Sunday, January 19, 2020

Hi ¤ ber ¤ nate

Hibernate atau dalam bahasa Indonesia Hibernasi, adalah masa tidur panjang dan tidak aktif dalam kurun waktu tertentu. Sama seperti blog ini, yang telah tidur selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Banyak dari para pembaca setia yang bertanya ke saya mengapa saya berhenti menulis, kenapa tidak ada lagi cerita-cerita petualangan saya, kenapa blog ini seakan terbengkalai. Well, here I am! Mari kita kembali bercerita. :)

2016 adalah kali terakhir saya memposting sebuah tulisan di blog ini. Yaitu tulisan mengenai alam bawah laut Indonesia, dan merupakan tulisan pertama saya dalam bahasa Inggris di blog ini. Ketika itu saya baru saja mendapatkan Surat Ijin Menyelam saya - ya, menyelam juga ada SIM nya lho! Setelah saya mendapatkan PADI Open Water Diver license, saya mulai menjelajahi alam bawah laut. Dan dari sana lah inspirasi untuk menulis tentang underwater itu muncul.

Namun ternyata tulisan itu, yang juga telah dimuat di sebuah travel website di Belanda, menjadi tulisan terakhir saya sebelum memutuskan untuk hibernasi. Banyak faktor yang membuat saya berhenti sesaat dari dunia tulis menulis. Faktor waktu dan kesibukan lah tepatnya. Bekerja full time di kantor, padatnya jadwal kegiatan di luar kantor, intensnya jadwal bepergian, yang kesemuanya campur aduk dalam rutinitas keseharian membuat saya tak punya energi lagi untuk membuka laptop pada malam hari dan merangkai kata. Sepertinya inspirasi untuk menulis itu menguap begitu saja berbarengan dengan energi dan pikiran yang juga tersita.

Rindu kah saya untuk menulis lagi? Tentu saja... Beberapa kali saya mencoba menulis kembali, tentang petualangan saya di gunung-gunung Indonesia dalam 3 tahun terakhir, namun semuanya hanya berakhir dalam bentuk draft, tanpa sukses saya publikasikan. Kenapa? karena saya merasa ada sesuatu yang hilang dari tulisan saya. Ada sebuah rasa yang sedikit hambar dan tawar, tak lagi menggigit. Kalau kata netijen jaman now, rasanya ambyaaarrrrr! Hahaha... Mungkin rasa yang hilang itulah yang dinamakan passion. Saya akui passion menulis saya menguap di beberapa tahun belakangan ini. Mungkin karena saya terlalu sibuk mengejar begitu banyak hal, hingga seolah 24 jam waktu tidak cukup bagi saya. Fransisca yang dulunya suka menulis konten artikel online, kontributor writer di beberapa media online, freelance journalist yang tulisannya dibayar, seolah tertidur pulas terbuai nikmatnya kehidupan santuyyy di pulau tropis negara berflower ini!

Sempat juga saya membuat website dengan nama travelustory.id. Namun saya juga bingung mau saya apakan website tersebut. Konsep di kepala saya tentang sebuah website yang saya impikan tidak mampu tertuang sebagaimana mestinya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk me-nonaktif-kan web tersebut tanpa tahu kapan akan saya garap kembali kontennya.

Sempat juga memutuskan untuk tidak lagi menulis blog tetapi akan menulis buku tentang petualangan saya di Eropa. Bukan buku panduan wisata, tetapi lebih ke cerita hidup dan pengalaman unik selama saya tinggal di sana. Karena sempat terbersit, kalau tulisan saya bisa dijadikan uang, kenapa saya harus terus menulis gratisan di blog? Sudah juga selesai menulis 3 chapter, tapi tidak lagi dihinggapi inspirasi untuk lanjut ke chapter selanjutnya. Akhirnya proyek nulis buku pun mangkrak.

Ketika tren vlog mulai menjamur di dunia maya, banyak vlogger dan youtuber yang mendadak ngartis dan terkenal karena konten video mereka. Banyak juga teman-teman yang menyarankan saya untuk ngevlog di youtube. Katanya, ngapain kamu cuma eksis di Intragram story? Mendingan jadiin youtube, nanti kan bisa dapat bayaran kalau subscribernya banyak. Well, ada benarnya juga sih. Tetapi ya itu tadi,kesibukan telah membuat saya tidak punya waktu lagi untuk mantengin laptop guna mengedit video agar layak tampil di youtube channel. Alhasil saya masih tetap setia dengan konten instastory saya yang gak menghasilkan uang tersebut hahaha... But I feel comfortable with that, so why not?

Kemudian ada seorang sahabat dari sebuah komunitas pertemanan positif mengingatkan saya, bahwa passion itu harus tetap dinyalakan, jangan sampai padam. Dia mengencourage saya untuk kembali menulis, meski belum mampu untuk menulis sebuah buku - yang artinya dapat mengasilkan uang, namun jika tulisan di blog nantinya bisa memberikan inspirasi bagi orang lain, kenapa tidak diteruskan? Begitu katanya. Happiness is not about money. Yang akhirnya belakangan ini saya menyadari, bahwa mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang positif, ternyata juga bisa memberikan kebahagiaan tersendiri. Trust me, there are so many things in this world that could not measured by money.

Dan setelah pergumulan antara pikiran dan kesibukan selama beberapa waktu belakangan ini, di tahun ini saya memutuskan untuk kembali merangkai kata, kembali berbagi cerita tentang apa saja. Mungkin bukan hanya tentang traveling, tetapi hal-hal lain juga yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman pembaca, dalam hal positif tentunya. Bukan untuk jumawa atau merasa digdaya, hanya ingin berbagi cerita dari sudut pandang seorang Fransisca.

Jadi, mau mulai cerita dari mana kita? ;)

Hello, readers! How have you been?

Monday, December 19, 2016

Wandering Indonesia... Found an Underwater Heaven!

Indonesia consists of 36% of main land and islands, and 64% of sea. So, besides having a range of beautiful landscapes and volcanoes, Indonesia also has countless water resources and underwater beauties. Not to mention the beautiful beaches stretch along the country, for Indonesia is the biggest archipelago country in the world. 

As an Indonesian, I am aware that my country is an epicenter of biodiversity, hosting a greater variety of marine life than anywhere else on earth. Having bunch of dive sites throughout the archipelago, Indonesia provides many kinds of diving style to try. From challenging drift diving, extensive reef diving, amazing night diving, unique muck diving, and stunning steep walls to enjoy. This fact makes me curious of knowing more of the underwater world and decided to take a diving license to explore deeper and longer.

Diving at Coral Garden, Tulamben.
 
Against the gravity in USAT Liberty Ship Wreck, Tulamben
And once I saw how underwater world looks like, I never stop craving for more dives in my life. Since I live in a beautiful Bali island, which surrounded by some popular dives area, I usually go for a dive trip every few months. Tulamben, Amed, Padang Bai, and Menjangan Island are the perfect option for recreational dive as well for beginner divers. For the adventure seekers and big fish lovers, Nusa Lembongan and Nusa Penida Island in Bali or small islands in south west Lombok are the answer. So far, my favorite dive sites are Tulamben with its Ship Wreck and Nusa Penida with its Manta Point. Diving with some Manta Rays surrounds me gives a special sensation and makes me more grateful for a chance to see such a beautiful giant fish yet friendly. 

Manta Ray at Nusa Penida

When I’m not diving, snorkeling and skin diving are my other water activities. With its pristine water, Bali and Lombok offer the easiest way to enjoy the underwater. You can get in a glass bottom boat, and enjoy the trip to the snorkeling spot by watching the underwater life beneath your feet. 

Reginald & Given; enjoy snorkeling at Tabuhan Island, East Java

Skin diving at Menjangan island
 
Free dive into an eternal silence in the blue sea
Of course Bali and Lombok are not the only underwater paradise in Indonesia. There are a lot more destinations that have different beauty to offer. East Indonesia is famous with its underwater heaven. From Karimun islands in East Java, Wakatobi islands in Celebes, Mollucas islands, Nusa Tenggara islands, until the famous Raja Ampat in West Papua islands. Not to mention, underwater of Weh island in the very west of Indonesia also surprisingly beautiful. All of them offer you the stunning underwater experience that you will never forget. 

Diving at Tulamben

Spare your time to enjoy the sea and underwater when you visit Indonesia. If you want to peep a bit of underwater beauty, take a snorkeling tour. By floating with mask and snorkel, you already can see the corals and colorful fish decorating the underwater world. If you are curious what lies down there and want to explore deeper, take a diving lesson to get a license. Or if you only have limited time, join in a Discover Scuba Diving trip. It allows you to dive up to 12 meters without holding the license. And trust me, once you get down there and see the underwater beauty, you will never see the world in the same way you see it before! 

Pose with Yellow Sea Fan
 
Lion Fish (photo courtesy by Reginald)

Underwater macro photography by Reginald
Beautiful empty beach at Tabuhan island


   
Menjangan island underwater (photo courtesy by Reginald)

Sunday, November 6, 2016

A Lil' Step to... Santorini! (Part II)

Nama Santorini tentulah tidak asing lagi di telinga, terutama buat para penggila jalan-jalan. Pertama kali saya mendengar nama Santorini adalah dari sebuah artikel majalah wisata sekitar tahun 2010 silam. Artikel tersebut memuat tentang salah satu destinasi impian untuk para honeymooners. Setiap sudut keindahan Santorini dituangkan dalam artikel sepanjang 4 halaman tersebut. Seperti terhipnotis oleh foto-foto landscape Santorini yang didominasi warna putih biru tersebut, saya pun berucap di dalam hati, “I will be there someday!”.

Dan… Di sanalah saya berdiri. Di tepi dinding view point desa Oia, menyaksikan salah satu sunset terindah di muka bumi yang perlahan mulai terbenam di garis horizon di kejauhan. Akhirnya… Salah satu mimpi besar dalam hidup saya pun terpenuhi, menginjakkan kaki di Santorini. Bermula dari sebuah artikel di majalah gratisan yang saya baca di lobby kantor, berujung pada selembar tiket pesawat one way ke Santorini 4 tahun kemudian.



typical Santorini... Blue and white
Santorini merupakan sebuah pulau berbentuk bulan sabit di laut Aegean, Yunani. Pulau yang terbentuk dari sebuah letusan gunung berapi itu, menyisakan kaldera di sisi barat pulau yang dipenuhi oleh bangunan bercat putih dan beratap biru. Kaldera inilah yang menjadi daya tarik utama pulau Santorini. Meskipun sisi barat pulau Santorini menjadi komoditas pariwisata utama, namun ada tempat-tempat lain di Santorini yang memiliki keunikannya masing-masing. Dan saya pun berkesempatan mengunjungi beberapa diantaranya.

Pink Bougenville, mewarnai setiap sudut Santorini

Classic!

1. Fira


Merupakan kota utama di Santorini, dimana denyut nadi pariwisata berpusat disana. Kota kecil yang dijejali dengan toko-toko, restaurant, penginapan, yang semuanya saling tumpang tindih memadati tebing kaldera itu menjadi daya tarik besar dari Santorini. Suara langkah kaki di setapak berbatu berbaur dengan denting pisau garpu beradu serta celotehan wisatawan maupun lokal, riuh rendah mewarnai kepadatan gang-gang di sepanjang Fira downtown.


Yang menarik dari Fira adalah view kaldera yang dipadati jejeran restaurant dan villa yang menyajikan pemandangan spektakuler. Ratusan bangunan berdinding putih dan beratap biru yang memadati dinding kaldera merupakan salah satu "million dollars view" yang worth untuk dinikmati paling tidak satu kali seumur hidup. Gambar-gambar di kartu pos Santorini pun rata-rata mengambil landscape ini. Dan saya mengucap syukur untuk kesempatan menikmati view cantik tersebut.


Fira caldera by day

Fira caldera by night

Ortodox church
Santorini adalah salah satu destinasi bulan madu paling diincar di dunia. Maka tak heran begitu banyaknya pasangan traveler yang memenuhi pulau ini. Di seluruh penjuru mata memandang, pasti ada saja pasangan traveler yang bergandengan tangan menyusuri sudut-sudut kota. Sama halnya dengan saya. Saya pun bergandengan dengan mesranya selama menyusuri berbagai tempat di Santorini. Bedanya, yang saya gandeng adalah tripod kamera! Haha... Nasib seorang solo traveler!


the alleys


souvenir shops in Fira
Di Fira ini saya sering beli pita gyros di sebuah stand gyros bernama Obelix. Gyrosnya enak dengan bumbu meresap lezat di setiap helai dagingnya. Kalau pork souvlaki, paling suka beli di sebuah stand makanan cepat saji di jalan Martiou. Aroma lezat berbagai macam daging grill nya selalu mengundang setiap hidung yang menghirupnya ketika melewati stand makanan tersebut. Saat siang hari yang terik, paling enak menikmati semangkuk Greek frozen yogurt di Chillbox, dengan berbagai varian toppingnya. Yunani terkenal dengan kualitas yogurtnya, dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan makan yogurt hampir setiap hari selama di sana. 


the famous Obelix

I can't say "No" for this
Sebagai penikmat bir, saya tidak melewatkan kesempatan mampir di sebuah beer brewery untuk mencicipi Donkey Beer yang merupakan bir asli Santorini. Ada 3 macam Donkey Beer, berdasarkan tingkat kepekatan alkohol dan rasa. Yellow Donkey adalah yang paling ringan dengan rasa yang light dan alkohol rendah. Kemudian Red Donkey yang setingkat lebih strong dengan rasa malt yang lumayan pekat, dan ini merupakan favorit saya. Kemudian yang terakhir adalah Crazy Donkey, yang paling tinggi kadar alkoholnya, berwarna gelap dan rasanya pun sarat dengan hobs. Over all, Donkey Beer adalah tipikal bir tropis dengan sedikit rasa manis dan ringan. Cocok untuk dinikmati di segala suasana sambil memandangi indahnya view kaldera Santorini.


Fave


Love it!
Untuk mencapai downtown Fira, saya menggunakan public bus dengan lama perjalanan sekitar 40-45 menit dari Perissa menuju stasiun bus central Stathmos Leoforion. Cukup jauh memang, tetapi tidak masalah bagi saya karena sepanjang perjalanan saya asyik memandangi lahan tandus pulau Santorini, perkebunan tomat cherry, rumah-rumah penduduk, serta bukit-bukit batu berbagai ukuran yang tersebar di pulau itu. Dan jangan salah, sopir dan kernet bus di Yunani itu gantengnya selevel dengan model-model di majalah Indonesia! Haha... Jadi ya lumayan dapat pemandangan bagus sepanjang perjalanan. :)


2. Firostefani & Imerovigli

Merupakan tetangga dari Fira, masih dengan landscape yang sama dengan jejeran bangunan putih biru menghadap ke volcano. Yang membedakan, Firostefani tidaklah sehiruk-pikuk Fira. Tidak banyak toko-toko souvenir dan restaurant menjejali gang-gang nya. Lebih banyak villa dan penginapan mewah yang menawarkan private pool dengan million dollars view menghadap sunset. 


Stairway to heavenly blue ocean

the path

what a view!
Imerovigli terletak di sebelah utara Firostefani. Merupakan area resort-resort luxury dan destinasi favorit para honeymooners berkantong tebal. Dari Imerovigli, kita bisa melihat Fira di sebelah kiri dan Oia di sebelah kanan. Sebuah spot sempurna untuk menikmati sunset dan landscape pulau sekaligus.


Blue and White

Please come in!
Untuk mencapai dua kota kecil ini, bisa dengan menaiki bus dari Fira. Tetapi saya memilih berjalan kaki blusukan di gang-gang sempit nan cantik sepanjang Fira sampai Imerovigli. Jarak sekitar 2-3km memang tidaklah jauh, hanya saja jumlah anak tangga yang naik turun itu yang bikin kaki lumayan cenut-cenut. Untungnya sandal jepit selalu tersedia di kala kaki ini mulai bosan menjelajah dengan trekking shoes. Pemandangan dan keunikan tiap desa yang saya lalui selama berjalan kaki itu sungguh membuat lupa betapa panasnya Santorini siang itu dengan suhu yang mencapai 41 derajat celcius. 


Ah leganya... sandalan! ;))

Sunset from Imerovigli

3. Oia

Niat semula adalah trekking sampai Oia (baca: Ia) dengan rute sepanjang kaldera di sisi barat. Dengan harapan akan menemukan cerukan tebing dengan lagoon untuk berenang, seperti tips yang saya baca di forum-forum backpacker. Namun efek kepanasan yang berujung kepala keliyengan pun membuat saya menyerah dan memilih naik bus saja dari Imerovigli ke Oia, yang ternyata jaraknya adalah sekitar 8km! Haha... Untung naik bus... Bisa ketinggalan sunset jika saya nekat jalan kaki ke Oia!


On the way to Oia
Pemandangan sepanjang perjalanan dari Imerovigli ke Oia cukup cantik. Rute bus melewati bukit-bukit berbatu dengan padang rumput tandus menyembul di sela-selanya serta lahan perkebunan tomat. Naik bus di Santorini itu mirip-mirip di Jakarta, jarang dapat tempat duduk alias gelantungan berdiri. Mungkin juga karena saat itu sedang high season, sehingga turis-turis berjubel memadati Santorini. 

Sampai di stasiun bus Oia, saya mengikuti arus wisatawan yang berbondong-bondong menuju downtown Oia untuk menikmati sunset. Berhubung matahari di musim panas mulai tenggelam sekitar jam 8:40 malam, dan saya tiba di Oia sekitar pukul 6:30, saya memutuskan untuk mencari posisi uenak di balik dinding pagar view point dan mulai selonjoran untuk tidur sebentar. Berbekal headset yang tersumpal di telinga dengan lagu-lagu jazz favorit, saya pun berhasil tidur-tidur ayam selama satu jam sebelum akhirnya terbangun oleh suasana hiruk pikuk wisatawan yang mulai memadati view point.


The famous Oia

Everyone wanted the golden sunset
Detik-detik terbenamnya matahari di gariz horizon sebelah barat berhasil saya abadikan di kamera. Namun kecantikannya hanya mampu terekam sempurna di ingatan. Semburat cahaya merah keemasan itu menyinari wajah setiap orang yang memandang takjub pada salah satu sunset terindah di muka bumi ini. Sungguh alam semesta ini begitu indahnya!


Here it is...

What?!
Ketika matahari sudah sepenuhnya terbenam, saya terkejut menyaksikan lautan manusia yang mulai bergerak meninggalkan view point. Lautan manusia itu terlihat bagai semut yang mengaliri gang-gang sempit menuju halte bus Oia. Suasana padat dan ramai, membuat saya malas untuk ikutan nyempil di antara ratusan wisatawan. Saya pun memutuskan berhenti di sebuah tavern/resto kecil menghadap ke kaldera. Menikmati seporsi Moussaka ditemani segelas sangria dengan pemandangan kelap-kelip lampu di sepanjang kaldera, menutup indahnya sore itu di Oia.

Oia by night

lovely hand crafted cross


4. Perissa

Bagian timur dan tenggara pulau Santorini terdiri dari pantai-pantai berpasir hitam, yaitu Kamari, Perivolos, dan Perissa. Daerah ini terkenal dengan wisata kuliner seafood serta pantainya yang landai. Beberapa hotel dan resort pinggir pantai menawarkan suasana pantai yang landai dan bisa dipakai untuk leyeh-leyeh ataupun berenang. Jejeran sunbeds berpayung jerami terlihat cantik menghiasi pantai di Kamari, Perivolos, dan Perissa. Hostel-hostel murah pun banyak tersebar di kawasan ini. Jika mau liburan lumayan lama di Santorini, Perissa bisa jadi alternatif pilihan akomodasi untuk mendapatkan suasana pantai yang lebih tenang dan berbeda dari kawasan sepanjang kaldera barat seperti Fira, Firostefani, hingga Oia.



Perissa Beach
 Selama di Santorini, saya menginap di sebuah youth hostel di kawasan pantai Perissa. Selain murah meriah, kawasan ini juga sepi dari hiruk pikuk wisatawan. Harga makanan dan penginapan pun jauh lebih murah di banding dengan area kaldera sisi barat pulau. Sebuah pilihan tepat bagi traveler on budget seperti saya yang hanya menggunakan kamar tidur selama beberapa jam di malam hari, karena sepanjang hari hingga malam saya gunakan untuk blusukan kesana kemari.

Saya tidak banyak menghabiskan waktu di pantai Perisa. Hanya sekedar berjalan-jalan pagi di sepanjang bibir pantai berpasir hitam, merasakan deburan ombak menghempas perlahan di sela-sela jemari kaki saya. Banyak terlihat anak-anak kecil bermain pasir di temani orang tua mereka yang asyik berjemur. Perissa memang cocok untuk wisata keluarga, dengan pantai landai dan bebas dari tangga naik turun dan tebing curam. Seafood tavern pun berjejer dengan rapi di sepanjang boulevard pantai dengan aroma seafood bakar yang menggoda selera siapapun yang melewatinya.


The Black Sand Beach

5. Akrotiri

Bagian barat daya pulau Santorini memanglah tidak seramai bagian kaldera sisi barat pulau. Namun Akrotiri yang masih less-developed itu mempunyai daya tarik tersendiri, baik bagi para pecinta situs arkeologi maupun pemburu pantai cantik. Di Akrotiri, terdapat sebuah situs arkeologi seluas 1,2 hektar yang bisa di eksplore oleh para pecinta sejarah. Namun saya yang jiwanya anak pantai ini lebih memilih trekking ke bukit-bukit di sepanjang tepi laut untuk menemukan dua pantai yang lumayan kece, Red Beach dan White Beach!

Air laut yang biru tampak kontras dengan bebatuan bergradasi warna kemerahan di Red Beach. Pantai Red Beach ini berpasir sedikit, selebihnya berupa bebatuan kecil (pebbles). Baik pasir maupun bebatuannya berwarna orange tua kemerahan. Dinding tebing batu yang menaungi pantai ini pun berwarna merah. Banyak bule-bule yang berjemur di bawah payung pantai sewaan, ada juga beberapa turis Asia yang asyik foto-foto, saya pun menggelar kain pantai saya di bawah naungan bayang-bayang tebing batu merah dan mulai selonjoran sambil menikmati bekal makan siang saya.


Red Beach

The trekking track
Di sebelah Red Beach ini ada pantai lain yang sangat kontras warna nya, yaitu White Beach. Sesuai namanya, White Beach ini berpasir sedikit putih dan tebing batu kapur di belakangnya pun berwarna putih. Sayang nya White Beach hanya bisa dicapai dengan boat dari Red Beach maupun Akrotiri. Belum ada akses untuk pejalan kaki saat itu. Untuk mencapai kedua pantai unik ini, bisa lewat jalur laut. Nah, cocok nih buat yang tidak suka berjalan jauh apalagi tanjakan dan turunan berbatu, bisa menumpang boat/yacht dari Akrotiri beach langsung ke Red Beach dan White Beach, dengan membayar sekitar 5 untuk perjalanan bolak-balik. Namun siap-siap untuk diturunkan di air laut dangkal setinggi paha atau pinggang jika naik boat, karena boat-boat tersebut tidak bisa menepi di pantai dikarenakan banyak terdapat batu-batu karang. Sedangkan untuk yang suka tantangan, bisa berjalan kaki di jalur bebatuan menanjak. Dari Akrotiri bus stop bisa langsung jalan kaki ke kanan dan ambil jalur di sepanjang pantai hingga membelah perbukitan batu. Saran saya, pakai sepatu trekking untuk menghindari terpeleset atau tersandung bebatuan. Bawa saja sandal jepit untuk main-main air di pantai nya.

Pardon my selfie! :))
Sebetulnya masih banyak tempat-tempat menarik yang bisa dilihat di Santorini. Namun karena keterbatasan waktu yang saya miliki, saya tidak sempat mengeksplorasi semua sudut pulau cantik tersebut. Saya hanya menghabiskan 4 hari 3 malam di Santorini. Karena belasan kota lain di berbagai negara sedang menunggu kunjungan saya selanjutnya dalam summer trip kali itu. So, ikuti terus kelanjutan cerita blusukan saya di Eropa Tengah dan Timur dalam cerita-cerita saya selanjutnya! Stay tuneee…. ;)


Santorini oh Santorini...

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post