Thursday, May 16, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 3)

Hari itu, aku sengaja bangun siang karena planning hari itu memang cuma leyeh-leyeh menikmati sisa libur. Asri dan Grace sudah kembali ke Belanda pagi itu, sedangkan aku dan Michelle akan pulang besok siang. Tapi kelamaan tidur-tiduran di hostel juga bikin pegel dan wasting time. Akhirnya jam11 aku memutuskan untuk keluar dan berjalan tanpa tahu tujuan pastinya kemana. Mampir disebuah toko Asia di pojokan jalan Vitezna, kami membeli beberapa Croissant dan sebungkus besar Lay's rasa Grilled Bacon, yang setelah dijajal busyet... rasanya bener-bener bebong banget! Haha... Lumayan lah buat menu sarapan. Maklum di hostel Mosaic tidak ada dapur, sehingga kami nggak bisa masak Indomie.
menu sarapan traveler budget pas-pasan :D

Menikmati sarapan ala kadarnya, kami duduk di sebuah bangku taman didekat Funicular station sambil memperhatikan tram-tram tua yang melintas, dan rombongan turis-turis yang lalu-lalang. Lagi-lagi terlihat seliweran turis Asia bermata sipit. Sepertinya ras kulit kuning bermata sipit memang tersebar di seluruh penjuru dunia ya. Kemanapun pergi pasti berjumpa dengan orang Asia. Kalau kata Michelle sih "orang Asia itu kaya-kaya, pada punya toko semua, makanya bisa traveling kemana-mana!" haha...
Lagi enak-enaknya ngunyah Lay's bebong, eeeh tau-tau didatangi beberapa pria homeless yang cengar-cengir minta duit. Kami dengan sopan menolak halus dengan dalih nggak bisa ngomong pake bahasa Inggris dan nggak ngerti apa maksud mereka (bohong banget padahal). Tapi memang itulah cara teraman untuk menghalau mereka. Bukan dengan pasang muka jutek atau lari tunggang-langgang. Bisa-bisa malah dikejar sama gerombolan homeless tersebut.
Praha memang cantik, namun sedikit menjadi kurang nyaman karena banyaknya jumlah homeless dan pengemis di pinggir jalan, terutama di sepanjang Charles Bridge. Hmmm... semoga kedepannya pemerintah Ceko bisa menanggulangi masalah ini sehingga para wisatawan yang berkunjung tidak merasa risih saat mengeksplore kota Praha.
salah satu patung di Petrin Hill
Disamperin homeless, bikin selera makan hilang. Haha... yasudah lanjut jalan saja menyusuri jalan Ujezd dan Karmelitska ke arah Malá Strana. Tadinya nggak ada rencana mau mendaki Lesser Town ini menuju Petrin Hill, tapi rasa penasaran menggelitik naluri penjelajah dalam diriku. Alhasil pelan-pelan kami menyusuri jalanan menanjak di kawasan Lesser Town - Malá Strana yang di kanan kiri nya banyak terdapat kantor Embassy. Tebak, Embassy apa yang terlihat mencolok disana? Sebuah kantor Embassy paling besar dan berdiri angkuh di tepi jalan itu tak lain dan tak bukan adalah Embassy nya Jerman! Dziiiggg.... lagi-lagi bayangan Hitler melintas di kepala saat aku mengamati bangunan tinggi besar itu! Haha... :D

Jalanan terus menanjak, berganti dari cobbled stone pavement ke jalan setapak aspal kasar dengan rerumputan hijau segar di kanan kirinya. Hmmm... sudah sampai di punggung bukit Petrin Hill rupanya. Menoleh ke belakang, terlihat jalan sempit nan curam dengan jejeran rumah berwarna pastel mengapit rapi di kanan kirinya. Sangat cantik! Wow, tak sabar rasanya untuk segera sampai di atas bukit. Puncak Petrin Tower yang menyerupai mini Eiffel itu pun sudah terlihat menyembul dari balik pepohonan hutan gundul. Dengan bersemangat kami kembali mendaki melewati hutan dengan vegetasi pepohonan empat musim yang telah gundul dan tumpukan dedaunan berwarna coklat di bawahnya, serta lumut-lumut hijau yang menyelimuti akar-akarnya. View yang sungguh cantik, bagi aku orang tropis yang hanya pernah melihat hutan pohon jati di pulau Jawa! Dan pendakian kami pun tidak sia-sia. Sampai di atas, tepat di area terbuka di depan Strahov Monastery, disuguhkan lukisan alam yang sangat cantik! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatan-jembatan nya terpampang bak lukisan di depan mata. Tak lupa juga Prague Castle yang berdiri anggun di atas ketinggian ikut mempercantik pemandangan itu. Rasanya kata-kata saja sulit untuk mendeskripsikan keindahannya. Sembari ternganga takjub, aku bergumam... "I'm falling in love with this city for sure!". Bahkan Paris pun masih kalah cantik dibandingkan dengan view yang tersaji di depan mata ini. Speechless deh!




Rupanya perjalanan belum selesai. Untuk mencapai Petrin Tower masih harus naik lebih tinggi lagi, bisa melalui rute landai Jalan Salib yang sering digunakan para jemaat gereja, atau melalui rute shortcut curam namun lebih singkat. Karena malas buang-buang waktu, akhirnya kami pilih shortcut dengan tanjakan curam itu. Dan taraaa.... sampailah kami di puncak bukit Petrin, di ketinggian 327m. Dari atas bukit ini, jika kita mau melihat keseluruhan pemandangan kota Praha 380' tanpa terhalang ranting-ranting pepohonan gundul, bisa memanfaatkan fasilitas Petrin Tower dengan tiket masuknya Kč105 atau sekitar €4. Dari menara setinggi 63,5m dengan 299 anak tangga ini, pengunjung bisa dengan leluasa menyaksikan pemandangan cantik Praha. Tapi ya berhubung aku ini backpacker dengan budget terbatas, sayang rasanya uang Kč105 dihabiskan hanya untuk naik ke menara. Toh aku masih bisa menyaksikan Praha dari atas sini, meski terhalang rimbunnya ranting pepohonan. Ya nggak apa-apa lah, mending duitnya buat beli makan siang nanti. Hehe...
Puas jalan-jalan di taman sekitar Petrin Tower, kami pun turun melalui jalur landai yang panjang berkelok-kelok menuju ke arah Lesser Town tapi dari sisi yang berbeda. Jalanan yang menurun membuat langkah kaki ini lebih cepat dibanding saat berangkat tadi. Yaiyalah ya... Sampai di Lesser Town, aku teringat untuk membeli kartu pos dan mengirimkannya ke beberapa sahabat di Indonesia. Namun, cuaca sedang tidak ramah sore itu. Hujan pun turun saat aku sedang sibuk menulis kartu pos didepan sebuah mailbox. Yaaahhh.... semoga si kartu pos yang sedikit lepek basah itu nanti sampai dengan selamat ke Jakarta, Bekasi, Manado, dan Jambi. Hehe...
Kehujanan, kedinginan, lapar, plus persediaan uang sudah mulai menipis. Menyusuri jejeran cafe di sepanjang Malá Strana, berniat untuk ngopi demi menghangatkan diri, tapi koq ya semua harganya nggak bersahabat sama kantong backpacker kere macam kami ini. Segelas kopi dibanderol Kč100-150, belum lagi cemilan sebangsa cake maupun pastry nya. Walaaaah.... sisa uang Kč300 ini masa mau dihabiskan untuk sekedar ngopi sih? Nggak rela rasanya. Masih dengan kedinginan bersedekap, aku dan Michelle mencari-cari plang hijau dengan tulisan M emas. Karena kalau nggak salah ingat kemarin aku lihat ada Mc.D disini. Dan benar saja, beberapa meter didepan kami terlihat plang si M emas berlatar hijau itu! (di Eropa, warna Mc.D bukan merah melainkan hijau). Dengan persepsi, dimanapun juga harga segelas kopi di Mc.D maupun Mc.Cafe pasti lebih manusiawi ketimbang di cafe-cafe pinggir jalan lainnya tho? Ramainya suasana didalam resto cepat saji itu menunjukkan kebenarannya. Kami memesan segelas Ledová čokoláda (hot chocolate with cream), segelas Coffee Americano tanpa gula (favoritnya Michelle), dan sepotong Cheese Cake. Total semuanya hanya Kč155 alias hanya sekitar €6 saja, dan jangan salah... ukuran gelas kopi nya bukan yang small, melainkan yang segede bagong! Kami saja sampai bengong saat menerima orderan kami, benar-benar murah untuk segelas kopi seukuran besar begini. Di negara lain di Eropa biasanya segelas kecil kopi seharga €1,5 tapi disini hanya €2 segelas gede. Dijamin deh, backpacker kere sekalipun nggak akan kelaparan disini asal nemu Mc.D hahaha :D
Iseng-iseng mata jelalatan ke menu tempting Mc.D yang terpampang. Dan wow... ternyata ada menu paket yang sangat murah! Hanya seharga Kč199 alias €8 untuk 2 buah Burger, 2 buah French Fries, 6 Nuggets, dan 2 Soft Drinks. Beneran gila nggak tuh harga? Aku dan Michelle pun saling nyengir, jadilah kami memesan menu paket jumbo itu, untuk lunch dan dinner sekalian. Maklum dari pagi kami hanya makan Lay's sekantong dan beberapa croissant. Dan men-skip makan siang pula. Akhirnya kami melahap nugget dan fries malam itu sebagai menu makan malam terakhir kami di Praha. Masih ada sisa 2 burger, kami simpan untuk sarapan besok pagi. Hehe... Pokoknya kalau hari-hari terakhir backpackingan itu selalu terselamatkan oleh Mc.Donalds maupun Kolonel Sanders KFC deh... Mereka ini ngertiin banget kalau budget para traveler kere ini sudah mulai menipis.
Hujan reda, perut kenyang, kaki pun sudah mulai lelah hasil naik turun bukit. Sambil menghitung sisa recehan Krone di dompet, kami berjalan pulang ke hostel untuk packing dan beristirahat. Masih ada sisa uang yang cukup untuk jajan Sate Ayam Praha dan seporsi Goulash untuk lunch besok. Aaaahhh.... bahagia rasanya traveling di negara serba murah ini. Bahkan dengan budget pas-pasan pun kami tidak pernah kelaparan, malah selalu jajan nggak karuan. Alhasil timbangan sepulang dari liburan musim dingin ini pun naik 2kg! Hahaha :D
Akhir kata... Perjalanan ku selama 4 hari 3 malam di Praha itu hanya menghabiskan dana sekitar €220. Dengan penjabaran sbb:
# Tiket pesawat PP Köln-Prague & Prague-Rotterdam = €125
# Hostel 3 malam = €36
# Biaya makan, transport, jajan, souvenir, dll = +/- €60
Nantikan cerita perjalananku lainnya ya... :)
(hints: next post is about somewhere in Spain - Hungary - and Belgium)
Salam Backpacker!!

Wednesday, April 24, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 2)

Terbangun dari tidur dengan kepala super berat serasa dipakein bando beton, akibat si 'sex on the beach' semalam (baca postingan sebelumnya). Hari kedua di kota cantik di jantung benua Eropa, aku berencana untuk mengeksplore isi kota dengan berjalan kaki. Ya, kota Praha tidaklah terlalu besar untuk ditaklukkan dengan sepasang kaki berbetis kencang seperti kakiku ini. Namun sisa-sisa hangover masih menghantui saat dengan malasnya aku merangkak keluar dari bunk bed tempatku tewas tadi malam! :D

Masih jam10 pagi, dengan santai aku dan teman-temanku mengambil posisi favorit di bar Belushi's yang baru buka. Posisi favorit kami berempat adalah di meja deretan paling depan, tepat di depan main stage. Rasa lapar sehabis cocktail party semalam membuat kami memutuskan untuk kembali makan Flying Pigs porsi jumbo seperti kemarin, ditambah dengan Wedges Fries dan salad. Tanpa tedeng aling-aling, kami melahap tulang-tulang rusuk bakar itu hingga tak bersisa. Dan baru sadar ternyata banyak bule-bule di sekitar kami yang memandang takjub kearah empat gadis Indonesia berbadan mini dengan porsi makan kuli ini. Hehehe... Memang sih, dibandingkan dengan menu sarapan para bule itu, menu kami memang bisa dibilang nggak tahu diri. Masih pagi koq ya bisa-bisanya menyantap porsi jumbo Pork Ribs! Tapi ya begitulah orang Indonesia tho? Makan kudu nampol pooolll.... :p

Tepat tengah hari, kami keluar hostel untuk memulai penjelajahan dengan tujuan pertama adalah Prague Castle. Namun sayang, sarung tangan ku ketinggalan di kamar. Jadilah teman-temanku pergi jalan duluan ke arah Vltava river bank, sementara aku kembali masuk ke hostel untuk mengambil sarung tangan. Maklum, suhu musim dingin seringkali membuat badan menggigil nggak karuan jika tidak memakai perlengkapan perang yang hangat. Keluar dari hostel, aku sudah tidak melihat teman-temanku lagi di jalanan. Berbekal peta, aku menyusuri jalanan cobbled stone di area Odborů, mencoba menemukan ketiga temanku yang ternyata jalannya cepat juga. Setelah ngubek-ngubek gang dan jalanan di Odborů sampai ke jembatan Most Legii, akhirnya aku menyerah dan memutuskan jalan sendiri. Toh nanti kami pasti akan bertemu di Prague Castle juga bukan? Jadi ya nggak masalah kalau kali ini terpisah dari mereka.
Matahari pagi di kota Praha

Menyusuri pinggiran sungai Vltava menuju Charles Bridge, aku berjalan di trotoar tepi sungai yang siang itu ramai oleh wisatawan pejalan kaki. Aku perhatikan, semua orang berpakaian dengan warna-warna gelap. Entah itu hitam, abu-abu, biru dongker, ataupun coklat. Sekilas seolah mereka memakai mantel yang sama saking warna nya yang monoton semua. Jarang sekali ada yang memakai outer clothes atau coat dengan warna terang alias ngejreng. Sekalinya ada, sudah pasti yang memakai adalah orang Asia bermata sipit. Hehe... Entah kenapa, setelah aku perhatikan memang benar bahwa ras kulit kuning bermata sipit selalu berani tampil dengan warna cerah dan style yang sedikit lebih 'catchy' ketimbang orang-orang Eropa itu sendiri. Contoh, aku menemukan dua sejoli bermata sipit jalan-jalan di kota Praha yang notabene jalanannya nggak bisa dibilang mulus itu -yang full cobbled stone- bisa-bisanya si cewe pakai boots high heels runcing sekitar 15cm dan pakai stocking jala plus rok setengah paha loreng-loreng. Masalah gitu? Ya kalau bukan saat winter dan jalanan mulus sih ya nggak masalah. Cuma nggak bisa ngebayangin aja gitu, di suhu musim dingin yang terkadang minus ini, bisa aja ya pakai stocking jala yang bolong-bolong itu. Hehehe... nggak kenal sama masuk angin kayanya. Tapi aku acungi jempol buat style nya orang Asia yang unyu-unyu itu. Kalau bukan karna sentuhan warna-warna pakaian orang Asia, pasti pemandangan di Eropa akan sangat membosankan dengan seliweran manusia berbaju hitam atau abu-abu. (ssttt.... aku pun kini ketularan doyan baju warna gonjreng lho! hihi...)
Charles Bridge dengan latar belakang Mala Strana
 Menyusuri Charles Bridge di siang hari terasa sungguh berbeda dengan malam hari. Siang itu suasana jembatan tetap seramai malam, namun yang membedakan adalah di siang hari banyak terdapat street artist, baik pengamen maupun pelukis jalanan. Tak lupa juga para pedagang kaki lima penjual kartu pos. Hmmm... aku koq lebih suka suasana malamnya ya. Terasa lebih mistis dan damai kalau malam.
Saat menyeberangi Charles Bridge, terlihat beberapa kerumunan disekitar sebuah patung. Patung seorang Santo berukuran kecil itu ditempatkan di sebuah jeruji berukir, yang di sekitarnya banyak tergantuk gembok-gembok cinta. Penasaran aku ikut mendekat ke gerombolan manusia yang tampak mengantre tersebut. Dengar punya dengar ternyata ada kepercayaan yang mengatakan kalau kita mengusapkan tangan kita ke patung maka akan enteng jodoh bagi yang jomblo dan langgeng bagi yang berpasangan. Haha... Percaya? Gak tahu deh ya... aku sih ikut mencoba saja karena kepalang tanggung mengantri. (eh tapi beneran lho manjur! Terbukti sebulan setelah hari itu, aku beneran bertemu someone special! Hehe...)
Main street of Mala Strana
Di kejauhan, sudah terlihat sang Prague Castle yang berdiri kokoh diatas dataran tinggi Malá Strana. Aku bergegas menyeberangi jembatan dan mulai menyusuri jalanan Malá Strana yang menanjak itu, menapaki ratusan anak tangga satu persatu hingga mencapai gerbang utama Castle. Sampai di puncak tangga, sambil ngos-ngosan aku memandang sekeliling. Dan wow... Pemandangan dari atas sini sangat indah! Seluruh kota Praha berikut sungai dan jembatannya terlihat cantik dari atas sini.
Puas memelototi hamparan kota Praha, aku memasuki area Castle yang didepannya terdapat lapangan luas yang dikelilingi beberapa bangunan besar seperti museum dan post office. Sebelum memasuki gerbang utama Castle, aku berfoto bersama tentara penjaga yang berdiri tegap tanpa ekspresi di sisi gerbang. Meski digodain atau diledekin sekalipun mereka tetap tidak bergeming bak patung! Ganteng-ganteng tapi dingin! Hahaha...
ratusan anak tangga menuju Castle
benteng pembatas Castle
square di halaman depan Castle

Memasuki kawasan Castle, aku memandang takjub pada bangunan gothic-bohemian yang menjulang tinggi di depan mata. Arsitektur rumit yang sudah menghitam dimakan usia itu terlihat masih kokoh dengan gargoyle-gargoyle yang berdiri angkuh di tiap-tiap sudut menaranya. Ya, Gargoyle! Salah satu icon favoritku pada bangunan kuno di Eropa, anjing-anjing serigala bertampang menyeramkan itu terlihat keren dan cool di mataku. Aku kelilingi bangunan Castle itu satu kali dan kemudian ikut mengantri untuk masuk ke dalam Cathedral nya. Bagian dalam Cathedral sih menurutku sama saja dengan cathedral-cathedral lainnya, menakjubkan dengan interior klasik dan rose windows. Namun bagian luar bangunannya lah yang paling indah. Bangunan batu yang penuh dengan bentuk-bentuk rumit itu sangat indah dengan warna pastel kelabu yang menghitam, menandakan usianya yang telah berdiri selama ratusan tahun. Puas menelusuri setiap jengkal Prague Castle, aku melangkah ke halaman belakang Castle dimana terdapat beberapa museum dan cafe di gang-gang kecil. Maksud hati mau ngopi sebentar di sebuah cafe mungil di sudut jalan, namun ternyata cafe nya tutup. Sial! Padahal dinginnya sore itu betul-betul menggigit. Aku pun kembali ke halaman utama Castle dan duduk di sebuah bangku sambil melihat pertunjukan drama kelahiran Yesus didepan Cathedral. Kebetulan pas lagi duduk disana, ketiga temanku datang dari arah depan Castle, dan akhirnya menemukanku. Jadilah kami bersama-sama kembali.
Gerbang utama Castle
Pintu depan Cathedral
detail yang rumit pada bangunan kastil
the cool gargoyles!! :D
halaman belakang kastil
bagian dalam Cathedral
patroli penjaga

Matahari musim dingin tenggelam dengan cepat. Jam 5 sore saat suasana sudah hampir gelap, kami turun menuju ke pusat kota, bermaksud untuk mencoba arena Ice Rink di dekat Old Town Square. Namun terlebih dahulu mampir ke John Lenon Wall yang terletak di Grand Priory Square, Malá Strana. Dinding yang penuh coretan dan graffiti ini dulunya di tahun 1980 merupakan dinding biasa yang digambari wajah John Lenon dan beberapa lyric lagu The Beattles. Dan kemudian belakangan menjadi dinding simbol Love & Peace graffiti dimana anak-anak muda Czech bebas menuangkan inspirasi dalam bentuk coretan di dinding itu. Hmmm... Tak ada yang menarik sih sebenarnya dari dinding itu, hanya sebuah gambar wajah John Lenon yang di depannya dipasangi lilin dan bunga-bunga, entah maksudnya apa. Mungkin untuk mengenang sang musisi tersebut.
Praha saat senja, dengan bulan menggantung diatasnya :)
suasana Old Town malam hari
Kembali menyeberangi Charles Bridge menuju ke Old Town Square, melewati puluhan toko-toko souvenir, aku mencoba melongok sebentar ke beberapa toko. Rata-rata harga souvenir seperti magnet kulkas dan gantungan kunci relatif sama seperti di kota-kota lain di Eropa, sekitar €3/pcs. Banyak kulihat souvenir Matrioska dan Telur-teluran, yang notabene aku tahu itu aslinya berasal dari karya seni Rusia. Namun para pedagang di Ceko mengklaim bahwa Matrioska aslinya dari Ceko. Yaiyalah secara dulunya kan Ceko juga bagian dr Rusia saat namanya masih Uni Soviet! Haha... Nggak mau tertipu ah! Beli Matrioska nya nanti saja kalau beneran menginjak tanah Rusia, beli di negara asalnya. Amin...
salah satu sudut cantik di Praha :)
Tiba di Ice Rink, kamipun mulai asyik meluncur diatas es. Ehmmm.... lebih tepatnya hanya salah satu dari kami yang mampu meluncur mulus diatas es. Ya, hanya Asri yang jago main ice skating. Sedangkan aku, Grace, dan Michelle cuma mampu terseok-seok dan jago gelendotan di pagar Ice Rink! hahaha... Tidak dikenakan biaya untuk masuk arena Ice Rink, hanya perlu menyewa sepatu skate seharga Kč50. Puas bermain ice skating (plus jatuh bangun) kami kembali ke hostel dengan terlebih dahulu mampir jajan ke christmas market. Kemudian aku dan Grace memutuskan untuk menikmati suasana malam di Wenceslas Square, sementara Asri dan Michelle kembali nongkrong di Belushi's Bar untuk bercocktail ria. Jadilah aku duduk-duduk  selonjoran di depan National Museum yang megah itu sampai jam 12 malam, menikmati indahnya malam di kota Praha, sambil berbagi cerita dan mimpi bersama Grace. Well... Praha memang cantik dan bikin betah!
Asri asyik meluncur, aku asyik gelendotan pagar! Haha :D
_to be continue_
Here we are front of Prague Castle :)

Thursday, April 11, 2013

A Lil' Step to... Czech Republic (Part 1)

Guncangan turbulence membangunkanku dari posisi tidur yang sangat tidak nyaman itu. Duduk di window seater pesawat German Wings, dengan kepala terkulai kesamping membuat leher terasa sakit seolah minta dipakaikan gips! Perlahan-lahan aku menggerakkan leher yang kram dengan tengok kanan dan kiri. Di sebelah kanan, teman-temanku terlihat masih asyik tertidur dengan posisi sama tak nyamannya seperti yang aku alami tadi. Saat aku menengok ke kiri, mata kantuk ku langsung terbuka lebar BYARRR...!!! Awan putih yang berserakan perlahan membuka sebuah ruang pandang yang berlatar belakang warna hijau berbukit-bukit. Cepat-cepat kuambil kameraku dan bersiap memotret apapun itu yang terlihat di bawah sana. Perlahan aku mulai melihat hamparan bukit-bukit nan hijau, dengan semburat warna orange dan pastel di beberapa sudut, yang tak lain berasal dari warna atap dan dinding rumah penduduk di pedesaan. Di beberapa bagian masih terlihat sedikit salju sisa kemarin, serta kabut tipis yang mengambang di hutan yang sudah mulai gundul daunnya. Pemandangann lahan pertanian di perbukitan dengan warna hijau segar itu benar-benar indah! Daerah pinggirannya saja sudah bagus seperti ini, bagaimana dengan pusat kotanya?! Senyum-senyum aku mengagumi keindahan sebuah negara di jantung benua Eropa ini dari ketinggian beberapa ratus meter diatas tanah, dan tak sabar rasanya ingin segera menginjakkan kaki di negara kelima ku, Czech Republic atau yang lebih gampang diingat dengan nama Republik Ceko!
Welcome to Prague! :)
Masih dalam sesi winter trip, kali ini aku mampir ke salah satu negara di Central Europe yang konon katanya sangat cantik dengan sisa-sisa peninggalan masa Bohemian nya. Ya, Czech Republic! Bekas negara jajahan Uni Soviet ini yang dulunya bernama Ceko-Slovakia, kini telah merdeka dan berdiri sendiri menjadi Republik Ceko. Konon dulunya di negara inilah pusat kejayaan masa Bohemia berada. Dapat dilihat dari sisa-sisa bangunan dan kastil yang kental bergaya gothic-bohemian, negara dengan ibu kota Prague/Praha ini membuatnya masuk dalam daftar 'wajib kunjung' ku.
Jadilah aku bablas mampir kesana setelah menghabiskan 3 hari di Jerman. Dengan perjalanan kurang lebih selama satu jam dengan pesawat, kini tibalah aku di sebuah kota cantik bernama Praha!
Keluar dari Václav Havel Airport Prague, aku langsung mencari counter penjual tiket untuk naik bus/tram/metro/train. Disini, satu tiket berlaku untuk keempat jenis transportasi darat tersebut, dengan sistem timer yang akan dihitung sejak saat kita memasukkan tiket ke mesin stamp. Aku membeli tiket single trip seharga Kč32 (€1 = CZK/Kč 25) yang berlaku selama 90 menit sejak tiket tersebut divalidasi. Dari airport aku naik bus menuju Dejvická untuk kemudian berganti metro menuju pusat kota Praha. Ada yang unik dari salah satu stasiun metro di Praha, yaitu stasiun Karlovo Náměstí. Dimana terdapat eskalator dengan panjang dan tinggi yang luar biasa, seolah eskalator itu membawa kita dari perut bumi menuju permukaan tanah. Benar-benar panjang dan curam! Sampai-sampai nggak terbayang deh kalau harus mendaki eskalator ini saat mati lampu atau rusak. Alamaaak... Like a stairway to heaven! Haha.... 
Kali ini aku menginap di St. Christopher Mosaic House, sebuah hostel dengan reputasi yang bagus di rating hostelworld.com yang terletak di dekat stasiun metro Karlovo Náměstí. Letaknya yang strategis di daerah Odborů, ditambah dengan fasilitas bar dan restaurant Belushi's, plus harga yang bersahabat di kantong backpacker, membuat hostel ini selalu ramai didatangi para traveler dari berbagai belahan bumi. Untuk Female Dormitory Room, saat itu aku mendapat harga Kč250/malam untuk 2 malam pertama, dan Kč400 untuk malam terakhir. Mengingat saat itu adalah peak season yang bertepatan dengan liburan Natal, maka tak heran harganya sedikit lebih mahal dibanding bulan-bulan lainnya. Saat check in, para tamu yang menginap diberi privilege discount voucher untuk makan dan minum di Restaurant dan Bar disitu. Lumayan dapat diskon 25% untuk makan, dan pay 1 for 2 untuk minuman. Jadilah kami berempat makan siang di Belushi's Bar dengan menu super kalap! Kenapa kalap? Ya karena porsi makanan disini sangat besar dengan harga yang relatif murah dan nggak bikin kantong kere. Rasa? Jangan ditanya... Kalau rasanya tidak nikmat, bagaimana mungkin kami berempat mampu menghabiskan 4 porsi besar Pork Ribs, Flying Pigs, dan Jumbo Burger! Hasilnya? Hanya tersisa tulang belulang di piring dan empat anak manusia yang duduk terkulai kekenyangan! Hahaha... Kesemua makanan itu ternyata hanya menguras sekitar €22 saja dari kantong kami, yang artinya tak sampai €6 per orang. Cukup murah bukan untuk kualitas makan di restaurant dengan porsi sekelas kuli? ;)

Before :)

And after :))
Prague at night

salah satu sudut kota Praha
Malam pertama di Praha, kami berempat menyusuri seisi kota yang saat itu meriah gemerlap dengan lampu-lampu natal di setiap sudut kota. Menyusuri jalanan cobbled stone dari Odborů ke Wenceslas Square, aku hanya terbengong-bengong mengagumi tata arsitektur kota yang sangat klasik, rapi, dan bernuansa hangat. Bahkan gang-gang kecil pun terlihat cantik di malam hari dengan penerangan lampu jalan berwarna kuning hangat. Saat tiba di Wenceslas Square - Nové Město, kembali mulut ini ternganga ketika menengok ke kanan, terlihat sebuah bangunan besar bergaya klasik dengan kubah nan anggun. Ternyata itulah National Museum, yang berdiri kokoh disebuah dataran tinggi diujung Wenceslas Square. Sebenarnya sulit sekali menggambarkan keindahannya dengan kata-kata, jadi aku hanya akan menuliskannya dalam sebuah kata "Mengagumkan"!

National Museum
Di ujung kiri Wenceslas Square ada sebuah pasar natal yang sayangnya telah tutup saat aku tiba. Disana berdiri sebuah pohon natal raksasa setinggi sekitar 15m yang dijadikan tempat foto laris manis malam itu oleh sebagian besar pengunjung. Dari Wenceslas aku menyusuri gang-gang kecil yang dipadati dengan toko souvenir di kanan-kiri jalan, menuju ke sasaran utama malam itu yaitu Old Town Square - Staré Město. Malam itu suasana Old Town Square sangat ramai, hingga susah sekali mendapatkan spot foto yang bagus. Semua orang sepertinya ingin menghabiskan malam natal disana. Kerumunan manusia terlihat berkumpul di depan Astronomical Clock, menunggu jam kuno tersebut berdentang setiap satu jam sekali. Aku pernah mendengar bahwa banyak pengunjung yang penasaran terhadap si jam yang tersohor ini, namun akhirnya harus menelan kekecewaan akibat atraksi jam yang dibawah ekspektasi. Hmm... aku sendiri sebenarnya juga penasaran, ingin melihat seperti apa sih atraksi jam kuno yang menjadi icon kota Praha tersebut. Namun aku sudah bersiap-siap juga untuk menyaksikan kemungkinan terburuknya sekalipun. Dan benar saja! Tepat pukul 8 malam, sang Astronomical Clock itu berdentang dengan beberapa boneka kayu yang menari pelan di atasnya. Lalu? Ya sudah, itu saja ternyata! Hahaha... Aku pun tertawa terbahak-bahak seusai pertunjukan itu, melihat banyak wajah-wajah turis yang terbengong-bengong dengan suguhan atraksi yang... hmmm... biasa saja itu. Beneran deh, masih bagusan atraksi jam yang di Plaza Senayan kalau menurutku sih! hehehe...


The famous Astronomical Clock
Prague Christmas Market
Merry Xmas!!! :D
Old Town Square malam itu dipenuhi dengan jejeran kios-kios pasar natal bernuansa merah. Sangat semarak dengan hadirnya sebuah pohon terang dan ribuan lampu penghias taman. Seolah tak ada satu space pun yang terlewatkan dari lilitan lampu kerlap-kerlip itu. Dan menyusuri pasar malam tidak afdol rasanya kalau tidak mencicipi sesuatu, ya toch? Aku pun mencoba si pastry tradisional Trdelnik dan Crepes berisi Nutella. Puas cicip-cicip, lanjut lagi menyusuri si kota tua menuju ke arah The Famous Icon of Prague - Charles Bridge! Keindahan Charles Bridge ini akan selalu ditemukan disetiap kartu pos Praha. Sebuah jembatan cantik yang membelah sungai Vltava, dengan jejeran patung-patung klasik di sepanjang bahu jembatan, menghubungkan Old Town Staré Město dengan Lesser Town Malá Strana tempat sebuah kastil tua bertengger di atas bukitnya. Dan lagi-lagi mulut ini mengucap "Wow..." saat menapakkan kaki di atas jembatan cantik tersebut. Menyusuri sebuah jembatan paling cantik di sebuah kota paling cantik di jantung benua Eropa, rasanya.... betul-betul sebuah anugerah! Berdiam diri aku menikmati setiap jengkal Charles Bridge malam itu, sementara ketiga temanku lainnya sedang asyik foto-foto. Aku lebih memilih menikmati malam dingin itu dengan berjalan pelan dan khidmat di sepanjang Charles Bridge, di malam natal, mem-flash back kembali segala peristiwa dalam hidup, dan akhirnya mengucap syukur sepenuh hati atas semua berkat dan anugerah yang aku terima hingga detik itu. Damai sekali rasanya...
Vltva riverbank view from Charles Bridge
Prague Castle view from Charles Bridge
Malam semakin dingin dan berkabut. Udara winter bulan Desember memaksa kami untuk segera kembali ke hostel untuk mencari kehangatan. Kami berempat memutuskan untuk nongkrong sebentar di bar Belushi's dengan beberapa gelas bir dan seember cocktail. Apa? Seember? Ya, seember! Kami memesan cocktail 'Sex on the beach' yang merupakan campuran dari Vodka, peach, cranberry, serta orange juice berukuran sekitar 2.5ltr yang disajikan dalam goldfish-aquarium berlogo Bacardi. Cara minumnya pun unik, dengan menggunakan pipet/sedotan sepanjang setengah meter, yang dijamin bakal bisa bikin cepet tipsy! Hehehe... Rasanya? Enak! Dan murah, hanya €20 dan dibagi berempat. Jadilah kami menghangat malam itu. :p


This is it... Sex on the beach cocktail in a BIG glass :D
Yummieee....

And finally... One Girl Down!!! :))
_to be continue..._

Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post