Saturday, November 10, 2012

A Lil' Step to... Paris (part 2)

Ramalan cuaca Paris hari Sabtu itu dikabarkan mendung. Aku bangun pagi dan bersiap dengan baju perang untuk mengantisipasi cuaca yang kurang bersahabat. Memakai baju 3 lapis plus coat, legging+jeans, boots, serta kupluk+sarung tangan dan tak lupa payung aku jejalkan kedalam tas. Setelah sarapan, Aku dan Irina pamit ke yang punya rumah, dan mulai menembus dinginnya suhu pagi hari kota Bry-Sur-Marne, Perancis. Gerimis pun mengundang... damn!


antrian di sela-sela kaki Eiffel
Turun dari kereta, aku berjalan cepat menuju Eiffel, si menara yang kemarin gagal aku taklukkan karena antriannya yang 'me-naga' itu. Kali ini aku berharap dengan datang pagi bisa terhindar dari antrian 'ular naga panjangnya tak terkira'. But... Olalaaa... sampai di pelatarannya, sudah ada si ular naga yang meliuk-liuk disela-sela kaki Eiffel. Haiiizzz... Nggak mau donk ya jauh-jauh kesini masa harus kalah lagi sama antrian layaknya ular naga itu. Akhirnya aku nyelip diujung belakang antrian dan mulai mengantri selama 45 menit kedepan.
(-__-") Memang sih antrian tangga jauh lebih pendek daripada antrian lift. Tapi siapa juga sih yang mau susah payah naik tangga ke level 2 dan 3 Eiffel ditengah tiupan angin dingin begini? Aku sih milih amannya saja naik lift, walaupun lebih mahal dan antri panjang, yang penting terbebas dari rasa gemeteran pas naik tangga setinggi ratusan meter itu. Eiffel oh Eiffel... seistimewa apakah dirimu sampai orang rela mengantri ria berjam-jam hanya untuk naik ke puncak. Mungkin semacam kaul atau nazar kali ya "kalau ke Paris, wajib naik ke puncak Eiffel". Hehe...


Champ de Mars dengan background si hitam Montparnasee Tower
Mendung menggantung di atas Paris (view from the top of Eiffel)
Setelah antri hampir sejam disela-sela tiupan angin dingin musim gugur, akhirnya sampai juga... didepan loket! Berhubung usiaku diatas 24, maka tidak mendapatkan reduced fee alias harga diskon, dan bayar full fare €14 untuk sampai di puncak Eiffel, Level 1. Irina yang baru berumur 19, mendapat diskon Jeunes (Youth) €12,50. Setelah mendapat tiket, harus antri lagi sebentar untuk melewati mesin metal detector. Ada larangan membawa botol berbahan beling/kaca saat naik ke menara, mungkin maksudnya supaya nggak ada acara lempar-lemparan botol macam di stadion GBK saat Persija ketemu Persib kali ya! Masuk ke kaki menara Eiffel, tempat lift berada, rupanya harus antri lagi. Yeah, seperti ngantri mau naik Halilintar atau Kora-kora di Dufan pas libur sekolah Juni-Juli deh... Kapasitas lift bisa menampung sekitar 20 orang, yang berdiri berdesak-desakan saat lift mulai bergerak naik. Peringatan "Awas Copet" pun ada dimana-mana, termasuk di setiap level menara. Lift berhenti di Level 2, dan untuk naik ke Level 1 harus berganti ke lift utama. Disini pun antrian juga luar binasa, sodara-sodara! Aku memutuskan untuk eksplore sejenak ke seluruh penjuru Level 3 dan 2, dimana kita sudah bisa melihat pemandangan seluruh kota Paris. Namun seperti yang aku bilang, naik ke Eiffel belum afdol kalau belum sampai ke puncaknya. Udara pagi itu benar-benar bikin merinding sepanjang waktu, meski aku sudah berpakaian super lengkap. Sampai di puncak Eiffel, rasanya nyeesssss..... dinginnya angin menghantam muka, satu-satunya bagian tubuhku yang tidak tertutup. Sambil gemetaran, aku keliling di Level 1, mengabadikan setiap sudut kota Paris yang keseluruhan bangunannya berwarna pucat itu. Hanya satu bangunan yang mencolok berwarna hitam, menjulang diseberang Eiffel, dialah Montparnasse Tower. Tak betah berlama-lama dihantam angin dingin dan gerimis di puncak Eiffel, aku pun cepat-cepat turun. Cukup puas karena kali ini sudah berhasil mewujudkan satu lagi mimpi, naik ke puncak Eiffel.

Sampai dibawah, hujan turun makin deras. Payung polkadotku yang sudah hampir reot akibat terpaan angin di Belanda, kali ini menjalankan tugasnya dengan baik di Paris. Aku lanjut menuju Trocadero, sebuah hall diseberang Eiffel yang merupakan spot terbaik untuk berfoto dengan Eiffel. Berjalan menembus hujan sambil mengunyah panini sandwich itu repot juga, karena sebentar-sebentar angin bertiup kencang mencipratkan air hujan ke arah rotiku. Yieeks! Panini yang semula hangat mengepul, tak lama berubah jadi dingin dan keras. Sampai di atas Trocadero hall, terlihatlah pemandangan menara Eiffel yang berdiri anggun, melambai-lambai genit minta difoto. Berfoto ditengah rintik hujan sambil berpayung ria pegang kamera yang notabene bukan waterproof camera itu benar-benar repot. Apalagi kamera DSLR milik Irina yang mati-matian dipayungin supaya nggak kehujanan, meski yang punya malah rela hujan-hujanan. haha... Selesai foto-foto di Trocadero (meskipun kurang puas karena hasil foto yang buruk ditengah hujan) aku menuju Montmartre, naik metro.
Eiffel view from Trocadero hall
Ada apa di Montmartre? Ada Moulin Rouge, si cabaret club dengan can-can dance nya yang terkenal itu. Kemudian ada gereja Basilique du Sacre Coeur, Landscape terkenal Paris setelah Eiffel dan Notre Dame. Sacre Coeur terletak di puncak sebuah bukit, dimana jika cuaca cerah kita bisa melihat pemandangan kota Paris dari puncak menara gerejanya. Naik metro dari Trocadero, turun di stasiun metro Anvers. Jalan sedikit keatas bukit, melewati gang kecil dengan jejeran toko-toko souvenir,, sampailah aku di pintu gerbang Basilique du Sacre Coeur. Satu kata yang tercetus ditengah rinai hujan siang itu... Cantik! Untuk mencapai gereja, kita harus menaiki anak tangga sejumlah... aku lupa! Pokoknya banyak, sampe ngos-ngosan pas sampai didepan gereja. Fiuuhhh....
stairway to heaven of Sacre Coeur
Altar utama dan kubah gereja Sacre Coeur
Masuk ke Sacre Coeur, tidak dikenakan biaya, namun jika kita mau menyumbangkan uang sukarela untuk biaya pemeliharaan gereja, kita bisa memasukkan uang di kotak-kotak persembahan di sudut pintu gereja. Di pintu masuk, terdapat papan peringatan "Be Quiet & NO PHOTO" dan disebelahnya berdiri seorang security berbadan super gede. Suasana didalam gereja hening, namun 90% bangku telah terisi baik oleh jemaat maupun turis pengunjung. Rupanya saat itu sedang ada misa, tapi sudah hampir selesai. Sehingga aku bisa tetap melipir disekeliling area dalam gereja, sambil curi-curi memfoto beberapa interior gereja. Karena fotonya ngumpet-ngumpet, hasilnya pun hampir nggak ada yang bagus, haha...
ratusan lilin di depan altar Maria
Tadinya aku ingin naik ke Crypte (menara) gereja setinggi 300 anak tangga. Namun mengingat cuaca yang kurang bagus untuk memfoto pemandangan dari ketinggian, maka aku putuskan untuk masuk ke Dome (dungeon) saja. Masuk Crypte maupun Dome dikenakan biaya. Aku membayar €3 untuk masuk ke Dome, ruang bawah tanah gereja Sacre Coeur. Tadinya aku pikir akan masuk kedalam lorong-lorong gelap dengan suasana ala vampir Volturi atau kelelawar. Eh nggak tahunya Dome ini bukan lorong, melainkan ruangan super besar berbentuk melingkar, dengan altar kuno ditengah-tengah. Ruangan ini sepertinya biasa dijadikan tempat prosesi Jalan Salib pada masa Pra-Paskah. Terlihat dari deretan Pemberhentian Salib dari sisi kiri menuju sisi kanan altar. Suasana didalam Dome sangat sepi, hanya ada aku, Irina, dan 6 orang lain yang sepertinya sudah selesai mengelilingi ruang bawah tanah itu. Terasa sedikit horor saat aku melewati sisi kiri altar dimana terdapat area gelap tanpa pencahayaan didepan Pemberhentian Jalan Salib yang menceritakan saat Yesus wafat disalib. Euuuhh... cepat-cepat aku keluar dari Dome saat sadar bahwa hanya tinggal aku dan Irina saja disitu!
Mesin pembuat wine tradisional
Aku keluar area gereja menuju pelataran samping yang ramai oleh stand-stand bazaar. Rupanya hari itu bertepatan dengan festival Vineyard Montmartre, sehingga disepanjang jalan sekitar gereja dipenuhi stand-stand yang menjual wine, buah-buahan, umbi-umbian hasil kebun, makanan tradisional, dan madu. Tapi tentu saja stand wine adalah yang paling mendominasi dan paling ramai dikunjungi. Ada sebuah stand yang amat sangat ramai dikunjungi. Ternyata stand ini adalah satu-satunya stand yang menjual Vin Chaud (hot wine) atau kalau di Belanda & Jerman sebutannya Gluhwein. Satu sloki kecil seharga 4euro, dan sepertinya cukup menghangatkan suhu tubuh ditengah dinginnya rintik hujan saat itu. Hmmm... pantesan ramai banget ya! Aku menyusuri Rue du Chevalier de la Barre yang dipenuhi toko-toko souvenir, menuju Rue du Mont Cenis dimana terdapat banyak cafe kecil disisi jalannya. Menemukan sebuah cafe kecil bernama Cafe Moreno di sudut jalan Mont Cenis, aku memesan segelas Le Chocolat Viennois sambil menunggu hujan reda.
jejeran cafe & toko souvenir di sisi jalan

Sacre Coeur nan cantik!

 Menjelang sore, matahari bersinar cerah di sela-sela kerimbunan awan mendung yang masih betah memayungi Montmartre. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan, langsung kuabadikan pemandangan kota Paris dari atas ketinggian Sacre Coeur. Sempat pula menyaksikan iring-iringan karnaval musik dengan kostum Perancis abad pertengahan, berkeliling di sepanjang area festival. Dan benar saja, si matahari ternyata nggak lama-lama mampir di Sacre Coeur, mendung kembali berarak membuat suasana menjadi semakin dingin. Aku memutuskan untuk mengikuti peta mencari Moulin Rouge dengan rute sengaja melewati area pemakaman Montmartre Cemetery. Hah? Koq malah lewat kuburan? Hehe... Iya sengaja. Karena penasaran sama area pemakaman di Perancis yang konon katanya bagus dan klasik. Itu lho, mirip-mirip di video clip lagunya Ungu yang Demi Waktu. :p
Jalanan di Montmartre dengan jejeran flat di kanan-kiri nya


Menyusuri beberapa kilometer Rue Lammark yang dikanan-kirinya dipadati jejeran flat/apartment yang klasik, kemudian Rue Damremont yang ramai oleh toko-toko serta beberapa butik. Jujur, menyusuri area Montmartre dengan berjalan kaki itu sangat menyenangkan. Boleh dibilang, Montmartre adalah tempat favoritku di Paris. Areanya cozy, tenang, klasik sekaligus berkelas, dan letaknya yang berada di ketinggian membuatnya terlihat istimewa. Kemudian sampailah aku di depan area pemakaman Montmartre Cemetery. Dan benar saja, jejeran nisan paling depan saja sudah cantik, apalagi yang bagian dalam pasti lebih klasik. Namun sayang si Irina menolak mentah-mentah saat aku ajak masuk ke pemakaman untuk hunting foto. Katanya,
   "Are you crazy Fransisca? Taking pictures of those graves?? Though they looked so cute I don't wanna get inside the cemetery in this gloomy day. No, thank you."
Haha... Rupanya dia masih waras dengan memilih nggak masuk kedalam area kuburan di sore yang mendung dan gerimis itu. Ya bener juga sih ya, kurang kerjaan juga kalau dipikir-pikir, iseng ke kuburan sore-sore cuma buat foto! :D
Salah satu sudut Montmartre Cemetery, cantik kan pemakaman ini?
Tak jauh dari Montmartre Cemetery, akhirnya sampailah aku di Boulevard de Clichy, tempat Moulin Rouge berada. Bangunannya yang berwarna merah dengan sebuah windmill diatasnya terlihat mencolok diantara jejeran cafe di kanan-kirinya. Tujuanku kesini bukan untuk nonton kabaret show ataupun Tari Can-can, melainkan hanya untuk melihat lokasi sebuah club kabaret terkenal yang dibangun tahun 1889 itu. Tempat ini pulalah yang menjadi setting utama di film Moulin Rouge! yang dibintangi Nicole Kidman. Didepan Moulin Rouge, ada sebuah bundaran besar setinggi 50cm dengan diameter sekitar 2,5 meter yang mengeluarkan angin dari dalamnya. Sepertinya semacam cerobong udara untuk sebuah ruangan atau apapun itu yang ada dibawahnya. Pernah lihat film Step Up 3? Saat Luke pertama kali mencium Natalie di atap gedung, diatas sebuah cerobong angin. Ya seperti itulah rasanya saat berdiri diatas spot ini, berasa ditiup angin hangat dari bawah. Kalau pakai rok, akan terlihat seperti foto Marilyn Monroe dengan gaun putih tertiup angin yang terkenal itu. Hehehe... Spot ini selalu ramai dijadikan spot foto favorit dengan latar belakang Moulin Rouge.
Piramida terbalik didalam Le Carrousel
Hari semakin sore, aku pun lanjut menuju Musee du Louvre untuk mengabadikan foto pyramide nya di malam hari. Naik metro dari Blanche dan turun di Palais Royale Musee du Louvre. Aku mengeksplore bagian dalam Le Carrousel du Louvre yang berada di bawah tanah, tempat dimana terdapat akses masuk ke Museum Louvre. Didalam Le Carrousel ini layaknya sebuah mall, mirip-mirip seperti Grand Indonesia, dengan jejeran butik ternama kelas berat (aih, bahasanya!). Dan disini terdapat sebuah piramida terbalik yang ketaknya tepat berada dibawah bundaran taman Place du Carrousel diluar sana. Kita juga bisa melihat maket keseluruhan bangunan di areal Louvre hingga mencapai Jardin des Tuileries, baik yg upperground maupun yang underground. Keseluruhan suasana didalam Le Carrousel ini terkesan mewah dan modern.
cahaya sore menjelang malam yang cantik
Keluar dari Le Carrousel, aku menghabiskan waktu di sekitar pyramide Louvre sampai benar-benar bercahaya di malam hari untuk diabadikan. Menjelang malam, host CS menelpon untuk mengajak hang out bareng bersama surfer CS lainnya. Kebetulan pas banget malam minggu, jadi ya oke oke saja buatku untuk kongkow di bar sampai malam. Kami memilih salah satu pub di Rue Saint Denis bernama The Hall's Beers Pub. Disepanjang jalan ini banyak berjejer bar dan pub yang cukup happening di malam hari. Jadilah kami ber-empat, aku, Irina, host CS ku Etienne, dan seorang surfer CS dari Korea bernama Aaron, menghabiskan malam disana saling bertukar cerita traveling dan pengalaman, hingga tak terasa waktu bergulir melewati tengah malam.
Night at Museum :)
Arc de Triomphe dengan The Blinking Eiffel di sebelahnya
Dan memang, julukan La Ville des Lumieres atau The City of Lights sepertinya cocok untuk Paris yang memang terlihat indah di malam hari. :)
La Ville des Lumieres
Hints:
- Jika bertemu penjaja souvenir asongan kulit hitam (negro) di sekitaran Trocader, Louvre, maupun Sacre Coeur, berhati-hatilah. Bukan mau rasis atau menjudge mereka tidak baik ya, namun dari berbagai sumber yang aku dapat (termasuk dari warga Paris itu sendiri) kita sebaiknya jangan membeli souvenir dari mereka. Memang sih mereka mencari uang, namun terkadang ada yang "nakal" sambil mencopet. Maka jika datang ke tempat-tempat wisata di Paris dan bertemu mereka (biasanya bergerombol) be aware saat ditawarin gantungan kunci atau apapun itu. Jika mereka menawarkannya seorang diri, nggak perlu khawatir. Tapi jika mereka datang secara bergerombol dan seolah mengintimidasi kita untuk membeli dagangan mereka, harus waspada. Karena bisa jadi mereka berkomplot untuk mengalihkan perhatian dan kemudian mencopetmu! Daannn... yang perlu digarisbawahi, banyak diantara mereka adalah imigran gelap dari Afrika. So, if you buy something from an ilegal person, it means that the thing you bought will be illegal too. Dan pastinya kita nggak mau donk ya berurusan sama hal-hal yang menyangkut hukum seperti itu. So, be careful and smart. Memang souvenir yang dijual mereka harganya jauh lebih murah dari di kios ataupun toko souvenir. Tapi resikonya juga harus dipikirkan, antara kemungkinan dicopet atau membeli barang dari seorang imigran gelap yang notabene bermasalah dalam hukum.
- Paris cantik di malam hari! Jadi sempatkan waktu untuk hunting foto di saat Paris bermandikan cahaya lampu kekuningan. It's beautiful! Waktu yang tepat untuk bisa menikmati kota bermandikan cahaya adalah mulai jam 8 malam (saat musim gugur-semi) atau jam 9:30-10 malam (saat musim panas). Bagi para pecinta kemeriahan cahaya malam, pasti sangat menunggu-nunggu moment dimana menara Eiffel berkelap-kelip (it called The Blinking Eiffel) setiap satu jam sekali selama beberapa menit. Atau menyusuri sepanjang jalan Avenue de Champs Elysees di malam hari untuk merasakan sensasi yang berbeda.
- Bagi yang suka menghabiskan malam, Paris memiliki banyak happening place di malam hari. Salah satunya di Rue Saint Denis. Bar atau Pub selalu ramai di malam hari. Mungkin di Indonesia, pergi nongkrong ke bar/pub akan dikaitkan dengan konotasi negatif. Tetapi di negara barat, budaya minum di bar/pub sudah umum dan dijadikan sebagai salah satu gaya sosialita, dan jauh dari konotasi negatif. Di bar/pub orang bisa duduk bertemu kolega atau berkumpul bersama sahabat, sekedar sharing time dan minum. Bukan sebagai tempat hura-hura, mabuk, atau mencari 'ayam' seperti yang selama ini orang Indonesia pikirkan saat mendengar kata-kata "pergi ke bar/pub".
It's Europe, baby! So change your mind set, and just blend into this kind of culture. ;)
- Toko souvenir bisa ditemukan di sepanjang jalan Rue de Rivoli (samping Louvre), jalanan di sekitar Sacre Coeur, maupun di sekitaran setiap spot wisata terkenal di Paris. Sepanjang Avenue de Champs Elysees juga terdapat banyak toko dan butik untuk memuaskan selera belanja. Harga bervariasi dan rata-rata harga sudah dibanderol di tiap labelnya. Sehingga agak sulit untuk tawar menawar.
Salah satu toko souvenir di daerah Montmartre

Monday, October 29, 2012

A Lil' Step to... Paris! (part 1)

Musee du Louvre
Siapa yang tak kenal Paris? Kota cantik yang dijuluki sebagai kota romantis dengan sebuah menara yang menjadi iconnya, dan merupakan destinasi paling diminati di dataran Eropa. Ibukota negara Perancis ini terkenal sebagai kota mode dunia, asal berbagai merk fashion terkemuka mulai dari Louis Vuitton sampai Hermes. Juga terkenal dengan French fine dining nya, cara makan yang penuh dengan tata krama. Singkat kata, tak ada yang tak kenal Perancis dengan segala keindahannya. Dan beruntung kali ini aku berkesempatan mengunjungi Paris, meski dalam waktu singkat, namun sudah berhasil mengecap sedikit keindahan negeri asal Croissant itu.


Montparnasse Tower
Petualanganku kali ini (masih) dengan gaya backpacking, yang menerapkan filosofi "kalau bisa gratis atau murah, kenapa harus pilih yang mahal?". Mulai dari Walking Tour hingga akomodasi menginap selama 2 malam, aku dapatkan secara cuma-cuma (baca: Postingan sebelumnya). Diawali dari stasiun kereta Gare Montparnasse tempatku menitipkan backpack di loker, aku mulai membuka peta tua Paris ku. Kenapa tua? Ya karena itu adalah peta terbitan lama dari Vayatour (kantorku) yang tanpa sengaja aku temukan sekitar hampir dua tahun lalu di lemari rongsokan, tanpa tahu akhirnya akan terpakai juga - dua tahun kemudian. Menyusuri dinginnya pagi di Boulevard du Montparnasse, sambil mendongak kearah si gedung hitam yang menjulang setinggi 210m didepan stasiun. Ya, Montparnasse Tower adalah gedung tertinggi di Perancis dan merupakan tertinggi kesembilan di Uni Eropa. Gedung ini menawarkan indahnya panoramic view 360' kota Paris termasuk si cantik Eiffel, dengan tiket masuk sebesar €13 untuk dewasa. Namun kali ini aku tidak masuk ke Montparnasse, karena aku ingin merasakan naik ke puncak Eiffel terlebih dahulu dalam kunjungan pertamaku ke Paris ini. Mungkin lain kali jika aku kembali kesini, aku akan mencobanya.

Pantheon
Dari Boulevard du Montparnasse aku menuju ke Jardin du Luxembourg. Konon katanya taman-taman di Paris akan sangat indah pada musim semi, dimana hamparan bunga warna-warni memenuhi taman. Namun karena saat ini musim gugur, yang aku temukan di Jardin du Luxembourg hanya pepohonan yang mulai menguning dan daun-daun mati yang berserakan. Hmmm... tak begitu menarik disini, hanya mengambil beberapa foto didepan Palais du Luxembourg. Dinginnya udara pagi musim gugur membuat perut berteriak minta disiram segelas kopi panas. Jadilah aku mencari-cari Rue Soufflot yang katanya banyak terdapat cafe murah disepanjang jalannya. Dan benar saja, aku menemukan sebuah cafe kecil yang menjual Formule untuk sarapan seharga hanya €2, terdiri dari segelas Cappucino dan Pain au Chocolat. Di cafe-cafe Perancis sini banyak aku lihat menu paketan yang dinamakan Formule. Mulai dari Formule 1, 2, dst. Mungkin artinya kurang lebih Paket kali ya. Sambil mengunyah croissant coklat hangat aku melangkahkan kaki menuju Pantheon, sebuah bangunan cantik yang berfungsi sebagai tempat kremasi dan rumah abu bagi tokoh-tokoh terkenal ataupun pahlawan Perancis. Banyak nama-nama orang besar yang telah dikremasikan disini, sebut saja Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Victor Hugo, hingga sang arsitek Pantheon itu sendiri Jacques-Germain Soufflot. Sayangnya aku tidak bisa masuk kesana hari itu, karena aku datang terlalu pagi. Pantheon buka setiap hari jam 10:00-16:00, dengan admission fee €7.

Dari Pantheon lanjut menuju pusat inti kota Paris, ile-de-la-Cite, sebuah pulau alami yang terbentuk ditengah-tengah sungai Seine, dan merupakan awal sejarah berdirinya Perancis. Di pulau ini terdapat sebuah gereja gothic tertua di Perancis yaitu Notre Dame. Siapa yang tak kenal Notre Dame? Kecantikan gereja tua ini sudah terkenal keseluruh penjuru dunia. Saat menginjakkan kaki didepan Notre Dame, aku baru sadar bahwa ternyata aku sedang berdiri di Kilometre Nol, yang merupakan titik pusat Paris, bahkan Perancis itu sendiri. Wow... senyum-senyum sendiri, sedikit bangga sudah berkesempatan menginjak pusat negara Perancis. Thanks God!

Notredame tampak depan
Dari depan terlihat ada 3 portal untuk masuk kedalam gereja, yang kesemuanya dihiasi dengan berbagai relief dan patung yang indah, yang merupakan sisa-sisa keanggunan seni gothic pada arsitektur gereja. Pintu masuk ada di portal paling kiri, dan pintu keluar lewat portal kanan. Pintu yang ditengah tertutup, mungkin hanya digunakan untuk acara besar keagamaan saja (aku nggak gitu tahu soal ini). Masuk Notre Dame gratis tidak dipungut biaya, namun saat masuk ada peringatan dilarang berisik dan menggunakan flash pada saat memotret. Karena sampai saat ini Notre Dame masih digunakan untuk tempat ibadah. Dan di gereja ini pulalah disimpan relic-relic keagamaan bersejarah, salah satunya Mahkota Duri yang pernah dipakai Yesus Kristus pada saat perarakan menuju Golgota. Belakangan aku baru tahu dari guide bahwa setiap Jumat pertama tiap bulan, The Holy Crown of Thorn ini dipertontonkan secara khidmat kepada khalayak umum di Notre Dame, sekitar pukul 3-4 sore. Dan kebetulan hari itu adalah Jumat pertama dibulan Oktober, maka tak heran banyak sekali pengunjung di Notre Dame hari itu. 
Pilar-pilar cantik didalam gereja



Rose Window
Memasuki gereja ini, mata langsung terpaku pada langit-langit gereja yang sangat indah. Pilar-pilar besar melengkung cantik dihias dengan banyaknya chandelier yang memancarkan sinar lembut, membuat suasana didalam gereja menjadi remang-remang. Peringatan "SILENT & NO Flash" terpampang didekat pintu masuk. Terlihat deretan kursi yang sebagian terisi oleh beberapa wisatawan yang menyempatkan diri berdoa. Aku memutari bagian dalam gereja, terlihat ratusan lilin kecil didepan patung Bunda Maria, kemudian ada sebuah chandelier raksasa "The Great Chandelier" yang sudah tidak terpakai, terpajang dibagian samping altar utama. Banyak ruang-ruang kecil disekitar altar, termasuk bilik pengakuan dosa dan sakristi. Dan ternyata, aku juga menemukan beberapa tomb alias makam beberapa tokoh penting, terletak dibagian belakang altar. Dari bagian dalam gereja ini kita juga bisa melihat keindahan seni stained glass yang terukir pada beberapa Rose Window disetiap sisi gereja. Setelah puas menjelajahi bagian dalam gereja, aku melangkahkan kaki keluar menuju South Tower yang juga dibuka untuk umum. Namun saat melihat antrian mengular untuk masuk menara, aku mengurungkan niat untuk naik ke menara dan berjumpa dengan Gargoyle-gargoyle yang terkenal itu.
Gargoyle di sudut menara
Lanjut menyusuri jalanan kecil Rue de Arcole disamping kanan Notre Dame, terdapat banyak cafe-cafe yang cukup nyaman untuk ditongkrongin. Aku memilih salah satu cafe bernama Le Quasimodo, tahu donk siapa itu Quasimodo... Si Bongkok penarik lonceng Notre Dame di dalam cerita novel karangan Victor Hugo. Cafe ini kecil namun nyaman. Tujuanku ke cafe ini sebenarnya hanya untuk sekedar cari toilet. Maklum sudah nahan pipis dan nggak nemu toilet di Notre Dame tadi, jadilah aku mampir ke cafe ini pesan secangkir kopi dan croissant. Tapi olala... kopinya kecil banget di cangkir espresso! Haiyaaah.... ini mah sekali glek juga habis. Hehe...
Lanjut lagi menuju tepi sungai Seine River, bermaksud menemukan Sainte Chapelle yang konon katanya terkenal akan keindahan stained glass window nya. Tapi ditengah jalan, perut tergoda oleh deretan sandwich dan panini yang seolah melambai-lambai memanggil setiap orang yang lewat! (ah, hanya efek perut lapar saja...) Rata-rata harga sandwich mulai dari €4 dan croissant jumbo €3.50. Aku tergoda melihat lelehan keju diatas croissant jumbo isi ham yang baru dikeluarkan dari oven. Hmmm.... harum dan rasanya maknyuuussss meleleh didalam mulut! (OMG... ngiler ngebayanginnya). Si Cheese Ham Croissant ini dihargai €3.80 dan sumpah ini enak banget dan gede banget. Aku memutuskan untuk memakannya 2x, kusimpan setengahnya untuk makan siang. Hehe... backpacker ya bo! Musti irit biar survive. :)
Cheese ham croissant yummiii....
Sainte Chapelle terletak bersebelahan dengan Palais de Justice. Namun lagi-lagi antrian pun terlihat mengular. Berhubung aku tidak punya banyak waktu karena sudah ada appointment untuk ikut dalam free tour jam 11 siang, maka aku memutuskan untuk melewatkan keindahan interior Sainte Chapelle untuk kunjungan berikutnya. Aku langsung menuju Saint Michel fountain yang terletak tak jauh dari Sainte Chapelle ini, meeting point free tour ditetapkan disini. Air mancur Saint Michel Fountain ini sebenarnya menurutku bukan seperti air mancur beneran, melainkan lebih ke air terjun mini yang memancar dari sela-sela batu dibawah kaki patung Saint Michel. Dari sinilah free tour itu dimulai. Aku kebagian rombongan yang dipimpin oleh seorang guide asal New Zealand, namanya Alex. Dia cukup fasih berbahasa Inggris, namun aksen nya membuat semua kata-kata menjadi kurang jelas ditelingaku. Haha, yasudahlah ya... Namanya juga free tour, nggak boleh protes kalau service nya nggak 100%.
Saint Michel Fountain
Perjalanan diawali dengan menyusuri tepi Seine River melewati Place Dauphine - Statue Henry IV - Pont Neuf - Church St.Germain l'Auxerrois - Musee du Louvre - Rue de Rivoli - Palais Royal - Jardin des Tuileries - dan berakhir di Place de la Concorde, tempat berdirinya sebuah obelisk yang didatangkan langsung dari Mesir pada abad ke 19 yang merupakan hadiah dari pemerintah Mesir kepada Perancis. Jika dilanjutkan, kita bisa menyusuri Champ Elysees dari obelisk ini menuju ke Arc de Triomphe. Setelah menyusuri kesemua tempat itu selama 3jam berjalan kaki, aku memutuskan untuk mengeksplore bagian lain kota Paris tanpa guide, hanya berbekal peta tua ku. Dari Place de la Concorde, terlihat menara Eiffel menyembul dari balik pepohonan. Aku mengikuti arah menara itu berada, menyeberangi Seine River lewat Pont de la Concorde, mengagumi sebentar bangunan L'Assemblee Nationale - Ministere des Affaires Etrangeres et Europeennes (hadoh namanya susah!) - Kantor pusat Air France - dan jembatan cantik Pont Alexandre III. Setelah melewati Museum Quai Branly, sampailah aku di hadapan menara cantik icon kota Paris, Eiffel Tower! Mendongak keatas menatap susunan besi tua yang menjulang setinggi 324m, aku hanya bisa mengucap syukur atas pencapaian mimpi masa kecilku untuk melihat Eiffel. Terharu... sedikit melankolis memang saat aku menyadari bahwa aku tengah berdiri ditempat yang dulunya hanya sekedar mimpi, kini berhasil aku wujudkan menjadi nyata. Rasanya? hmmm... sumringah! hehe...
Eiffel... finally!
Niatnya mau naik keatas puncak Eiffel, tapi melihat antrian yang bukan mengular lagi judulnya, tapi "me-naga" itu, bikin males luar biasa. Aku putuskan besok saja pagi-pagi aku datang lagi kesini dan mulai antri dari pagi. Akhirnya karena keterbatasan waktu, mengingat aku sudah janjian sama host couchsurfing untuk ketemuan di Arc de Triomphe sore itu jam 5, aku langsung ke Gare Montparnasse mengambil ransel. Menyeberangi Champ de Mars dengan sedikit terburu-buru, namun masih sempat melihat-lihat sekilas festival patung beruang dari berbagai negara "United Buddy Bears", aku menuju stasiun metro Duplex. Tiba di Gare Montparnasse sekitar jam 4:50 sore, suasana stasiun sedang ramai-ramainya orang pulang kantor. Butuh waktu 3menit untuk jalan dari metrostation Montparnasse Bienvenue ke stasiun kereta Gare Montparnasse. Naik turun eskalator yang padat dan sibuk, berkali-kali orang mengucapkan "Pardon" saat melewatiku. Belakangan aku baru tahu kalau saat naik eskalator sebaiknya kita berdiri di sisi kanan, karena jalur kiri biasa digunakan untuk orang-orang yang sedang tergesa-gesa dan untuk menyalip orang didepannya. (yaelah bahasanya salip-menyalip kaya sopir metromini aja!). Pantesan dari tadi banyak orang yang 'pardon-pardonin' aku, ternyata aku cuek berdiri nyantai di jalur kiri - jalurnya orang rush hour! haha....
Arc de Triomphe
Setelah ambil ransel di loker penitipan barang (bayar €5.50 untuk loker kecil, muat 2 ransel uk.sedang) aku tergesa kembali ke metrostation Bienvenue Montparnasse menuju ke Charles de Gaulle Etoile metrostation. Suasana metro pada jam-jam sibuk seperti saat itu benar-benar kurang nyaman. Jangan ngarepin duduk deh, bisa berdiri pegangan aja udah untung. Dan hati-hati copet! Diseluruh penjuru Paris ini aku sering melihat warning "Beware of Pickpocket". Sepertinya copet di Paris lebih banyak daripada di Belanda ya? hehe... Charles de Gaulle Etoile metrostation merupakan stasiun terdekat dari Arc de Triomphe. Tinggal jalan kaki sedikit, kalau mau ngesot juga bisa, sampai deh didepan landmark berbentuk kotak bolong tengah'e itu. Monumen ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang gugur pada masa Revolusi Perancis. Bahkan dibagian dalam Arc de Triomphe ini terdapat sebuah makam seorang pejuang yang tak diketahui identitasnya, Tomb of the Unknown Soldier.
Di salah satu sudut Place Charles de Gaulle (lapangan tempat berdirinya Arc de Triomphe), aku bertemu dengan host couchsurfing yang akan menampungku selama 2 malam kedepan. Namanya Etienne Marquet, seorang Perancis asli yang sangat baik, dengan bahasa Inggris yang cukup excellent. Bahkan aku bisa mengerti ucapannya dengan jelas, berbeda dengan Alex si guide tour tadi pagi yang ucapannya sangat susah dimengerti. Etienne tinggal diluar kota Paris, tepatnya di Bry-Sur-Marne di zone 4, sebuah komplek perumahan yang tenang karena jauh dari hiruk pikuk pusat kota Paris. Untuk menuju Bry-Sur-Marne kami naik kereta RER C selama kurang lebih 30menit. Kami menghabiskan sore itu dengan masak bareng bersama temanku Irina, seorang gadis Argentina yang kali ini jadi my partner in crime for Paris trip! Hehe... Kami menutup malam itu dengan dinner dan percakapan yang hangat, ditemani segelas red wine dan alunan musik jazz. Hmm... Lovely!


Hints:
- Jika tiba di Paris pagi hari dan mau langsung jalan-jalan keliling kota, ada baiknya menitipkan backpack atau luggage di locker penitipan barang. Leave luggage locker ini terdapat disetiap stasiun kereta di kota Paris (stasiun kereta lho ya, bukan stasiun metro). Tarifnya mulai dari €5.50 untuk loker paling kecil seukuran dua ransel sedang. Dan locker terbesar bisa muat koper ukuran besar. Cara pakai locker ini, harus menggunakan recehan logam sejumlah tarif per locker. Masukkan uang recehnya ke pintu locker, maka pintu akan otomatis terkunci dan mengeluarkan pass-card untuk membuka locker itu kembali nantinya. Ingat, sekali kamu memasukkan barang dan menguncinya, maka pass-card hanya bisa digunakan 1x juga untuk membukanya. Jadi sebelum mengunci pintu locker, pastikan tidak ada barang yg tertinggal didalamnya. Karena kalau kamu membukanya 2x, maka tarifnya pun 2x lipat. Bagaimana jika tidak punya recehan? Jangan khawatir, disana disediakan mesin tukar uang recehan. Tinggal masukkan uang kertas kedalam mesin dan... cring cring cring... logam pun berjatuhan kedalam wadah. Praktis bukan?
- Saat berada di stasiun, baik metro maupun kereta, usahakan berdiri di sisi kanan kalau nggak mau ditabrak sama orang yang lagi buru-buru. Tapi kalau kamu memang sedang terburu-buru mengejar jadwal kereta misalnya, bolehlah ikutan jalan cepat di sisi kiri. Sambil jangan lupa bilang "Pardon" saat akan menyalip orang (haiyah, bahasa itu lagi). Pardon artinya sama dengan "Excuse Me".
- Selalu letakkan tas menghadap kedepan (tas tangan/selempang). Jika menggunakan ransel, jangan taruh barang berharga di ransel. Copet di Paris terkenal cerdik dan lincah. Salah satu contoh yang dijelaskan oleh Alex si tour guide, adalah sekelompok wanita yang pura-pura tuli di sekitar jembatan Pont Neuf. Mereka berpura-pura tuli dan menyodorkan selembaran charity untuk meminta sumbangan. Jangan ditanggapi dan teruslah berjalan saat kamu bertemu mereka. Karena jika kamu berhenti dan menanggapi mereka, maka salah satu dari mereka akan mengalihkan perhatianmu dan yang lainnya akan mencopetmu dengan cepat.
Warning!!

Tuesday, October 23, 2012

Sekilas info... Backpacking trip to Paris

Dinginnya suhu 5'c malam itu tidak menyurutkan kecepatan langkah kakiku menuju pelataran parkir bus di Zuiderzeeweg, Amsterdam. Dari beberapa bus yang terparkir, aku mencari-cari sebuah bus berwarna biru kuning dengan tulisan MEGABUS disisi body nya. Ada beberapa orang yang juga menggendong ransel, tengah berdiri menunggu bus biru tersebut membuka pintunya. Memang masih 30menit lagi jadwal keberangkatannya, jadilah kami sesama backpacker saling ngobrol bertukar cerita. Tak lama, bus menyala dan pintu pun terbuka. Pak supir memeriksa tiket online kami satu-persatu dan mempersilahkan masuk. Ada yang berbeda dari bus ini. Seperti kita tahu, mobil di Eropa setirnya ada di kiri, tetapi bus ini setirnya di kanan.

Perjalanan menuju Paris memakan waktu sekitar 6 jam dengan 1x transit di Brussel - Belgia. Memang waktu tempuhnya terbilang lebih lama dibandingkan dengan menggunakan kereta api. Namun harga yang ditawarkan moda transportasi bus ini pun jauh lebih murah dan lebih akrab dikantong para backpacker seperti aku, hanya €13.50 untuk return ticket. Jika menggunakan kereta, hanya butuh waktu sekitar 2 jam saja, namun tiket nya pun ada di kisaran harga mulai dari €35 untuk one way ticket. Dengan memilih waktu keberangkatan tengah malam, bisa tiba di Paris pada pagi hari dan ini berarti sedikit menghemat biaya akomodasi menginap, karna kita bisa tidur diperjalanan.

Tiba di Paris, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, dimana suasana masih gelap dan sangat dingin. Memasuki musim gugur, matahari baru muncul sekitar pukul 8 dan suhu udara pun ada di kisaran 7-12'c. Cepat-cepat aku menuju Porte Maillot metro station yang ada dibelakang gedung Palais des Congres - Paris. Transportasi paling efektif dan terjangkau di Paris memang menggunakan Metro. Ada berbagai macam tiket metro, dari yang Single Trip Ticket, Day Pass, hingga semacam Abodemen Pass. Bisa buka di www.ratp.fr mengenai keterangan lengkap harga dan jenis tiket metro-bus-kereta. Karena umurku masih dibawah 26 tahun, maka aku bisa menggunakan Jeunes Ticket pada saat weekend. Tiket ini dapat digunakan seharian unlimited untuk naik metro/kereta/bus di wilayah Paris dan sekitarnya (tergantung kita pada saat kita membelinya, zona mana saja yang kita pilih). Jeunes Ticket yang aku pakai seharga €7.50 dan bisa dipakai di zona 1-5 selama 24jam. Bentuk tiketnya berupa selembar kertas tebal sebesar tiket poin timezone. Di tiket ini kita harus menuliskan nama dan tanggal berlakunya tiket, karena terkadang petugas RATP bisa mengecek random penumpang didalam metro sewaktu-waktu.

Jeunes Ticket

Suasana didalam metro (pagi hari)
Hari itu, agendaku adalah mengikuti sebuah Free Guided Tour yang telah aku booking di internet seminggu sebelumnya. Aku menggunakan www.newparistours.com . Ikut free tour semacam ini memang gratis, hanya memberikan tips seikhlasnya pada guide saat trip berakhir. Tujuanku ikut tour ini adalah untuk pengenalan awal seputar lokasi wisata di Paris, untuk selanjutnya akan aku jelajahi sendiri keesokan harinya. Saranku, setiap berkunjung ke sebuah kota, ada baiknya kita ikut free tour untuk mengawali petualangan kita selanjutnya. At least kita tahu jalan-jalan yang harus dilalui dan tips-tips wisata di kota tersebut. Free walking tour yang aku ikuti hari itu cukup ramai pesertanya, terbagi menjadi dua kelompok Spanish dan English, dengan total peserta sekitar 70 orang. Tour berlangsung selama 3 jam menyusuri kota Paris dengan berjalan kaki serta dijelaskan berbagai sejarah dan cerita dari setiap tempat yang kita lewati. Sangat seru! Selanjutnya aku menyusuri kota Paris dan Versailles tanpa ikut tour, hanya bermodal peta, selama 3 hari.

Aku bersama teman2 dan host CS di Bry Sur Marne - France
Mengenai akomodasi menginap, aku memanfaatkan sistem hospitality club yang marak digunakan di Eropa maupun belahan dunia lainnya. Aku menggunakan Couchsurfing (CS) www.couchsurfing.org . Dimana aku mendapatkan seorang host yang sangat baik mengijinkan aku bermalam di rumahnya selama 2 malam, Free! Ya, ikut program couchsurfing ini sangat menguntungkan bagi para backpacker maupun traveler, selain dapat menekan biaya akomodasi menginap, juga bisa menambah teman baru. Di CS ini, kita bisa menginap di rumah seseorang dengan free of charge, gantinya kita bisa memasakkan dinner buat tuan rumah, atau mengajaknya makan/minum diluar. Kita juga bisa saling bertukar cerita, kebudayaan, dan bahasa. Intinya, ikut CS ini FUN!! :)

Makanan, adalah kebutuhan primer yang tidak bisa ditawar-tawar. Pengalamanku selama di Paris kemarin, nggak nemu restauran atau rumah makan Indonesia! Haha... atau aku nya yang belum menjelajah seluruh kota, agak sulit menemukan makanan berupa nasi. Namun jangan khawatir, banyak sekali penjual sandwich di mana-mana. Toko bakery dan pastry pun sering ditemukan di tepi jalan. Berbagai macam sandwich-hot dog-panini-sliced pizza dijual mulai harga €4, sedangkan berbagai pastry seperti Croissant mulai €2. Favoritku adalah Pain Au Chocolat Croissant, dengan lelehan coklat disetiap gigitannya! Alamaaak.... pas nulis ini aja ngiler ngebayanginnya! :)
Berbagai menu paket banyak ditawarkan di cafe-cafe, contohnya paket breakfast coffee + croissant hanya €2.50. Atau paling gampang ke Mc.Donald, disini banyak pilihan menu dengan harga terjangkau. Cheese Burger + french fries hanya €2 saja. Favoritku di Mc.Cafe adalah Le Chocolat Viennois, segelas hot chocolate dengan whip cream dan taburan bubuk coklat! It's sooo... yummm... (kalo di Belanda namanya Chocomelk met Slagroom).

Le Chocolat Viennois + Cheese burger + French fries (€4.50)

Mungkin croissant sudah tak asing lagi bagi kita, namun ada baiknya mencoba menikmati hangatnya croissant yang baru keluar dari oven, di sebuah pastry shop, di negara asalnya... Perancis! Karena cita rasa croissant yang sedikit manis dan ringan ini sangat enak untuk sarapan pagi maupun pengganjal perut ditengah lapar. Selain croissant, Macarons juga patut dicoba. Camilan asal Perancis ini sangat sangat amat yummi. Aku suka sekali dengan berbagai citarasa macarons, selain warnanya yang menggemaskan, rasanya pun lembut dan lumer dimulut. Oh no... nulis tentang makanan itu selalu bikin aku lapar! haha... Harga macarons bervariasi, yang paling murah tentu saja di Mc.Cafe, hanya €1 per buah.

Aneka sandwich berukuran besar

Aneka Macarons penggoda iman! :D



White beer? Nambah donk... :p
Bagi yang suka nongkrong malam diselingi minum, banyak bar dan pub di pusat kota Paris. Di sekitar Rue Saint-Denis banyak terdapat cafe bar dan pub yang oke untuk tempat nongkrong menghabiskan malam ditemani beberapa gelas beer. Harga bervariasi disetiap bar, standar nya segelas beer ukuran sedang seharga €2.50, namun harga berbeda disetiap jenis maupun merk minuman. Favoritku adalah Edelweiss Weissbier yang tergolong White beer dengan kadar alkohol ringan, buatan Salzburg - Austria. Pilihan lainnya yang lumayan enak adalah La Chouffe yang masuk kategori Blond beer, buatan Belgia.

Sebetulnya masih banyak hints dan tips yang bisa dibagi di tulisanku kali ini. Namun entah kenapa mendadak setelah menyantap semangkuk Indomie Telor, tiba-tiba otakku blank lupa apa yang mau aku tulis. Haha... Mungkin saking nikmatnya menyantap Indomie yang sudah susah-susah aku cari di Rotterdam ini, membuat sekian persen memoriku memudar! Baiklah, nanti aku selipkan beberapa hints di tulisanku berikutnya ya. Masih tentang Paris dan segala keindahannya.

Note:
Untuk backpacking tripku ke Paris kali ini, aku hanya menghabiskan total €157. Biaya tersebut termasuk antara lain untuk --> tiket kereta PP Rotterdam-Amsterdam, tiket bus PP Amsterdam-Paris, tiket metro day pass selama 3 hari, makan + minum selama 3 hari 4 malam, tiket masuk beberapa tempat wisata, beli sedikit oleh-oleh (sedikit lho yaaa...), jajan selama traveling, dan tipping pemandu wisata.
Biaya menginap? GRATIS! ;)

Tuesday, October 16, 2012

Shop Hop in Netherlands!

Aku pernah membaca sebuah artikel tentang Belanda, dimana dikatakan bahwa "Bad Girl go to Amsterdam, Good Girl go to Delft, and Shoppaholic go to Rotterdam". Ungkapan tersebut tidaklah berlebihan, mengingat memang di Amsterdam lah sentra segala yang dilegalkan. Kemudian Delft dijuluki sebagai Kota Pelajar dimana terdapat banyak mahasiswa dari berbagai penjuru negeri yang menuntut ilmu di universitas-universitas ternama di Delft. Sedangkan Rotterdam, si kota metropolitan yang berbalut serba kemodernan itu disebut-sebut sebagai surga belanja. Well, apakah benar? Mari kita ulas.

Rotterdam terkenal sebagai The Biggest Port in Medieval Europe. Kota ini merupakan persinggahan dari berbagai negara yang melintas di perairan sekitar Belanda. Hal ini menciptakan keberagaman etnis yang turut berpengaruh kedalam dunia fashion. Sebagai kota pelabuhan yang selalu ramai, maka dapat dipastikan pertumbuhan sektor niaga pun berkembang pesat. Hingga pada saat Rotterdam diluluhlantakkan oleh Jerman, maka dibangunlah Rotterdam yang baru dengan konsep modern. Susunan tata kota pun diatur sedemikian rupa dengan pembagian district-district yang selaras. Terdapat sebuah district yang menjadi denyut nadi kehidupan bisnis dan niaga di Rotterdam. District pusat kota yang biasa disebut Centrum ini memiliki sekian blok yang dipadati toko-toko fashion pemuas selera fashionista. Hingga dibangunlah sebuah jalan bernama Lijnbaan pada 1953, yang merupakan car free zone shopping walk terbesar di Eropa pada masa itu. Lijnbaan memiliki banyak cabang yang menembus ke jalan-jalan disekitar Lijnbaan itu sendiri. Di sepanjang jalan ini dipadati ratusan toko-toko fashion yang up to date serta cafe-cafe outdoor yang cozy. Berbagai butik dengan merk kenamaan seperti Esprit, Mango, Zara, C&A, H&M, Hugo Boss, Shoebaloo, dll, tersebar diseputaran City Centrum.

Lijnbaan Street
Berdasarkan hasil survei, harga barang-barang fashion di Rotterdam memang relatif lebih murah dari kota lainnya di Belanda. Harga barang di butik kenamaan di Lijnbaan pun masih tergolong "acceptable". Sebagai contoh, mantel tebal musim dingin dibanderol mulai dari EUR59. Berbagai jaket chic wanita mulai dari EUR29. Bahkan aku bisa mendapat jaket tebal untuk musim dingin hanya seharga EUR10 saja!! Entah sedang musim diskon atau memang aku sedang hoki, kebanyakan hasil belanjaanku kudapatkan dengan harga diskon. Hanya beberapa items saja yang aku beli dengan harga normal. Tak hanya di Lijnbaan, di sepanjang Beurstraverse pun kita bisa menemukan toko-toko murah, salah satunya The Sting. Toko ini ada dua macam, meskipun masih sama-sama berada di area City Centrum. Di The Sting yang berada didalam underground area Beurstraverse, kita bisa menemukan barang2 yang diobral dengan harga konyol mulai dari EUR1 saja. Aku berhasil mendapatkan sebuah baju atasan tanpa lengan hanya dengan EUR1 dan sebuah denim hanya dengan EUR5. Padahal harga asli denim di rata-rata toko kebanyakan mulai dari EUR15 lho... Begitu juga dengan jaket kulit sintetis, bisa didapatkan dengan EUR15 saja, sedangkan di toko lainnya mulai EUR29 untuk jenis jaket yang sama. Namun berbeda dengan The Sting yang satu lagi yang ada diluar underground Beurstraverse, disana barang-barang yang dijual jauh lebih mahal dan nyaris tanpa diskon. Rupanya The Sting memang dibagi dua, satu untuk barang-barang tanpa diskon, satu lagi khusus untuk barang yang didiskon habis-habisan. Masih di Lijnbaan, ada satu butik favoritku namanya Ti Amo. Di butik ini harga baju-bajunya sangat acceptable, bahkan hanya disinilah aku menemukan berbagai macam belt/ikat pinggang berbagai model dengan harga hanya EUR1 all items!! Ditempat lain aku cek, tidak ada yang menjual belt dibawah harga EUR5. 

Jejeran sepatu yang bikin ngiler :D
Tak hanya baju up to date harga miring yang bisa kita temukan di Lijnbaan, sepatu dan tas pun bisa kita dapat dengan harga yang bikin melongo. Beberapa toko sepatu yang terkenal murah adalah Van Haren, Axi Schoen, dan Shoe Outlet. Di ketiga toko ini, banyak boots-boots dijual dengan harga diskon. High boots termurah yang berhasil didapatkan oleh salah satu temanku di Shoe Outlet hanya seharga EUR10 saja! Wow... Intinya kalau belanja barang diskon harus sabar dan teliti, maka bukan mustahil kita bisa mendapatkan barang-barang kualitas oke dengan harga yang nggak bikin kantong kere. :)

Bicara mengenai shopping di Rotterdam, tak hanya ada di City Centrum. Rotterdam juga punya yang namanya Alexandrium dan Primark. Kedua tempat shopping ini berada di kawasan Prins Alexander, Rotterdam. Hanya perlu naik kereta selama kurang lebih 8 menit dengan tiket EUR2.40 untuk sekali jalan, sudah bisa memuaskan hasrat shopping disana. Alexandrium dan Primark berdiri bersebelahan masih didalam komplek niaga yang sama, tepat diseberang stasiun Rotterdam Alexander.

Jika Alexandrium merupakan sebuah area tempat berjejernya butik-butik dan berbagai toko serta cafe, maka Primark adalah sebuah bangunan terpisah yang merupakan sebuah department store yang berisi segala macam kebutuhan fashion. Semacam Matahari dept.store lah ya kalau di Indonesia. Soal harga? Jangan ditanya.... Di Primark ini setiap shoppaholic bisa mendadak gila karena melihat price tag yang murah-murah! Namun, harga murah bukan berarti barang nya pun murahan. Kualitas barang di Primark ini bisa masuk kategori oke dan bagus, bahkan kalau anda jeli bisa mendapatkan barang berkualitas super dengan harga miring tentunya. Coat yang umumnya dibanderol seharga EUR60-80 di Lijnbaan, bisa didapat di Primark mulai harga EUR25 saja! Aku pun tak mau ketinggalan menyabet sepasang snow boots bulu-bulu untuk musim dingin, hanya seharga EUR10. hehe.... I told you, Shoppaholic can shop til drop here! 

mari ngeborong :)
Primark adalah dept.store asal Irlandia yang membuka cabang di beberapa negara di Eropa yaitu di Austria, Belgia, Belanda, Jerman, Portugal, Spanyol, dan United Kingdom. Aslinya, di Irlandia toko ini bernama Penneys, namun diluar Irlandia namanya Primark. Dept.store ini sangat terkenal di Eropa, membuat setiap orang berbondong-bondong belanja di Primark, terutama weekend. Jadi jangan kaget saat melihat antrian mengular didepan kasir, yang meskipun berjumlah belasan bahkan sampai puluhan kasir tetap saja seolah kewalahan menghadapi serbuan pembeli dengan belanjaan segambreng! Haha....

boots lucu anak-anak seharga EUR15-20 saja

Antrian kasir yang mengular (-__-")

Kios keju tradisional Belanda
Selain belanja di butik, toko, maupun dept.store, belanja di pasar atau sering disebut Open Markt juga cukup menyenangkan. Berbagai kebutuhan tak hanya sandang namun juga pangan dan kebutuhan lainnya bisa didapat di pasar tradisional dengan harga miring. Setiap pasar tradisional punya jadwal buka masing-masing. Tidak setiap hari ada, melainkan seminggu 1x sampai 2x saja. Umumnya, di pasar ini banyak pedagang asal Turki dan Suriname. Soal fashion, di pasar bisa ditemukan kios baju baik yang baru maupun kios baju bekas. Aku tidak menyarankan untuk beli baju di pasar tradisional, karena kualitas nya kurang bagus. Namun di pasar ini, kita bisa menemukan sayur mayur segar serta buah-buahan murah, juga bisa wisata kuliner murah meriah sampai kenyang di berbagai kios makanan didalam pasar. Mulai dari makanan khas Turki, Suriname, Vietnam, hingga kios ikan segar yang menjual ikan Harring untuk dimakan mentah. Menyusuri pasar ini sambil jajan berbagai jenis makanan itu sangat menyenangkan! Tanpa sadar bahwa berat badan makin bertambah jika setiap minggu wisata kuliner di pasar tradisional macam ini. Haha :)

paling suka jajan ini :) aneka seafood goreng!!

ikan Harring yang dimakan mentah pakai bawang

kios Buah dan Sayur

Bicara soal belanja, mungkin tak hanya mencakup soal dunia fashion. Satu lagi yang menarik adalah belanja souvenir khas negeri kincir ini. Seperti kita tahu, kita berasal dari sebuah negara dengan budaya "oleh-oleh" nya yang kental. Tak jarang (bahkan selalu) saat kita bepergian kesuatu tempat, banyak yang nyeletuk "Oleh-olehnya ya jangan lupa". Tak hanya keluarga yang sering berkomentar begitu, teman, tetangga, BAHKAN orang yang belum bisa dikategorikan "teman" pun kadang suka minta oleh-oleh. Heran deh.... Budaya oleh-oleh ini kadang cukup merepotkan saat akan membawanya pulang, namun sekaligus sangat menyenangkan saat sedang hunting pernak-pernik souvenir itu sendiri. Hehe... Dilema ya!

Clogs Shoe
Jika ditanya oleh-oleh dari Belanda, pasti yg ter-pop up di kepala adalah sebentuk sepatu kayu warna kuning. Bener kan? Tuh senyum-senyum sendiri bacanya. Hehe... Well, sebenernya bukan hanya si sepatu kayu kuning itu saja yang khas dari Belanda. Coba sebutkan, tulip, kincir angin, keju, dan pernak-pernik keramik biru-putih. Nah yang belakangan aku sebutkan tadi itu yang paling khas dari Belanda. Seni kerajinan keramik dengan nuansa biru-putih dengan berbagai bentuk dapat ditemukan murah di kota Delft. Karena di Delft inilah asal dari si biru-putih yang terkenal itu.


Blue-White pottery, khas kota Delft
Sempat tadi aku sebutkan Delft adalah kota pelajar, dan memang betul. Kota kecil ini tidak seramai Rotterdam, jauh lebih sepi, jauh banget malah bedanya. Penampakan kota ini cukup indah dengan jejeran bangunan tempo doeloe disepanjang sisi kanal-kanal yang tersebar diseluruh penjuru kota. Banyak terdapat flat-flat atau kos-kosan bagi para mahasiswa, toko-toko dan cafe cantik bertengger disisi kanal, serta beberapa gereja tua yang indah. Yang paling terkenal tentu saja gereja tua Oudekerk di tepi kanal, dan gereja baru Nieuwekerk di Square (centrum) pusat kota. Menara gereja Nieuwekerk yang menjulang setinggi 108,75m merupakan icon kota Delft yang sering muncul di gambar kartu pos. Nah, disekitar Nieuwekerk ini banyak tersebar toko souvenir yang menawarkan pernak-pernik untuk oleh-oleh dengan harga murah. Harga souvenir di Delft merupakan yang termurah dibandingkan dengan kota lainnya di Belanda. Harus jeli dalam mensurvei harga dari satu toko ke toko lainnya. Tiap toko punya keistimewaan diskon masing-masing. Yang termurah yang aku temukan adalah koleksi souvenir di toko pertama sebelah kiri gereja. Di toko ini, aku bisa mendapatkan selusin pajangan keramik biru-putih berbentuk sepatu clogs yang diikat bendera Belanda, hanya seharga EUR6. Atau pajangan (masih keramik biru-putih) bentuk sepatu   dengan beberapa tulip kecil didalamnya seharga EUR1/buah. Gantungan kunci pun sangat murah, assorted keychain berbagai bentuk dihargai EUR10/lusin. Atau magnet kulkas berbagai bentuk seharga EUR10/5buah. Kalau di-convert ke Rupiah memang terlihat mahal, namun percayalah ini masih lebih murah dibanding harga souvenir di kota lainnya di Belanda. Harga souvenir memang lebih mahal di Eropa dibandingkan di Asia.

ayo diborong! :D
Selain berburu souvenir di Markt Square, ada baiknya melipir sebentar ke Centrum nya Delft. Disana terdapat jejeran butik dan toko dengan berbagai koleksinya. Jangan bayangkan Mall atau pertokoan modern canggih kelas wahid. Di Delft ini, semua toko dan cafe berdiri disetiap bangunan asli kota Delft, which is old building. Kesan hangat dan nyaman sangat terasa saat menyusuri area centrum, kemudian berakhir di sebuah grottemarkt untuk mampir mencicipi segelas chocomelk with slaagroom yang yummiii..... :D

Pengalaman belanja menarik juga aku dapatkan saat di Den Haag. Di centrumnya, terdapat sebuah Passage dimana didalamnya berjejer toko dan cafe dengan nuansa klasik modern. Selain De Passage, hasrat belanja juga bisa dipuaskan di area Spuidstraat, sebuah pedestrian walking yang sarat dengan jejeran toko-toko dan butik berkelas. Suasana disepanjang jalan ini sangat klasik dengan bangunan tuanya yang dijadikan ruko.  Harga? Relatif standar dan tidak lebih murah dari Rotterdam. Namun suasananya itulah yang membuat kita nyaman saat tanpa sadar menghabiskan beberapa lembar Euro! :D

Monday, September 24, 2012

Get Lost in the Nederlandse Spoorwegen


Belanda merupakan salah satu negara maju yang sistem transportasinya sudah tergolong canggih.  Tak hanya canggih, tapi juga sangat tepat waktu. Baik tram, bus, maupun kereta (transportasi darat) semuanya terjadwal dengan seksama. Jarang sekali ada kejadian kereta datang terlambat atau bus yang sampainya lelet. Di setiap halte bus & tram pun ada papan elektronik digital penanda jadwal kendaraan tersebut akan tiba, berikut jurusannya kemana. Alat pembayaran transportasinya pun tidak menggunakan cash yang dibayarkan pada kondektur atau kernet. Semuanya menggunakan metode flashcard/chipkaart, yang cara penggunaannya cukup ditempelkan pada mesin pemindai saat naik dan turun kendaraan. Ongkos jalannya akan terpotong otomatis dari saldo yang ada didalam kartu. Sama halnya dengan kereta, jadwal tiba dan keberangkatan kereta pun sangat tepat waktu. Terlambat 30 detik saja sudah bisa dipastikan ketinggalan kereta.
Cara beli tiket via vending machine

Bahkan saking canggih dan tepat waktu nya sistem transportasi darat disini, bisa bikin traveler ceroboh macam aku ini nyasar. Kejadian ini aku alami saat aku pertama kalinya naik kereta menuju Delft untuk mengikuti sebuah au pair outing. Aku diminta datang tepat waktu jam 11 siang pada hari Minggu itu. Sebelum berangkat aku sudah menyusun time planning agar tidak terlambat. Melalui website www.ns.nl dan www.9292.nl aku mengecek jadwal keberangkatan kereta ke Delft, berikut juga dengan jadwal tram nya. Semua rencana sudah tersusun rapi. Aku akan berangkat dari rumah jam 9:30, kemudian naik kereta yang jam 9:57, sampai di Delft jam 10:08, masih ada waktu untuk menunggu tram yang berangkat jam 10:20, kemudian dilanjutkan jalan kaki 5 menit ke tempat acara. Perkiraan matang yang telah disusun itu memungkinkan aku untuk datang 20-30 menit lebih awal.

Jadilah aku berangkat ke Rotterdam Centraal Station dengan diantar hostdad. Aku membeli tiket kereta di counter, dengan harga 6.50 euro (50 cent hanya dibebankan kedalam tiket yang dibeli melalui counter. Jika kita punya bank account dan kartu ATM, tiket bisa dibeli langsung di vending machine tanpa dikenai biaya tambahan 50 cent tersebut). Setelah beli tiket, aku mengecek jadwal keberangkatan kereta di papan elektronik digital yang menampilkan seluruh jadwal kereta. Tapi sempat bingung juga melihat banyaknya jadwal yang terpampang. Akhirnya, daripada bingung-bingung, aku bertanya pada bapak-bapak berseragam biru yang merupakan petugas stasiun.
                “Sir, could you show me which is the train to go to Delft? Coz I’m a bit confuse reading those lines.” Ucapku sembari menunjuk ke papan jadwal. Bapak2: “Oh, you can go to platform 9. Your train will be there. Oh, C’mon! Your train is two minutes left! Go, go go… Run!! Now!!“ si bapak ngomong dengan ekspresi terburu-buru.
Waduh! Apa katanya tadi? Tinggal 2 menit lagi? Wah, dengan lari tunggang-langgang aku mencari dimana platform 9 itu berada. Sempat terbersit, kenapa nggak platform 9 ¾ aja ya? Naik Hogwarts Express! Hihihi…. Akhirnya ketemu juga tuh platform 9. Dan memang saat aku tiba, sang petugas yang berdiri di samping kereta sudah membunyikan peluit, tanda kereta akan berangkat. Aku pun buru-buru naik dan mencari tempat duduk di gerbong kelas dua. Fiuuhhh… lega deh nggak ketinggalan kereta dan dapat tempat duduk pula. Walau perjalanan hanya makan waktu 11 menit menuju Delft, tapi lumayan juga kan dapat tempat duduk di window, bisa sambil jeprat-jepret.
10 menit… 11 menit… 12 menit… Lho? Koq kereta ini nggak memperlambat lajunya ataupun ngerem sama sekali sih? Malah keluar masuk terowongan gelap yang nggak bisa lihat apa-apa di kanan-kiri jendela. Waduh, mulai nggak enak perasaanku saat itu! Aku kemudian bertanya ke mas-mas Londo disebelahku, kemana tujuan kereta ini sebenarnya. Dia menjawab dengan alis berkerut, “we’re going to Amsterdam, don’t you know it?” JLEB!!! Dengan tampang polosnya aku hanya menjawab, “mmm… I think I take the wrong train. I need to go to Delft, not Amsterdam.” Dan si mas bule itu hanya tersenyum, “Oow, so you should take the next train which is come two minutes after this train left from Rotterdam Centraal.” Omaigaaattttt….. beneran kan salah naik keretaaa…. Menurut si mas itu, harusnya aku naik kereta yg datang dua menit kemudian setelah kereta tujuan Amsterdam ini berangkat, karena jalur platform nya sama-sama di jalur 9! Hmm… ternyata terjadi kesalah-pahaman antara aku dan bapak berseragam biru di stasiun tadi. Atau lebih tepatnya aku yang ceroboh, dengan asal naik kereta tanpa membaca papan keterangan jadwal yang tertera di setiap platform.
Oalaaahhh… yang niatnya mau datang tepat waktu malah jadi terlambat habis-habisan ini sih. Kereta yang aku naiki ini menuju Amsterdam Centraal Station, dengan transit 1x di Schipol. Total waktu tempuh sekitar 45 menit. Setiba di Amsterdam Centraal, aku buru-buru turun dan bertanya pada salah satu petugas, adakah kereta yang langsung menuju Delft. Dan ternyata tidak ada! Satu-satunya cara hanyalah aku harus kembali ke Rotterdam dan ganti kereta yang kearah Den Haag. Dan kereta selanjutnya yang menuju Rotterdam akan tiba 20 menit kemudian. Seketika aku memaki diriku sendiri atas kecerobohanku pagi itu. Dengan gontai aku menuju ke counter tiket dan membeli tiket one way ke Rotterdam. Dan untuk kedua kalinya aku memaki diriku sendiri, saat total harga tiket one way itu terpampang di layar kasir, 14.10 euro!!! What?? Lebih dari 2x lipat harga tiket ke Delft! Dengan muka lecek aku bertanya ke mbak Negro yang jaga counter, “are you sure 14.10 euro? Is it a one way ticket?” eh, si mbak malah dengan sewot menjawab, “Yes this is the price, what’s your problem? Do you wanna take it or leave it?” Iya deh mbak iya, jangan sewot donk, namanya juga anak kosan yang kaget lihat harga tiket sekali jalan aja segitu. Dengan makin berat hati aku menuju kembali ke jejeran platform kereta, setengah berharap ketemu serombongan anak yang membawa sangkar burung hantu menuju platform 9 ¾ (eh? Ini Belanda kali, bukan London!).
Rookzone / Zona Merokok / Smoking Area
Terduduk sendirian di platform 15 outdoor, ditengah tiupan angin musim gugur yang sedingin kulkas, aku menunggu keretaku datang. Aku perhatikan disekitar platform, ada beberapa laki-laki yang berkumpul di beberapa titik lokasi, sedang asyik menghisap rokok. Di tempat itu terdapat tulisan Rookzone. Oooh, jadi ini adalah lokasi dimana orang diperbolehkan merokok, selain dilokasi yang ada tulisan Rookzone nya, siapapun dilarang untuk merokok. Dan aku rasa di sepanjang area platform outdoor diperbolehkan merokok.

Pemandangan sepanjang perjalanan
Jam 10:07 kereta yang menuju Rotterdam tiba. Sebelum naik, sekali lagi aku melihat kearah papan petunjuk diatas platform, memastikan bahwa ini kereta dengan tujuan yang benar. Akupun kemudian menikmati 45 menit perjalanan kembali ke Rotterdam dengan asyik jeprat-jepret pemandangan yang aku lewati disepanjang perjalanan. Mulai dari hamparan padang rumput berisi sapi-sapi yang sedang merumput, kuda-kuda yang sedang ditunggangi pemiliknya keliling perkebunan sayur, hingga jejeran rumah-rumah kaca tempat berbagai sayuran organik ditanam. Kereta yang aku naiki ini namanya NS Intercity (NS: Netherlands Spoorwagen; Perusahaan kereta api milik pemerintah. Kalau di Indonesia KAI kali ya). Gerbongnya tingkat 2, atas dan bawah. Terdapat dua kelas, yaitu kelas 1 dan 2. Kondisi gerbong kelas 1 nyaman dengan bangku empuk berwarna biru dongker dan tempat duduk 2-1. Gerbong kelas 2 pun nyaman, dengan bangku warna pink violet dan tempat duduk 2-2, berhadap-hadapan dengan sebuah meja ditengah.
Gerbong kelas 1
 
Gerbong kelas 2
Tiba di rotterdam, aku langsung naik ke kereta dengan tujuan Den Haag Centraal, yang akan terlebih dahulu singgah di Schidam kemudian baru Delft. Aku tiba di tempat acara tepat jam 12 siang, saat sesi pertama telah selesai. Untungnya masih diperbolehkan masuk oleh reception nya. Hehe… Pelajaran yang bisa dipetik, lain kali harus lebih teliti dalam mengecek jadwal kereta dan kalau masih kurang yakin bisa bertanya pada petugas stasiun. Namun bertanya pun juga harus hati-hati, jangan sampai salah persepsi seperti yang aku alami. Karena terkadang orang-orang Belanda ini grammar bahasa Inggris nya suka ngaco, itu yang bikin salah tanggap. Untungnya, setelah pengalaman pertama naik kereta yang ujung-ujungnya nyasar itu, aku selebihnya aman-aman saja berkereta kesana-kemari. Intinya ya harus teliti dan tepat waktu. :)
Harus lihat ini disetiap platform :)

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post