Menjadi orang Indonesia yang sebelumnya kurang begitu mengeksplore Nusantara, membuat saya kadang merasa inferior saat bertemu warga negara asing yang dengan fasih menceritakan setiap jengkal keindahan alam Indonesia. Maka, sejak kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu, saya bertekad dalam hati untuk lebih banyak menjelajahi kepulauan Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Dan kesempatan berpetualang pertama saya sejak kembali, adalah mengeksplore Banyuwangi, baik kuliner maupun alamnya. Perjanjian tidak tertulis dengan orang tua saya untuk mengerem hobby jalan-jalan pun kembali saya langgar dengan mengeksekusi selembar tiket PP tujuan Surabaya. Kali ini saya pergi bersama sahabat saya, Asri beserta keluarga sepupunya. Total 5 orang; 4 dewasa dan 1 anak-anak. Lho, backpackingan koq bawa anak kecil? Saya awalnya sempat sangsi, tetapi kesangsian saya akhirnya rontok saat bertemu keluarga kecil ini di Bandara International Juanda Surabaya pada hari H.
Flight to Surabaya
Penerbangan saya menggunakan Garuda Indonesia rute Denpasar – Surabaya, tiba di Juanda sore hari. Sedangkan Asri dan rombongan datang dari Jakarta, dengan waktu kedatangan yang sama. Agenda sore itu adalah wisata kuliner di Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Banyuwangi. Kami dijemput sopir yang kami sewa, dan langsung diantar menuju Rawon Setan yang terkenal seantero negeri. Namun sayang, Rawon Setan nya masih tutup, saat itu baru pukul 17:00, dan baru buka pukul 18:30. Akhirnya kami beralih ke depot rawon lain yang tak kalah terkenalnya, gara-gara pernah masuk di acara kuliner salah satu stasiun tv swasta di Indonesia. Namanya Rawon Kalkulator. Kenapa dinamakan kalkulator? Karena tempat ini mempunyai ciri khas unik yaitu pegawainya mampu menghitung bill pembeli dengan sangat cepat dalam hitungan detik, berapapun banyaknya pesanan pembeli. Kecepatan dan ketepatan menghitungnya itulah yang membuat rawon ini dijuluki kalkulator. Rasa? Lumayan enak meski untuk sambal nya menurut saya masih kurang cetar membahana. Hehehe… Selesai berurusan dengan rawon, kami mulai icip-icip berbagai gerobak makanan yang tersebar di sekitar Taman Bungkul, Surabaya.
Rawon Kalkulator
Pentol / Cilok
Lumpia
Rujak soto khas Banyuwangi
Kali ini kami menggunakan jasa tour operator khusus backpacker untuk menghandle perjalanan eksplorasi kami, yaitu operator amazingbanyuwangi(dot)jigsy(dot)com. Dengan harapan segala urusan transportasi dan surat-surat perijinan serta tiket masuk wisata akan lebih mudah terorganisir dan kami hanya tinggal menikmati keindahan alam saja. Karena rencana kami adalah tidak hanya mengeksplorasi Banyuwangi saja, namun juga underwater Pulau Menjangan di kawasan Bali Barat. Mengingat juga keterbatasan waktu yang kami miliki (4 hari) makanya kami sepakat memakai jasa TO ini. Namun ekspektasi kami rupanya menemui kendala dan berujung pada kekecewaan dan hilangnya kepercayaan kami pada TO tersebut. Kronologisnya akan tertuang dalam keseluruhan cerita ini.
Dari Surabaya kami start jam 22:30 menuju Banyuwangi, dan malam itu kami pun tidur di mobil selama perjalanan. Tiba di desa Jajag, Banyuwangi pukul 05:00 pagi dengan kondisi cuaca hujan deras. Kami yang masih tertidur pulas tiba-tiba dibangunkan oleh sopir untuk pindah mobil (lagi). Sebelumnya kami sudah di oper mobil pada saat di Surabaya, dan ini adalah kali kedua kami harus pindah mobil dan mengusung barang bawaan kami. Sungguh tidak nyaman tentu saja. Dan itu sudah membuat kami sedikit mengerutkan dahi atas keprofesionalan TO yang kami pakai tersebut. Untung saja sopir kami berikutnya ini, Pak Syam, sangat baik dan sabar. Beliau mengantar kami ke tempat tujuan wisata dan juga berwisata kuliner di Banyuwangi. Pak Syam ini sangat saya rekomendasikan jika anda ingin mengeksplore kota Banyuwangi dan Jawa Timur. (no.telp nya bisa minta ke saya) ;)
Pak Syam, sopir baik hati yang telah mengantar kami melihat indahnya Banyuwangi
Tiba di Banyuwangi kami berhenti sebentar untuk sarapan dan langsung menuju Teluk Hijau atau Green Bay, di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Pemandangan sepanjang perjalanan didominasi persawahan dan perkebunan buah naga, karena memang daerah Banyuwangi Selatan ini terkenal sebagai sentra penghasil buah naga. Medan perjalanan semakin menantang saat mulai memasuki kawasan desa Sukamade, dimana kondisi jalanan yang rusak berlubang dimana-mana. Sepertinya untuk kesini memang paling cocok pakai mobil Jeep atau Trooper deh. Namun hal tersebut tidak membuat kami menciut karena kami dihibur oleh pemandangan hijau nan teduh sepanjang jalan.
Tiba di Pantai Rajegwesi jam 10 pagi, kami langsung memulai trekking ke Green Bay sejauh kurang lebih 3km dengan rute sedikit menanjak. Kami bisa saja menyeberang ke Green Bay menggunakan perahu nelayan atau menyewa jasa ojek. Tapi kurang seru donk ya kalau tidak mencoba medan sesungguhnya dengan kaki sendiri. Kami pun berjalan melintasi bukit dan sesekali bertemu monyet-monyet liar yang bergelantungan di pepohonan. Pantai pertama yang kami temukan adalah Stone Shore atau Pantai Batu. Sesuai namanya, tidak ada pasir di pantai ini melainkan batu-batu pipih (pebbles) memenuhi sepanjang garis pantai. Deburan ombak nya cukup besar dan dengan ganasnya menghantam batu-batu karang di pinggir pantai. Sangat tidak direkomendasikan untuk berenang disini!
Desa Sukamade
Stone Shore
Green Bay
Kami melanjutkan perjalanan menuju Green Bay yang terletak bersebelahan dengan Stone Shore. Tiba di Green Bay, suasana pantai langsung berubah. Wajah pantai yang semula terkesan keras dan tidak ramah karena dipenuhi bebatuan dan karang, kini berganti ramah dengan hamparan pasir lembut dan air laut hijau kebiruan. Memang ombak masih tergolong besar, namun oke untuk sekedar mencelupkan diri di air laut, asal tidak nekat berenang. Di pantai ini juga terdapat sebuah air terjun setinggi kurang lebih 8m, namun hanya mengalirkan air saat musim hujan saja. Jadi setelah puas bermain air laut, kita bisa membasuh diri di air terjun ini. Segar sekali rasanya, meski kami hanya menjumpai aliran air yang sangat kecil mengalir turun dari tebing batu. Haha…
Kami memilih menggunakan kapal nelayan jenis jukung untuk perjalanan kembali ke Rajegwesi, dengan membayar tarif Rp.25.000/orang. Cuaca mendung dan berangin sore itu sukses membuat kami terombang-ambing dahsyat didalam perahu nelayan yang sempit itu. Antara ngeri dan seru bercampur jadi satu setiap kali ombak menghempas dan membasahi seisi perahu. Mendebarkan sekali!
Serunya terombang-ambing naik Jukung
Kami lanjut menuju ke Pulau Merah, di kecamatan Pesanggrahan – Banyuwangi. Pulau Merah ini sebenarnya adalah bukit hijau bertanah merah di tengah laut, yang bisa dicapai jika air sedang surut. Pulau ini akan terlihat merah terutama saat matahari tenggelam, karena pantulan cahaya matahari yang menimpa bebatuan dan tanah di pulau itu merefleksikan warna merah yang indah. Itulah mengapa pulau ini disebut dengan nama Pulau Merah. Kami tidak berlama-lama di pulau ini, sehingga kami tidak sempat menyaksikan sunsetnya.
Keceriaan anak-anak menemukan kerang
Pulau Merah
Para pencari kerang di Pulau Merah
Saat air sedang surut, bisa menyeberang ke Pulau Merah
Saya dan Asri di Pulau Merah
Malam itu kami menginap di sebuah hotel di tepi pantai, Hotel Baru Dua Beach. Untuk paket backpacker yang kami bayarkan, hotel ini termasuk lumayan karena punya nilai plus yaitu terletak di pinggir laut. Deburan ombak pun langsung menghantam tembok pagar hotel. Dan bonusnya adalah sunrise indah di pagi hari dapat dengan mudah dinikmati dari balkon hotel. Jangan bandingkan dengan hotel berbintang, karena hotel ini adalah tipe akomodasi simple dengan fasilitas minimalis. Kami sih tidak masalah, kan cuma dipakai untuk tidur saja, karena siang hari waktu kami habiskan di luar.
Sunrise dari balkon hotel
Ombak yang menghantam langsung dibawah balkon hotel
Esok harinya, kami seharusnya menyeberang ke Pulau Menjangan untuk acara snorkeling seharian. Namun kami menerima kabar kurang mengenakkan dari TO (yang disampaikan melalui Pak sopir) yang menyatakan bahwa kami tidak bisa ke Menjangan hari itu. Alasannya ada demonstrasi para nelayan di Menjangan yang menolak kunjungan wisatawan dari Banyuwangi. Kecewa? Tentu. Tapi TO akhirnya mengganti dengan trip ke Pulau Tabuhan, sebuah pulau kecil tidak jauh dari Menjangan. Ya okelah, daripada tidak melakukan apa-apa. Kami pun berangkat ke Pulau Tabuhan dengan perahu yang rupanya disewa dadakan oleh pak sopir atas permintaan si TO. Jika dalam paket tertera bahwa peralatan snorkeling lengkap dan makan siang telah disediakan oleh TO, kenyataan nya tidak! Kami membeli sendiri makan siang kami dan menyewa alat snorkeling sendiri. Suasana hati kami (khususnya saya!) pun mulai berubah bete. Bayangan indah bisa menikmati underwater Menjangan pun kandas, bahkan masih harus mengeluarkan biaya untuk snorkeling dan makan siang, yang seharusnya ditanggung oleh TO.
Tetapi keindahan pantai Pulau Tabuhan lumayan berhasil menyurutkan emosi kami. Jernihnya air hijau turquoise dan pasir putih nan bersih mampu mengembalikan mood yang berantakan. Meski pemandangan bawah air nya kurang beragam, baik karang maupun ikan nya.
Tengah hari, sang nelayan yang mengemudikan kapal kami memberi kabar bahwa kami bisa masuk ke kawasan Menjangan dengan membayar tambahan biaya Rp.700.000. What??? Awalnya kami heran, koq pihak TO bilang bahwa kami tidak bisa masuk ke Menjangan karena ada demo, tapi nelayan ini bilang bisa. Kami pun penasaran dan melakukan tawar menawar. Harga disepakati dan kami meluncur penuh semangat ke Pulau Menjangan. Kan sayang kalau sudah jauh-jauh kesini tapi tidak ke Menjangan yang notabene terpampang tak jauh di depan mata.
Asyik main air
Pulau Tabuhan, 01 June 2015
(Photo courtesy by Reginald)
Wandering the island
(captured by Asri Zefanya)
Tiba di Menjangan, kami wajib lapor ke penjaga pulau dan membayar tiket masuk sebesar Rp.25.000/orang. Kami pun meminta penjelasan dari petugas penjaga pulau mengenai kabar ditutupnya Menjangan hari itu karena ada demo nelayan. Ternyata kabar tersebut tidaklah benar. Yang benar adalah, ikatan travel agent di Bali melakukan mogok mengirimkan wisatawan asing ke Menjangan dikarenakan adanya kenaikan tarif tiket masuk menjangan bagi turis asing. Sedangkan wisatawan lokal tetap dapat mengunjungi Menjangan dengan tarif yang tidak berubah. Nah, berarti kan si TO yang menghandle perjalanan kami itu tidak menyaring berita secara benar, malah dengan seenaknya sendiri merubah-rubah itinerary yang kami susun. Kami sudah bayar full untuk tujuan Menjangan ini ke TO, tapi malah dialihkan ke Pulau Tabuhan. Hingga akhirnya kami sewa perahu sendiri untuk ke Menjangan. Kan curang namanya!
Di Pulau Menjangan, kami asyik ber-snorkeling di sekitar dermaga pulau. Underwater nya WOW! Meski cuma di pinggir-pinggir, kualitas terumbu karang dan keragaman ikan nya mampu bikin mulut ternganga. Bayangkan jika menyelam, pasti akan jauuuuuh lebih indah lagi! Tak bosan rasanya bercengkrama dengan teman-teman bawah laut itu. Mungkin kami akan masih terus bermain di air selama berjam-jam jika rombongan ubur-ubur tidak genit mencium-cium kami. Haha… Ya, banyak sekali ubur-ubur kecil yang ikut bercengkrama dengan kami sampai kami pun menyerah gatal-gatal disengat ubur-ubur mini itu.
Pulau Tabuhan & Semeru as the background
just enjoying the clear calm water
we made it to Menjangan!
Kami tidur siang dulu ya :)
exploring Menjangan underwater
teman bawah laut kita
(photo courtesy by Reginald)
Gabriel Given, si bocah petualang
Menjangan underwater (photo courtesy by Reginald)
Sore hari, dalam perjalanan kembali ke hotel, kami disuguhi indahnya gunung Semeru yang menjulang dengan puncak Mahameru berselimut awan. Sungguh megah dan indah alam Indonesia ini.
Semeru berselimut salju... eh, awan! :p
Tiba di pantai, ternyata ketidakberuntungan kami masih berlanjut. Pak sopir memberitahukan bahwa kami harus pindah hotel dikarenakan pihak TO hanya membooking hotel Baru Dua Beach selama 1 malam saja, dan mengalihkan kami ke hotel lain di malam berikutnya. Apa lagi ini?! Dalam paket yang kami bayarkan, tidak ada disebutkan bahwa kami akan ditempatkan di dua hotel berbeda, namun kini saat sudah disini kami harus pindah-pindah hotel begini! Sangat mengecewakan. Emosi di kepala yang sudah ditahan-tahan sejak pagi plus kebanyakan menelan air laut saat snorkeling tadi, membuat tensi darah saya naik dan kemarahan pun meledak. Pihak TO tidak mau menemui saya dan hanya menanggapi complain saya melalui telepon, itu pun berakhir secara tidak baik-baik. Saya complain mengenai kunjungan ke Menjangan yang seharusnya dapat dilaksanakan namun dengan sengaja dialihkan ke Pulau Tabuhan sehingga mengakibatkan kami membayar tambahan biaya sebesar Rp.600.000 untuk bisa sampai di Menjangan. Namun bukannya meminta maaf atas ketidak-transparan mereka sebagai TO, saya malah dituduh menyalahi aturan dan melakukan perjalanan illegal ke Menjangan. Lho? Illegal darimana? Kami kanmelapor dan membayar bea masuk Menjangan saat tiba di pulau tersebut kepada pihak resmi penjaga pulau/hutan (ranger) di sana! Koq bisa-bisanya saya disebut pengunjung illegal? TO bahkan menantang saya untuk membawa masalah ini ke pihak polisi. Lho? Saya ini kan cuma customer yang complain karena merasa kecewa tripnya berantakan dan kecewa karena harus menambah biaya cukup besar untuk sampai Menjangan. Saya tidak ada niatan sedikit pun untuk bawa-bawa ke jalur hukum. Saya hanya minta pertanggung jawaban pihak TO atas ketidaknyamanan yang kami tanggung. Kami pun tidak meminta full refund. Uang bukanlah masalah besar bagi kami, namun tanggung jawab dan keprofesionalan lah yang kami butuhkan dalam kasus ini. Namun tidak ada itikad baik permintaan maaf atau nada yang menenangkan dari pihak TO. Padahal, jika saja mereka mau berlapang dada dengan mengakui kelalaian mereka dan meminta maaf, kami pun pasti akan menutup masalah ini baik-baik. Percakapan telepon bernada tinggi selama setengah jam tersebut akhirnya berakhir dengan kesepakatan TO akan mengembalikan uang senilai Rp.50.000/orang sebagai ganti rugi gagal nya trip ke Menjangan melalui organizer mereka.
Sesampai di Hotel Baru Dua Beach, dimana kami diharuskan angkat kaki dan pindah ke hotel Berlian Abadi, kembali terjadi hal yang sangat mengecewakan kami. Kami dikenakan charge untuk late check out karena kami tiba di hotel jam 18:00. Hello??? Ini kesalahan siapa kah? Dari awal kami tidak diberitahukan bahwa kami akan dipindahkan ke hotel lain. Dari awal kami tidak diberitahu itinerary pasti mengenai jam berapa kami harus kembali ke daratan setelah snorkeling ke Pulau Tabuhan. Dan sesuai itinerary paket yang telah kami setujui, hari itu kami seharusnya kembali ke daratan di sore hari. Plus, kami kan bukan booking open trip, kami ini bayar harga PRIVATE TRIP dimana seharusnya kami berhak menentukan perjalanan kami sendiri, tidak terikat dengan ketentuan peserta lain karena memang trip ini hanya untuk kami ber-5 saja! Kemarahan yang sempat reda pun kembali meledak di kepala saya. Saya menelepon kembali TO yang berakhir pada ditutupnya telepon saya oleh TO pada saat saya masih berbicara. Apakah hal tersebut sopan? Apakah sebagai seorang Travel Organizer yang menyediakan jasa melayani pariwisata, dapat berkelakuan seperti itu? Saya bertahun-tahun bekerja di dunia pariwisata baik outbound maupun inbound, haram hukumnya meng-insulting customer sedemikian rupa! Tetapi perlakuan yang saya terima kali ini benar-benar membuat saya kecewa dan sedih, ternyata masih ada pihak-pihak yang secara tidak professional mengelola bisnis pariwisata di Indonesia!!
Saat kami berniat membayar biaya late check out, pihak hotel mengambil jalan tegas dengan memberitahukan ke TO bahwa late check out charge kami akan dibebankan ke TO sebagai penalty akan kelalaian TO mengorganisir perjalanan kami sesuai ketentuan. Tak hanya itu, pihak hotel pun menyatakan akan mem-black list TO dari daftar klien mereka, karena kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Kami bukan korban pertama rupanya! Hm… Lesson learned. Lain kali harus betul-betul berhati-hati dalam memilih TO. Salah pilih bisa berakibat bete selama liburan.
Akhirnya untuk meredakan emosi, kami berwisata kuliner di Banyuwangi. Kami makan Rawon, Rujak Soto, dan Tahu Petis. Perut kenyang, emosi pun reda, hehe… Tiba di hotel, kami hanya punya waktu 3 jam untuk beristirahat sebelum memulai perjalanan ke Gunung Ijen. Ya, tujuan utama kami ke Banyuwangi memang untuk melihat Ijen Blue Fire (Api Biru) di kawah Ijen. Jam 23:30 kami start menuju Ijen, dilanjutkan dengan hiking selama 1 jam 45 menit menuju puncak Ijen. Pintu pos Ijen dibuka pada pukul 01:30. Kami dengan semangat mulai mendaki jalanan menanjak yang makin lama makin tajam. Kami ber-5 (4 dewasa dan 1 bocah umur 5 tahun) ditemani seorang guide. Seperti saya sebutkan di awal, kakak sepupu Asri membawa anak nya yang masih berumur 5 tahun, bernama Gabriel Given. Anak kecil ini menjadi satu-satunya peserta pendakian termuda. Given bukan sembarang anak kecil. Dia telah mendaki beberapa gunung di pulau Jawa sejak berumur 3 tahun. Sebut saja Papandayan, Salak, Gede, dan Bromo. Tak hanya itu, dia juga sangat suka berarung jeram di sungai-sungai berarus deras seperti Citarik, Citatih, dan Sungai Baru di Bogor. Mengarungi laut di Teluk Kiluan Lampung untuk melihat lumba-lumba dan memancing di laut lepas pun sudah pernah dialaminya. Meski usianya tergolong masih sangat muda, namun jiwa adventure sudah melekat di dirinya, terbawa dari hobby ayahnya yang memang suka blusukan di penjuru Nusantara. Saya merasa beruntung bisa mengenal keluarga petualang ini. Dan selama beberapa hari bersama mereka, tak sekalipun saya lihat Given menangis rewel dalam perjalanan. Dia selalu ceria, cenderung error (cekikikan sendiri) malah kalau kecapean hahaha! Dan malam itu pun saya dibuat terkesima melihat bocah 5 tahun itu berjalan mendaki Ijen setinggi 2.443m, dari Paltuding sampai ke bibir kawah Ijen, tanpa di gendong! Saya yang orang dewasa ini saja ngos-ngosan dan kewalahan.
Keluarga petualang :)
Reginald, Isty, & Given
Like father like son!
naik naik ke puncak gunung
Sampai di puncak Ijen, kami disarankan untuk memakai masker ala penjinak bom di film-film (bukan masker dokter) karena asap belerang yang pekat dapat berbahaya bagi yang tidak kuat menghirupnya. Kami melanjutkan sisa 800m perjalanan menuruni kawah dengan trek yang cukup ekstrim berbatu, menuju ke jantung kawah dimana kami dapat menyaksikan Blue Fire. Nah di trek ini, Given baru di gendong, karena medan nya sangat berbahaya bagi anak-anak, yang sebenarnya sangat tidak disarankan untuk ikut turun ke kawah. Perjalanan yang seolah tak berujung itu saya gambarkan seperti perjalanan Frodo melewati Emyn Muil ke Mordor dan menuruni Doom Creek di Orodruin. Berbatu, terjal, berasap pekat, dan penuh bahaya. Hehe… (Maafkan fantasi LOTR saya yang berlebihan ini).
Kawah Ijen
jurang menganga yang tertutup kabut
foto Blue Fire paling lumayan yang berhasil didapat
(captured by Asri Zefanya)
Sampai di dasar kawah, terlihat kobaran si Api Biru / Blue Fire itu menjilat-jilat setinggi kurang lebih 5m ke udara. Sungguh maha dahsyat alam ciptaan Tuhan. Ternyata api biru tak hanya ada di kompor Ibu di rumah, di kawah Ijen ini, fenomena alam Blue Fire merupakan yang terbesar di dunia. Banyak peneliti, fotografer, dan pecinta alam berbondong-bondong kesini untuk menyaksikan fenomena alam tersebut. Kami bertahan selama kurang lebih 15 menit di dasar kawah untuk mencoba mengambil foto Blue Fire. Namun angin bertiup tak menentu mengakibatkan dasar kawah dipenuhi asap belerang pekat yang menyebar dengan cepat. Kami pun diinstruksikan untuk cepat-cepat kembali ke atas. Mendaki bibir kawah memerlukan tenaga ekstra dan ketajaman mata. Salah-salah menapak, bisa terpeleset dan berakhir fatal. Sungguh saya seolah merasakan perjuangan Frodo dan Sam Gamgee dalam misi mereka memusnahkan The One Ring! Hehe… :D
Dead valley
sulfur mining porter
Jam 05:00 kami tiba di puncak kawah dan beristirahat sejenak sambil makan tahu petis dingin. Meski dingin dan tidak crispy lagi, tetap saja terasa enak karena rasa lapar bercampur lelah dan dinginnya udara. Setelah mengumpulkan stamina kembali, kami pun mulai menuruni gunung untuk kembali ke Paltuding. Kami melalui jalan setapak berkabut yang menurun. Dan ketika angin bertiup menyibak kabut, kami disuguhi pemandangan indah luar biasa! Jurang membentang di depan kami dengan latar belakang gunung-gunung berselimut awan. Gunung Meranti dan Raung terlihat berdiri anggun dengan puncak yang disinari semburat cahaya matahari. Hanya decak kagum dan rasa syukur yang terucap. Alam ciptaan Tuhan sungguh luar biasa indahnya! Ini merupakan pendakian gunung pertama dalam hidup saya. Dan feel yang saya dapatkan membuat saya berniat mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia. Next? Rinjani! :)
menuruni Ijen
Selamat pagi, Indonesia!
Gabriel Given, bocah 5 tahun pendaki gunung-gunung di tanah Jawa!
lukisan tangan Tuhan
admiring the view
“Climb the mountain not to plant your flag, but to embrace the challenge, enjoy the air and behold the view. Climb it so you can see the world, not so the world can see you.” _ David McCullough Jr._
Ketika masih kecil dulu, saat tiba masa-masa natal, saya dan anak-anak kecil lainnya selalu bersemangat nonton film kartun di Minggu pagi. Karena di tv sering ditayangkan film-film kartun bertema natal dengan figur seorang Santa gendut berbaju merah yang baik hati. Ya, itulah Santa Claus, atau yang sering disebut Sinterklas oleh orang-orang Indonesia. Masa kecil saya memang tidak dilalui dengan tradisi menaruh kaus kaki di perapian dan menemukan kado dibawah pohon natal. Namun sosok Santa Claus gendut, Rudolf si rusa, serta segala hal tentang Magic Christmas from the North Pole telah memenuhi benak dan imajinasi saya sejak kecil hingga dewasa.
Pagi hari saat menemukan sepatu telah terisi penuh Pepernoten
Sampai ketika saya hijrah ke Belanda pada 2012 silam. Saat memasuki bulan November, sudah mulai terlihat keriaan sebuah tradisi menyambut sosok pria tua berjenggot panjang berjubah merah yang mereka sebut Sinterklaas (dengan dua huruf A pada 'klaas'). Okay... Hold on... What is this?! Kalimat tersebutlah yang meluncur dari mulut saya saat keluarga angkat saya sibuk berceloteh tentang rencana perayaan hari Sinterklaas itu. Awalnya saya bingung, kenapa warga Belanda sudah mulai sibuk menaruh sepatu didepan perapian sejak pertengahan bulan November. Kemudian diseluruh penjuru negeri banyak terpampang wajah si Bapak Tua berjenggot dan berkuda putih serta para partnernya yang hitam dan berbaju warna-warni. Seluruh toko mulai dipenuhi dengan yang manis-manis, mulai dari cookies bulat kecil bernama Pepernoten dan Kruidnoten, Coklat Alfabet (Letter Chocolate), Speculaas, Chocolate coins, Marzipan, dan segala kenikmatan yang dapat memicu gigi berlubang! Heran mendengar obrolan sehari-hari anak-anak di sekolah yang semua membicarakan tentang kado dari Sinterklaas. Dan kagum saat melihat keluarga Belanda yang berkumpul didepan perapian dengan sepatu sebelah serta semangkuk wortel dan jerami, menyanyikan lagu-lagu tradisional untuk mengundang Sinterklaas. Oh wow... Apakah ini gerangan? Sebuah hal baru yang sangat menggelitik untuk dicari tahu!
bagaimana cara membedakan keduanya :)
Pepernoten, Marzipan, Candy... hmmm...
Akhirnya, setelah dijelaskan panjang lebar oleh keluarga angkat saya, serta berbekal semalaman menelusuri Google, saya pun paham siapa itu Sinterklaas. :)
Singkat cerita, akan saya jelaskan perbedaan Sinterklaas dan Santa Claus (yang notabene merupakan satu sosok bernama asli Saint Nicholas yang berperan penting dalam keceriaan dunia per-natal-an anak-anak. hehe).
Santa Claus; Atau Saint Nicholas, di dataran America, digambarkan sebagai sosok pria gemuk berjenggot putih dan berpipi tembam, memakai baju merah berkerah putih, topi merah, ikat pinggang hitam, bersepatu hitam, terlihat membawa sekarung hadiah, naik kereta salju yang dikemudikan oleh rusa kutub dan salah satunya yang berhidung merah bernama Rudolf, tinggal di kutub utara bersama istri dan para kurcaci/peri. Dia mempunyai pabrik mainan di kutub utara dan bekerja sepanjang tahun membuat list nama anak-anak yang baik diseluruh penjuru dunia, serta menyiapkan mainan untuk kado natal mereka. Santa Claus akan membagi-bagikan hadiah untuk anak-anak pada malam natal tanggal 24 Desember. Dia akan turun melalui cerobong asap dan meletakkan kado natal di bawah pohon natal.
de zak van Sinterklaas
Sinterklaas (dalam tradisi Belanda); Yang juga adalah Saint Nicholaas, digambarkan sebagai sosok pria tua jangkung (tidak gemuk) berambut dan berjenggot panjang putih, memakai jubah serta topi bishop merah dengan lambang salib di atasnya, membawa tongkat emas dengan bentuk melingkar di atasnya, memakai cincin batu Ruby merah, serta membawa buku besar nan tebal yang berisi catatan nama anak-anak di seluruh penjuru negri. Sinterklaas datang berlayar dari Spanyol ke Belanda lewat laut dengan menggunakan steamboat. Dia akan mengendarai kuda putih berkeliling Belanda untuk membagi-bagikan hadiah kecil sebelum tanggal 5 Desember (yang merupakan hari ulang tahun nya) dan akan memberikan kado utama yang spesial tepat pada tanggal 5 Desember.
Dalam menjalankan misinya, Sinterklaas dibantu oleh sekelompok Zwarte Piet (Pete Hitam) yang digambarkan berwajah hitam, rambut keriting hitam, berbaju warna-warni, serta berpenampilan ceria. Mengapa para asisten Sinterklaas ini hitam? Apakah mereka ini para budak Africa yang bekerja untuk sang Santa? (seperti yang banyak digunjingkan belakangan ini mengenai unsur racism dan slavery dalam tradisi Sinterklaas) Oh tentu tidak... Wajah Piet ini hitam lantaran mereka sering keluar masuk cerobong asap untuk turun ke perapian dan menaruh hadiah di dalam sepatu anak-anak. Konon, jika anak-anak nakal, si Piet ini akan memukul mereka dengan sapu yang terbuat dari ranting pohon willow (disebut Roe di Belanda) dan memasukkan anak yang nakal kedalam karung untuk kemudian dibawa ke Spanyol bersama rombongan naik steamboat.
intocht van Sinterklaas di Amsterdam
CSinterklaas event di Rotterdam
De Hoofdpiet alias kapten rombongan Zwarte Piet
Oke, kembali ke tradisi yang di Belanda. Jadi, di Belanda (serta di Belgia, Luxembourg, dan Perancis bagian utara) tradisi Sinterklaas ini masih kental dirayakan. Dimulainya hari-hari perayaan Sinterklaas ditandai dengan tibanya sang Sint dari Spanyol dengan naik Steamboat. Biasanya Sint datang pada hari Sabtu di pertengahan bulan November. Kedatangan Sint di dermaga kota-kota di Belanda, disambut gembira oleh masyarakat yang berkerumun untuk melihat sang Sint berparade di atas kuda putihnya, diiringi dengan para Zwarte Piet yang berjoget serta membagi-bagikan permen dan cookies ke masyarakat. Anak-anak akan menyanyikan lagu-lagu seperti Sinterklaas Kapoentje, Zie ginds komt de Stoomboot, Sinterklaasje Bonne3x, dan masih banyak lagi lagu lainnya.
De zak van Sinterklaas (karung berisi hadiah dari Sint)
I got it last night! Chocola Letter; C for Cescliciouz ;)
Selama kurang lebih 3 minggu, Sinterklaas akan sibuk mengunjungi sekolah-sekolah dan rumah sakit, serta membagi-bagikan hadiah kecil di malam hari. Sebelum tidur, anak-anak akan meletakkan sebelah sepatu mereka didepan perapian (atau di depan heater radiator jika di rumahnya tidak ada perapian) beserta semangkuk wortel dan jerami. Kemudian akan bernyanyi bersama orang tua mereka. Keesokan paginya, mereka akan menemukan sepatu mereka terisi penuh dengan pepernoten, coklat, marzipan, dan sebungkus kecil hadiah dari Sinterklaas. Kegiatan ini dilakukan 2-3 kali seminggu, hingga tiba tanggal 5 Desember yang merupakan hari ulang tahun Sinterklaas. Maka pada tanggal 5 Desember malam harinya, yang disebut dengan Sinterklaasavond atau Pakjesavond, Anak-anak percaya Sinterklaas akan memberikan kado utama yang spesial untuk mereka. Malam itu, saat anak-anak sedang gelisah menanti, akan terdengar bunyi gedoran di pintu "BAM! BAM! BAM!" Yang kemudian diikuti oleh seruan anak-anak yang bersemangat membuka pintu dan menemukan sekarung hadiah teronggok didepan pintu, atau selembar surat yang berisi petunjuk untuk menemukan sekarung hadiah didalam rumah (yang konon telah disembunyikan oleh Zwarte Piet). Dan jadilah malam itu malam spesial dimana sekeluarga berkumpul didepan perapian menyanyikan lagu Sinterklaas dan membuka sekarung hadiah. Hadiah-hadiah tersebut diperuntukkan tak hanya untuk anak-anak tapi juga orang dewasa (meski mereka tak lagi percaya pada keajaiban Sinterklaas) yang biasanya disertai dengan sebuah surat berisi puisi nasehat bagi si penerima hadiah.
Special family dinner on Pakjesavond (Dec 2012)
Anak-anak yang gelisah menunggu Sinterklaas :))
bolak-balik ngintipin jendela hehehe
Taraaaaa....
Sekarung hadiah pun mendarat secara misterius di depan pintu!
Kesibukan suasana buka kado pada Pakjesavond 2014
Sinterklaas dipercayai oleh anak-anak kecil yang berumur dibawah 10 tahun. Umumnya,saat mereka sudah beranjak besar, mereka akhirnya menyadari bahwa Sinterklaas hanyalah sebuah tradisi musim dingin dan bahwa segala misteri keajaiban Sinterklaas adalah tak lain peran para orang tua mereka sendiri. Memang, para orang tua dan dewasa lah yang berperan dalam kesuksesan tradisi Sinterklaas ini. Mulai dari menceritakan kisah Sinterklaas, menanamkan nasehat-nasehat melalui puisi yang dikirim Sinterklaas ke anak-anak, mengisi sepatu anak dengan pepernoten dan hadiah kecil, membuat skenario gedoran di pintu dan membeli sekarung hadiah untuk anak mereka, serta berakting layaknya mereka juga sangat antusias mendapatkan kado dari Sinterklaas. Tak lupa juga para sukarelawan yang telah berakting dengan sangat dramatisnya sebagai para Sinterklaas dan Zwarte Piet yang muncul di berbagai kota, televisi, sekolah, dan jalanan. Tanpa aksi mereka, tradisi Sinterklaas hanyalah cerita dongeng belaka.
Pada November 2012, saya beruntung bisa ikut serta dalam 3 moment penting: 1. intocht van Sinterklaas (arrival of Sinterklaas) di Amsterdam
2. Dinner with Sinterklaas sambil berlayar di atas steam boat di sepanjang sungai Nieuwe Mass Rotterdam!
3. Clubbing with Sinterklaas (Couchsurfing event) di Rotterdam. Intocht van Sinterklaas (National arrival) adalah event dimana Sinterklaas tiba pertama kalinya di Belanda setelah berlayar dari Spanyol dengan menggunakan steam boat bersama rombongan Zwarte Piet. Kedatangan Sinterklaas ini dirayakan dengan parade, musik, serta hingar bingar masyarakat dan anak-anak yang antusias melihat sang Sint keliling kota dengan menunggang Amerigo, si kuda putih piaraannya. Setelah national arrival di Amsterdam, biasanya diikuti dengan local arrival di kota-kota berpelabuhan lainnya, sebagai simbol kedatangan Sinterklaas di berbagai penjuru Belanda.
Kemudian, seminggu sebelum Sinterklaasavond, saya berkesempatan ikut sailing dinner di atas kapal steam boat nya Sinterklaas. Tentu saja sang Sint dan Zwarte Piet pun turut hadir dan memeriahkan malam itu. Saya beserta rombongan dihibur dengan nyanyian dan jokes serta makan malam yang meriah. Tak lupa juga dapat bingkisan kecil dari Zwarte Piet yang berisi Chocola Letter, jeruk Mandarin, serta Pepernoten.
Dua hari menjelang Sinterklaasavond, komunitas Couchsurfing Rotterdam mengadakan event di sebuah nightclub dengan mengundang Sinterklaas dan Zwarte Piet untuk memeriahkan acara. Rombongan mereka tiba dan memeriahkan dance floor dengan tingkah kocak Zwarte Piet dan banyolan lucu dari Sint. Well, ternyata Sinterklaas tak hanya mengunjungi sekolah dan rumah sakit. Nightclub pun tak luput dari kunjungannya. Haha...
Lieve Zwarte Piet! :D
Zwarte Piet bagi-bagi Pepernoten
Sinterklaas parade
Salah satu anak kecil yang antusias memakai kostum Zwarte Piet
tampaknya semua partisipan memakai kostum Zwrte Piet semua ya :)
Tiga tahun merayakan Sinterklaas, membuat saya jatuh cinta pada tradisi unik ini. Meski saya bukan lagi anak-anak, saya pun ikut-ikutan antusias dan deg-degan tiap kali menengok ke perapian di keesokan harinya, untuk menemukan kejutan kecil apa lagi yang dikirim 'Sinterklaas' (atau sebenarnya host family saya) untuk saya hari ini. Terlebih saat tanggal 5 Desember tiba. Wah, senyum mengembang sepanjang hari, membayangkan akan ikut terlibat dalam 'Skenario Gedoran Pintu' serta membuka kado special di malam harinya! :)
Poem letter dari Sinterklaas :')
beberapa kado dari Sinterklaas (2012)
Bedankt voor cadeautjes, Sinterklaasssss!!!
Saat tulisan ini dibuat, tanggal 6 Desember 2014, Sinterklaas sedang dalam perjalanannya kembali berlayar di atas steamboat menuju Spanyol. Dan kemeriahan festival perayaan Sinterklaas pun berakhir sudah. Sampai jumpa tahun depan ya, Sint!! ;)