Showing posts with label travelustory. Show all posts
Showing posts with label travelustory. Show all posts

Thursday, March 26, 2020

Corona Pause Button

Seperti kita ketahui, saat ini bumi sedang mengalami sebuah krisis yang diakibatkan oleh pandemic virus COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan nama Corona. Tiga bulan sudah penjuru dunia digegerkan oleh Corona yang mematikan ini. Penyebarannya yang sangat cepat membuat banyak negara mengambil keputusan lockdown atau menutup sementara negaranya hingga wabah mampu diatasi. Roda perputaran ekonomi dunia pun terganggu, di semua sektor bisnis.

Saya yang berkecimpung di dunia bisnis pariwisata pun sangat merasakan dampaknya. Tanpa kulonuwun atau aba-aba, badai krisis Corona seketika mengguncang stabilitas bisnis pariwisata. Ditutupnya banyak negara mengakibatkan dibatalkannya begitu banyak trip wisata di Indonesia. Praktis kami pun kehilangan rutinitas pekerjaan kami dengan tidak adanya wisatawan yang masuk ke Indonesia. Kami pun dengan berat hati bersedia mengikuti anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah. Jika pemerintah menyarankan Working from Home selama dua minggu, kantor pusat global perusahaan tempat saya bekerja mengharuskan karyawannya untuk di rumah selama empat minggu.

Situasi di Bali, tempat saya tinggal, sejauh ini masih kondusif. Meski sepi wisatawan, kehidupan lokal tetap berlangsung seperti biasa. Memang perekonomian terasa tersendat, namun kami masih positif bahwa Bali akan mampu bangkit dari krisis Corona ini, mengingat kami pernah mengalami krisis-krisis lain yang tak kalah menakutkannya. Sebut saja krisis bom Bali, erupsi Gunung Agung, atau gempa bumi. Kesemuanya memang berdampak buruk pada pariwisata, namun lambat laun denyut perekonomian akan kembali normal. Harapan yang sama pun kami gantungkan untuk krisis Corona yang saat ini tengah merasuki Indonesia.

Good thing is, di Bali tidak terjadi fenomena panic buying seperti yang terjadi di negara-negara lain. Tissue toilet pun masih banyak tersedia di pasaran, ya tentu saja karena orang Indonesia lebih akrab dengan air ketimbang tissue untuk urusan buang hajat! 😛 Saat ini yang langka di pasaran adalah sabun cuci tangan dan hand sanitizer. Masyarakat Bali pun masih tergolong disiplin dan nurut ketika dianjurkan untuk #DiRumahAja. Sementara di daerah lain, contohnya kota metropolitan, masih banyak warganya yang menganggap enteng virus Corona ini dengan masih santainya eksis di acara kumpul-kumpul massal.

Menyinggung mengenai trending hashtag #DiRumahAja yang belakangan marak muncul di sosial media warganet Indonesia, banyak daripada teman-teman yang akhirnya merasakan rasanya working from home alias kerja dari rumah. Termasuk saya tentunya! Berbagai komentar dan cerita saya dapatkan dari teman-teman yang sudah memulai karantina mandiri dan WFH #DiRumahAja satu minggu lebih awal dari saya. Ada yang mampu berdamai dengan rasa bosan, ada yang hampir gila karena bosan, ada yang lebih banyak main-mainnya ketimbang kerjanya, ada yang justru semakin produktif kerjanya, ya macam-macam lah yang mereka rasakan. Saya sendiri baru mengambil langkah karantina mandiri sejak Senin 23 Maret 2020, dua hari menjelang Hari Raya Nyepi.

Dua hari menjelang karantina, saya gunakan untuk mempersiapkan stok bertahan hidup selama dua minggu. Bahan makanan, groceries, lauk pauk, dan sayur mayur telah saya siapkan. Hari-hari pertama karantina saya berjalan dengan mulus. Rutinitas harian saya hanya seputar masak, makan, tidur, nonton serial drama, baca buku, dan sesekali cek email jika ada pekerjaan yang harus ditangani. Bosan? Belum… Hingga masuk ke hari ke-3 karantina yang jatuh pada Hari Raya Nyepi di Bali. Saya yang sudah beberapa tahun belakangan ini selalu kabur dari Bali ketika Nyepi, kurang update bahwa ternyata sekarang pemerintah menutup akses jaringan internet di hari Nyepi. Ulala… saya pikir hanya internet pada simcard saja yang akan diputus jaringannya, ternyata internet di WiFi rumah pun juga diputus. Wah, mau ngapain nih 24jam di rumah tanpa akses internet, TV, bahkan radio? Pikir saya. Hmmm… sempat kecewa juga ketika tahu seluruh jaringan internet tidak berfungsi, namun saya flashback ke masa-masa ketika saya masih aktif dengan kegiatan naik gunung. Kala itu, saya mampu hidup selama berhari-hari tanpa internet, jadi kenapa sekarang harus tidak bisa? Oke baiklah, saya pun akhirnya menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangga, membaca buku, menulis blog, dan lain sebagainya. Mungkin ada baiknya juga saya yang sudah addicted dengan internet dan sosial media ini sekali waktu melakukan detox internet. Efek yang saya rasakan 24jam tanpa internet dan #DiRumahAja adalah pikiran jadi lebih relax, aktivitas mengerjakan pekerjaan rumah jadi lebih produktif, dan saya bisa konsen nulis blog lagi. 😊

Pernah tidak terpikirkan oleh kamu, masa-masa lockdown atau karantina ini sebetulnya merupakan kesempatan kita untuk melakukan hal-hal yang selama ini belum sempat kita lakukan? Untuk saya pribadi, dapat kesempatan satu bulan #DiRumahAja begini membuat saya makin semangat untuk mewujudkan hal-hal yang sempat terpending bertahun-tahun lamanya akibat kurangnya waktu yang saya miliki di rumah. Salah satunya ya menulis. Menulis blog atau bahkan sebuah buku, merupakan salah satu passion saya yang sulit saya wujudkan ketika saya sudah bekerja full time di kantor. Kini saatnya jemari saya kembali menari menuangkan kata-kata, merangkai cerita, untuk para pembaca setia blog Travelustory. Syukur-syukur kalau selama sebulan ini saya dihinggapi mood yang luar biasa bagus, sehingga mampu melanjutkan proyek nulis buku saya. Hmmm… kita lihat saja selama sebulan ke depan, apa saja yang bisa saya lakukan ya.

Menengok ke berbagai berita di seluruh dunia mengenai global lockdown dimana warga dianjurkan bahkan diwajibkan untuk tetap di rumah saja, saya melihat beberapa fenomena alam yang memberikan kehangatan di dalam hati saya. Di Italia, negara yang terdampak paling parah dalam wabah Corona ini, melaporkan bahwa tingkat kejernihan air di kanal-kanal kota Venice mengalami peningkatan yang cukup drastis. Jika biasanya air kanal tersebut berwarna hijau keruh, semenjak lockdown air kanal berangsur-angsur menjadi jernih dan berwarna hijau kebiruan dengan ikan-ikan yang mampu terlihat dari permukaan. Menurut warga lokal, hal ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sepanjang masa. Tak hanya itu, ikan lumba-lumba pun terlihat berenang dengan bebas di sekitar perairan kota Venice. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya dikarenakan lalu lintas air kota Venice yang selalu sibuk dan tak pernah sepi.

Tak hanya di Italia, di berbagai belahan bumi pun dilaporkan bahwa tingkat karbon emisi dan polusi udara di bumi mengalami penurunan drastis, langit terlihat biru di beberapa kota dengan tingkat polusi terparah, angsa dan burung liar kembali berkeliaran dengan santai di sungai-sungai, dan berbagai fenomena alam lainnya. Keseimbangan alam mulai terlihat di sana-sini. Sungguh alam telah mengambil alih porsinya, yang selama ini telah dikuasai dengan serakah oleh manusia.

Mungkin banyak atau bahkan hampir semua dari kita menganggap wabah Corona ini sebagai momok bagi kelangsungan hidup kita. Dengan macetnya perputaran roda ekonomi, kita pun menjadi khawatir akan nasib kita selanjutnya dalam masa krisis ini, begitu juga dengan saya. Namun setelah menjalani karantina mandiri #DiRumahAja, ditambah dengan Nyepi tanpa akses internet dan berbagai media, saya merenungkan maksud di balik terjadinya wabah ini.

Kita manusia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling berakal dan berkemampuan, tanpa kita sadari telah mengeksploitasi bumi secara masif. Keserakahan manusia dalam berinovasi, membangun, dan mengembangkan hidup, berujung pada terkikisnya alam dan sumber daya di muka bumi. Planet kita tak lagi hijau, selaput atmosphere pun menipis, dua kutub penyeimbang suhu bumi pun mulai mencair. Tak perlu pura-pura menutup mata, itulah yang tengah terjadi pada bumi kita. Eh, tunggu dulu! Sebelum kamu memutuskan untuk berhenti membaca tulisan ini karena bosan dengan trending topic nya Greta Thunberg mengenai climate change, saya cuma mau bilang kalau tulisan ini nggak akan membahas soal itu koq. Hehehe…

Ada hal-hal positif yang dibawa oleh Corona. Merebaknya wabah ini mengharuskan kita untuk tinggal di rumah, dengan kata lain menjadikan kita kembali dekat dengan keluarga. Jika kamu selama ini sibuk berkarier, menghabiskan sebagian besar waktumu untuk bekerja, hingga sangat sulit berkumpul dengan keluarga, maka kini saatnya kamu bisa kembali dekat dengan keluarga di rumah. Jika kamu selama ini mempercayakan anak-anakmu belajar di sekolah lalu lanjut les kumon atau aktivitas extra kurikuler, kini saatnya kamu menjadi guru sekaligus teman bagi anak-anakmu. Jika kamu selama ini terlalu sibuk berkegiatan di luar rumah hingga tak punya waktu untuk mengurus rumah, maka kini saatnya kamu mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, berkebun, memasak, dll. Jika selama ini kamu cukup cuek habis pegang uang langsung ngupil, kini kamu jadi lebih sering cuci tangan dan menjaga kebersihan. Jika selama ini ruang udara dipenuhi asap knalpot dan emisi industri, kini saatnya pepohonan mengambil alih karbon dan menghembuskan oksigen ke penjuru bumi. Jika selama ini planet bumi tersakiti oleh mobilitas kita yang terlalu tinggi, kini di masa global lockdown ini biarlah bumi bernafas kembali. Alam butuh istirahat dari campur tangan manusia. Hendaknya kita tidak lupa, bahwa kekuatan terbesar di muka bumi ini bukanlah di tangan kita, melainkan di tangan alam semesta, dengan Tuhan lah sebagai pemegang kontrolnya. Dan kini, tombol ‘pause’ sedang diaktifkan melalui wabah Corona ini untuk menyeimbangkan kondisi bumi. Dengan harapan, ketika krisis ini berlalu kita mampu hidup dengan tatanan baru yang lebih baik.

Tetap semangat kawan! Krisis ini akan segera berlalu. Tetaplah berkarya meski #DiRumahAja. Harapan saya, setelah kita keluar dari masa karantina ini, banyak ide-ide segar dan kreatif yang tercipta. Dan semoga nantinya, setelah semua kembali normal, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Jadikan Corona ini sebagai pembelajaran untuk membenahi ketidakteraturan hidup kita. Agar kedepannya, bersama kita bisa saling menjaga tak hanya diri sendiri, namun juga sesama manusia dan terlebih lagi, Planet Bumi itu sendiri.
Semoga kita semua tetap sehat, dan jangan lupa cuci tangan!

Social distancing & wash your hands!


Salam,
Fransisca

Saturday, February 22, 2020

Menggapai Mahameru

Beberapa tahun lalu saya sempat menulis tentang kecintaan saya pada alam, baik itu darat maupun laut. Yang belum sempat baca mungkin bisa intip di sini Lucky I'm in love with... Nature!
Tulisan itu saya buat ketika masih tinggal di Denmark, yang alamnya punya empat wajah mengikuti pergantian musim. Kala itu, saya tidak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya saya akan betul-betul menekuni hobi yang masih jarang dilakoni oleh perempuan Indonesia pada umumnya, yaitu mendaki gunung dan menyelam. Namun kali ini saya akan bercerita mengenai bagaimana saya bisa jatuh cinta pada gunung terlebih dahulu ya.

Tahun berganti dan akhirnya pulanglah saya ke negeri tercinta untuk mengabdikan ilmu dan passion saya bagi Indonesia. Bali menjadi pilihan saya untuk menetap sepulangnya saya dari perantauan. Tinggal di sebuah pulau dengan pesisir pantai cantik, sawah hijau berundak, sekaligus gunung hutan dan segala isinya, membuat saya menambatkan hati pada Pulau Dewata. Saya menghabiskan bulan-bulan pertama tinggal di Bali dengan menjelajahi pantai-pantainya, air terjun nya, perbukitannya, bahkan nekat keliling Bali nyetir motor sejauh 219KM seharian. Sungguh Bali itu punya inti jiwa yang mampu membuat jatuh hati siapapun yang mengenalnya.

Verbena dan Ranu Kumbolo

2015 saya mulai berkenalan dengan pegunungan. Diawali dari Ijen dan Batur, saya yang aslinya bukan anak gunung sejati ini seketika baper ketika berdiri di atas gunung yang tidak seberapa tinggi tersebut. Melihat keindahan alam yang unimaginable dari atas gunung membuat saya bertekad untuk menjelajahi gunung-gunung lain di Indonesia. Dan akhirnya, atas seijin Tuhan Yang Maha Kuasa, kaki kecil ini mampu menjejak di beberapa gunung Indonesia. Atap tertinggi Jawa, Bali, dan Lombok, serta gunung-gunung lain di tanah Jawa telah masuk ke dalam deretan memori pendakian tak terlupakan. 


si ganteng gagah menawan hati, Mahameru!

Namun yang paling memorable adalah Semeru, dimana saya menemukan sebuah keluarga baru dalam pendakian 4 hari 3 malam tersebut. Ber-11 kami yang bertemu dalam sebuah open trip pendakian Semeru, berakhir menjadi lebih dari sekedar teman pendakian. Kami menjadi sebuah keluarga bernama Rimba Nusantara atau yang kami sebut RINTARA. Sungguh, sebuah pendakian sejatinya bukan tentang puncak, melainkan tentang perjalanannya itu sendiri. Kekompakan yang terjalin sepanjang perjalanan membuahkan hasil Puncak Mahameru 3.676mdpl, atap tertinggi sekaligus paku Tanah Jawa!

cikal bakal Rintara - Ranupani, 2017

Perjuangan menggapai Mahameru tidaklah semulus wajah skincare. Sekitar 7 jam kami berusaha menaklukkan diri sendiri di rute berpasir dan berbatu, dengan bayang-bayang jurang maut Blank 75 yang terkenal banyak memakan korban jiwa tersebut. Namun niat setulus hati ketika menjejakkan kaki di pintu gerbang Ranupani dan kulonuwun terlebih dahulu, membuat saya tidak memicingkan mata menatap kegelapan mencekam di kanan kiri saya ketika melewati jalur setapak di tepian Blank 75 tersebut. Lelah fisik dan lelah emosi bercampur menjadi satu ketika matahari mulai terbit namun kami masih saja berada di jalur puncak Mahameru. Tak terlihat tanda-tanda kaki ini akan tiba di puncak, hanya terdengar seruan-seruan penyemangat dari sesama pendaki yang saling mencoba mengobarkan kembali semangat kami yang sudah mulai padam ditiup angin dingin membeku. Tyas, si Macan Semeru, gadis sependakian kami yang telah akrab dengan Mahameru, terus menerus menyemangati rombongan dengan kata-kata "ayo woy! Dikit lagi itu abis batu gede sampe!". Ya gitu aja terus Yas, sampe yang denger bosen pengen nangis gak sampe-sampe! 😅

jalur menuju puncak Mahameru

Tinggal beberapa meter dari bibir puncak, emosi saya sudah mulai setipis tissue. Ingin rasanya memutuskan berhenti dan menangis di jalur itu. Bagaimana tidak? Maju selangkah mundur dua langkah. Begitu saja terus sampai tenaga dan emosi habis. Pasir vulkanik Mahameru sungguh membuat perjuangan menggapai puncak Semeru terasa lebih berat ketimbang menggapai puncak pelaminan! (eh maap, koq malah curcol! 😝)
Namun di situlah saya melihat teman-teman seperjuangan yang saling bahu membahu dan tidak egois memikirkan diri sendiri, saling menarik satu sama lain, perlahan menggapai si batu besar yang Tyas bilang tadi. Sesampainya di bibir batu yang merupakan celah naik ke tujuan akhir, saya sudah betul-betul tak mampu lagi memanjat karena ukuran batu itu lebih tinggi dari kepala saya. Setitik air mata sudah jatuh membayangkan perjalanan seberat itu akan berakhir sia-sia. Namun tiba-tiba ada seorang pendaki berbadan tambun, langsung jongkok di hadapan saya dan bilang "injak saja punggung saya mbak, ayo! Mahameru di depan mata! Cepat mbak, naik!". Saya yang masih bingung harus bagaimana, tau-tau sudah di dorong teman-teman saya menaiki punggung si mas tambun tadi dan voila... saya tersungkur di sebuah tanah datar selebar lapangan bola. Ya, Mahameru... Puncak Para Dewa, dataran tertinggi Pulau Jawa terbentang di depan mata saya dengan kepulan asap dari kawah Jonggring Saloka yang megah!

Dataran tertinggi Tanah Jawa - Mahameru

Langkah kaki ini tersaruk-saruk menapaki Mahameru, air mata sudah membanjir, bibir tak mampu berkata-kata, telinga tak mampu menangkap suara. Hanya rasa kagum dan syukur yang terus terucap dalam hati, karena hanya seizin Nya lah kaki ini mampu berdiri di tanah tertinggi Pulau Jawa. Dan Mahameru adalah puncak pertama saya di gunung dengan ketinggian 3000an meter. Jadi bapernya memang luar biasa sih! Hahaha. 
Saya berusaha mencari-cari si mas tambun yang telah menolong saya tadi untuk menyampaikan terima kasih, tapi entahlah saya tidak bisa mengenalinya di antara kerumunan pendaki yang tengah menandak-nandak berbahagia di sana. Jika mas tambun kebetulan membaca tulisan ini, saya mau berterima kasih atas punggung yang telah bersedia saya injak di pintu gerbang Mahameru, 1 Mei 2017 lalu. Maturnuwun, mas!! Aku padamu. 😘

speechless!

Jonggring Saloka
main ski pasir menuruni Mahameru

Mengais memori tentang Semeru, hal apa yang paling pertama melintas di kepala kalian jika mendengar satu kata "Semeru"? Pasti kebanyakan langsung menjawab entah Ranu Kumbolo nya duluan atau Mahameru nya. Tapi buat saya, ketika ingatan ini terlempar kembali ke Semeru, yang saya ingat pertama adalah Semangka! Hahaha... Lho koq semangka sih? Ya iya, soalnya cuma di Semeru saja yang ada dagang semangka potong di sepanjang jalur pendakian sampai di Kalimati, bahkan di dalam hutan dekat batas vegetasi. Jika pendaki perempuan lain mungkin akan gaspol ketika dikasih semangat oleh pacar atau gebetan selama pendakian, nah saya cukup diiming-imingi semangka potong di setiap pos peristirahatan, bisa langsung gaspol ngebut jalannya! Hahaha... Memang dasar bocah tukang makan! Dan semangka ternikmat di sepanjang jalur Semeru adalah di warung setelah Tanjakan Cinta, dan di lapak bawah pepohonan vegetasi setelah turun dari Mahameru. Kenapa? Apakah jenis semangka nya premium? Nggak juga... Cuma perjuangan mendapatkannya yang bikin rasa semangka jadi makin manis melebihi janji manismu! 😆

Bicara tentang Semeru nggak afdol kalau nggak menyinggung si cantik Ranu Kumbolo. Kami berkesempatan menginap 2 malam di Rakum, di dua spot berbeda. Di malam pertama, kami buka tenda di sisi timur danau, dimana pagi hari nya view kami adalah kepulan asap dari kawah Jonggring Saloka. Sedangkan di malam terakhir, kami buka tenda di sisi barat danau dengan view pagi harinya matahari terbit menyembul di sela-sela punggung bukit. Mirip seperti yang sering kita gambar sewaktu kecil dulu. Ranu Kumbolo, dibalik keindahannya yang bikin betah, juga punya sisi menantangnya sendiri, yaitu temperaturnya. Ya, Rakum terkenal sebagai tempat bermalam yang sangat dingin dalam pendakian Semeru, terutama di musim kemarau. Suhu bisa drop ke minus dan kita bisa melihat butiran embun yang menjadi salju di pagi  harinya. Namun apapun kondisinya, Rakum tetaplah menjadi daya tarik utama Semeru selain Mahameru itu sendiri.

sisi timur danau Ranu Kumbolo

sisi barat danau  Ranu Kumbolo

bonus sunrise cantik khas Ranu Kumbolo

Lalu apa kabar dengan Tanjakan Cinta? Hmmm... Sebelum pendakian saya sudah was was membayangkan akan setinggi dan securam apakah si tanjakan yang terkenal dengan mitosnya itu. Tanjakan di sebelah barat Rakum ini adalah jalur menuju Oro-oro Ombo yang belakangan menjadi spot foto favorit dengan hamparan bunga Verbena ungunya. Mitos mengatakan, jika kamu mampu melalui Tanjakan Cinta tanpa sekalipun menengok ke belakang, maka permohonan cintamu akan terkabul. Kamu percaya? Ah, saya sih sedang tidak ada permohonan apa-apa, apalagi permohonan cinta. Namun saya punya satu motivasi untuk segera menaklukkan Tanjakan Cinta itu, yaitu SEMANGKA! Hahaha... Ya, di ujung tanjakan itu ada warung yang menjual gorengan dan semangka potong. Jadilah saya menapaki tanjakan itu dengan bayangan semangka di benak saya. 😝 
Apakah saya menoleh ke belakang? Oh ya jelaaasss! Rugi kalau nanjak Tanjakan Cinta nggak nengok ke belakang. Karena view Ranu Kumbolo tercantik adalah jika dilihat dari spot Tanjakan Cinta ini. 😍 Ternyata Tanjakan Cinta tidak semengerikan 7 Bukit Penyesalan di Rinjani koq. Hehehe...


Tanjakan Cinta menuju Semangka! 😂

Sungguh begitu banyak cerita yang terekam di kepala dalam setiap pendakian, yang tak mampu saya tuangkan sekaligus di sini. Mungkin di lain kesempatan saya akan ceritakan highlight dari setiap gunung yang saya daki, cerita-cerita seru di perjalanan nya, teman-teman baru yang saya temui, atau sekedar berbagi foto keindahannya saja. 

Akhir kata, selain memori yang indah, saya mendapat keluarga baru saya, keluarga Rimba Nusantara. Sejak 2017, Rintara setiap tahunnya mengadakan reuni, tak hanya di gunung namun juga di pelaminan alias kondangan. Dan tahun 2019 lalu adalah reuni terunik kami karena kami berhasil mengulang formasi foto di puncak Mahameru menjadi di puncak pelaminan, ketika Dimas salah satu keluarga Rintara menikah. Semoga kekerabatan yang terjalin di Semeru ini akan langgeng sampai ke anak cucu kami, yang nantinya kami harapkan akan bisa mendaki gunung-gunung Indonesia seperti orangtua mereka. Karena kita tidak mewariskan alam ini pada anak cucu kita, melainkan kitalah yang meminjamnya dari mereka. Oleh karena itu, jagalah kelestarian alam Indonesia agar anak cucu kita nanti masih bisa menikmatinya.

Salam Lestari!!

formasi Mahameru

Puncak Mahameru vs Puncak Pelaminan 😬

Pendaki Santuy


Sunday, January 19, 2020

Hi ¤ ber ¤ nate

Hibernate atau dalam bahasa Indonesia Hibernasi, adalah masa tidur panjang dan tidak aktif dalam kurun waktu tertentu. Sama seperti blog ini, yang telah tidur selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Banyak dari para pembaca setia yang bertanya ke saya mengapa saya berhenti menulis, kenapa tidak ada lagi cerita-cerita petualangan saya, kenapa blog ini seakan terbengkalai. Well, here I am! Mari kita kembali bercerita. :)

2016 adalah kali terakhir saya memposting sebuah tulisan di blog ini. Yaitu tulisan mengenai alam bawah laut Indonesia, dan merupakan tulisan pertama saya dalam bahasa Inggris di blog ini. Ketika itu saya baru saja mendapatkan Surat Ijin Menyelam saya - ya, menyelam juga ada SIM nya lho! Setelah saya mendapatkan PADI Open Water Diver license, saya mulai menjelajahi alam bawah laut. Dan dari sana lah inspirasi untuk menulis tentang underwater itu muncul.

Namun ternyata tulisan itu, yang juga telah dimuat di sebuah travel website di Belanda, menjadi tulisan terakhir saya sebelum memutuskan untuk hibernasi. Banyak faktor yang membuat saya berhenti sesaat dari dunia tulis menulis. Faktor waktu dan kesibukan lah tepatnya. Bekerja full time di kantor, padatnya jadwal kegiatan di luar kantor, intensnya jadwal bepergian, yang kesemuanya campur aduk dalam rutinitas keseharian membuat saya tak punya energi lagi untuk membuka laptop pada malam hari dan merangkai kata. Sepertinya inspirasi untuk menulis itu menguap begitu saja berbarengan dengan energi dan pikiran yang juga tersita.

Rindu kah saya untuk menulis lagi? Tentu saja... Beberapa kali saya mencoba menulis kembali, tentang petualangan saya di gunung-gunung Indonesia dalam 3 tahun terakhir, namun semuanya hanya berakhir dalam bentuk draft, tanpa sukses saya publikasikan. Kenapa? karena saya merasa ada sesuatu yang hilang dari tulisan saya. Ada sebuah rasa yang sedikit hambar dan tawar, tak lagi menggigit. Kalau kata netijen jaman now, rasanya ambyaaarrrrr! Hahaha... Mungkin rasa yang hilang itulah yang dinamakan passion. Saya akui passion menulis saya menguap di beberapa tahun belakangan ini. Mungkin karena saya terlalu sibuk mengejar begitu banyak hal, hingga seolah 24 jam waktu tidak cukup bagi saya. Fransisca yang dulunya suka menulis konten artikel online, kontributor writer di beberapa media online, freelance journalist yang tulisannya dibayar, seolah tertidur pulas terbuai nikmatnya kehidupan santuyyy di pulau tropis negara berflower ini!

Sempat juga saya membuat website dengan nama travelustory.id. Namun saya juga bingung mau saya apakan website tersebut. Konsep di kepala saya tentang sebuah website yang saya impikan tidak mampu tertuang sebagaimana mestinya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk me-nonaktif-kan web tersebut tanpa tahu kapan akan saya garap kembali kontennya.

Sempat juga memutuskan untuk tidak lagi menulis blog tetapi akan menulis buku tentang petualangan saya di Eropa. Bukan buku panduan wisata, tetapi lebih ke cerita hidup dan pengalaman unik selama saya tinggal di sana. Karena sempat terbersit, kalau tulisan saya bisa dijadikan uang, kenapa saya harus terus menulis gratisan di blog? Sudah juga selesai menulis 3 chapter, tapi tidak lagi dihinggapi inspirasi untuk lanjut ke chapter selanjutnya. Akhirnya proyek nulis buku pun mangkrak.

Ketika tren vlog mulai menjamur di dunia maya, banyak vlogger dan youtuber yang mendadak ngartis dan terkenal karena konten video mereka. Banyak juga teman-teman yang menyarankan saya untuk ngevlog di youtube. Katanya, ngapain kamu cuma eksis di Intragram story? Mendingan jadiin youtube, nanti kan bisa dapat bayaran kalau subscribernya banyak. Well, ada benarnya juga sih. Tetapi ya itu tadi,kesibukan telah membuat saya tidak punya waktu lagi untuk mantengin laptop guna mengedit video agar layak tampil di youtube channel. Alhasil saya masih tetap setia dengan konten instastory saya yang gak menghasilkan uang tersebut hahaha... But I feel comfortable with that, so why not?

Kemudian ada seorang sahabat dari sebuah komunitas pertemanan positif mengingatkan saya, bahwa passion itu harus tetap dinyalakan, jangan sampai padam. Dia mengencourage saya untuk kembali menulis, meski belum mampu untuk menulis sebuah buku - yang artinya dapat mengasilkan uang, namun jika tulisan di blog nantinya bisa memberikan inspirasi bagi orang lain, kenapa tidak diteruskan? Begitu katanya. Happiness is not about money. Yang akhirnya belakangan ini saya menyadari, bahwa mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang positif, ternyata juga bisa memberikan kebahagiaan tersendiri. Trust me, there are so many things in this world that could not measured by money.

Dan setelah pergumulan antara pikiran dan kesibukan selama beberapa waktu belakangan ini, di tahun ini saya memutuskan untuk kembali merangkai kata, kembali berbagi cerita tentang apa saja. Mungkin bukan hanya tentang traveling, tetapi hal-hal lain juga yang mungkin bisa menginspirasi teman-teman pembaca, dalam hal positif tentunya. Bukan untuk jumawa atau merasa digdaya, hanya ingin berbagi cerita dari sudut pandang seorang Fransisca.

Jadi, mau mulai cerita dari mana kita? ;)

Hello, readers! How have you been?

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post