Wednesday, September 19, 2012

A Lil' Step to... Rotterdam!

Day 1

Rotterdam merupakan kota terbesar kedua di Belanda setelah Amsterdam. Kota yang termasuk kedalam wilayah Belanda Selatan atau Zuid-Holland ini terkenal dengan Port of Rotterdam nya yang merupakan pelabuhan terbesar di Eropa. Ciri khas kota ini yang membuatnya berbeda dengan kota-kota lainnya di Belanda adalah dari segi arsitektur kotanya yang boleh dibilang paling modern dan bahkan hampir tidak mencerminkan 'Belanda' sama sekali. Hal ini dikarenakan pada 1940 pada saat World War II, Jerman dibawah pimpinan Hitler mengebom Rotterdam dan meratakan seluruh bangunan cantik khas Belanda nya. Hanya ada beberapa bangunan saja yang selamat termasuk City Hall atau Stadhuis. Kemudian dibangunlah wajah Rotterdam yang baru dengan konsep modern dan lively style. Kini Rotterdam dipenuhi dengan bangunan serba modern dan gedung-gedung pencakar langit, dan tak ketinggalan sebuah jembatan yang menjadi ciri khas kota Rotterdam yaitu Erasmusbrug.
Kartu sakti untuk naik public transportation di Netherlands
Pagi itu aku sudah bersiap menuju pusat kota Rotterdam dengan berbekal peta dan kamera. Namun cuaca pagi itu sedang kurang bersahabat. Gerimis ringan yang ditingkahi dengan hembusan angin kencang nan dingin membuatku terpaksa memegang payung erat-erat saat menunggu tram di halte Bergse Doorpsstraat. Suhu pagi itu 15'c, membuatku merapatkan syal dan jaket disela gemeletuk gigi yang kedinginan. Tak lama tram pun tiba. Berbekal OV Chipkaart, sebuah kartu seperti BCA Flash yang berfungsi sebagai alat pembayaran public transport yang bisa di top-up, aku memasuki tram dan menempelkan kartu di alat pemindai. Eh? Tp koq kartunya nggak mau terdetect ya? Padahal menurut hostdad, OV ini sudah ada isinya beberapa euro. Hmm... aku pun cuek saja masuk ke tram dan duduk, sambil berharap semoga nggak ada petugas yang datang memeriksa. Hehe... Aku jadi teringat temanku, Aji, yang pernah beberapa tahun tinggal di Belanda. Dia bilang, dia hampir selalu nggak bayar saat naik tram, dengan cara menyelinap diantara orang-orang yang naik. Walah, aku sih ndak berani begitu. Ini pun diem-diem nggak bayar karena ternyata chipkaart nya nggak ada isinya. Hehe...

tram
 

Sampai di Rotterdam, aku turun di Weena Station. Pas turun, celingak-celinguk bingung mau kearah mana, akhirnya aku menerobos hujan rintik-rintik dan berteduh di emperan sebuah gedung sambil membaca peta. Tujuan pertamaku kali itu adalah kawasan Lijnbaan Street, sebuah shopping street paling terkenal di Rotterdam. Aku berjalan menuju Stadhuisplein, melewati sebuah gedung antik megah yang sangat besar, inilah The City Hall atau Stadhuis. Namun hujan pagi itu menghalangi lensa kameraku untuk mengabadikan Stadhuis dengan apik. Hmm... Yasudahlah, besok saja. Toh hari ini kan memang niatnya cuma ke sekitaran Centrum saja.
Tempat pertama yang aku tuju adalah Rotterdam Info, sebuah Tourist Information Centre di ujung jalan Coolsingel. Suasana hangat menyambutku saat memasuki ruangan luas bernuansa hijau itu. Bukan keramahan staff nya yang membuat hangat, melainkan heater di ruangan itu mampu menghangatkan jemari yang sudah kedinginan ini. Aku mengambil beberapa free map dan mencoba fasilitas 3D map yang dengan kecanggihannya mampu menunjukkan kita lokasi-lokasi yang ingin kita ketahui. Tak lupa aku juga menanyakan dimana counter terdekat untuk top-up OV chipkaart. Kemudian aku menuju ke metro station terdekat dan mereload OV ku. Nah, sekarang tenang deh bisa naik tram tanpa was-was lagi. hehe...

3D Map @ Tourist Information Center

Lijnbaan Street
Hari itu aku habiskan hanya diseputaran Centrum karena memang agendaku hari itu khusus untuk shopping. Dimulai dari Kruis Kade, Korte Lijnbaan, Lijnbaan Street, Hoogstraat, hingga Coolsingel. Kesemua jalan itu merupakan pedestrian walking yang dipenuhi dengan berbagai butik dan toko disepanjang sisinya. Mulai dari butik yang berkelas hingga yang pocket friendly. Tak lupa pula menyusuri Beurstraverse, sebuah area shopping underground. Di Beurstraverse ini pula aku menemukan toko The Sting yang sedang obral koleksi musim panasnya. Aku pun mendapatkan sebuah baju dengan harga hanya 1euro saja! hehe... murah bukan?

Beurstraverse

Mini dancing fountain @ Beurstraverse
 Lelah keliling centrum dengan beberapa tentengan plastik belanjaan, akupun istirahat sejenak di sebuah lahan kecil dengan pohon rindang di tengah-tengah pertokoan Lijnbaan. Disekitar pohon ini banyak sekali burung merpati atau dove. Beberapa orang sedang asyik memberi makan burung dengan keripik kentang. Aku mencari-cari di tasku sebuah biskuit, dan kemudian ikut sibuk memberi makan burung-burung liar itu. Dan wow... puluhan burungpun datang mendekat dan mengerubutiku. Asyiiik...  Menyenangkan sekali!
Play with doves :D
Day 2

Pagi ini cuaca sedang bersahabat, matahari bersinar cerah disertai angin dingin sepoi-sepoi. Aku melangkahkan kakiku bersemangat menuju halte tram untuk kembali menuju pusat kota Rotterdam. Jika kemarin aku hanya belanja seharian, kali ini aku hanya akan sightseeing dan mengeksplore kota seharian.


City Hall of Rotterdam
Penjelajahan dimulai dari Stadhuisplein yang berisi jejeran cafe open air, menuju ke sebuah patung yang tepat berada diseberang City Hall. Kemudian menuju City Hall/Stadhuis yang ternyata hari itu tutup karena weekend. Jadi hanya bisa mengagumi keindahan arsitekturnya dari luar saja. Disebelah Stadhuis berdiri sebuah bangunan tua yang ternyata Oude Postkantoor (Old Post Office). Dengan warna bangunan abu abu suram serta bentuknya yang besar dan kokoh, membuat penampakan gedung ini terlihat tua dan dingin. Masih di jalan Coolsingel, tepat diseberang gedung Beurs WTC, terdapat sebuah bangunan kotak berwarna krem dengan sebuah landmark berbentuk aneh. Mengapa aneh? ya karena bentuknya yang futuristrik menyerupai sesuatu berbau alien dari film Star Wars! Haha... si kotak krem itu bernama De Bijenkof. Lanjut menuju kawasan Hoogstraat dan berbelok ke kiri, untuk mencari letak Gereja St.Laurence atau Laurenskerk. Sepintas melongok kebawah, kearah Beurstraverse yang saat itu penuh oleh pengunjung, bertepatan dengan weekend dan cuaca bagus.
Oude Postkantoor / Old Post Office

'Star Wars Thing' disebelah De Bijenkof

Laurenskerk

Laurenskerk berdiri megah dengan menara jamnya yang sangat tinggi dan besar. Di puncak menara jam, berkibar anggun bendera provinsi Rotterdam berwarna Hijau-Putih-Hijau. Memasuki bagian dalam gereja ini, kembali aku terkesima oleh design interior yang sangat klasik. Dengan membayar tiket masuk seharga 1euro, aku bisa puas menikmati bagian dalam Laurenskerk. Harga tiket masuk untuk visit memang 1euro, namun jika ada exhibition maka harganya menjadi 5euro untuk dewasa. Sedangkan untuk naik ke atas Tower, tiketnya 3,5euro. Namun tower hanya dibuka untuk umum pada bulan April s/d Oktober saja.


Interior megah didalam Laurenskerk
Puas foto-foto, aku melangkahkan kaki menuju Openmarkt dibelakang gereja, tepatnya di jalan Binnenrotte. Pasar tradisional open air ini selalu buka pada weekend dan penuh pengunjung. Rata-rata barang yang dijual disini harganya miring. Mulai dari pakaian, sepatu, peralatan, makanan, sayur+buah, seafood, hingga bunga segar. The biggest flea market ini buka setiap selasa dan sabtu saja, dengan rata-rata pedagang yang berasal dari Turki dan Suriname, selain pedagang lokal warga Belanda itu sendiri. Dipasar ini juga aku melihat beberapa makanan yang menurutku sedikit aneh. Ada kios penjual kerang yang ramai dikunjungi para manula. Ada kios makanan Turki, yang menjual Baklava, Turkse Pizza, dan roti. Penjual keju khas Holland pun ada, dengan jejeran keju-keju kuning sebesar ukuran ban bajaj. Aku mencoba membeli Patat Fritessaus alias Frenchfries Mayo seharga 1,3euro. Hmmm... okelah rasanya, tapi aku masih penasaran dengan rasa frenchfries khas Belgia dengan lumeran keju cair diatasnya! Next time harus ke Belgia kalau mau cobain yg melted itu. hoho...
Witte Huis
Lanjut berjalan menuju kearah Blaak, langsung kelihatan dari jauh beberapa bentuk aneh berwarna kuning. Ya, itulah The Cube House atau Kijk Kubus. Sebuah hunian berbentuk aneh dengan model kotak-kotak yang disangga tiang beton. Akhirnya tercapai juga keinginan melihat langsung Kijk Kubus, setelah sebelumnya hanya tahu lewat liputan On The Spot di Trans7. Hehe.... Jika anda berniat mencoba menginap di sini, jangan khawatir. Jaringan hostel kenamaan Stayokay telah membuka fasilitas menginap di Cube House dengan kisaran tarif sekitar 32euro/person semalam. Didepan Kijk Kubus terdapat jejeran cafe ditepi kanal Oude Haven (Old Harbour), dimana tertambat beberapa perahu cantik nan tua. Tepat diseberang jalan, terlihat bangunan tua tinggi berwarna broken white, yang bernama Witte Huis. Office building ini konon dulunya adalah skycraper tertinggi pertama di Eropa pada masanya. Saat ini sih ketinggiannya yang hanya 45M itu sudah dikalahkan oleh bangunan-bangunan modern disekitarnya. Namun kesan antik tetap terlihat terutama dari atap bangunan Witte Huis ini.
Oude Haven (Old Harbour) with The Cube House behind
Melewati tepian Oude Haven, terlihat dikejauhan sebuah jembatan berwarna merah yang membelah sungai Nieuwe Maas (koq tiba-tiba jadi inget Banyu Mas ya? haha). Jembatan ini bernama Willemsbrug yang letaknya bersebelahan dengan the famous landmark of Rotterdam, Erasmusbrug. Kalau Willemsbrug berwarna merah, Erasmusbrug berwarna putih. Kedua jembatan ini sama-sama melintasi Nieuwe Maas menuju kearah bagian paling selatan kota Rotterdam. Di tepian Nieuwe Maas river yang dinamakan Boompjes, banyak terdapat bangku taman dan pedestrian walk yang nyaman untuk jogging. Juga ada ratusan tiang bendera dari berbagai negara, termasuk bendera Indonesia juga ada.
Willemsbrug

Erasmusbrug

Langkah kakiku kemudian menuju kearah Museumpark dengan melewati jalan Witte de Withstraat.  Jalanan ini penuh dengan galeri seni dan cafe. Bahkan begitu memasuki jalan ini, kita akan disambut dengan sebuah kalimat "in the future, everyone will be famous for 15 minutes." by Andy Warhol. Pada hari itu, kebetulan di sepanjang jalan ini sedang diadakan festival seni sehingga suasananya sangat ramai. Hingar bingar musik memenuhi atmosfer berbau bir yang berasal dari banyaknya beer staal dengan berbagai merk mulai dari Heineken sampai Bavaria. Berbagai kerajinan seni wooden art pun dipamerkan. Disela-sela cafe di jalanan ini, aku melihat beberapa coffeeshop dengan lambang daun ganja atau canabis. Iseng-iseng aku mendekat dan mencoba melongok kedalamnya melalui jendela. Suasana didalam toko suram. Tidak ada meja kursi layaknya tempat untuk menikmati kopi, hanya ada etalase berisi jejeran alat hisap shisha, dengan seorang penjaga laki-laki didalamnya. Bahkan terciup aroma asap yang sedikit 'eneg', dan ternyata itu adalah bau asap ganja. Beberapa pemuda kulit hitam berambut gimbal terlihat keluar masuk coffeeshop dengan menenteng beberapa lintingan rokok. Didepan pintu terdapat papan peringatan mengenai kebijakan toko yaitu: Harus menunjukkan ID Card saat masuk, Tidak untuk umur dibawah 18th, anak2-alcohol-pets dilarang masuk. Hmmm... jadi ini tho tempat jual ganja yang dilegalkan itu? Seperti kita ketahui bahwa di Belanda telah dilegalkan penggunaan ganja. Dan satu lagi, jangan sampai anda salah masuk ke coffeeshop saat ingin menikmati secangkir kopi. Karena coffeeshop di Belanda adalah istilah tempat penjualan ganja, bukan warung kopi secara harfiah. Makanya kalau mau ngopi-ngopi, carilah Cafe, jangan coffeeshop.

 
Diujung jalan Witte de Withstraat yang menuju ke Museumpark, ada sebuah gereja yang lumayan besar. Didepannya ada semacam cafe outdoor yang tengah ramai pengunjung. Yang membuatku berhenti adalah saat membaca papan menu yang terpampang di pagar. Menunya tertulis dalam bahasa Belanda, namun ada satu yang memakai bahasa Indonesia, yaitu menu "Sate Babi"!! Wow... surprising juga melihatnya, haha... Pasti nih kalau ada ketiga sahabatku si Angel-Abeth-Erna, mereka langsung menyerbu masuk untuk makan sate babi! :p
Tak jauh diseberang gereja, berdirilah sebuah museum seni bernama Boijmans Van Beuringen Museum. Bangunannya tinggi dan kokoh, dengan sebuah patung yang entahlah apa bentuknya di halaman depan. Hanya seorang yang berdarah seni abstrak tinggi yang bisa memahami bentuk patung tersebut. Aku melangkahkan kaki masuk, bukan untuk betul-betul masuk dan menikmati museum. Karena aku bukan tipe orang yang doyan memelototi hasil karya seni, apalagi yang abstrak. Aku iseng-iseng masuk ke halaman didalam hanya untuk melihat seperti apa sih museum seni di Eropa itu? Apakah sama seperti museum seni rupa di Jakarta atau tidak. Saat aku masuk, yang kutemukan hanya 4 orang saja di halaman luas itu. Seorang wanita yang sedang duduk santai sambil menelepon, seorang pria yang mondar-mandir dengan wajah bingung, dan seorang ayah dan anak balita yang sedang bermain didalam kerangkeng besi super besar. Hmmm... sepi sekali museum ini. Ternyata sama saja seperti di Indonesia, jarang ada yang berminat menghabiskan weekend di sebuah museum. hihihi...
salah satu patung abstrak di museum B.V.B
Kakipun rasanya sudah mau 'potel' setelah berjalan kaki keliling Rotterdam City selama kurang lebih 5jam. Sebelum pulang, aku sengaja mampir ke kawasan Chinatown didekat Stasiun Rotterdam Centraal. Tidak ada yang menarik disepanjang jalan West Kruiskade ini. Hanya jejeran resto chinese food dan toko-toko (ruko) khas pemukiman chinese. Yang menarik, nama-nama toko disini tidak menggunakan kata 'Shop' melainkan 'Toko'. Seperti contohnya Toko Alin atau Toko apalah gitu namanya. Lucu juga melihat jejeran nama-nama toko itu.
Suasana stasiun Rotterdam Centraal
Hari sudah sore, kakipun sudah menjerit minta lepas sepatu alias nyeker. Sebelum naik tram dari stasiun Rotterdam Centraal, aku menyempatkan diri masuk kedalam stasiun untuk sekedar melihat bagaimana suasana didalamnya. Namun stasiun ini masih dalam tahap renovasi atau apalah aku tak tahu, yang pasti kondisi bagian sampingnya sangat tidak nyaman. Kalau bagian dalamnya okelah, cukup nyaman dan informatif. Lengkap dengan layar petunjuk jadwal dan platform kereta. Bagian informasi center pun mudah ditemukan dan pelayanannya pun ramah. Hmmm... Kalau begini sih, nggak takut lagi deh besok pagi harus pergi ke Delft pakai kereta. Paling tidak aku sudah mendapat gambaran harus bagaimana besok pagi setibanya disini.
Oke deh, nantikan ceritaku tentang pengalaman pertama naik kereta api di Eropa ya, di postingan cerita selanjutnya. Ciao! ;)

Tuesday, September 18, 2012

Hello from Holland :)

Dinginnya udara pagi buta menyergapku saat kaki ini untuk pertama kalinya menjejak tanah Eropa. Well, bukan tanah sih lebih tepatnya. Melainkan pelataran beton tempat parkir Bandara International Schipol, Amsterdam. Lelahnya badan ini setelah menempuh 16 jam lebih penerbangan Jakarta-Amsterdam, seolah tiba-tiba lenyap saat menyadari dimana kini aku berada. Ya, aku sudah tiba di Belanda. Sebuah pencapaian dari mimpi masa kecil, dan sebuah awal dari petualangan-petualangan baru di sebuah benua yang sarat dengan keindahannya. Dan disinilah aku memulai hari-hari bebas stress ku. :)
JKT-AMS by KLM Royal Dutch Airlines

Aku tiba di Schipol International Airport tepat pukul 05:50 pagi. Saat di imigrasi, petugasnya (ganteng!!) dengan ramah bertanya perihal tujuan ke Belanda dan tinggal dimana. That's it! Simple dan hanya makan waktu 30 detik, lalu 1 lagi koleksi cap pun ditambahkan kedalam paspor hijau ku. Beresss... eits, tunggu dulu. Masih ada satu hal yang bikin deg-degan. Soal selusin bumbu dan dua kaleng sarden yang aku jejalkan kedalam koper, kira-kira musti di declare gak ya? Sempat ciut juga saat melihat kearah pintu keluar custom yang dijaga oleh bukan hanya 1-2 petugas, melainkan 7 sekaligus!!! Duh, piye iki kalau nanti ternyata disuruh bongkar koper gegara bawa terasi udang dan sarden? hmmm... beberapa detik bimbang dan galau, akhirnya aku memutuskan untuk dengan cuek dan sok cool nya melenggang anggun melewati ketujuh petugas yang gede-gede itu! Dan pheewwww.... Lolos juga dari pintu itu! Hehe... sebuah ketakutan yang berlebihan memang. :p

Hari itu aku dijemput oleh hostdad, keluarga yang akan aku tinggali nanti. Perjalanan menuju Rotterdam memakan waktu 45 menit dengan mengendarai mobil. Pemandangan sepanjang jalan tol adalah padang rumput dengan kabut tipis mengambang dipermukaannya. Sesekali melewati kincir angin atau Molen, yang bikin tangan gatal untuk mengambil kamera di tas dan menjepretkannya di sepanjang perjalanan. Namun tentu saja hal itu tidak aku lakukan, karena mengingat disebelahku ada hostdad yang sedang asyik bercerita ngalor-ngidul. Nggak sopan sekali kalau aku nya malah asyik foto-foto! hehe... Tahan dulu deh, kan masih ada setahun kedepan menikmati negeri kincir ini. ;)

Hari pertamaku di Belanda, tepatnya di Hillegersberg district -sebuah kota kecil di pinggiran Rotterdam- aku lalui dengan... Kedinginan! Well, padahal saat itu masih summer dengan suhu 16-20'celcius. Tapi bisa-bisanya aku menggigil didepan heater saat tengah hari bolong. Dasar body dari negara tropis, mungkin kaget diajak ke wilayah berudara dingin.
Saat udara menghangat di sore hari, aku diajak ke village centrum untuk melihat-lihat. Di pusat desa ini, berjajar toko-toko dan cafe. Namun yang membuatku heran adalah jam tutup toko yang rata-rata tutup pada jam 6 sore. Dengan jam buka toko yang tergolong siang, jam 11. Wow, enak sekali ya para pemilik toko disini? Cuma 6-7 jam saja bekerja nya!

Bergse Dorpsstraat (Village centrum)
Rumah mungil dipinggir danau
Kemudian aku diajak menyusuri danau dengan boat pribadi milik keluarga Meneer Meesters, hostfamily ku. Danau yang belakangan aku tahu bernama Bergse Voorplas ini lumayan luas, dengan jejeran rumah-rumah mungil disepanjang tepinya. Rumah-rumah mungil ini dilengkapi dengan garasi perahu masing-masing. Sangat unik! Namun menurut Luc (hostdad), rumah-rumah ini hanya ditinggali saat weekend saja atau pada saat holiday season. Jadi semacam villa lah kalo di Indonesia. Di salah satu tepi danau, terlihat sebuah kincir angin tradisional Belanda bernama Prinsen Molen. Satu dari tujuh kincir angin yang masih tersisa di kawasan Rotterdam. Kali ini aku bisa menjepret si kincir nan anggun ini dengan leluasa. Next time, aku akan menyempatkan diri berkunjung ke Prinsen Molen ini untuk melihat dari dekat.
Prinsen Molen
 
Danau Bergse Voorplas terletak bersebelahan dengan danau Bergse Achteplas, dengan hanya dibatasi sebuah jalan raya utama Straatweg. Kami menyusuri kedua danau tersebut sore itu. Tampak banyak sekali orang yang berperahu ria di danau, termasuk segerombolan pemuda yang berpesta bir diatas boat besar. They called it "Summer Beer Party". Wow...
Summer Beer Party

Hollandaise Bitterballen, Lekker!
Kami menghabiskan sore itu di sebuah cafe pinggir danau dengan menikmati secangkir chocomelk atau susu coklat panas dan sepiring bitterballen, camilan khas Belanda yang dihidangkan lengkap dengan bendera Belanda pada tusuknya. It's nice! Holland is welcoming me well, Thanks. ;)
Sebuah canal cantik didepan tempat tinggalku :)

Wednesday, July 11, 2012

Sepenggal Jogja Yang Tertinggal


Suhu dingin sore ini menampar sekujur kakiku yang tak berbalut layaknya seorang pengendara motor. Jalanan Kaliurang kubabat dengan speedometer 80km/jam, tanpa menghiraukan dinginnya Jogja yang kian membekukan dan siap membuatku masuk angin. Hari sudah semakin gelap saat mata ini mulai memicing mencari-cari sebentuk panah warna merah bertuliskan "Jejamuran". Kuarahkan sepeda motor ini menuju jalan raya Magelang.
Jalan yang sama, dingin yang sama, namun waktu dan kondisi yang berbeda. Sekejap memori ini melesat jauh kebelakang, ke sebuah sore yang hujan di Magelang....
Kami keluar pelataran Borobudur dengan peluh di dahi yang kepanasan. Ya, cuaca sore itu panas sekali. Cepat-cepat kami mengambil motor dan mengarahkannya kembali ke Jogja, karena waktu sudah kian sore. Namun rupanya perjalanan kami diiringi oleh awan gelap yang tak lama berubah menjadi hujan deras. Dia dengan sigap membelokkan sepeda motornya ke sebuah warung yang telah tutup, dan meneduh disana. Gemericik hujan yang kian lebat mengiringi derai tawa kami disela-sela cerita, angan-angan, dan gurauan yang dibalut dengan udara dingin.
Sore kian menjemput, hujan mulai reda, namun dingin seolah tak perduli dengan hawanya yang menusuk badan. Kami perlahan menyusuri aspal licin dengan berbagi kehangatan ditengah dinginnya gerimis sore. Melewati jejeran sawah yang menghijau, kami melihat sepasang bule sedang foto-foto ditengah rumpun tanaman padi. Kami tersenyum, dan berucap "suatu saat jika kita masih bersama dan traveling bareng lagi, kitapun akan melakukan hal seperti itu. Berfoto in the middle of somewhere."
Hujan tiba-tiba menyergap kami kembali. Semula kami tak perduli dan tetap menembus butiran air dari langit itu. Namun tiba-tiba mata ini tertumbuk pada sebuah bangunan kelabu dibalik pohon beringin besar. Aku tahu itu apa. Memoriku kembali melesat ke 20 tahun yang lalu.
 "Ibu... Itu candi apa namanya?" Tangan kecilku menarik-narik lengan baju ibu.
"Oooh, itu candi Mendut, nduk" Ibu mengelus kepalaku.
"Aku mau kesana bu. Ayo turun bu..." Aku merajuk manja pada Ibuku tersayang
"Lain kali ya nduk, kita kan sedang dalam perjalanan mau ke Jogja. Masa turun dari bis ditengah jalan? Lain kali ya kita kesana" Senyum Ibuku mampu meredam keinginanku untuk mampir ke Mendut.
Dan di sore yang hujan itupun, tanganku kembali menarik-narik lengan baju, namun kali ini bukan baju Ibuku. "Belok kiri, aku mau mampir kesana!" Tanpa ragu dia membelokkan arah menuju pohon beringin besar, yang menutupi sebuah bangunan tunggal berwarna abu-abu. Disana, ditengah sebuah pelataran rumput yang hijau, berdiri anggun sebuah candi tunggal yang dikenal dengan nama, Mendut.
Aku berdiri di teras loket, berteduh dari tetesan hujan yang masih saja mengguyur. Mata ini menatap si cantik Mendut, dan mengagumi salah satu peninggalan Hindu tersebut. Entah kenapa aku lebih tertarik dengan Mendut ini daripada dengan Borobudur ataupun Prambanan. Mungkin karena kedua tempat tadi sudah terlalu komersil dan ramai wisatawan. Sedangkan Mendut tetap menyendiri di antara perkampungan warga, seolah dialah satu-satunya primadona yang berdiri anggun, seorang diri.
Hujan telah berubah menjadi rintik kecil disertai hawa dingin yang membuatku merapatkan jaket hingga ke leher. Tapi percuma saja, setengah paha hingga ujung kaki ini tak berbalut apa-apa. Aku yang selalu traveling bercelana pendek ini kadang merasa kerepotan saat harus berhadapan dengan cuaca yang tak bersahabat. Namun dinginnya sore itu seolah sirna saat mata ini terpaku menatap sebentuk indah berwarna-warni disudut atas Mendut. Wow... Sungguh karya indah tangan Sang Pelukis alam! Sebuah pelangi yang terbentuk setelah hujan, kini menggantung lembut diatas kokohnya Mendut, ditengah pelataran berumput basah.
Mendut berpelangi
Disana, hanya ada aku, dia, dan sepasang bule yang tadi kulihat ditengah sawah. Kami berempat terdiam beberapa detik, mengagumi indahnya langit sore itu. Kuabadikan sebentuk anggun Mendut yang dipayungi pelangi nan cantik. Terima kasih Tuhan, aku masih diberi kesempatan mampir di candi ini dan menyaksikan cantiknya suasana sore setelah hujan kala itu... Di pelataran candi yang dulu sering aku lewati semasa kecil, yang kupandangi dari dalam kaca mobil, aku singgah bersama dia... Yang dulu pernah sangat berarti untukku.
Terimakasih Jogjakarta :)


Suara klakson disekitar menyadarkan lamunanku dan menyeret memori itu masuk kembali kedalam sekat-sekat yang rapat terkunci. Sore ini, dingin yang sama... Dan masih di jalan Magelang yang sama, disebuah perempatan, aku membelokkan sepeda motorku ke kanan, sambil melempar pandang kesebuah tepi jalan dimana dulu aku dan kamu pernah duduk disana. Sebentuk senyum menghiasi wajahku, saat mengingat memori yang dulu pernah terasa indah. Sebuah jejak kepingan kisah kita, yang tertinggal di Jogja... :)
Kupercepat laju sepeda motorku untuk segera sampai ke Jejamuran. Berharap semua memori itu tertinggal dibelakang. Jogja... Kau selalu memberikan kenangan manis dalam hidupku, sejak aku kecil hingga detik ini. Terimakasih, Jogjakarta!

Sunday, July 8, 2012

The Miracle of Dreams Theory

Masih teringat jelas bagaimana dulu waktu kecil, aku sering memelototi sampul album foto yang bergambar Pegunungan Salju abadi Switzerland, atau gambar hamparan bunga tulip warna-warni di lembaran kalender yang tergantung didinding ruang tamu rumahku. Dulu aku tak tahu dimana tempat-tempat indah itu berada. Yang aku tahu, setiap kali aku ikut Ibu pergi ke kantor pos, aku selalu asyik sendiri melihat-lihat kartu pos bergambar sebuah menara miring dan menara lancip, yang setelah aku bersekolah baru aku tahu namanya Menara Pisa dan Eiffel. Saat sudah bisa membaca, Bapak selalu membelikanku majalah Bobo setiap minggu. Dan dari sanalah awal mula hobi kutu buku ku. Dari majalah Bobo pula lah aku tahu bahwa tempat-tempat indah yang selama ini aku lihat di kartu pos dan kalender itu ada di benua Eropa.  Dan ternyata tak hanya Eropa yang punya tempat-tempat eksotik, seluruh benua di muka bumi pun punya tempat-tempat spektakuler dengan ciri khas nya masing-masing.
Dulu, nggak pernah terbayang mau ke Eropa, Australia, bahkan Asia sekalipun! Hanya bisa memandangi gambar-gambar indahnya di majalah2 dan bergumam "kapan ya aku bisa ksna..." Hanya sebersit keinginan yang aku tahu itupun terlalu tinggi untuk seorang gadis biasa saja seperti aku. Bukan berasal dari keluarga tajir, membuatku menepis angan-angan untuk bisa ke berbagai tempat itu jauh-jauh. Yang aku pikirkan saat itu hanya sekolah, belajar, kuliah, lalu bekerja. Dan gambaran-gambaran Eiffel maupun hamparan tulip itu semakin memudar, namun tetap ada di dalam pikiran dan alam bawah sadarku.
Aku menjalani kehidupan normalku sebagai perempuan biasa yang bekerja sebagai mbak-mbak kantoran dengan penghasilan standar, yang harus pintar mengatur bagaimana untuk bisa survive sebagai anak kosan di belantara ibukota ini. Namun hobi jalan-jalan yang sudah tumbuh sejak SMA itu, makin hari makin menjangkit bak penyakit. Kalau dulu pas SMA, aku hanya hobi jalan-jalan disekitar kota tempatku tinggal. Naik gunung/bukit, kemping, ke pantai, jadi agenda jalan bareng teman-teman semasa sekolah. Sesekali aku juga ke Jogja atau Jawa Timur saat libur panjang kenaikan kelas. Kemudian beranjak ke masa kuliah, hobi jalanku mulai merambah ke dunia touring. Touring ke luar kota pun dijadikan agenda traveling rutin, meski tidak terlalu sering, mengingat kocek anak kuliahan yang nggak seberapa. Hingga akhirnya aku masuk ke dunia kerja, dimana aku sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri, hobi traveling pun makin menggedor jiwa petualangku.
Seiring dengan makin maraknya trend airlines Low Cost Carrier, aku pun mulai rajin berburu tiket. Dan menerapkan filosofi gila didalam benakku, "Bekerja setahun, menabung setahun, dan dihabiskan untuk traveling 3x setahun!" Haha.... Nekat? memang... Kalau nggak nekat, nggak adventurous donk. iya kan? Dan konsep flashpacking dan backpacking pun aku terapkan di tiap agenda travelingku. Mematok target tiap tahun, dengan perhitungan budget traveling yang kira-kira cukup, aku pun mulai merangsek keluar garis batas Republik Indonesia.
Ada sebuah kata-kata bijak yang aku dapat dari seseorang, bahwa "jika kau memiliki impian, gambarkanlah impianmu itu diatas sebuah kertas, dan pandanglah kertas itu setiap hari sebelum kau memulai aktifitasmu. Tanamkan itu dalam alam bawah sadarmu, dan jadikan itu motivasi untuk meraihnya." Semula aku hanya berpikir, masa sih sebuah gambar saja bisa menjadi pendorong motivasi? Namun akhirnya aku menuruti juga saran itu. Aku menggunting beberapa gambar tempat-tempat yang menurut aku indah dan merupakan destinasi impian bagi para traveler. Aku memilih acak gambar Eiffel, Keukenhof, Phi-phi Island, dan beberapa tempat lainnya di Asia, Australia, Eropa, dan tak lupa juga Indonesia. Aku tempelkan potongan-potongan gambar itu di balik sebuah kertas brosur film (benar-benar asal buatnya). Dan aku tiliskan kata-kata pemotivasi diantara tebaran gambar itu. Kemudian aku tempelkan kertas itu di meja kerjaku, yang mau tak mau aku pandangi tiap kali aku duduk didepannya. Entah karena kertas itu, atau karena aku tengah beruntung. Satu persatu destinasi impian itu pun tercapai, masih di kawasan Indonesia dan Asia memang... Namun aku sudah cukup bersyukur bisa punya kesempatan mewujudkan potongan gambar yang tadinya hanya sekedar angan-angan itu. Sayang kertas bersejarah itu terselip entah kemana saat aku pindah kantor. Meskipun tanpa kertas itu, kini aku tetap menanamkan keyakinan dalam alam bawah sadarku setiap hari, untuk bisa menginjak dataran Eropa yang sejak kecil telah menggelitik dunia khayalku itu.
Sampai di 2011 terbersit keinginan untuk bisa kesana, bukan sekedar jalan-jalan melainkan stay disana. Tapi sempat bingung dan ragu, apa iya mungkin aku yang seorang gadis biasa saja ini bisa menginjak belahan bumi utara nan jauh disana? Selama ini, aku yang bekerja di sektor pariwisata ini hanya mampu mendengar cerita teman-teman yang pernah bertugas kesana, ataupun melayani klien yang berencana berlibur kesana. Namun keinginan untuk bisa mencicipi negara empat musim kian mendobrak pemikiranku. Maka dimulailah pencarian informasi seputar beasiswa hingga program cultural exchange ke negara-negara di Eropa. Berbagai cara telah kucoba, hingga akhirnya di 2012 aku membulatkan tekad untuk ikut program cultural exchane atau pertukaran kebudayaan. Dan dipilihlah Belanda sebagai destinasiku untuk belajar dan tinggal disana.
Berbekal berbagai informasi dan kemantapan hati, aku pun meminta restu orangtua, untuk rencana gila dikepalaku ini. Sempat orangtua hanya menanggapi rencana nekatku ini dengan pertanyaan "apa kamu serius?" Ya, mengingat aku hanyalah seorang gadis biasa yang berasal dari keluarga yang biasa saja, mungkin memang impianku ini sedikit kurang ajar. Hehe.... Tapi itulah aku, dengan berbagai impian yang semula memang dianggap nggak tahu diri, tapi akhirnya bisa aku wujudkan satu persatu. Dan sama halnya dengan impianku ke Eropa kali ini. Memang sedikit sinting bagi anak terakhir seorang pensiunan PNS ini untuk mimpi bisa tinggal di Eropa. Namun, orangtuaku akhirnya merestui tekadku itu dengan harapan semoga kali ini mimpi anak bungsunya ini pun akan terwujud.
Dimulailah semua prosedur di awal tahun, mulai dari pendaftaran hingga pemenuhan segala macam urusan dokumen dan administrasinya. Segala yang dibutuhkan untuk persiapan tinggal dan sekolah disana aku siapkan satu persatu. Cukup berliku dan makan waktu hingga setengah tahun. Bahkan sempat putus asa pula saat ada dua buah dokumen reference yang ditolak oleh pihak Belanda. Sempat pula merasa galau saat tak kunjung ada kepastian jadi atau tidaknya aku kesana. Hingga pada awal Juli lalu aku dihubungi oleh salah satu host-family dari Belanda, yang menyatakan bahwa merekalah yang akan menampung dan membiayai seluruh akomodasi dan proses belajarku selama disana. Wow…. Rasanya? Girang luar biasa hingga bicara pun terpatah-patah saat ngobrol dengan host-fam itu. Akhirnya sebuah titik terang itu pun muncul. Aku kembali bersemangat dalam mempersiapkan segala tetek-bengek dokumentasi guna mengurus visa, MVV, dan Residence Permit ku di Belanda. Kini yang tersisa hanya dua bulan waktuku untuk menikmati negara tropis ini, sebelum nanti akhirnya aku hijrah ke negara empat musim itu.
Perasaanku kini? Campur aduk, antara senang bukan main karena sebentar lagi bisa mewujudkan mimpiku ke Eropa, dan sedih karena harus meninggalkan comfort zone ku selama 25 tahun di Negara tropis ini. Namun aku telah membulatkan hati untuk ‘dare to breakthrough’ dengan keluar dari comfort zone, menanggalkan status karyawan tetapku disebuah perusahaan jasa pariwisata yang aku cintai. Mengutip dari sebuah kata-kata bijak "orang yang sukses adalah orang yang berani meninggalkan comfort zonenya dan dare to breakthrough!" Dan ini saatnya untukku. Kini, dua bulan yang tersisa akan kumanfaatkan untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang aku sayangi disekitarku. Melakukan apa yang belum sempat dilakukan, dan mengungkapkan apa yang selama ini belum sempat dikatakan. Memang sih, perjanjian kerjasamaku dengan pihak Belanda hanya satu tahun, namun aku berencana untuk extend sampai entah kapan. Sepertinya seru aja gitu bisa belajar bahasa disana kemudian bekerja disana, sukur-sukur bisa dapet jodoh orang sana pula. Hehe…
Mungkin beberapa bulan yang lalu, orang-orang mengira aku ini hanya pemimpi sinting dengan hayalan tingkat dewa. Namun nanti, aku akan membuktikan sebuah pembuktian nyata, akan teori “The Miracle of Dreams” itu. Bahwa sebuah mimpi yang kita tanamkan dalam hati dan kita yakini, akan bisa kita wujudkan tentunya dengan sebuah usaha, sebongkah harapan, dan untaian doa.
Kini, aku hanya bisa minta doa dari keluarga dan teman-teman, semoga pilihanku ini bisa berjalan lancar dan membuahkan hasil yang baik dikemudian hari. Pastinya aku akan sangat merindukan kalian semua nanti. Karena sebelumnya aku nggak pernah meninggalkan Indonesia lebih dari seminggu. Bakalan kangen berat sama suhu udara tropis dan masakannya. Hmmm…. 


Friday, July 6, 2012

Aku dan Dunia

Sering ada yang bertanya, "Cesc, apa goal mu dalam hidup?". mmmm.... sambil memutar mata, aku menjawab "kemanapun kaki ini melangkah, disitulah tujuanku". Aku tahu, sepintas jawabanku itu tampak seperti jawaban bodoh yang tak mendasar. Jawaban seseorang yang sepertinya tak punya tujuan hidup. Namun, sebenarnya itulah jawabanku. Aku akan terus mengikuti langkah kakiku, kemanapun itu. Bukan tanpa tujuan, melainkan dengan satu tujuan: "Melihat Dunia".
Berawal dari sepenggal mimpi, yang dibalut dengan kerja keras dan keyakinan, serta sebongkah doa yang tak pernah henti... Aku... Akan melihat dunia...
Ini caraku. Bagaimana dengan caramu?

_ Sepenggal kata hati seorang Traveler _


Recent Post

Pagi yang Din-Din!!!

 Bruuummm Bruummmm! Din Din Din!!! Kreeeekkkk... Mata yang baru terpejam sebentar ini merengek karena terbangun jam 5 pagi buta. Buset, rame...

Popular Post