Nama Santorini tentulah tidak
asing lagi di telinga, terutama buat para penggila jalan-jalan. Pertama kali
saya mendengar nama Santorini adalah dari sebuah artikel majalah wisata sekitar
tahun 2010 silam. Artikel tersebut memuat tentang salah satu destinasi impian
untuk para honeymooners. Setiap sudut keindahan Santorini dituangkan dalam
artikel sepanjang 4 halaman tersebut. Seperti terhipnotis oleh foto-foto
landscape Santorini yang didominasi warna putih biru tersebut, saya pun berucap
di dalam hati, “I will be there
someday!”.
Dan… Di sanalah saya berdiri. Di
tepi dinding view point desa Oia, menyaksikan salah satu sunset terindah di
muka bumi yang perlahan mulai terbenam di garis horizon di kejauhan. Akhirnya…
Salah satu mimpi besar dalam hidup saya pun terpenuhi, menginjakkan kaki di
Santorini. Bermula dari sebuah artikel di majalah gratisan yang saya baca di
lobby kantor, berujung pada selembar tiket pesawat one way ke Santorini 4 tahun
kemudian.
 |
| typical Santorini... Blue and white |
Santorini merupakan sebuah pulau
berbentuk bulan sabit di laut Aegean, Yunani. Pulau yang terbentuk dari sebuah
letusan gunung berapi itu, menyisakan kaldera di sisi
barat pulau yang dipenuhi oleh bangunan bercat putih dan beratap biru. Kaldera
inilah yang menjadi daya tarik utama pulau Santorini. Meskipun sisi barat pulau
Santorini menjadi komoditas pariwisata utama, namun ada tempat-tempat lain di
Santorini yang memiliki keunikannya masing-masing. Dan saya pun berkesempatan
mengunjungi beberapa diantaranya.
 |
| Pink Bougenville, mewarnai setiap sudut Santorini |
 |
| Classic! |
1. Fira
Merupakan kota utama di
Santorini, dimana denyut nadi pariwisata berpusat disana. Kota kecil yang
dijejali dengan toko-toko, restaurant, penginapan, yang semuanya saling tumpang
tindih memadati tebing kaldera itu menjadi daya tarik besar dari Santorini.
Suara langkah kaki di setapak berbatu berbaur dengan denting pisau garpu beradu
serta celotehan wisatawan maupun lokal, riuh rendah mewarnai kepadatan
gang-gang di sepanjang Fira downtown.
Yang menarik dari Fira adalah
view kaldera yang dipadati jejeran restaurant dan villa yang menyajikan
pemandangan spektakuler. Ratusan bangunan berdinding putih dan beratap biru
yang memadati dinding kaldera merupakan salah satu "million dollars
view" yang worth untuk dinikmati paling tidak satu kali seumur hidup. Gambar-gambar
di kartu pos Santorini pun rata-rata mengambil landscape ini. Dan saya mengucap
syukur untuk kesempatan menikmati view cantik tersebut.
 |
| Fira caldera by day |
 |
| Fira caldera by night |
 |
| Ortodox church |
Santorini adalah salah satu
destinasi bulan madu paling diincar di dunia. Maka tak heran begitu banyaknya
pasangan traveler yang memenuhi pulau ini. Di seluruh penjuru mata memandang,
pasti ada saja pasangan traveler yang bergandengan tangan menyusuri sudut-sudut
kota. Sama halnya dengan saya. Saya pun bergandengan dengan mesranya selama
menyusuri berbagai tempat di Santorini. Bedanya, yang saya gandeng adalah
tripod kamera! Haha... Nasib seorang solo traveler!
 |
| the alleys |
 |
| souvenir shops in Fira |
Di Fira ini saya sering beli pita
gyros di sebuah stand gyros bernama Obelix. Gyrosnya enak dengan bumbu meresap
lezat di setiap helai dagingnya. Kalau pork souvlaki, paling suka beli di
sebuah stand makanan cepat saji di jalan Martiou. Aroma lezat berbagai macam
daging grill nya selalu mengundang setiap hidung yang menghirupnya ketika
melewati stand makanan tersebut. Saat siang hari yang terik, paling enak
menikmati semangkuk Greek frozen yogurt di Chillbox, dengan berbagai varian
toppingnya. Yunani terkenal dengan kualitas yogurtnya, dan saya tidak menyia-nyiakan
kesempatan makan yogurt hampir setiap hari selama di sana.
 |
| the famous Obelix |
 |
| I can't say "No" for this |
Sebagai penikmat bir, saya tidak
melewatkan kesempatan mampir di sebuah beer brewery untuk mencicipi Donkey Beer
yang merupakan bir asli Santorini. Ada 3 macam Donkey Beer, berdasarkan tingkat
kepekatan alkohol dan rasa. Yellow Donkey adalah yang paling ringan dengan rasa
yang light dan alkohol rendah. Kemudian Red Donkey yang setingkat lebih strong
dengan rasa malt yang lumayan pekat, dan ini merupakan favorit saya. Kemudian
yang terakhir adalah Crazy Donkey, yang paling tinggi kadar alkoholnya,
berwarna gelap dan rasanya pun sarat dengan hobs. Over all, Donkey Beer adalah
tipikal bir tropis dengan sedikit rasa manis dan ringan. Cocok untuk dinikmati
di segala suasana sambil memandangi indahnya view kaldera Santorini.
 |
| Fave |
 |
| Love it! |
Untuk mencapai downtown
Fira, saya menggunakan public bus dengan lama perjalanan sekitar 40-45 menit
dari Perissa menuju stasiun bus central Stathmos Leoforion. Cukup jauh memang,
tetapi tidak masalah bagi saya karena sepanjang perjalanan saya asyik
memandangi lahan tandus pulau Santorini, perkebunan tomat cherry, rumah-rumah
penduduk, serta bukit-bukit batu berbagai ukuran yang tersebar di pulau
itu. Dan jangan salah, sopir dan kernet bus di Yunani itu gantengnya selevel
dengan model-model di majalah Indonesia! Haha... Jadi ya lumayan dapat
pemandangan bagus sepanjang perjalanan. :)
2. Firostefani & Imerovigli
Merupakan tetangga dari Fira, masih
dengan landscape yang sama dengan jejeran bangunan putih biru menghadap ke
volcano. Yang membedakan, Firostefani tidaklah sehiruk-pikuk Fira. Tidak banyak
toko-toko souvenir dan restaurant menjejali gang-gang nya. Lebih banyak villa
dan penginapan mewah yang menawarkan private pool dengan million dollars view
menghadap sunset.
 |
| Stairway to heavenly blue ocean |
 |
| the path |
 |
| what a view! |
Imerovigli terletak di sebelah
utara Firostefani. Merupakan area resort-resort luxury dan destinasi favorit
para honeymooners berkantong tebal. Dari Imerovigli, kita bisa melihat Fira di
sebelah kiri dan Oia di sebelah kanan. Sebuah spot sempurna untuk menikmati
sunset dan landscape pulau sekaligus.
 |
| Blue and White |
 |
| Please come in! |
Untuk mencapai dua kota kecil
ini, bisa dengan menaiki bus dari Fira. Tetapi saya memilih berjalan kaki
blusukan di gang-gang sempit nan cantik sepanjang Fira sampai Imerovigli. Jarak
sekitar 2-3km memang tidaklah jauh, hanya saja jumlah anak tangga yang naik
turun itu yang bikin kaki lumayan cenut-cenut. Untungnya sandal jepit selalu
tersedia di kala kaki ini mulai bosan menjelajah dengan trekking shoes.
Pemandangan dan keunikan tiap desa yang saya lalui selama berjalan kaki itu
sungguh membuat lupa betapa panasnya Santorini siang itu dengan suhu yang mencapai
41 derajat celcius.
 |
| Ah leganya... sandalan! ;)) |
 |
| Sunset from Imerovigli |
3. Oia
Niat semula adalah trekking
sampai Oia (baca: Ia) dengan rute sepanjang kaldera di sisi barat. Dengan
harapan akan menemukan cerukan tebing dengan lagoon untuk berenang, seperti
tips yang saya baca di forum-forum backpacker. Namun efek kepanasan yang berujung
kepala keliyengan pun membuat saya menyerah dan memilih naik bus saja dari
Imerovigli ke Oia, yang ternyata jaraknya adalah sekitar 8km! Haha... Untung
naik bus... Bisa ketinggalan sunset jika saya nekat jalan kaki ke Oia!
 |
| On the way to Oia |
Pemandangan sepanjang perjalanan
dari Imerovigli ke Oia cukup cantik. Rute bus melewati bukit-bukit berbatu
dengan padang rumput tandus menyembul di sela-selanya serta lahan perkebunan
tomat. Naik bus di Santorini itu mirip-mirip di Jakarta, jarang dapat tempat
duduk alias gelantungan berdiri. Mungkin juga karena saat itu sedang high
season, sehingga turis-turis berjubel memadati Santorini.
Sampai di stasiun bus Oia, saya
mengikuti arus wisatawan yang berbondong-bondong menuju downtown Oia untuk
menikmati sunset. Berhubung matahari di musim panas mulai tenggelam sekitar jam
8:40 malam, dan saya tiba di Oia sekitar pukul 6:30, saya memutuskan untuk
mencari posisi uenak di balik dinding pagar view point dan mulai selonjoran
untuk tidur sebentar. Berbekal headset yang tersumpal di telinga dengan
lagu-lagu jazz favorit, saya pun berhasil tidur-tidur ayam selama satu jam
sebelum akhirnya terbangun oleh suasana hiruk pikuk wisatawan yang mulai
memadati view point.
 |
| The famous Oia |
 |
| Everyone wanted the golden sunset |
Detik-detik terbenamnya matahari
di gariz horizon sebelah barat berhasil saya abadikan di kamera. Namun
kecantikannya hanya mampu terekam sempurna di ingatan. Semburat cahaya merah
keemasan itu menyinari wajah setiap orang yang memandang takjub pada salah satu
sunset terindah di muka bumi ini. Sungguh alam semesta ini begitu indahnya!
 |
| Here it is... |
 |
| What?! |
Ketika matahari sudah sepenuhnya
terbenam, saya terkejut menyaksikan lautan manusia yang mulai bergerak
meninggalkan view point. Lautan manusia itu terlihat bagai semut yang mengaliri
gang-gang sempit menuju halte bus Oia. Suasana padat dan ramai, membuat saya
malas untuk ikutan nyempil di antara ratusan wisatawan. Saya pun memutuskan
berhenti di sebuah tavern/resto kecil menghadap ke kaldera. Menikmati seporsi
Moussaka ditemani segelas sangria dengan pemandangan kelap-kelip lampu di
sepanjang kaldera, menutup indahnya sore itu di Oia.
 |
| Oia by night |
 |
| lovely hand crafted cross |
4. Perissa
Bagian timur dan tenggara pulau Santorini
terdiri dari pantai-pantai berpasir hitam, yaitu Kamari, Perivolos, dan
Perissa. Daerah ini terkenal dengan wisata kuliner seafood serta pantainya yang
landai. Beberapa hotel dan resort pinggir pantai menawarkan suasana pantai yang
landai dan bisa dipakai untuk leyeh-leyeh ataupun berenang. Jejeran sunbeds
berpayung jerami terlihat cantik menghiasi pantai di Kamari, Perivolos, dan Perissa.
Hostel-hostel murah pun banyak tersebar di kawasan ini. Jika mau liburan
lumayan lama di Santorini, Perissa bisa jadi alternatif pilihan akomodasi untuk
mendapatkan suasana pantai yang lebih tenang dan berbeda dari kawasan sepanjang
kaldera barat seperti Fira, Firostefani, hingga Oia.
 |
| Perissa Beach |
Selama di Santorini, saya
menginap di sebuah youth hostel di kawasan pantai Perissa. Selain murah meriah,
kawasan ini juga sepi dari hiruk pikuk wisatawan. Harga makanan dan penginapan
pun jauh lebih murah di banding dengan area kaldera sisi barat pulau. Sebuah
pilihan tepat bagi traveler on budget seperti saya yang hanya menggunakan kamar
tidur selama beberapa jam di malam hari, karena sepanjang hari hingga malam
saya gunakan untuk blusukan kesana kemari.
Saya tidak banyak menghabiskan
waktu di pantai Perisa. Hanya sekedar berjalan-jalan pagi di sepanjang bibir
pantai berpasir hitam, merasakan deburan ombak menghempas perlahan di sela-sela
jemari kaki saya. Banyak terlihat anak-anak kecil bermain pasir di temani orang
tua mereka yang asyik berjemur. Perissa memang cocok untuk wisata keluarga,
dengan pantai landai dan bebas dari tangga naik turun dan tebing curam. Seafood
tavern pun berjejer dengan rapi di sepanjang boulevard pantai dengan aroma
seafood bakar yang menggoda selera siapapun yang melewatinya.
 |
| The Black Sand Beach |
5. Akrotiri
Bagian barat daya pulau Santorini
memanglah tidak seramai bagian kaldera sisi barat pulau. Namun Akrotiri yang
masih less-developed itu mempunyai daya tarik tersendiri, baik bagi para
pecinta situs arkeologi maupun pemburu pantai cantik. Di Akrotiri, terdapat
sebuah situs arkeologi seluas 1,2 hektar yang bisa di eksplore oleh para
pecinta sejarah. Namun saya yang jiwanya anak pantai ini lebih memilih trekking
ke bukit-bukit di sepanjang tepi laut untuk menemukan dua pantai yang lumayan
kece, Red Beach dan White Beach!
Air laut yang biru tampak kontras
dengan bebatuan bergradasi warna kemerahan di Red Beach. Pantai Red Beach ini
berpasir sedikit, selebihnya berupa bebatuan kecil (pebbles). Baik pasir maupun
bebatuannya berwarna orange tua kemerahan. Dinding tebing batu yang menaungi
pantai ini pun berwarna merah. Banyak bule-bule yang berjemur di bawah payung
pantai sewaan, ada juga beberapa turis Asia yang asyik foto-foto, saya pun
menggelar kain pantai saya di bawah naungan bayang-bayang tebing batu merah dan
mulai selonjoran sambil menikmati bekal makan siang saya.
 |
| Red Beach |
 |
| The trekking track |
Di sebelah Red Beach ini ada
pantai lain yang sangat kontras warna nya, yaitu White Beach. Sesuai namanya,
White Beach ini berpasir sedikit putih dan tebing batu kapur di belakangnya pun
berwarna putih. Sayang nya White Beach hanya bisa dicapai dengan boat dari Red
Beach maupun Akrotiri. Belum ada akses untuk pejalan kaki saat itu. Untuk
mencapai kedua pantai unik ini, bisa lewat jalur laut. Nah, cocok nih buat yang
tidak suka berjalan jauh apalagi tanjakan dan turunan berbatu, bisa menumpang boat/yacht
dari Akrotiri beach langsung ke Red Beach dan White Beach, dengan membayar
sekitar €5 untuk perjalanan bolak-balik. Namun siap-siap untuk diturunkan
di air laut dangkal setinggi paha atau pinggang jika naik boat, karena
boat-boat tersebut tidak bisa menepi di pantai dikarenakan banyak terdapat
batu-batu karang. Sedangkan untuk yang suka tantangan, bisa berjalan kaki di
jalur bebatuan menanjak. Dari Akrotiri bus stop bisa langsung jalan kaki ke
kanan dan ambil jalur di sepanjang pantai hingga membelah perbukitan batu.
Saran saya, pakai sepatu trekking untuk menghindari terpeleset atau tersandung
bebatuan. Bawa saja sandal jepit untuk main-main air di pantai nya.
 |
| Pardon my selfie! :)) |
Sebetulnya masih banyak
tempat-tempat menarik yang bisa dilihat di Santorini. Namun karena keterbatasan
waktu yang saya miliki, saya tidak sempat mengeksplorasi semua sudut pulau
cantik tersebut. Saya hanya menghabiskan 4 hari 3 malam di Santorini. Karena belasan
kota lain di berbagai negara sedang menunggu kunjungan saya selanjutnya dalam
summer trip kali itu. So, ikuti terus kelanjutan cerita blusukan saya di Eropa
Tengah dan Timur dalam cerita-cerita saya selanjutnya! Stay tuneee…. ;)
 |
| Santorini oh Santorini... |
No comments:
Post a Comment