujan dari langit? Yieks! 



Kolner Dom Christmas Market
Lanjut keesokan harinya mengunjungi kota lain di Jerman yaitu Koln atau Cologne. Di Koln ini, suasana Christmas Market nya lebih "heboh" dengan kemerlap lampu berbagai bentuk, lantunan musik natal, segala macam pernak-pernik natal warna-warni, hingga seolah sejauh mata memandang tak ada satu pohon pun yang luput dari hiasan lampu kelap-kelip! Ada 3 market yang masih buka saat aku berkunjung kesana, dimana satu market lainnya telah tutup mengingat esok hari sudah Natal. Market pertama yang aku sambangi adalah yang di belakang Kolner Dom. Christmas Market dengan suasana berwarna merah gemerlapan itu diramaikan oleh puluhan stand yang berbaris rapi membentuk sebuah bentuk bintang, dengan sebuah pohon natal raksasa dibagian tengahnya. Segala-gala kios yang menjual makanan khas Jerman aku cicipi satu persatu. Ada untungnya pergi bareng teman, jadi beli makanannya nggak perlu seporsi tiap orang, tapi seporsi dimakan berempat. Sehingga hampir semua jenis makanan aku coba tanpa merasa kekenyangan, termasuk Bratwurst si sosis andalan Jerman yang melihat ukurannya (30cm) saja sudah bikin kenyang duluan! Namun sayang kami tidak berhasil menjajal Bratwurst yang sepanjang 1/2 meter yang tersohor itu. Next time jika berkesempatan kesana lagi, aku pasti akan menuntaskan misi untuk menyantap Bratwurst sepanjang 1/2 meter itu. Hehe....

Germany Bratwurst! Nyammmm... :-9
Bicara soal makanan memang tak ada bosannya. Jerman punya seleksi kuliner yang 'greasy' alias porsi jumbo. Nggak cuma sosisnya yang berukuran luar biasa, jajanan lain seperti barbeque, pancake, champignon soup, dll pun berukuran jumbo. Soal rasa? Menurutku semuanya uenak dan worthed saat harus berantre ria. Favoritku di kuliner Jerman ini adalah si aneka Barbeque dan Bratwurst (nggak usah ditanya daging apa ya. hehe). Selain enak-enak, ada juga yang aneh-aneh seperti Reibekuchen yang kompak kami sebut sebagai "Bakwan Jerman". Kenapa bakwan? Yaiya, wong bahan dan bentuknya sama seperti bakwan. Kol dan (kadang wortel) diiris tipis kemudian dicampur tepung dan digoreng deep fry. Yang aneh adalah cara makannya. Kalau Bakwannya orang Indonesia biasa dimakan pakai sambal atau cabai rawit, lain halnya dengan bakwan Jerman ini yang makannya dicocol ke Appelmoes alias saus apel. Pas dicoba, yieks! Aneh rasanya, masa si bakwan yang notabene bercita rasa asin dan gurih itu dikombinasikan dengan saus apel yang manis sih? Tapi ya itulah tradisi, tiap negara punya tradisinya masing-masing. Oiya, ada juga yang namanya entah apa aku lupa, seporsi jamur rebus yang makannya dicampur dengan semacam saus santan. Itu enak bangetttt... apalagi pas masih mengepul panas! Menyusuri tiap kios makanan di setiap christmas market di Jerman sama saja dengan merusak diet! Eits, ini belum seberapa.... masih ada christmas market di Prague yang akan aku telusuri keesokan harinya.

Prague Christmas Market
Masih penasaran dengan isi Christmas Market di Eropa? Mari kita lanjut ke Prague atau Praha, ibukota negara Czech Republic atau Ceko. Meski aku hanya menemukan dua buah Christmas Market di kota Praha, itupun tak semeriah Jerman, namun feel-nya beda. Christmas Market disini atmosphernya merupakan perpaduan modern dan kuno. Kuno karena letaknya di sebuah lapangan yang dikelilingi bangunan-bangunan kuno bergaya Bohemian, dan modern terlihat dari banyaknya jumlah sparkling-lamps dan hiasan natal yang memenuhi area pasar natal tersebut. Letak pasar natal yang paling ramai ada di Old Town Square - Stare Mesto. Isinya ya nggak jauh-jauh dari kuliner dan pernak-pernik natal serta Gluhwein. Dan yang bikin nggak kuat iman itu adalah harganya yang jauuuuuh lebih murah dibanding negara lain di Eropa. Mungkin karena letaknya yang sudah menjorok ke Timur kali ya, makanya lebih murah dari Eropa bagian Barat.

Trdelnik, pastry khas Czech.
Kuliner di Praha hampir semuanya berbahan dasar pork dan chicken, dengan side dish kentang atau roti. Di pasar natal, banyak dijumpai stall makanan tradisional seperti Trdelnik, sebuah pastry khas Ceko berbentuk spiral seperti tabung dengan taburan gula pasir diatasnya. Rasanya lumayan kalau masih hangat, tapi saat sudah dingin lumayan alot n bikin susah dikunyah juga. Lalu ada pula Palacinky alias Pancake, ukurannya super besar dengan filling yang bisa kita pilih sendiri. Favoritku tentu saja yang isinya choco pasta, yang langsung lumer saat digigit. Hmmmm.... yummieee.... :D 

Mencoba seporsi Halusky (mash potatoes with cabbage & bacon) yang super yummie, juga Klobasa (sosis Prague) yang aku kurang suka rasanya karena cenderung ke manis. Selain itu, berbagai porsi makanan yang ditawarkan di cafe maupun restaurant disini memiliki porsi yang mengerikan alias greasy alias segede bagong! Plus harganya yang murah gila dibanding dengan di Belanda.

Halusky & Klobasa. yummieee..... :-9


Klobasa, sosis Prague yang sedikit manis

Goulash!

Sate ayam! hahaha...


Liburan di Christmas season itu sama dengan berwisata kuliner, karena pada saat natal atau winter banyak jenis-jenis kuliner yang ngetrend (hanya ada pada saat winter). Jadi, jangan berani-beraninya melirik ke timbangan setiap habis traveling! Karena bisa dipastikan angkanya bertambah naik, just like me. :(

Friday, December 14, 2012

My Eurotrip: Trimester Pertama

Apa yang ada dipikiranmu saat mendengar kata Eurotrip? Pasti pikiran langsung melesat ke segala penjuru Eropa dengan kelebatan bayangan tempat-tempat menarik yang ingin dikunjungi. Ya, itulah juga yang ada didalam otakku saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Eropa, tepatnya di pelataran parkir Schipol International Airport - Amsterdam.

Buku Sakti :)
Disela-sela ucapan syukur saat pertama kalinya menjejak Eropa, aku menyelipkan sebuah proposal "Eurotrip - My Travel Wish List", ke hadirat Tuhan YME. Proposal? Kenapa disebut proposal? Ya karena bentuknya masih berupa rancangan mentah, tanpa adanya dana finansial untuk menyelenggarakannya. Hanya sebuah proposal pengajuan izin dan restu kepada Yang Maha Berkehendak. Permohonan agar rencanaku ini nantinya diberi izin dan syukur-syukur diberi bantuan dana juga, sehingga bisa terlaksana apa yang tercantum didalam proposalku itu. Sama halnya seperti saat kita dulu menjadi anggota OSIS di sekolah, seringkali membuat proposal untuk Pentas Seni atau apalah, dan mengajukannya kepada Kepala Sekolah. Untuk apa? Untuk minta izin penyelenggaraan acara dan tentunya minta bantuan dana tho? Sama halnya dengan proposal Eurotrip-ku. Bedanya cuma kali ini aku tidak mengetik, mengeprint, dan menjilidnya. Aku hanya mengucapkannya didalam doa.

Apa isi proposal ku? Isinya untaian mimpi dan harapan untuk bisa menginjakkan kaki di berbagai negara di Eropa. Kapan waktu pelaksanaannya? Dimulai dari detik pertama aku turun dari pesawat, hingga satu tahun kedepan, atau syukur-syukur kalau Yang Maha Berkehendak mengizinkan aku untuk extend lebih lama lagi disini. Berapa dana yang dibutuhkan? Berapapun dana yang diberikan oleh Beliau Yang ada di Atas, mudah-mudahan dicukupkan untuk mewujudkan mimpi-mimpi ku tersebut. Apa target yang aku tetapkan di dalam proposal ku? Targetnya adalah... Minimal satu negara setiap bulan! Kata-kata penutup? Amin Amin dan Amin.

Setelah mengajukan proposal, lalu harus bagaimana? Oke, pertanyaan yang bagus! Masih ingat jaman sekolah bikin proposal Pentas Seni donk ya... Biasanya setelah proposal ditanda-tangani oleh KepSek, kita langsung bikin rancangan hal-hal apa saja yang harus dilakukan terlebih dahulu. Nah, sama. Setelah aku mengajukan proposalku, aku langsung mengambil langkah, bukan langkah seribu pastinya ya. Pertama-tama aku memilih, negara mana sih yang menjadi prioritas utamaku? Kembali aku mengaduk-aduk isi otakku, dan menemukan bahwa Eiffel telah tertanam didalam otakku sejak aku masih kecil. Baiklah, aku putuskan untuk mulai mengumpulkan segala informasi untuk pergi ke Perancis.

Aku mulai memikirkan waktu yang tepat, hunting tiket, membuat rancangan dana, dan itinerary perjalanan. Tentunya disela-sela aktivitasku disini di Belanda. Dan tentu saja aku tak menyia-nyiakan waktuku untuk tidak mengexplore Belanda itu sendiri. Jadi hitunglah Belanda sebagai negara pertama penjelajahanku di Eropa. Dimulai dari Minggu pertama aku disini, aku mulai merambah keluar dari Rotterdam, kota tempatku tinggal. Aku menjelajah Delft, sebuah kota kecil yang sarat dengan pelajar dan suasana kota yang tenang. Kanal-kanal cantik membelah-belah kota, menjadikannya makin eksotis dengan jembatan melengkung dan deretan sepeda yang tertambat di sisi jembatan. Belum lagi jejeran cafe yang bertengger manis di bantaran kanal dengan dipayungi pepohonan yang mulai menguning daunnya. Cantik! Sungguh ironis mengingat di Jakarta tidak dapat kita temukan hal semacam ini di bantaran sungai Ciliwung.
Delft & Kanal cantiknya :)
Dilanjutkan dengan minggu keduaku disini, aku mengeksplore Den Haag. Kota pusat pemerintahan Kerajaan Belanda ini merupakan salah satu kota dimana aku banyak berjumpa dengan sesama orang Indonesia.  Saat mengantre beli makanan, tengok kanan ada orang Indonesia. Saat makan di rumah makan, tengok ke kiri ada orang Indonesia. Bahkan saat menunggu tram di pinggir jalan, diajak ngobrol sama mas-mas banci yang juga dari Indonesia. Oalaaah… ini kota isinya tetangga setanah air semua! Haha… Di Den Haag banyak terdapat Toko-toko Asia yang menjual bahan-bahan makanan khas Indonesia. Rumah makan Indonesia pun banyak terlihat di sisi jalan. Aku menghabiskan sekitar 2 hari untuk menjelajahi Den Haag. Mulai dari pantai Scheveningen, yang oleh warga Belanda dibangga-banggakan sebagai pantai cantik nya mereka. Namun saat aku berada disana, aku cuma bisa melongo menyaksikan air laut yang kelabu dan pasir pantai yang coklat. Plus awan mendung dan angin dingin musim gugur yang dijamin bisa bikin masuk angin. Mana cantiknya??? Aku senyum-senyum sendiri, berbangga hati menjadi warga Negara Indonesia, sebuah Negara kepulauan yang dianugerahi kekayaan bahari dan ribuan pulau berpantai cantik!

pantai Scheveningen yang dingin (-__-")


at Madurodam
Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Madurodam, taman miniatur Negara Belanda. Tempat ini merupakan salah satu tempat wajib dikunjungi saat berada di Belanda. Tiket masuk seharga €14 itu menurutku ya lumayan lah untuk menikmati Belanda secara keseluruhan dalam versi mini nya. Di taman yang tak seberapa luas itu, kita bisa melihat berbagai tempat di seluruh penjuru Belanda. Mulai dari Port of Rotterdam, Erasmus Brug, Schipol Airport, Arena Stadium, Kinderdijk, bangunan-bangunan penting dan khas di Belanda, hingga pasar keju Gouda. Keseluruhan bangunan dibuat mini, bahkan sampai pohon-pohonnya pun mini. Lumayan untuk menambah pengetahuan akan tempat-tempat penting di Belanda. Dan tentunya buatku, penting untuk tahu tempat mana saja yang kira-kira bagus untuk dikunjungi nantinya. Hehe….
Selain Madurodam, aku juga mengunjungi Vredes Paleis atau The Peace Palace yang merupakan kantor Mahkamah Internasional PBB sekaligus Akademi Hukum Internasional Den Haag. Namun sayang, hanya bisa menikmati keindahan bangunannya dari luar pagar saja. Kemudian tak lupa juga mengunjungi The Binnenhof (kantor pemerintahan Belanda) dan museum Mauritshuis yang terkenal itu. Menghabiskan sore menjelang malam di kawasan Centrum dengan menyusuri Lange Poten yang di kanan-kiri nya banyak berjejer toko-toko dan butik yang memanjakan mata dan menggelitik kantong!

Vredes Paleis / Peace Palace
Di minggu ketiga, rupanya Beliau Sang Maha Baik memberikan bonus kejutan. Aku berkesempatan mengunjungi Belgia, tepatnya ke sebuah kota kecil bernama Brasschaat di dekat Antwerpen. Memang sih tidak bisa dikategorikan sebagai “acara jalan-jalanku” karena kunjunganku kesana dalam rangka acara keluarga, mengunjungi Opa & Oma dari keluarga angkatku disini. Tapi tetep donk ya bahagianya luar biasa saat menempuh perjalanan sekitar 1 jam dan melewati perbatasan Netherlands-Belgium itu. Akhirnya aku menginjakkan kaki di negara ke-2, Belgia. Hari itu cuaca cerah, matahari menyiramkan sinarnya tak tanggung-tanggung  meskipun suhu udara tetap saja dingin. Aku menghabiskan hari di Brasschaat dengan berenang, keliling desa dan hutan di sekitar rumah Opa, dan menikmati sore hari dengan secangkir teh buatan Oma di taman cantik belakang rumah. Yang aku lihat di kota kecil itu, bentuk bangunan rumahnya berbeda dengan rumah tipe Belanda yang beratap runcing dan bercerobong asap. Rumah-rumah di Belgia relatif terlihat lebih ‘gemuk’ dan luas. Kabarnya, harga tanah dan bangunan di Belgia memang lebih mahal dibanding dengan Belanda. Entahlah aku juga tidak begitu perduli dengan harga tanah. Yang aku tahu, hari itu aku sangat menikmati suasana kota Brasschaat yang tenang dan damai, dengan hutan-hutan kecilnya yang masih hijau dan segar.

Sore di Brasschaat :)

Eiffel... Finally! :)

Dan tibalah aku di minggu keempat alias satu bulan aku berada disini. Seluruh persiapanku ke Paris-Perancis sudah matang. Tiket sudah dibeli, ransel sudah diisi, agenda perjalanan sudah terperinci, dan uang saku pun sudah dibekali. Yes!! Tepat 1 bulan 3 hari aku hidup di Belanda, aku akhirnya melangkahkan kaki untuk menginjak negara ke-3 dalam daftar Travel Wish List ku. Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik. Di bulan Oktober aku berhasil mewujudkan mimpi masa kecilku ke Paris, melihat Eiffel!
Menghabiskan hampir 4 hari di Paris dan Versailles (baca postingan sebelumnya), aku kembali mengucap syukur dan terima kasih kepada Beliau yang telah menanda-tangani proposal Eurotrip ku. Karena tanpa izin dan kuasa Nya, mustahil aku bisa menginjakkan kaki di 3 negara dalam waktu kurang lebih 1 bulan, dengan budget dibawah rata-rata. Banyak yang mengira aku ini kebanyakan uang (amin!) hingga bisa dengan mudahnya menclok sana-sini dalam waktu singkat. Padahal kalau saja mereka (dan kamu) tahu berapa tepatnya dana yang disumbangkan oleh Dia Yang Maha Baik kepadaku tiap bulannya untuk melaksanakan proposal Eurotrip ku ini, mungkin mereka (dan juga kamu) pasti bakalan melongo dan bilang “Hah? Memangnya cukup duit segitu buat survive sebulan plus jalan-jalan?”. Dan mungkin aku akan menjawab dengan tersenyum, “Tuhan itu baik dan selalu mencukupkan…”
Sepulang dari Perancis, jujur aku sempat bengong tak tahu harus kemana lagi karena belum punya ancang-ancang untuk the next plan. Akhirnya aku menghabiskan weekend-weekend ku untuk kembali menjelajah si Negeri Kincir ini. Melanjutkan penjelajahan ke berbagai kota tetangga, mulai dari Kinderdijk, Leiden, Breda, Utrecht, Den Bosch, Dordrecht, Maastricht, dan tak lupa Amsterdam.

Dom Kerk - Utrecht, salah satu gereja gothic yang masih tersisa di Belanda
Kinderdijk, sebuah desa kincir angin yang terkenal dan dijadikan UNESCO World Heritage. Memiliki 19 buah kincir angin khas Belanda yang disebut Molen, yang berjajar rapi di tepian kanal berumput ilalang. Cantik! Dan cuaca sedang bersahabat saat aku kesana, sehingga menghasilkan beberapa hasil karya jepretan yang breath taking. Aku membawa serta sepedaku menaiki boat dari Rotterdam menuju Kinderdijk, dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Menyusuri cantiknya Kinderdijk dengan bersepeda itu sangatlah mengasyikkan. Konon katanya, saat musim dingin tiba dan kanal-kanal membeku, akan sangat menyenangkan bisa ber-ice-skating ria di desa kincir angin ini. Well, mungkin aku akan mencobanya saat winter tiba nanti.

Kinderdijk
Amsterdam, Ibu kota negara Belanda, dan juga merupakan touristy centre bagi siapa saja yang berwisata ke negeri kincir ini. Kesan pertama? Hmmm…. Aku kurang suka Amsterdam! Lho, kenapa? Bukannya Amsterdam merupakan tujuan wisata di Belanda seperti tertera di brosur-brosur wisata travel agent kebanyakan? Ya memang, dan justru itulah yang membuat Amsterdam menjadi kurang nyaman untuk dinikmati. Karena dipastikan hampir semua orang dari seluruh penjuru dunia akan mengunjungi Amsterdam saat pertama kali menjejak di Belanda. Hayo, bener nggak? Survey mengatakan, “iya”. Amsterdam dalam kacamataku, ramai (terlalu ramai malah) dan semrawut (dalam hal lalu lintasnya). Ramai oleh para wisatawan yang berbondong-bondong menyusuri Damrak dan Centrum menuju Dam Square, ataupun mereka yang dengan raut muka penasaran cengengesan berlalu-lalang mblusak-mblusuk di setiap gang kawasan Red Light District. Bau ganja yang mengambang di udara pun menambah rasa pusing di kepala yang telah disebabkan oleh keramaian manusia tadi. Ditambah lagi para pengendara sepeda di kota ini kurang beradab dibandingkan kota lain di Belanda yang rata-rata pengguna sepedanya anteng-anteng. Terlihat dari gaya mereka mengendarai sepeda yang sering ngebut dan tidak mau mengalah pada pejalan kaki! Total, selama 2 hari mengeksplore Amsterdam, aku memutuskan untuk bilang “Aku kurang suka Amsterdam”.

senja di Amsterdam dengan latar belakang menara gereja Nieuwe Kerk
 Namun, masih banyak kota lain di Belanda yang nyaman dikunjungi seperti Leiden dan Breda yang tenang (relatif sepi malah). Juga Utrecht, kota kanal cantik dengan stasiun kereta api terbesarnya. Atau s-Hertegenbosch (Den Bosch) kota tua dengan St. Jans Cathedral nya yang luar biasa cantik. Dordrecht atau Maastricht dengan kota tua dan Christmas Market nya yang cantik. Mengunjungi kota-kota yang berbeda setiap weekend, merupakan agendaku tiap bulan.
Sampai pada akhirnya terbersitlah inspirasi untuk menghabiskan liburan natal tahun ini di sebuah tempat diluar Belanda. Dan tawaran untuk traveling bareng dari seorang teman pun aku terima tanpa berpikir dua kali. Satu minggu di Jerman dan Republik Ceko sepertinya cukup seru, apalagi mengingat Jerman adalah negara di Eropa yang memiliki Christmas Market terbanyak. Well, Oke lah kalau begitu! Mulai lagi persiapan untuk penjelajahan selanjutnya. Hunting tiket kereta + pesawat, mencari host Couchsurfing, booking hostel, hingga mempersiapkan baju tempur yang memadai untuk traveling di musim dingin nanti. Ya, Desember adalah musim dingin yang bisa dipastikan bersalju dengan suhu hanya satu digit angka saja bahkan bisa minus. Traveling di negara dingin tentu berbeda dengan di negara tropis. Kalau di Asia Tenggara aku selalu traveling bercelana pendek, disini jangan harap bisa bercelana pendek. Bahkan pakai baju dan celana pun harus berlapis-lapis!

Train Ticket to Duesseldorf - Germany :)

Seluruh persiapan untuk Xmas Trip nanti sudah 80% matang. Tinggal satu minggu lagi, dan aku harus mempersiapkan mental dan stamina menghadapi cuaca yang makin dingin setiap harinya. Sambil tak henti memohon pada Yang Kuasa, semoga diberi kelancaran dalam perjalananku nanti ke Jerman dan Ceko. Rute perjalananku kali ini adalah ke Duesseldorf – Cologne (Koln) – Prague, dengan total waktu 6 hari. Dan bertepatan dengan malam natal nanti, aku akan berada di Prague – kota bohemian di Republik Ceko yang terkenal dengan kastil nya yang cantik. Praktis, Jerman dan Ceko akan menjadi Negara ke-4 dan ke-5 dalam daftar kunjungan Travel Wish List ku. Di bulan keberapa? Di bulan Desember, tepat saat 3 bulan 14 hari aku disini, aku akan melangkahi kembali border negara Belanda dan menginjakkan kaki di negara asal Oliver Kahn dan Pavel Nedved! Hehe…
Dan… Kembali aku berkata “God is Good!” saat pada suatu malam tanpa sengaja obrolan isengku dengan seorang teman berubah menjadi sebuah tiket di tangan. Ya, kami membicarakan mengenai rencana pergi ke Spanyol tahun depan, namun tanpa tahu kapan tepatnya. Spanyol termasuk kedalam “tiga besar negara wajib dikunjungi” dalam daftar Travel Wish List ku (setelah Perancis dan Italia). Dan ternyata, obrolan iseng itu pun menggelitik tangan ini untuk memainkan mouse menjelajah dunia maya, mencari-cari tiket pesawat termurah untuk pergi kesana. Dan akhirnya angka €30 itupun menggedor adrenalinku. Ya, €30 untuk tiket pesawat pulang-pergi ke Barcelona, Spanyol! Tanpa banyak diskusi, aku sepakat dengan temanku untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bayangkan, hanya €30 ditambah PPN dan Service fee total menjadi €42, alias sekitar setengah juta rupiah saja sudah bisa PP ke Spanyol. Dan pilihan jatuh pada bulan Januari 2013, di minggu ke-3. Tepat saat 4 bulan 10 hari aku disini, aku akan melangkahi kembali border negara Belanda dan menginjakkan kaki di The Matador, negara asal sang pujaan hati Cesc Fabregas dan para aktor lapangan hijau yang super cute itu! Dan Spanyol akan menjadi negara ke-6 ku dalam kurun waktu (Thanks God!) 4 bulan.
Begitulah, trimester pertama ku hidup di Belanda. Aku jalani hari demi hari dengan selalu mengucap syukur pada Yang Maha Baik untuk setiap hal dalam hidupku. Sempat ada teman di Indonesia yang bertanya padaku kemarin, “Kamu ngapain merantau jauh-jauh ke Eropa, saat teman-temanmu disini sudah mulai menikah satu persatu. Kalau kamu kerjaannya jalan-jalan melulu, kapan cari jodohnya?”. Aku hanya tersenyum simpul dan menjawab, “Setiap manusia sudah punya jodohnya masing-masing, nggak perlu dicari. Saat ini prioritas utamaku adalah mencicipi Eropa. Siapa tahu kan nanti ketemu jodohnya secara kebetulan saat traveling? Hehe…”
Tapi jujur, pertanyaan temanku itu lumayan menggelitik naluriku untuk menyelipkan sedikit tambahan kedalam proposal Eurotrip ku. Aku tidak minta yang muluk-muluk, hanya berucap “Tuhan, jika memang Engkau telah menyiapkan jodoh untukku, aku ingin kami dipertemukan di sebuah perjalanan, di tanah Eropa ini. Dan aku akan sangat berterima-kasih jika dia adalah seorang pecinta jalan-jalan seperti halnya aku.” :)
“I know that if we give this a little time, it will only bring us closer to the Love we wanna find…”


(inspired by videoclip Lady Antebellum – Just A Kiss)

Tuesday, December 11, 2012

A Lil' Step to... Versailles - France!

Aku berjalan cepat menembus gerimis di pagi hari yang dingin, menuju stasiun kereta Bry-Sur-Marne, Perancis. Sarung tanganku sepertinya tak mampu menahan rasa dingin cuaca pagi itu. Ya, hari-hariku selama di Perancis selalu diselimuti dengan hujan dan udara dingin. Sehingga kurang bisa menikmati dan hunting foto spektakuler. Namun buruknya cuaca tak mengurangi decak kagumku setiap kali menjumpai tempat-tempat cantik di Perancis, seperti di Versailles.

Kereta bergerak cepat menuju bagian luar kota Paris. Selama kurang lebih 30 menit di perjalanan, aku perhatikan banyak diantara para penumpang kereta yang memegang peta metro, sama halnya denganku. Hmmm... jangan-jangan mereka ini juga turis dengan tujuan yang sama, ke Chataeu de Versailles - istana Raja dan Ratu Perancis di abad ke-16 . Dan ternyata dugaanku benar, semua orang di gerbong ini turun di stasiun terakhir yaitu Versailles Rive Gauche Station. Whooaa... saat aku turun dari kereta, ratusan orang lain pun turun dan berbondong-bondong menuju pintu keluar yang ke arah Versailles Palace. Lobby stasiun yang kecil itu pun mendadak penuh sesak oleh manusia. Aku menunggu sampai kerumunan itu berangsur menghilang. Malas rasanya berdesak-desakan di pintu keluar stasiun, macam mau masuk pintu GOR Senayan saja!

Di pintu keluar stasiun sudah ada beberapa orang berseragam resmi yang menunggu. Rupanya mereka adalah petugas resmi dari Travel Agent yang memberikan pengarahan, harus lewat mana kalau mau ke Versailles Palace. Mereka juga menawarkan paket guided tour, yang sepertinya harganya bisa ditawar. Aku membuka payungku dan menembus hujan menuju arah yang ditunjukkan si petugas travel tadi. Banyak sekali wisatawan yang sama-sama menuju kesana hari itu. Di hari hujan saja banyak sekali pengunjungnya, apa kabar kalau hari cerah ya? :)
salah satu sudut istana yang berpagar emas
Sampai di pelataran Place de Armes, terlihat deretan payung terkembang yang berjejer di tengah lapangan, membentuk barisan menuju pintu masuk istana. Euwww... harus ya ngantri segitu panjangnya ditengah hujan begini? Aku dan Irina saling pandang dan sepakat untuk men-skip kunjungan ke istana dengan terlebih dahulu mengunjungi garden dan Trianon - tempat tinggal para ratu & putri raja (taman Kaputren kali ya istilahnya kalau di istana Jawa). Aku bertanya ke bagian informasi apakah ada diskon khusus bagi pelajar berusia dibawah 26th. Dan ternyata, kami bisa masuk istana dan Trianon GRATIS dengan menunjukkan Residence Permit Card. Kami hanya membayar entrance fee ke garden nya saja seharga €6.50. Sebenarnya harga tiket resmi untuk mengakses istana, garden, Trianon, serta Marie Antoinette Estate itu sendiri adalah €18. Atau jika mau masuk ke istananya saja seharga €15. Namun jika kita adalah penduduk Uni Eropa (EU Citizen) maupun warga asing yang memiliki Residence Permit, dan berusia dibawah 26th, serta memiliki kartu pelajar, maka kita di-GRATIS-kan masuk ke wilayah ini. Menguntungkan bukan? ;)
bagian depan Versailles Palace
Chateau de Versailles
salah satu parterre di halaman belakang istana
Masuk ke area garden melalui gerbang South Wing, mata ini disambut dengan hamparan taman berbentuk simetris khas French garden. Berdiri tepat di belakang istana, aku hanya bisa berdecak kagum melihat hasil karya keterampilan tangan para French gardener disini. Disebelah kiri ada South Parterre dan Orangery yang berbentuk melingkar-lingkar bak hamparan permadani hijau bermotif elegan. Di tengah halaman belakang istana, ada Water Parterre yaitu dua buah kolam air mancur dengan patung-patung klasik di tepinya. Menengok ke kanan, ada North Parterre yang terhubung oleh Water Avenue menuju Dragon Fountain dan Neptune Fountain, yang ukuran kolamnya 3x luas kolam Senayan! Bahkan saat menengok ke belakang pun, mata ini masih terkagum-kagum akan keindahan arsitektur dinding belakang istana yang dipenuhi jejeran patung dan pilar klasik. Satu kata: WOW.... Ini baru sebagian kecil saja yang aku lihat, namun sudah mewakili kesan utama dari Chateau de Versailles yaitu... Luxury!
dinding bagian belakang istana
Latona Fountain dengan latar belakang Green Carpet & The Grand Canal
Aku mengikuti arah peta menuju Trianon, melewati Latona Fountain yang cantik dan menyusuri Green Carpet, sebuah hamparan rumput hijau memanjang dengan aneka taman dan labirynt di kanan kirinya. Green Carpet ini menuju Apollo Fountain yang tepat berada didepan The Grand Canal, sebuah kanal buatan yang berbentuk + (tanda plus) dan luasnya segede bagong. Di Apollo Fountain ini, terdapat patung dewa Apollo dengan kereta kudanya menyembul ditengah kolam. Di dekat kolam ada pemberhentian kereta mini yang bisa membawa kita keliling area Versailles garden dengan rute tertentu. Biaya naik kereta ini sekitar €3 untuk return alias bolak-balik.
French Garden di halaman belakang istana
Apollo Fountain
pepohonan yang dibentuk kotak memanjang, cantik! :)
Aku melanjutkan dengan berjalan kaki ditengah siraman gerimis nan dingin, bermaksud untuk menikmati setiap jengkal jalanan berbatu yang diapit pohon-pohon yang dibentuk kotak memanjang dan di-trim sempurna, khas French garden. Tibalah didepan gerbang The Grand Trianon, bangunan berwarna pink pastel yang sudah mulai memudar itu dulunya merupakan tempat Raja menjamu tamu-tamunya untuk makan malam. Kebetulan saat aku datang, sedang berlangsung sebuah pameran yang memamerkan benda-benda peninggalan kerajaan. Grand Trianon ini terdiri dari banyak ruangan besar yang lengkap berisi meja-meja makan dengan chandeliar yang cantik. banyak terdapat lukisan-lukisan The Lady Trianon, para Ratu dan Putri Raja. Dibelakang Grand Trianon terdapat parterre atau taman dengan air mancur. Masih terlihat bunga-bunga berwarna ungu dan kuning di taman itu, sisa-sisa kecantikan bunga musim semi yang masih bertahan hingga musim gugur ini.
Galerie des Cotelle @ The Grand Trianon
The Peristyle Marble hall

salah satu lorong bawah tanah di Petit Trianon
Tak jauh dari Grand Trianon terdapat Petit Trianon, yang dulunya merupakan tempat pribadi Queen Marie Antoinnette memanjakan diri dan bersantai. Di Petit Trianon yang berbentuk kotak berwarna pastel ini, terdapat beberapa ruangan yang berfungsi sebagai kamar, dapur, ruang makan, kamar mandi, dll layaknya rumah hunian. Tak banyak yang bisa dilihat didalam Petit Trianon. Namun saat melangkahkan kaki menuju ke kebun di samping Trianon, mata langsung tertumbuk pada hamparan rumput hijau dengan anak sungai yang mengalir tenang disisinya, dan dikejauhan tampak sebuah kubah putih dengan bunga-bunga disekelilingnya. Kubah putih itu adalah sebuah gazebo yang disebut Le Temple de l'Amour (Temple of Love). Bangunan cantik ini terletak di tepi sungai mini dengan jembatan kecil nan cantik. Sungguh suasana disini sangat tenang dengan pemandangan yang indah.
Petit Trianon
Petit Garden & Temple of Love
Le Temple de l'Amour
Aku berniat untuk melanjutkan penjelajahan ke Marie Antoinnette Estate, rumah tinggal sang Ratu yang terletak lumayan agak jauh dibelakang Temple of Love. Namun sayang, waktu sudah tak memungkinkan untuk kesana karena sudah sore, dan aku belum sempat masuk ke Istana. Akhirnya dengan berat hati aku kembali ke Istana untuk melihat-lihat sebentar didalamnya.

audio guide
Saat masuk melalui pintu utama dibagian depan, kembali aku diijinkan masuk dengan gratis hanya dengan menunjukkan kartu residence permitku. Setelah melewati mesin detector, aku menuju ke bagian Audio Guide counter, dimana kita bisa meminjam alat semacam walkie-talkie yang bisa menjelaskan tentang setiap sudut istana ini. Alat ini dilengkapi dengan entah sensor atau teknologi apa, yang secara otomatis menerangkan dengan detail, ruangan demi ruangan yang kita lewati. Namun sayang, suasana didalam istana betul-betul ramai dipadati pengunjung sehingga kurang leluasa dan berkonsentrasi mendengarkan penjelasan audio guide berbahasa Inggris itu.

Banyak sekali ruangan megah didalam Versailles Palace. Mulai dari The Royal Chapel, kamar Raja, ruang perjamuan makan, galeri lukisan, hingga yang paling tersohor yaitu The Hall of Mirror. Ya, ruangan yang berbentuk memanjang ini dipenuhi dengan cermin, jendela kaca, chandeliar-chandeliar cantik, patung-patung emas, hingga atap yang dipenuhi dengan lukisan megah. Decak kagum dan gumaman takjub banyak terdengar disekitarku saat memasuki ruangan megah ini. Inilah ruangan yang paling tersohor dari Versailles Palace itu sendiri, dan aku bersyukur telah berkesempatan berdiri di dalamnya, mengagumi hasil karya tangan seniman abad pertengahan.
The Hall of Mirror
salah satu patung emas didalam Hall of Mirror
The Royal Chapel
Tak terasa waktu sudah kian sore namun gerimis masih setia memayungi langit Versailles dari pagi hingga sore hari. Aku melangkahkan kaki melintasi Place de Armes menuju stasiun kereta. Aku sempat menoleh ke belakang, masih mengagumi sebentuk istana berpagar emas itu. Sebuah peninggalan dan bukti kemewahan kerajaan Perancis di era abad pertengahan. Aku berjanji didalam hati, suatu hari nanti aku akan kembali kesini, untuk menuntaskan penyusuranku ke setiap sudut Chateau de Versailles, terutama ke Queen's Hamlet dan Marie Antoinnette's Estate. Semoga! :)

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post